Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Mahbubani’

Selalu menarik mengamati pertumbuhan ekonomi China. Di dunia pertambangan, sangat terasa perubahan ini. Awal tahun 1990an, pertambangan besar di Indonesia banyak dikuasai AS, Australia dan Canada. Emas dan batubara menjadi komoditi mineral yang ramai aktifitas eksplorasinya. Nickel, bertahun-tahun hanya dimiliki oleh Inco (Vale sekarang) dan Aneka Tambang. Seiring dengan mulai tumbuhnya industri baterai untuk keperluan komunikasi dan transportasi di 2010an, kebutuhan dunia terhadap Nickel sebagai bahan dasar baterai (Ni-Cad, Ni-Mn, dll.) meningkat pesat. Didorong oleh program hilirisasi pemerintah, yang melarang ekspor nickel ore (bahan mentah nickel), investasi pembangunan smelter Nickel di Indonesia pun menjadi ramai. Dan China merajainya. Dunia pun terbangun, menyadari bahwa industri mobil listrik dan baterai ternyata banyak dikuasai China. Setelah infrastruktur, kini China dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, banyak menguasai sektor pertambangan. 

Tahun 1978, kemiskinan sedang merebak. Dan reformasi ekonomi berada di punggung Deng Xiaoping yang sedang naik tahta. Namun saat ini China sudah menduduki posisi ke-2 sebagai negara dengan GDP terbesar dunia. Bagaimana bisa terjadi? Keyu Jin, PhD. melalui bukunya “The New China Playbook”, yang terbit 2023, mencoba menjawabnya.

Ini adalah ulasan buku ke-3 tentang China, setelah Banking on Beijing karya Axel Dreher, dkk. dan Has China won? karya Kishore Mahbubani, sekaligus sebagai catatan pribadi, yang mungkin juga berguna untuk pembaca sekalian.

Keyu Jin, PhD. lulusan Harvard University, AS. Lahir dan besar di Beijing, China. Berdomisili di Beijing dan London. Pengajar ekonomi di London School of Economics and Political Science. Pernah bekerja di China Banking dan Insurance Regulatory Commission, World Bank, dan IMF. 

Ada 10 bab disajikan Jin dalam buku ini, berturut-turut:

  1. The China Puzzle
  2. China’s Economic Miracle
  3. China’s Consumers and the New Generation
  4. Paradise and Jungle, the Story of Chinese Firms
  5. The State and the Mayor Economy
  6. The Financial System
  7. The Technology Race
  8. China’s Role in Global Trade
  9. On the World’s Financial Stage
  10. Toward a New Paradigm

Berikut ini adalah sedikit ringkasan penting yang bisa dibuat. Banyak informasi, data dan penjelasan lebih lengkap bisa diperoleh dengan membaca langsung bukunya.

1. The China Puzzle

Pengalaman hidup Jin ketika pindah domisili untuk sekolah, dari negara komunis China, memasuki dunia baru demokrasi AS, cukup mengejutkan. Ternyata banyak ketidak tahuan publik AS tentang kondisi ekonomi-politik China saat ini. Pertanyaan yang sering muncul, bahkan oleh mereka yang berpendidikan tinggi, juga para politisi, adalah: 

  • When will China become a democracy? 
  • Do you feel oppressed? 
  • How do you wake up in the morning knowing that you can’t elect your own president? 
  • When will the Chinese economy stop growing?

Menurutnya, mereka tidak memahami bahwa perubahan besar mulai terjadi sejak 1997. Saat itu rakyat China sudah mulai berdebat tentang Reformasi Ekonomi, penyelenggara Olimpiade, bergabung WTO, privatisasi BUMN dan adopsi teknologi Barat untuk infrastruktur, mobil dan model bisnis.

Buku-buku rujukan politik pun terus berkembang. Pikiran-pikiran Marx mulai tergantikan dengan ide ‘sosialis berkarakter China’. Masyarakat China menjalani hidup yang lebih baik, dibanding generasi-generasi sebelumnya. 

Gedung-gedung mercusuar banyak tumbuh dimana-mana. Sebanyak 20 juta perusahaan swasta telah tumbuh bagai jamur, bahkan ketika 30 tahun yang lalu tidak mampu beraktivitas secara normal dan legal. Saat ini, sektor swasta telah menjadi penyumbang 60% pendapatan nasional, 70% kekayaan nasional dan 80% tenagakerja.

Tahun 2019, China adalah negara dengan jumlah perusahaan ‘unicorn’ terbanyak di dunia. Bahkan, telah menjadi negara terkaya ke-2 di dunia. Namun, tetap saja masih banyak muncul pertanyaan yang membandingkan China dengan negara-negara komunis masa lalu yang otokratis dan represif.

Survey World Values Survey (2017–2020), menunjukkan bahwa 95% warga China mempercayai pemerintahnya, sementara warga AS hanya 33%, dan warga dunia lainnya hanya 45% yang mempercayai pemerintahnya. Data tahun 2022 tidak berubah banyak.

World Values Survey juga menunjukkan bahwa di China, 93% (AS, 28%) masyarakatnya lebih mengutamakan Keamanan (Safety) daripada Kebebasan (Freedom). Sejarah dan Budaya menjadi faktor penentunya. Artinya, bangsa China justru berharap bahwa pemerintahnya perlu campur-tangan menyelesaikan isu-isu sosial ekonomi. Hal tersebut tidaklah berarti melanggar kebebasan warganya.

Namun dunia masih juga meragukan pertumbuhan ekonomi China dengan dugaan bahwa model ekonomi China tak bertahan lama, negara telah memperdaya sektor privat dan mempersulit inovasi serta sektor finansial akan segera runtuh. Banyak yang percaya bahwa keruntuhan sistem ekonomi China akan terjadi bila tidak diubah  dengan nilai-nilai AS. Dan, kalaupun ada yang melihat kesuksesan ekonomi China saat ini, maka mereka akan menganggapnya sebagai ancaman terhadap ekonomi global.

Pada situasi bias perspektif tersebut, Jin yang hidup di dua dunia, China dan AS, merasa berkepentingan untuk mencoba menemukan puzzle-puzzle yang hilang dan merangkainya menjadi gambar China yang lengkap melalui buku ini.

Antara China dan Barat ada banyak area perbedaan nilai, perspektif dan berbagai pendekatan politik, yang seringkali menjadi kendala suksesnya berbagai kebijakan ekonomi.

Ada tiga perbedaan kontras antara model Ekonomi Pasar Bebas Barat vs Model Ekonomi Politik China, yaitu:

  1. Di Barat, pemerintah mempengaruhi pasar melalui kebijakan fiscal, finansial dan moneter. Sementara China perlu juga menambahkan keterlibatannya dalam kebijakan industrial dan manajemen BUMN. Pemerintah China sangat aktif melibatkan diri untuk kepentingan ekonomi hibridanya.
  1. Sentralisasi politik China, berdampingan dengan desentralisasi ekonomi. Perkawinan unik antara pemerintah lokal dengan sektor swasta telah mempercepat terjadinya reformasi, industrialisasi, urbanisasi dan inovasi. Kombinasi dari kebijakan pemerintah pusat dan mekanisme pasar di tingkat mikro, adalah penyebab meroketnya pertumbuhan ekonomi dan teknologi China. 
  2. Model pertumbuhan China dalam berbagai aspek ekonomi relatif masih muda. Institusi, hukum, peraturan, kontrak dll. masih lemah. China has strong state capacity and weak institutions, whereas advanced countries like the United States have strong formal institutions but state capacity is gradually eroding.

Sedangkan perbedaan besar Kapitalisme terhadap Sosialisme adalah Dynamic Innovation. Yaitu keunggulan nilai ekonomi-politik kapitalisme, yang ditandai dengan mekanisme kebebasan berkompetisi dan perlindungan terhadap hak cipta (property right). Sosialisme lemah dalam hal ini. Di China, inovasi dan kewirausahaan sudah menjadi bagian dari ekonomi itu sendiri. Perusahaan milik pemerintah dan privat, saling bekerjasama dalam menggunakan sumberdaya.

Banyak pihak menduga bahwa suksesnya ekonomi China saat ini adalah karena munculnya Pasar Bebas. Atau, dugaan lainnya adalah karena menguatnya kontrol rezim Komunis, sehingga semua hal bisa dikendalikan dengan mudah. Ternyata yang benar adalah kesuksesan ekonomi terjadi karena China berjalan di antara keduanya. Deng Xiaoping pernah meminta rakyatnya untuk menghentikan perdebatan tentang superioritas antara ideologi Kapitalisme atau Sosialisme. Dan berujung pada jargon tenar beliau, “it does not matter whether a cat is black or white, so long as it catches mice”. 

The New Playbook

Model baru memang lebih lamban, namun lebih sistematis tertata dan terawasi dalam mengejar pertumbuhan. 

Pendekatan model lama pembangunan China berorientasi cepat dalam jangka pendek, yang didukung oleh ekosistem regulasi dengan standar kualitas yang buruk dan dengan mengabaikan peraturan juga kesepakatan, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, telah berlalu. Kini saatnya era baru pembangunan China (new playbook), didasarkan pada inovasi dan kemandirian serta penguasaan teknologi. 

Jumlah masyarakat berpenghasilan menengah yang terus meningkat, termasuk didalamnya adalah konsumen generasi baru, akan menuntut standar hidup yang lebih baik. Dan percepatan pertumbuhan ekonomi China mulai digantikan dengan penekanan pada perkembangan pembangunan yang lebih ramah, yaitu lingkungan yang lebih bersih, ketahanan pangan yang lebih baik, dan kualitas hidup yang lebih tinggi.

China di era baru ini, akan berjuang untuk membangun bangsanya lebih daripada cita-cita Sosialisme, yang sering dicirikan dengan banyaknya “kekurangan”. Juga lebih daripada Kapitalisme yang dikenal dengan lebarnya Kesenjangan. 

Era baru ini muncul pada generasi muda yang dilahirkan pada tahun 1980an, 1990an dan 2000an. Yang sudah lepas dari trauma Revolusi Kebudayaan. Namun, mereka ini adalah generasi hasil kebijakan China’s one-child policy. Mereka adalah generasi yang mempunyai kemampuan dan perilaku berbeda dengan generasi sebelumnya, dalam hal spending/saving, inovasi, kompetisi dan soft skill.

Generasi baru ini punya kecenderungan tinggi dalam hal belanja, kredit dan fashion. Total, mereka bisa menghabiskan trilyun dollar untuk berwisata ke luar negeri, belanja fashion dan produk kesenian. Dan mereka berpikiran-terbuka (open minded) juga berkesadaran-sosial tinggi, dibanding generasi sebelumnya.

Meskipun eksposure cukup tinggi dan familiar terhadap Barat, namun mereka tetap merasa kurang nyaman dengan gaya demokrasi Barat. Tradisi Konfusius, yang sangat mengutamakan komunal, kepentingan sosial dan menghargai kebijakan pemerintah, telah berlangsung 2.000 tahun dalam masyarakat China. Deep down, China’s people are steeped in their own culture, bound by their own traditions, and rooted in their own communities.

Ini adalah generasi China dalam era liberalisasi ekonomi tanpa liberalisasi politik. Dapat diharapkan bahwa dengan pengetahuannya yang sudah mendunia, mereka nantinya bisa menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan, bila terjadi perbedaan pandangan terhadap nilai-nilai dunia lainnya.

2. CHINA’S ECONOMIC MIRACLE

Pertumbuhan ekonomi mencapai puncaknya 1978-2005, ketika sumberdaya manusia sebanyak kurang-lebih 400 juta orang dipindahkan dari kantong ekonomi rendah produktivitas ke kantong tinggi produktivitas, yaitu migrasi dari:

  1. sektor pertanian ke sektor industri. Turun dari 70% ke 30%
  2. sektor pemerintah (state sector) ke sektor swasta (private sector). Turun dari 52% ke 13%.

Seleksi alam terjadi, perusahaan berkinerja buruk akan mati. Dan sumberdaya akan banyak bermigrasi ke perusahaan yang berkinerja bagus. Efisiensi terjadi dan pertumbuhan produktivitas naik 75% kali di sektor manufaktur.

The Perils of Rapid Industrialization

Komposisi kekayaan Rumah Tangga dalam GDP China terus menurun, 1978-2008. Dari 70% menjadi di bawah 60%. Sementara kekayaan Rumah Tangga AS dan negara-negara maju mencapai 80%. 

Modernisasi adalah industrialisasi, bagi negara yang pernah mengalami penderitaan ekonomi ratusan tahun. Untuk itu, percepatan industrialisasi menjadi fokus pertumbuhan ekonomi. China mengalaminya. Berlebihan subsidi di sektor industri. Berakibat over-supply di industri baja, sel-surya dan pertambangan. Bunga tabungan rendah, dan kredit rumah tak terjangkau. Kredit murah akhirnya menjadi obat yang memabukkan.

Pilihan strategi industrialisasi dan percepatan pembangunan ini memakan biaya yang sangat besar. Bunga bank yang rendah sebagai subsidi industrialisasi, tidak merefleksikan pertumbuhan produktivitas. Pinjaman berbunga rendah juga menyebabkan rendahnya hasil simpanan rumah-tangga. Selanjutnya, berakibat pada ekonomi rendah konsumsi, investasi tidak tepat sasaran dan ekspor berbiaya tinggi.

Bunga rendah juga menyebabkan tingginya harga perumahan dan pasar modal, serta meningkatnya pinjaman di waktu yang bersamaan. Ini bisa mengakibatkan ancaman bagi kestabilan finansial.

Saran Keyu Jin, supaya model pertumbuhan berbasis Industrialisasi diubah ke Inovasi dengan peningkatan produktivitas. 

The Case for Future Growth

Berdasar pada prinsip-prinsip kemapanan ekonomi, sulit dibayangkan bahwa ekonomi China bisa berada pada kondisi prima seperti saat ini. Dari sisi rule of law, tahun 2018 China berada pada urutan 82 dari 126 negara. Berdasar ease of doing business, China berada di urutan 78, dibawah Azerbaijan dan Rwanda. Sedangkan berdasar corporate governance, China berada di urutan 72 dari 141 negara.

Tahun 2009an, middle income trap sempat terjadi di China. Demikian juga dengan negara-negara Amerika Latin seperti Peru dan Mexico. Juga di Asean seperti Indonesia, Thailand, Malaysia. Mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat, namun tak pernah sampai menjadi negara-negara berpendapatan tinggi. Banyak faktor yang bisa jadi penyebab terhambatnya pertumbuhan tersebut. Misalnya, korupsi, instabilitas politik, infrastruktur yang buruk, dan rendahnya R&D. 

Bila pertumbuhan ekonomi China tetap di 5%, dan AS tetap di 1,5%, maka ekonomi China kemungkinan akan melampaui AS pada tahun 2030.

Selain faktor siklus pengulangan seperti masalah kejutan-kejutan ekonomi global, rantai pasokan, Covid-19; maka distorsi yang berkepanjangan akan menjadi beban ekonomi yang berat untuk China. Sehingga banyak yang meragukan pertumbuhan 5%.

Masih ada 870 juta penduduk berpenghasilan kurang dari RMB 2.000 ($300) per bulan. Kategori kelas menengah di China, sebanyak 400 juta orang, berpenghasilan RMB2.000–5.000. Kelas menengah inilah yang diharapkan sebagai mesin penggerak ekonomi melalui konsumsi.

Proporsi tenagakerja ahli atau berpendidikan tinggi juga masih sangat kecil, dibanding AS. Bahkan masih lebih kecil dibanding Afrika Selatan atau Brasil.

Dengan kebijakan ekonomi pintu terbuka di China, persaingan usaha di sektor jasa semakin kuat. Termasuk di ranah hiburan, kesehatan dan pendidikan. Saat ini sektor Jasa masih berkisar  50% dari PDB. Masih kalah dengan di berbagai negara industrialis lainnya, yang bisa mencapai 70-80%.

Reformasi sebagai unsur penting penggerak ekonomi, yang mampu mengurangi distorsi dan meningkatkan efisiensi, masih belum selesai. Masih banyak ruang untuk mengejar negara maju lainnya, seperti:

  1. Peningkatan sektor Finansial. Meningkatkan alokasi kapital dan menyediakan pembiayaan berjangka panjang untuk inovasi.
  2. Reformasi sistem Hukou (sistem pencatatan rumah tangga). Menciptakan kesempatan kerja di wilayahnya sendiri.
  3. Reformasi Fiskal. Untuk menyelesaikan masalah hutang pemerintah daerah.

Lompatan besar China pertama selama empat dekade ini adalah dari pendapatan per kapita sebesar $380 menjadi $10.000. Selanjutnya, untuk mencapai Lompatan Besar kedua adalah bila tercapai lompatan pendapatan per kapita dari $10.000 ke $30.000. Bahkan, “influencer economy” di China mampu meningkat dua kali lipat per tahunnya hingga mendekati $1 trilyun. Dan konsumer China juga membelanjakan uangnya lintas negara untuk keperluan pembiayaan pendidikan keluarganya di berbagai belahan dunia, belanja properti di Sydney dan membantu peningkatan harga Bordeaux Wine.

3. China’s Consumers and the New Generation

Tanggal 11 November 2021, saat perayaan hari Singles Day di China (perayaan dicanangkannya one-child policy tahun 1970an), Alibaba dan JD.com mampu menjual barang secara daring sejumlah $140 Milyar. Ini jauh melebihi total penjualan di AS saat perayaan Black Friday, Thanksgiving, dan Cyber Monday.

Seperti diketahui, tiga faktor utama dalam penguatan perekonomian adalah: Konsumer, Perusahaan dan Negara. 

Konsumer China sebanyak 1,4 milyar menjadi faktor penting ekonomi. Apple mampu menjual sebesar $100 Milyar per hari di China. Lebih dari dua kalinya penjualan di AS. Seperlima dari total pendapatan Starbucks di dunia, diperoleh dari China. Tesla berinvestasi besar di China untuk membangun mobil listrik. Nike dan Estée Lauder sukses melakukan penjualan daring di China melalui WeChat dengan 1 milyar pengguna aktif per bulan.

Sistem pemerintahan China, memudahkan untuk pengendalian pola belanja konsumen. Kebijakan “Eight rules” yang diinisiasi oleh Presiden Xi Jinping pada tahun 2012, membuktikan hal tersebut. Eight Rules adalah kebijakan yang oleh beberapa pihak dianggap kebijakan “gila”, karena menghambat akses pendidikan di luar sekolah. Namun sebenarnya kebijakan ini dimaksudkan pemerintah China untuk mencegah tindak korupsi. Lihat Tautan di bawah. Begitu kebijakan tersebut dilaksanakan, maka penjualan jam tangan mewah dan wine yang mahal, langsung jatuh dalam sekejap.

Dampak kebijakan One-Child Policy

Dalam dua dekade ini, persentase rata-rata jumlah tabungan setiap keluarga di China mencapai 30% dari total pendapatannya. Sementara di 37 negara OECD, pada umumnya hanya bisa menabung kurang dari 10% dari total pendapatannya. Bahkan di beberapa negara OECD, hanya 5%.

Bila penduduk China bisa mengurangi jumlah simpanan dan dialihkan untuk keperluan konsumsi, maka akan banyak perusahaan global bisa turut menikmati keuntungannya. Juga, untuk keperluan pertumbuhan ekonominya, China bisa sedikit mengurangi investasi dan ekspor, untuk mencegah terjadinya ketidak-seimbangan neraca perdagangan yang menyebabkan perselisihan dagang antar negara.

Ajaran moral Konfusius bahwa banyak anak adalah berkah keluarga. Dan anak-anak akan bertanggungjawab untuk membantu keluarga, bahkan ketika masih muda sekalipun. Anak-anak juga berkewajiban membantu orangtua dalam hal finansial maupun tempat tinggal, di masa tuanya. Semakin banyak anak, diharapkan semakin ringan beban finansial untuk membantu keluarga. Maka, ketika One Child policy dicanangkan, keluarga merasa harus mempersiapkan ketahanan finansial untuk masa tuanya. Meningkatkan tabungan adalah solusinya.

Pensiun juga menjadi isu penting. Para pensiunan saat ini menerima uang pensiun sangat sedikit. Ini disebabkan oleh institusi tempat mereka bekerja sebelumnya, tidak cukup banyak membayar premi asuransi pensiun. Sistem Jaring Pengaman Sosial untuk pekerja di masa tua, belum cukup tertata bagus di China. Bagi generasi lanjut usia saat ini, dana pensiun tidak bisa menjadi sumber pendapatan yang dapat diandalkan.

Data terkait rumahtangga menunjukkan bahwa dimasa One Child Policy, tingkat tabungan keluarga beranak tunggal, lebih banyak 9% dibanding yang beranak kembar. Bila keluarga beranak tunggal mampu menabung 30% dari pendapatannya, maka keluarga beranak kembar hanya mampu menyimpan 21% saja. Dan bagi keluarga dengan anak kembar yang sudah dewasa, lebih boros pengeluaran (rendah tabungan) dibanding dengan keluarga beranak tunggal. Maka kebijakan One Child memang lebih signifikan dalam mensejahterakan rakyatnya, dibanding keluarga beranak banyak.

Pendidikan

Hal menarik mengenai pendidikan di China, disajikan buku ini pada analisis hasil survey tentang “bagaimana keluarga mengatasi persoalan pendidikan untuk anak yang lahir pada tahun 1980 hingga 2010? Lihat grafik “The One-Child Policy and Household Saving”.

Dari grafik tersebut terlihat bahwa ada suatu masa (usia 20 tahun?) dimana biaya pendidikan anak tunggal bisa hampir dua kali lebih besar dari anak kembar. 

Belanja pendidikan per tahun dalam satu keluarga di China mencapai 25% dari total pendapatan. Sementara di AS, belanja pendidikan untuk satu anak, hanya diperlukan 5% dari total pendapatan saja. 

Data tahun 2002-2009 menunjukkan bahwa kurang dari 40% siswa dari keluarga beranak kembar yang mampu melanjutkan ke SMU untuk selanjutnya melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan 30% dari keluarga anak kembar cenderung melanjutkan ke sekolah vokasi atau kejuruan.

Harapan orangtua supaya anak-anak tidak kalah dalam kompetisi kepandaian, menyebabkan ditambahkannya pendidikan tambahan (les privat) di luar waktu sekolah. Belanja pendidikan semakin tinggi. Survey menunjukkan bahwa 88,7% pelajar sekolah dasar dari keluarga mampu, mendapatkan les privat di luar sekolah. 

Minat pendidikan yang semakin tinggi, memicu tumbuhnya sekolah-sekolah unggulan. Bahkan sekolah-sekolah dari Inggris dan AS mulai membuka cabang di China. 

Sisi gelap dari persaingan pendidikan ini adalah semakin mahalnya biaya sekolah. Dan berujung pada rendahnya minat mempunyai anak.

Ketika pemerintah China mulai mengurangi tekanan pada One Child Policy, tidak serta merta berakibat pada bertambahnya angka kelahiran. Bahkan tahun 2021 menunjukkan rendahnya angka kelahiran, yang tidak memacu kecenderungan kenaikan. 

Kesimpulan sementara adalah:

The one-child policy led to a noteworthy increase in human capital investment, which hiked the cost of education, and in turned weakened the inclination to have more children.

Isu mahalnya pendidikan ini bahkan menjadi sajian sehari-hari dalam drama serial televisi yang menjadi hiburan keluarga di rumah. Tingginya biaya pendidikan dan perumahan menjadi hambatan kesejahteraan terbesar rakyat China, meskipun One Child policy mulai dilonggarkan. Presiden Xi Jinping pun menanggapi serius akan hal ini dengan agenda “maximising inclusive prosperity”.

Perempuan

Antara tahun 1980-2010, telah gagal dilahirkan 25 juta bayi perempuan. Ini terkait dengan budaya China saat itu yang lebih menyukai kelahiran bayi laki-laki. Dengan harapan lebih mampu menjaga orangtuanya dan membantu pekerjaan, daripada perempuan. Bahkan, bila anak pertama dan kedua adalah perempuan, tetap berusaha mendapatkan laki-laki pada kelahiran anak ketiga.

Demi pilihan favorit kelahiran bayi laki-laki, teknologi ultrasound diimplementasikan pada tahun 1980an untuk kontrol populasi. Digunakan untuk seleksi jenis kelamin embrio. Tindakan ini sekarang dianggap ilegal. 

Di era one child policy, akses ke pendidikan pun, perempuan tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Tidak prioritas.

Sekarang, anak-anak perempuan bahkan banyak mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dari laki-laki. Tahun 1978, 24,2% mahasiswa adalah perempuan. Tahun 2009, setengah jumlah mahasiswa adalah perempuan.

Karena kultur China yang mewajibkan laki-laki bertanggungjawab untuk menyediakan apartemen dan memimpin rumahtangganya, maka para orangtua lebih suka investasi pendidikan diberikan ke anak perempuan. Sehingga bisa bekerja sendiri dan membantu orangtuanya lebih lama.

Statistik di China tahun 2017 menunjukkan bahwa eksekutif perempuan di perusahaan publik yang lahir tahun 1950an sebanyak 12%, lahir 970an 23%, lahir 1980an 35% dan lahir 1990an 42%. Jumlah eksekutif perempuan cenderung naik.

Bahkan dibidang politik, lebih banyak perempuan memiliki pendidikan tinggi daripada laki-laki. Perempuan 75%, laki-laki 56%.

“It is a truth acknowledged in China that a single man in want of a wife must be in possession of a property and a car.”

One child policy berakibat kelahiran bayi laki-laki lebih disukai. Dan budaya China sangat mengagungkan keberlanjutan keturunan keluarga. Ketiadaan cucu adalah aib bagi sebuah keluarga. Untuk itu, orangtua sangat mengutamakan bantuan finansial bagi anak laki-lakinya. Sehingga mampu menabung untuk mulai membina rumahtangga. Kekayaan finansial menjadi faktor penting bagi laki-laki siap kawin. 

Jumlah perempuan usia kawin di China tidak sebanyak dengan jumlah laki-laki. Dan ketimpangan gender terjadi saat ini. 

Tabungan

One child policy dengan ketakutan finansial di masa pensiun dan biaya mahal untuk mulai berumahtangga, menjadi alasan utama meningkatnya jumlah tabungan nasional. 

Jepang dan Korea juga banyak diwarnai oleh budaya Konfucius, namun tabungan mereka antara 2-6% dari pendapatannya. Tidak seperti China yang sampai 30%. Total simpanan rumahtangga di China terus meningkat sejak 1990 hingga 2009 dan menduduki posisi ke-3. Sama dengan total simpanan korporasi.

Demografi

Menurut survey populasi PBB, di China ada 50% populasi dibawah usia 20, sebelum tahun 1980. Menurun di tahun 2015 menjadi 24%. Dan pada tahun 2050, lebih dari ⅓ populasi China adalah usia diatas 60 tahun. Ini adalah kecenderungan transformasi demografi di negara yang sedang tumbuh kekayaan ekonominya, dengan sedikit jumlah anak.

Risiko ekonomi di negara dengan populasi usia-lanjut yang tinggi adalah tingginya beban fiskal akibat kebutuhan dana pensiun dan menurunnya jumlah tenagakerja. 

Problem tenagakerja China saat ini bukanlah tentang jumlah, tetapi lebih pada ketidakcocokan antara kebutuhan dan keahlian yang tersedia. Lulusan universitas tidak banyak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, dan korporasi lebih membutuhkan tenagakerja terampil lulusan sekolah vokasi. Sementara Teknologi Otomatisasi dan Artificial Intelligence akan menjadi ancaman baru pada pola industri di masa depan. 

Penyumbang utama pertumbuhan ekonomi China adalah keterbukaan pasar, keuntungan produksi, efisiensi penggunaan asset dan tenagakerja, serta kemajuan teknologi. Sedangkan faktor penyebab penurunan pertumbuhan ekonomi adalah koreksi berlebihan terhadap kebijakan ekonomi dan situasi panik menghadapi perkembangan agresif sektor privat. Atau bahkan akan lebih buruk lagi bila reformasi dihentikan. Demografi bukan lagi pengaruh penting.

Sepakat dengan pernyataan menarik Penulis dalam bab ini adalah:

“Every generation distinguishes itself in terms productivity, consumption and saving patterns, appetite for risk, life-work balance, and political preferences, which we turn to next”.

Alibaba dan AliPay sudah mengubah budaya anak muda China sekarang untuk rajin belanja. Menggantikan budaya menabung orang tua mereka. “Just spend” menjadi perintah populer dalam budaya baru. Surplus akan berubah menjadi Defisit dikemudian hari.

Visi Baru

One child policy, tanpa diduga telah banyak mengubah banyak hal. Termasuk ekonomi, ketimpangan gender, tenagakerja, simpanan keluarga dan budaya keluarga. Dampak pemerintahan Deng Xiaoping yang efektif dimulai 1978 bisa dirasakan saat ini. Eksistensi generasi dengan karakter yang berbeda dari generasi sebelumnya, dalam hal perilaku, ethos, aspirasi dan ways of life.

Generasi baru ini tidak pernah merasakan penderitaan karena Kemiskinan dan situasi Depresif, seperti yang dialami orangtuanya. Mereka tumbuh dalam kesejahteraan dari hasil kerja keras orangtuanya, dan dengan perhatian penuh dari para gurunya. Bahkan tak perlu mereka bersusah-payah menyiapkan diri untuk situasi emergency. Tak ada persaingan dalam keluarga, karena One Child Policy. Juga tak perlu partner untuk berbagi beban dan tanggungjawab. Perlengkapan modern dan keahlian telah tersedia semua. Bahkan telah dibekali pengetahuan dan cara berpikir Barat untuk menghadapi masa depan. 

Mimpi buruk akut tentang depresi ekonomi di benak orangtua, tak ada sedikitpun dalam kesadaran para generasi baru ini. American dream” sudah bukan lagi menjadi tujuan, karena mereka sudah hidup dalam era kesejahteraan yang dirasa sama dengan masyarakat negara maju lainnya. 

Mereka mempunyai tujuan, arah dan perilaku kerja-keras, tidak lagi untuk tujuan kekayaan, tapi untuk kebahagiaan. Mereka bangga dengan negerinya yang powerful dan berpengaruh kuat di dunia. Rasa percaya diri generasi muda China ini akan sangat berpengaruh untuk negerinya di masa depan. 

4. Paradise and Jungle, the Story of Chinese Firms

Adalah fenomena ekonomi yang mencengangkan, ketika hanya dalam waktu 30 tahun, telah muncul lebih dari 20 juta perusahaan swasta di negara anti-kapitalis.

Investor asing mulai masuk China di akhir tahun 1970an. Panasonic masuk China 1978. Coca Cola dan IBM mulai masuk, 1979.

Seperti halnya di negeri kita, sektor korporasi China mempunyai dua jenis perusahaan, yaitu: state-owned enterprises (SOEs) atau BUMN dan sektor swasta.

Tahun 1990, sektor swasta menyumbang pendapatan (GDP) sangat kecil. Namun sekarang, walaupun harus melewati birokrasi yang sangat sulit berliku, mampu menghasilkan pertumbuhan yang sangat tinggi. Sumbangan sektor swasta terhadap penerimaan pajak mencapai 50%, GDP 60%, inovasi 70% dan lapangan kerja 80%.

Generasi Baru

Di era kompetisi global yang sangat intens dalam memperebutkan pasar, diperlukan keahlian untuk mencapai sukses, yaitu kecepatan, keluwesan, kearifan lokal, percaya-diri, kerendahan hati, dan kemampuan beradaptasi.

Saat ini suap, siasat licik dan mengakali peraturan, tidak bisa lagi menjadi katalis utama untuk ekspansi bisnis. Bahkan sejak menjadi Presiden China, 2013, Xi Jinping terus mengkampanyekan pentingnya “Anti Korupsi”. Maka generasi pengusaha baru harus dilengkapi dengan visi yang lebih jelas dan keterampilan canggih, serta didorong dengan motivasi yang lebih tinggi. 

Mereka perlu didorong oleh semangat dan kemauan untuk sukses—bukan dengan mengambil jalan pintas, namun dengan menghasilkan produk atau layanan yang lebih baik melalui kecerdikan dan tata kelola yang baik.

Para pengusaha generasi muda China sangat mengandalkan pada kegigihan, inovasi dan keuletan, untuk menghadapi tingginya intensitas kompetisi dan lingkungan regulasi yang ketat, dibanding era sebelumnya.

Environmental, social, and corporate governance (ESG) adalah acuan baru berstandar tinggi dari setiap perusahaan di dunia yang berharap sukses ditengah pasar yang berreputasi dan terkelola sangat baik.

Setiap generasi dari para pengusaha China, perlu punya sensitifitas terhadap garis batas antara kepentingan bisnis dan kepentingan negara dalam menjaga stabilitas sosial. Mereka perlu memberikan respon yang lentur terhadap perubahan mendadak dari kebijakan dan kepemimpinan.

Untuk setiap milyarder yang kecewa terhadap intervensi negara, akan selalu ada banyak kaum milenial yang percaya bahwa akan menjadi jutawan atau bahkan milyarder berhubung sudah terbukanya kesempatan untuk turut bermain dan berkompetisi.

5. The State and the Mayor Economy

Beberapa tahun terakhir ini, telah dibangun lebih dari 150 kawasan pembangunan hi-tech di berbagai kota di seantero negeri. Dengan tujuan mengembangkan sentra-sentra penghubung komersial untuk pembangunan produk elektrik, biomedicine dan energi bersih. Kawasan Ekonomi.

Di tahun 2019 saja, telah diselenggarakan lebih dari 3.000 pameran, menyajikan teknologi lingkungan terbaru atau produk kecantikan baru atau desain terobosan pengemasan barang.

Dalam Kawasan Ekonomi, pemerintah lokal sangat mendukung pengusahaan dan menjanjikan untuk meminimalkan berbagai hambatan birokrasi demi berkembangnya inovasi. 

Ada tiga karakter yang menguntungkan dari pemerintahan China:

  1. Mempunyai sumberdaya dan kemampuan administratif untuk memobilisasi dengan cepat aksi kolektif untuk mencapai target-target nasional
  2. Sentralisasi struktur politik, yang disandingkan dengan desentralisasi ekonomi. Ini memungkinkan munculnya kreativitas bisnis lokal yang disupervisi dari Pusat.
  3. Adaptif. Mudah beradaptasi terhadap perubahan cepat situasi sosial. 

Fenomena pertumbuhan China ini membantah teori Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam bukunya Why Nations Fail, yang mengatakan bahwa negara dengan kekuasaan yang terpusat hanya pada sedikit orang, cenderung menyebabkan terjadinya eksploitasi terhadap rakyatnya. Dan biasanya tak peduli terhadap pertumbuhan ekonomi, teknologi baru, pendidikan dan investasi. Namun itu tak terjadi dengan China. Sebaliknya, justru tumbuh menjamur dua puluhan juta perusahaan swasta baru. Alih-alih menghambat perkembangan teknologi, China justru berupaya menjadi pionir teknologi baru dengan penggelontoran triliunan dollar untuk mendukung berbagai pengusahaan, pusat penelitian, universitas dan zona hi-tech.

Sinergi Pemerintah dan Partai Politik

Konsentrasi kekuatan politik China kembali mirip dengan era kerajaan, ketika raja memegang supremasi kekuasaan. Puncak kepemimpinan Partai Komunis adalah pemegang kekuasaan tertinggi. 

Realitas keseharian yang terjadi, adalah kekuatan roda ekonomi berada di tingkat pemerintahan lokal atau tengah. Merekalah yang mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai target, melaksanakan reformasi dan memasukkan investor asing.

Salah satu faktor besar dalam keberhasilan perekonomian Tiongkok adalah kemampuannya untuk bisa menerima perubahan, inovasi, dan risiko — hal-hal yang lazimnya tidak terkait dengan rezim politik terpusat.

Model konsentrasi kekuasaan politik yang dikawinkan dengan desentralisasi adalah khas ekonomi-politik China. Pemerintah pusat mengurusi politik domestik dan internasional serta menyusun semua kebijakan ekonomi. Sementara pemerintah lokal bertugas mengimplementasikan kebijakan ekonomi tersebut.

China Baru

Achieving high growth can be impressive, but the key question is, at what cost?

China telah berubah. Sebelumnya, tuntutan terhadap tingginya Pertumbuhan Ekonomi (Economic Growth), telah banyak mengorbankan sektor lingkungan. Dan paradigma pembangunan baru, telah menyadarkan China akan pentingnya kualitas pertumbuhan. Sehingga selanjutnya pembangunan fisik juga diiringi dengan pembangunan infrastruktur lunak, seperti Pendidikan, Kesehatan dan Pelayanan Publik lainya.

Kongres Partai Komunis ke-20, 2022, tidak lagi menempatkan Pertumbuhan Ekonomi sebagai satu-satunya agenda prioritas. Kualitas Pertumbuhan (bukan Kuantitas) menjadi hal utama, seperti halnya Keamanan dan Kemakmuran. Kurva Lingkungan Kuznet menjadi acuan penting.

Pada awalnya, masyarakat banyak mengabaikan Lingkungan demi percepatan pertumbuhan ekonomi. Namun setelah kelayakan Pendapatan tercapai, maka mereka lebih membutuhkan Lingkungan yang lebih baik. Meskipun dibutuhkan biaya lebih besar. Ketika kesejahteraan telah dirasa semakin tinggi, maka tuntutan akan Kesehatan dan Lingkungan yang lebih baik pun juga menjadi tinggi.   

Kini, tuntutan terhadap GDP setinggi mungkin, telah bergeser. Menjadi tuntutan meningkatnya Kualitas Hidup yang lebih baik.

Meskipun tumbuhnya kelas menengah China tidak serta-merta dibarengi dengan bertambahnya peran partisipasi politik, namun tetap menjadi tekanan politik yang perlu diperhitungkan. Bila institusi politik gagal menyikapi berkembangnya sosio-ekonomi, akan menyebabkan kekecewaan publik. Dan keberhasilan pemerintah China menyikapinya, berakibat fenomena Arab Spring tidak terjadi disana. Terkenal semboyan partai Komunis China, “yu shi ju jin”, terus maju bersama waktu.

Legitimasi Kekuasaan

Legitimasi Partai Komunis seringkali menjadi gunjingan di berbagai negara Demokrasi. Namun realitasnya, rasa Aman dan Kemakmuran materiil memang sudah dirasakan masyarakatnya. Dan yang lebih memuaskan lagi adalah dirasakannya tanggapan cepat Pemerintah terhadap keluhan-keluhan masyarakat terkait dengan pelayanan publik.

Pranab Bardhan, ekonom, berpendapat bahwa sistem pemerintahan sentralisasi cocok untuk program jangka-panjang, namun mempunyai kelemahan dalam hal akuntabilitas dan keluwesan. 

Demikian juga dengan sistem politik pluralisme, akan menguntungkan dalam isu keterwakilan dari populasi yang beragam. Namun, akan sangat mahal untuk keperluan aksi kolektif (collective action). Demikian juga, musyawarah dalam alam demokrasi akan berperan penting pada legitimasi sosial. Namun, kompetisi antar partai juga akan terus menurun hingga di tingkat akar-rumput. 

Alih-alih memenuhi kewajibannya untuk melayani keperluan masyarakat yang beragam, Demokrasi justru seringkali dibelokkan menggunakan kekuasaan uang dan lobbying

Markus K. Brunnermeier, ekonom Princeton University, berpendapat bahwa ekonomi politik China memang sedang jaya, namun meragukan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai goncangan. 

Model Pertumbuhan ekonomi China yang gemerlap tersebut, tidaklah cukup lentur. Kredit tetap perlu disuntikkan untuk memutar roda ekonomi. Intervensi terhadap harga properti dan harga saham perlu selalu dilakukan. Dan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, tetaplah membutuhkan biaya mahal. Entah untuk mencegah keruntuhan finansial ataupun mengawal kebijakan Zero Covid (saat pandemi).

Menurut Brunnermeier, “an economy, or a system, is most sustainable when it can be more like a reed than an oak, that “bends often but does not break”. That would be a worthy goal for China’s new playbook”.

6. The Financial System

Menurut Penulis, sistem finansial China belum cukup berkembang. Kredit bank di China pada tahun 2019 mencapai 165% dari GDP. Sementara AS hanya membutuhkan kredit sebesar 52% dari GDPnya. 

Di AS, nilai saham yang beredar di bursa saham sebanyak 150% dari GDP. Dan jumlah Bond yang beredar mencapai 205% dari GDP. Sementara di China, total saham di pasar hanya 60% GDP dan pasar Bond (2020) sebanyak 113% GDP.

Asset yang dikelola Investment Fund di China tidak lebih dari 12% GDP (lebih 100% di AS). 

The Financial System as a Tool

Bank-bank Pemerintah lebih suka memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan milik negara, yang diarahkan untuk keperluan di bidang infrastruktur, teknologi, dan industri. Sesuai program pemerintah.

Ada 5 bank pemerintah, yang menguasai 40% total deposit perbankan. BUMN lebih banyak menerima kredit untuk keperluan proyek-proyek Pemerintah, umumnya dibidang infrastruktur, teknologi, dan industri. Alih-alih diberikan pada masyarakat atau sektor swasta, banyak kredit justru diberikan pada Perusahaan Pemerintah yang susah untuk dijual. Sangat beresiko. 

Non Performing Loan (NPL) pada Bank-bank Pemerintah China mencapai 20% total kredit di tahun 2000an. Bahkan di puncak krisis 2009, NPL bank di AS hanya mencapai tidak lebih dari 5%. 

Ketika Bursa Saham kembali dibuka 1990, di Shanghai dan Shenzen, mayoritas pesertanya adalah perusahaan Pemerintah. Tujuan Deng Xiaoping saat itu bukanlah meningkatkan dana perusahaan privat. Melainkan, untuk menyehatkan perusahaan pemerintah dan mampu melantai di bursa saham. 

Tahun 2000, 70% dari perusahaan yang melantai di bursa saham, adalah BUMN. Dan tahun 2018 komposisi BUMN turun menjadi 30% karena makin banyaknya perusahaan privat yang turut bermain di bursa saham.

Pertumbuhan dan Bursa Saham

Pertumbuhan ekonomi China (2000-2014) jauh melewati Brazil, India, Jepang dan AS. 

Korelasi positif antara Pertumbuhan GDP dan pendapatan rata-rata Bursa Saham dalam waktu lima tahun, bisa mencapai 50% di UK dan Jerman serta 30% di AS. Namun itu tidak terjadi di China, atau korelasi 0%. Atau tidak ada korelasi antara pertumbuhan GDP dengan pendapatan Bursa Saham.

Ini berarti masyarakat tidak turut serta menikmati buah pertumbuhan ekonomi melalui Pasar Modal. Yang juga berarti bahwa kinerja perusahaan di Pasar Modal tidak selalu menunjukkan fundamental value.

Return on assets, return on equity, dan net income growth suatu perusahaan listed tidak menunjukkan margin yang lebih bagus daripada perusahaan unlisted

Ditengarai, ada dua faktor penyebab buruknya kinerja perusahaan listed, yaitu:

  1. Proses seleksi untuk menjadi perusahaan listed. Di China mesuknya perusahaan ke lantai bursa didasarkan pada Persetujuan Pemerintah, yaitu China Securities Regulatory Commission (CSRC). Tidak seperti lazimnya persyaratan masuk bursa saham di negara lain, dibutuhkan Laporan Finansial secara terbuka (published) dan kemudian mendaftarkan diri untuk melakukan IPO. 
  2. Perilaku buruk perusahaan, setelah masuk ke dalam bursa saham. Di China, return on assets rerata 50% setelah satu tahun IPO, sedangkan di AS hanya turun tak lebih dari 10%.

Syarat wajib untung selama 3 tahun hingga IPO, membuat banyak perusahaan China tidak bisa listing di negerinya. Dan memilih listing di luar negeri. JD.com perusahaan terbesar kedua setelah Alibaba, tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut, karena dua tahun sebelum IPO, 2014, menunjukkan adanya kerugian dalam Laporan Keuangannya. Bursa saham Nasdaq kemudian menjadi pilihan JD.com, dengan market capitalization sebesar $115 milyar.

Banyak pengamat membedakan Pasar Equity China dengan AS. Pasar Saham China lebih melihat ke masa lalu, sedangkan Pasar Saham AS melihat potensi perusahaan ke masa depan.

Tahun 2000 hingga 2018, perusahaan China yang melantai di bursa saham luar negeri meningkat hingga empat kali. Bahkan di pertengahan 2021, bursa saham AS mengelola perusahaan China senilai $2,1 Triliun.

Di China, Return on Assets (ROA) berkurang hingga 50% dalam tahun yang sama setelah IPO. Di AS, ROA hanya berkurang tidak lebih 10% dalam kurun waktu yang sama.

Kinerja buruk perusahaan China biasanya terjadi karena terlalu ekspansif investasi di bidang yang bukan kompetensi utamanya. Bisnis properti merosot tajam di tahun 2021 hingga hampir mengganggu stabilitas finansial, karena ekspansi bisnis di bidang peternakan babi, air kemasan, klub sepakbola dan mobil elektrik. Yang semua ekspansi bisnis tersebut berada di luar kompetensinya.

Bursa saham China sangat bergejolak. Tahun 2008, Bursa Saham China sempat merosot hingga 70%, hanya beberapa bulan setelah Shanghai Stock Exchange (SSE) mencatat komposit index puncak tertingginya. Di tahun 2015, nilai saham di SSE merosot ⅓ nya hanya dalam satu bulan, setelah meningkat 150% pada bulan sebelumnya.

Di China, retail investors menguasai 80% bursa saham. Sementara di New York Stock Exchange, 85% bursa saham dikuasai oleh investor institusi.

The Great Housing Rush

Harga perumahan di China rata-rata naik pesat 4 kali lipat dari tahun 2003 hingga 2013. Harga rumah di Beijing dan Shanghai sama dengan di Boston, $550/feet2. Dan harga di Shenzen hampir mengejar harga di San Fransisco. Namun, pendapatan per kapita di Beijing, Shenzen dan Shanghai hanya sebesar $7.500. Berbeda jauh dengan pendapatan di Boston $40.000. Bahkan di San Fransisco mencapai $50.000.

Shadow banking

NBFI: Non-Bank Financial Intermediation
(Shadow banking)

Shadow banking merujuk pada institusi yang berperilaku semacam bank untuk melakukan bisnis pembiayaan namun bukanlah bank resmi. Bank resmi maupun pemerintah lokal China, juga melakukan Shadow banking. Resesi dunia 2008, juga disebabkan oleh Shadow banking oleh bank-bank resmi di AS. Biasanya mulai dijalankan bank-bank konservatif ketika mereka mulai menyiasati aturan resmi pemerintahnya. Atau menjalankan skema off-balance sheet.

Shadow banking mulai menjadi medium finansial menarik di China, mulai 2005. Wealth management products (WMPs) menjadi produk andalan perbankan. Sejenis deposit yang tidak dibatasi oleh bunga bank (interest rate) atau fixed-rate. Off-balance sheet tentunya. 

Dari kurang 2,6% GDP di tahun 2008, WMP ini meningkat menjadi 40% GDP di tahun 2016. Sejumlah RMB 3,1T WMP terjual. Dan di akhir 2017, tumbuh menjadi 22,2T ($3,36T).

Bank kemudian menyalurkannya kepada perusahaan terpercaya untuk digunakan berinvestasi di pasar bond, instrumen kredit atau investasi di suatu perusahaan atau proyek.

Antara 2010-2015 aset dari perusahaan terpercaya tersebut meningkat dari 6% menjadi 24% GDP. 

Peran Pemerintah Lokal

Kebijakan Anggaran China yang diundangkan sejak 1994 adalah bahwa Pemerintah Lokal tidak diperkenankan Defisit. Hal ini menjadi kesulitan saat resesi ekonomi terjadi pada tahun 2008. Untuk intu, pemerintah lokal mensiasatinya dengan membentuk Local Government Financing Vehicle (LGFV). Institusi bisnis non-pemerintah, yang sebenarnya dimiliki oleh pemerintah lokal. Dari institusi inilah pemerintah lokal bisa meminjam uang dari bank atau Shadow Bank dengan akutansi off-balance sheet. Dan hutang tersebut akan diperlakukan sebagai hutang korporasi, bukan hutang pemerintah.

Tahun 2009, hanya ada 3.800 LGFV. Tahun 2013 tumbuh menjadi 7.170. Dan 30 pemerintah lokal (dari total 36) sudah memilikinya. Hutang yang digelontorkan dari LGFV ini di tahun 2009 sebesar RMB 6T, dan meningkat menjadi RMB 45T enam tahun kemudian. Beberapa tahun yang lalu, LGFV telah mendanai pembangunan Shanghai Tower sebesar $2,4 Milyar, gedung tertinggi ke-2 di dunia.

Menteri Keuangan mendorong Pemerintah Lokal untuk memberdayakan LGFV untuk meminjam uang. Sementara regulator Bank Sentral menyarankan bank pemerintah untuk meminjami LGFV. Sinergi terjadi. Pinjaman sebesar RMB 4,7T di tahun 2009, setengahnya untuk keperluan LGFV. Bila biasanya Pinjaman sebesar 15% GDP, maka di tahun 2009 menjadi 27,5%. Dan hutang diberikan untuk pembiayaan proyek Pemerintah Lokal.

Selanjutnya, LGFV menerbitkan Chengtou Bond. Bond korporasi untuk pembangunan infrastruktur dan investasi, yang dijamin oleh Pemerintah Lokal. Jumlah bond yang terbit tahun 2008 sebanyak 79, kemudian tumbuh hingga 1.704 di tahun 2014. Sumber dana utama bond ini adalah dari Shadow Banking yang dipermudah prosesnya oleh Pemerintah Lokal. 

Setiap Pemerintah Lokal kini menggunakan LGFV untuk menerbitkan Chengtou Bond. Akhir 2014, total outstanding Chengtou bond mencapai RMB 4.95T. Sumber pembiayaan primer bagi Pemerintah Lokal.

Enam tahun setelah Resesi 2008, ekonomi China tumbuh double dari $4,5T ke $9T di tahun 2014. Namun, hutang China juga tumbuh menjadi 230% GDP. Yang mayoritas melalui skema Shadow Banking.

Perbankan di China vs US

Tim Geithner, menteri Keuangan AS tahun 2008, dalam bukunya Stress Test: Reflections of Financial Crises menyatakan bahwa setiap kejadian krisis finansial, sejatinya adalah Krisis Kepercayaan Diri. Bila masyarakat tidak lagi percaya bahwa pemerintah mampu mengamankan bank, pasar saham atau institusi keuangan tempat mereka menyimpan uangnya, maka disinilah krisis keuangan dimulai.

Berbeda dengan di AS, yang mungkin saja tidak akan menyelamatkan bank (Lehman Brothers), pemerintah China tidak akan menghalangi penyelamatan sistem finansial dari keruntuhan

Pemerintah tidak hanya sebagai regulator terhadap perbankan, tapi juga sebagai pemilik saham mayoritas. Dan sebaliknya, bank mempunyai piutang Pemerintah Daerah. Sehingga, rasanya tidak mungkin Pemerintah membiarkan runtuhnya perbankan. Seperti halnya dengan Lehman Brothers. 

Buntut dari Resesi Ekonomi 2008, Utang China terhadap GDP (Debt to GDP ratio) mencapai 275% di tahun 2022.

Asset Pemerintah Lokal di akhir tahun 2017 diperkirakan mencapai RMB 126T ($17,28T). Dan utangnya RMB 29T (2022 menjadi sebesar RMB 61,3T). Hutang rumahtangga yang utamanya untuk kredit perumahan, cukup aman. Jauh lebih aman daripada AS, Jepang atau Spanyol. Terselamatkan karena tingginya tingkat simpanan mereka. 

Interest Rate dan Growth Rate menjadi faktor penentu Debt Sustainability. Bila Interest Rate < Growth Rate maka Debt to GDP semakin kecil. Sehingga Debt Sustainability akan aman. Negara Sedang berkembang, umumnya sedang menikmati Growth Rate yang lebih tinggi daripada Negara Maju.

Jumlah Simpanan China sudah mampu mencukupi untuk menutupi kebutuhan investasi domestik. Sehingga tidak membutuhkan investasi asing. Dengan kata lain, sistem finansial China dalam kondisi stabil, namun tidak cukup efisien

7. The Technology Race

Pertama kali dalam sejarah, negara sedang berkembang dengan tingkat kualitas hidup masyarakat yang hanya ¼ kalinya negara industrialis, namun telah mampu membangun dan memiliki teknologi super canggih.

Tahun 1999, majalah Times dalam edisi “Beyond 2000” masih meremehkan China dengan pernyataan: “China cannot grow into an industrial giant in the 21st century. Its population is too large and its gross domestic product too small.”

Inovasi

Pengertian umum, ada dua jenis inovasi teknologi:

  1. Fundamental breakthroughs. Penciptaan teknologi baru. Revolusioner (0 to 1)
  2. Creative adaptations. Adaptasi dan pengembangan teknologi. Evolusioner (1 to N)

Inovasi China cenderung masuk dalam kategori Creative Adaptations. Menciptakan aplikasi baru berdasar teknologi yang sudah ada. Menjadi lebih baik dan lebih murah. Highly innovative nation.

Persaingan usaha di China cenderung keras. Bahkan brutal. Perang harga, saling melakukan tuntutan pidana, menggagalkan sistem pembayaran, merusak software kompetitor, dll. adalah bagian dari pertempuran tersebut. Positifnya adalah ‘memaksa’ peningkatan kualitas produk, pemotongan biaya produksi secara agresif dan terus berusaha mencari cara monetisasi yang baru.

8. China’s Role in Global Trade

Peran China dalam memperoleh pertumbuhan keuntungan perdagangan global, bisa ditunjukkan dari contoh produksi Iphone. Tahun 2009, dari produksi iphone senilai $100, pemasukan China sebesar $1,30. Pada tahun 2018, dengan harga barang yang sama, pemasukan China menjadi $10,40. Artinya, China telah masuk semakin ke tengah dalam proses Global Supply Changes, mengambil alih peran industri sebelumnya di negara lain.

Tahun 2000 China mulai berperan dalam supply change industri tekstil. Dan di tahun 2017, China sudah mengambil peran utama dalam supply change industri tersebut. Demikian juga dengan sektor information and communication technology (ICT). China telah mengambil alih peran dominan dari Jepang. 

The Rise of Economic Nationalism

Globalisasi memang sudah menjadi semangat semua pihak. Namun, kebijakan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan kecenderungan ekosistem rantai pasokan (supply change) lebih mengarah pada nasionalisasi ekonomi. Di China, ini muncul dalam konsep “dual circulation”, sebagai bagian dari komponen inti dalam Rencana Lima Tahunan China yang ke-14. Dua mesin penggerak ekonomi, yaitu sikap terbuka (international circulation), dan sikap yang lebih mengutamakan pasar domestik (domestic circulation). Kedua penggerak tersebut mesti saling menguatkan.

China telah bergabung dalam Blok Perdagangan 15 Negara Asia (the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di awal tahun 2022, dan berjanji untuk membuka sepenuhnya, sedikitnya 65% di sektor jasa.

FDI terus mencapai puncaknya, meskipun telah terjadi perang dagang dengan AS. Dunia dan China, tetap saling membutuhkan. “Cold politics but hot economics.” 

Global supply chains dan global interdependency akan tetap menjadi hal penting, dan China tak tergantikan.

China telah menjadi bagian kontributor terbesar untuk PBB, WHO, IMF. Dan terus membantu pendanaan World Bank, the Asian Development Bank (ADB), dan mekanisme kerjasama ekonomi multilateral lainnya. Berusaha untuk bisa mandiri, namun tak berharap untuk mendominasi lainnya. Terkenal dengan jargonnya yang MENOLAK semboyan “great powers must be hegemonic” (guo qiang bi ba).

China meyakini akan tetap dapat hidup damai berdampingan dengan bangsa lain yang berbeda nilai, sistem politik, agama dan model ekonomi, meskipun bukan penganut nilai-nilai demokrasi AS.

Memahami bahwa Climate change, environmental degradation, global pandemics, terrorism, dan cybersecurity memerlukan kerjasama dengan banyak pihak, China telah menjadi investor global terbesar ke-3 dalam penelitian untuk Energi Terbarukan. Setiap tahun, China mengalokasikan lebih dari $50 Milyar untuk R&D Energi Bersih. Dan China berjanji akan mencapai Carbon Netral di tahun 2060.

Perlu diketahui bahwa gabungan antara China dan AS saja sudah mencapai 40% konsumsi energi dan emisi global. Juga 50% konsumsi batubara dunia. Maka kedua negara tersebut menjadi penentu dalam kesuksesan Green Initiatives.

9. On the World’s Financial Stage

Kekhawatiran muncul bila terjadi guncangan di Tiongkok, baik dalam bentuk inflasi, pembatasan terhadap sektor properti, atau kegagalan perusahaan, akan berakibat fatal pada pasar global, karena tingkat integrasi keuangan Tiongkok tertinggal jauh dibandingkan dengan AS. Oleh karenanya, perbaikan terhadap sistem finansial dan moneter China menjadi sangat penting.

China’s Opportunity

Di akhir PDII, 44 perwakilan negara-negara Sekutu mengadakan pertemuan di Bretton Woods, New Hampshire, untuk membahas tentang international monetary system. Disepakati bahwa US$ digunakan sebagai mata uang global yang dijamin dengan emas oleh pemerintah AS. Namun, di tahun 1960an, Robert Triffin, ekonom AS, mengkritisinya. Dikenali sebagai Triffin Dilemma. Yaitu prediksi akan gagalnya sistem Bretton Woods karena ketidakmampuan menjaga likuiditas dan tingkat kepercayaan.

Karena tingginya permintaan global, menyebabkan total US$ beredar semakin jauh melebihi nilai emas yang tersedia. Tahun 1971, presiden Nixon terpaksa menghentikan konversi dollar terhadap emas. Dollar AS berubah menjadi “fiat money”, tidak lagi ditanggung oleh komoditi apapun, termasuk emas. Sistem Bretton Woods gagal, sesuai prediksi Triffin.

Matauang US$ yang dipergunakan sebagai cadangan internasional tentu diharapkan mempunyai nilai yang stabil. Kekayaan AS mencapai 25% GDP global, sedangkan permintaan matauang US$ melampaui 60% total cadangan global. Mengingat kondisi ekonomi AS saat ini (buku ini terbit) yang menurun, maka akan semakin sulit untuk dapat diharapkan mampu menjaga kestabilan nilai US$ tersebut.

Bila global kehilangan trust terhadap kemampuan AS untuk membayar hutang-hutangnya, akibat semakin tingginya defisit, maka nilai US$ akan merosot tajam. Untuk itulah dibutuhkan matauang lain selain $.

Great Recession memberi pelajaran buruk pada semua pihak. Bank-bank ternama mengalami kesulitan likuiditas. IMF pun memberi penawaran yang buruk kepada negara-negara sedang berkembang. 

Pada titik inilah, Bank Central China mengambil peran dengan memberi tawaran menarik kepada negara-negara yang sedang kesulitan likuiditas, berbasis Renminbi. Dan alternatif China semacam inilah yang menyebabkan sistem moneter internasional semakin aman dan efisien.

Namun, Renminbi masih belum cukup populer sebagai matauang perdagangan dan pembiayaan. Bahkan belum masuk dalam 5 besar matauang yang dipergunakan dalam perdagangan global.

Matauang yang diakui dunia mesti memenuhi kriteria:

  • Dipergunakan sebagai cadangan dalam bank-bank sentral
  • Dipergunakan untuk tagihan (invoice) perdagangan internasional
  • Dipergunakan sebagai denominasi matauang untuk korporasi, bond pemerintah dan pinjaman bank

Renminbi hanya dipergunakan sebanyak 2.66% dari total foreign reserves pada tahun 2021. Sementara US$ dipergunakan sebanyak 59%. Sebagai alat pembayaran global, Renmimbi hanya dipergunakan sebanyak 4%. US$ 39%, Euro € 33% dan £ 7%.

10. Toward a New Paradigm

Kekuatan sistem pemerintahan China berakar pada struktur birokrasi kuno, yaitu Tiao Tiao Kuaikuai (garis dan kotak). Bisa diartikan sebagai sistem administrasi yang memungkinkan berjalannya perintah dan pengawasan dari otoritas tertinggi ke struktur terendah birokrasi. 

Bangsa Tiongkok yang terus berupaya untuk mendapatkan posisi teratas di kancah global adalah salah satu kenyataan yang harus diakui dan diterima oleh negara-negara lain.

China: Toward the Future

Meskipun sistem ekonomi-politik China cukup kuat, namun ada lima hal penting yang akan mempengaruhi bentuk wajah China di masa depan, yaitu:

  1. Masalah sosial
    1. Perlu diantisipasi persoalan semakin besarnya middle-income group dan perlindungan konsumer
    2. Terjadi meluas di dunia saat ini, porsi pekerja dalam GDP semakin kecil, dan porsi modal semakin besar: daya tawar pekerja semakin kecil, semakin kehilangan kekayaan yang diakibatkan oleh modal yang dikenakan pajak ringan. 
    3. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi mulai menggantikan peran pekerjaan, kesempatan kerja semakin kecil bagi mereka yang berpendidikan rendah.
    4. Ketegangan sosial, frustasi dan kemarahan mulai terjadi dimana-mana karena kesenjangan ekonomi.
  2. China dibawah bayang-bayang status sebagai bangsa dengan sejarah ekonomi yang masih muda.
  3. Masa depan China sangat dipengaruhi dua capaian penting:
    1. Menjadi negara dengan keunggulan ekonomi (GDP).
    2. Bisa terjadi bila China mampu membuat hubungan baik dengan ekonomi global. Pada saat yang sama juga mampu menunjukkan independensi dan kepemimpinan teknologi dan pasokan energi. 
  4. Perlu berbagi dengan AS secara damai dan kooperatif di kedua belah pihak. 
  5. China tidak akan mengubah dirinya menjadi demokrasi ala Barat, namun rakyatnya akan semakin menyadari akan pentingnya lingkungan sosial yang melindungi hak-haknya.

Di tahun 1960an, 1970an, banyak warga China mendapat kesempatan belajar di AS. Kehidupan lebih baik, kebutuhan sehari-hari banyak tersedia, dan pendapatan bisa 10 kali lipat daripada di China. Keinginan tinggal disana, menjadi tujuan hidup. Tahun 2000an mulai banyak pemuda China mencari bersekolah tidak jauh dari China. Masih di kota kosmopolitan, Singapore dan Hongkong. Dan mulai 2013, China sudah menjadi pilihan utama sebagai tujuan pendidikan. Bahkan semakin banyak warga asing yang bersekolah di China.

Deng Xiaoping pernah memberi kesempatan supaya pelajar China yang sudah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, tetap tinggal dan bekerja disana untuk membantu China. Namun ternyata keinginan ‘pulang kampung’ justru jauh lebih besar. Menurut Menteri Pendidikan Cina, ada 5 juta pelajar yang telah lulus dari pendidikan di luar negeri antara tahun 2000-2019, sudah kembali ke China sebanyak 86%.

Hidup di Amerika, Eropa atau Australia, sudah bukan impian lagi bagi para pelajar China. Karena impian tersebut kini bisa diwujudkan dinegerinya sendiri, Cina.

Di awal pemerintahannya, Deng Xiaoping mempunyai ide untuk mengijinkan beberapa orang menjadi kaya supaya bisa mengangkat atau menyelamatkan banyak pihak lainnya dari kemiskinan. Seolah sekoci penyelamat penumpang dari kapal besar yang sedang tenggelam. Berhasil. Beberapa sudah menjadi kaya. Bahkan sangat kaya. Sehingga terjadi kesenjangan kekayaan yang sangat lebar. 

Setengah bagian bawah dari distribusi kekayaan di China, sama dengan yang dimiliki oleh 15% bagian teratas. Sebagai pembanding, di AS dimiliki oleh 12% dan 22% di Perancis. Potensi masalah sosial yang perlu diantisipasi.

Tradisi China yang menempatkan kepentingan komunitas lebih tinggi daripada kepentingan individu, adalah hal penting untuk kemajuan bersama. Budaya inilah yang menjadi perbedaan utama modal sosial China dengan AS.

Bagi siapapun yang masih percaya bahwa gaya demokrasi Barat dengan kapitalismenya adalah satu-satunya jalan menuju kesejahteraan, maka pertumbuhan ekonomi China di kancah global menjadi paradox yang membingungkan.

Tautan:

Eight-point Regulation

Economist’s ‘6-wallet’ theory triggers housing debate

China Bikin Heboh! Xi Jinping Buat 8 Aturan ‘Gila’, Apa Saja?

State Council of the People’s Republic of China, “China and the World in the New Era,” September 27, 2019

Balance of Payments and International Investment Position Statistics

The Bretton Woods International Monetary System: A Historical

Overview

Catatan:

Ini buku yang sangat menarik bagi banyak pihak yang ingin mengetahui wajah ekonomi China. Pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tinggi, dibarengi dengan budaya komunal dengan penuh rasa cinta tanah air. Tak bosan membacanya berulang kali.

Namun demikian, prasangka buruk Penulis, Keyu Jin, tentang kemungkinan terjadinya korupsi dalam proses masuknya perusahaan ke dalam bursa saham, lagi-lagi menunjukkan berperannya ‘kacamata Barat’ dalam membaca fenomena China. Sangat subyektif.

Contoh lain penggunaan ‘kacamata Barat’ yang sepertinya tidak disadari Keyu Jin adalah pernyataan berikut:

The financial system in China is faced with a perennial dilemma: because it is not yet mature, the state feels the need to constantly intervene and preserve its stability. But the more it intervenes, the more distortions are created, and the slower it is to mature.

Kedewasaan ekonomi-politik suatu bangsa, diukur dari seberapa jauh keterlibatan negara. Pandangan yang sangat khas Barat. Sistem ekonomi liberal menjadi acuan dalam menilai sistem ekonomi sosialis China. Tentu akan sangat bias.

Read Full Post »

Salah satu kalimat dalam artikel di buletin digital The Economist, 18 Mei 2023 yang berjudul Joe Biden’s global vision is too timid and pessimistic mengatakan:

“Unfortunately the Biden doctrine fails to rebut the narrative of American decline and so has not resolved the tension between the country’s toxic politics and its role as the linchpin of a liberal order”. Komentar semacam ini banyak ditemukan di berbagai media Barat. 

Kemudian artikel The Economist, 16 Mei 2023, berjudul, Can the west win over the rest of the world?

They fret that ruling elites in many developing countries are starting to prefer dealing with China, which offers more stability, more roads and bridges, and fewer lectures. In Japan’s estimation, American preaching about democracy has been especially ineffective. “Liberal democracy has proved a poor rallying cry,” says one Japanese official.

Intinya adalah, adanya penyangkalan bahwa AS sudah bukan lagi yang No. 1. Ini sikap banyak elite politik AS di pemerintahan, yang menyusun strategi politik, ekonomi dan pertahanan. Sikap AS yang seperti ini menjadi hal penting untuk dikritisi dalam buku “Has China won?”, karya Kishore Mahbubani. Terbit pertama kali di tahun 2020. Mantan pimpinan Badan Keamanan PBB, sekaligus mantan Duta Besar Singapura untuk PBB. Selain itu, Mahbubani juga memetakan kelebihan dan kekurangan strategi geopolitik dari AS dan China. Termasuk mencari celah di antaranya, supaya muncul strategi yang mengarah pada perdamaian global.

Pembuka

Aplikasi digital pembaca ebook, Kindle, mempunyai kemampuan otomatis untuk menampilkan tanda garis di bawah kalimat yang dibuat oleh banyak pembaca buku yang sama. Untuk buku ini, salah satu garis tersebut muncul di bawah penggalan paragraf berikut ini:

In 1950, in PPP (purchasing power parity) terms, America had 27.3 percent of the world’s GDP, while China had only 4.5 percent. At the end of the Cold War, in 1990, a triumphant moment, America had 20.6 percent and China had 3.86 percent. As of 2018, it has 15 percent, less than China’s (18.6 percent). In one crucial respect, America has already become number two. Few Americans are aware of this; fewer still have considered what it means.

Dari pengalaman para pakar geopolitik Singapore, yaitu Lee Kuan Yew, Goh Keng Swee, dan S. Rajaratnam; Mahbubani belajar bahwa langkah pertama untuk merumuskan strategi jangka panjang yang baik adalah dimulai dengan membuat daftar “think the unthinkable”. Mahbubani menuliskan 10 pertanyaan penting yang patut menjadi perhatian para pemikir strategis AS dalam rangka berhadapan dengan China, yaitu:

  1. Perubahan strategi apakah yang perlu AS lakukan, bila tidak lagi menjadi Penguasa ekonomi global?
  2. Apa yang seharusnya menjadi tujuan utama Amerika? Meningkatkan kehidupan 330 juta warganya atau mempertahankan keunggulannya dalam sistem internasional?
  3. Belanja apakah yang sebaiknya dilakukan AS? Mengurangi anggaran belanja senjata untuk pertahanan dan perang ekspansinya, atau meningkatkan investasi untuk pelayanan sosial dan pembangunan infrastruktur? Apakah China lebih menyukai peningkatan atau penurunan anggaran belanja Pertahanan AS?
  4. Apakah Amerika mampu membangun koalisi global yang solid untuk mengimbangi China? Apakah keputusan Amerika untuk meninggalkan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) merupakan keuntungan geopolitik bagi China? Apakah Belt and Road Initiative (BRI), yang merupakan kemitraan ekonomi baru China dengan tetangganya, merupakan ancaman bagi Barat? 
  5. Apakah menggunakan matauang US$ sebagai senjata untuk tujuan sepihak merupakan pilihan strategi geopolitik yang bijak bagi AS? Saat ini, belum ada alternatif praktis untuk menggantikan dolar AS. Akankah US$ tak tergantikan?
  6. Setelah berbagai pelanggaran HAM di berbagai negara lain, sejak “9/11”, apakah bangsa Amerika siap untuk melakukan pengorbanan yang diperlukan demi meningkatkan soft power (kekuatan spiritual) Amerika? Mampukah Amerika memenangkan pertempuran ideologis melawan China, yang masih dianggap sebagai negara “normal”, bukan negara “adidaya”?
  7. Apakah pemikir strategis Amerika mampu mengembangkan kerangka analitis baru untuk menangkap esensi persaingan dengan China? China tidak bermaksud ekspansi dan dua negara demokrasi besar di Asia (India dan Indonesia) tidak merasa terancam dengan ideologi China.
  8. Dengan mengendapnya isu “yellow peril” dalam emosi bawah sadar elit politik AS, apakah masih mungkin rasionalitas bisa diandalkan dalam perencanaan strategis berkaitan dengan China? 
  9. Meskipun China dan Rusia adalah negara komunis, namun ideologi China bukanlah Marxism-Leninism, tapi lebih pada peningkatan peradaban bangsa China. Seberapa banyakkah rakyat AS memahami hal tersebut?
  10. Wei Qi adalah permainan catur China, yang mengandalkan penguasaan aset untuk mengalahkan lawan, dalam tempo permainan yang lamban dan panjang. Berbeda dengan permainan catur Barat yang mengutamakan target menangkap atau membunuh raja. Dengan analogi permainan tersebut, apakah para pemikir strategis AS sudah mempersiapkan sumber daya yang cukup untuk persaingan panjang melawan China?


Kesalahan Besar Strategi China

Bab 2, buku ini menjelaskan tentang kesalahan fatal China yang telah memperlakukan dengan buruk terhadap sebagian besar mitra bisnis AS. Meskipun ada sebagian kecil yang diuntungkan. Sehingga ketika Presiden Trump mengumandangkan permusuhannya dengan China, tak satupun para pengusaha AS yang berbisnis dengan China, terlihat berkeberatan atau berusaha mencegahnya. 

Tahun 1990an, banyak pengusaha AS-China memprotes upaya Washington untuk mencabut status China sebagai most-favored-nation (MFN). Namun ada sedikit yang diuntungkan. Tiga perusahaan raksasa AS ini diantaranya yang diuntungkan berbisnis dengan China. Boeing, General Motor dan Ford.

Boeing. Lebih dari 2.000 pesawat Boeing terjual di China. Mengeruk Pendapatan US$ 1,2 Milyar tahun 1993 dan meningkat 10 kali lipat di tahun 2017 menjadi $11,9 milyar. Dari 5,7% menjadi 21% dari total pendapatan Boeing. Bahkan tahun 2018, Boeing telah mengumumkan bahwa China akan membutuhkan penambahan pesawat sebanyak 7.690, senilai US$ 1,2 trilyun, di tahun 2038. Keuntungan finansial dan penyerapan tenagakerja.

General Motor (GM). Bahkan di negaranya, pasar penjualan mobil dikuasai oleh mobil produksi Jepang. Oleh karenanya, Presiden Reagan pernah meminta pemerintah Jepang untuk membatasi jumlah ekspor mobilnya ke AS. Untuk menyelamatkan produksi dalam negerinya. Mobil yang tidak kompetitif di negeri sendiri ini, ternyata sukses di pasar China. Bagaimana bisa? 

GM menjual 3,64 juta mobil di China tahun 2018. Rahasia kesuksesan ini karena GM bermitra dengan perusahaan lokal yang punya ‘kedekatan’ dengan Partai Komunis China, Shanghai Automotive Industry.

Laporan CNN, Februari 2017 menyatakan bahwa China menjadi pasar terbesar penjualan mobil GM. Operating Profit 2016 mencapai $ 12,5 milyar. Meningkat 16% dari tahun sebelumnya. Industri pabrikan AS ini mengalami kebangkrutan 7 tahun sebelumnya, sehingga perlu mendapat “bailout” dari pemerintah federal AS. China telah menyelamatkannya.

GM dan Ford laris manis di China karena mendapatkan perlindungan atau proteksi dari pemerintah. Kebijakan ini dilakukan China untuk membatasi banjirnya produk Eropa di pasar mobil China.

Namun, banyak produk lain AS yang mengalami hambatan di pasar dalam negeri China. Ada sedikitnya tiga hambatan utama dalam kelancaran perdagangan AS-China, yaitu:

  1. Otonomi daerah. Menyebabkan tak terawasinya oleh Beijing, perilaku yang tak semestinya terhadap produk AS di berbagai propinsi dan kota besar. Misalnya, pemaksaan transfer teknologi, pencurian hak cipta, pengenaaan tarif, dll.
  2. Pengalaman buruk resesi finansial global 2008 yang menyebabkan kekacauan ekonomi sehingga muncul resistensi terhadap produk asing.
  3. Kelemahan strategi ekonomi kepemimpinan pusat di tahun 2000 an. Pertumbuhan pesat ekonomi China (10,29%) tahun 2000 an, banyak disumbang oleh perilaku ‘perang dagang’ dengan AS..

Dalam pidatonya Singapura, November 2018, Hank Paulson, Menteri Keuangan AS, mengatakan bahwa:

“17 years after China entered the WTO, China still has not opened its economy to foreign competition in so many areas. It retains joint venture requirements and ownership limits. And it uses technical standards, subsidies, licensing procedures, and regulation as non-tariff barriers to trade and investment. Nearly 20 years after entering the WTO, this is simply unacceptable. It is why the Trump Administration has argued that the WTO system needs to be modernized and changed. And I agree”.

Selanjutnya,

“Meanwhile, Chinese firms are permitted to operate in other countries in ways that foreign firms cannot act in China itself”.

Peraturan dagang WTO memang “mewajibkan” negara berkembang supaya memberikan insentif untuk melakukan transfer teknologi terhadap perusahaannya, yang bekerjasama dengan mitra usaha di negara kurang berkembang. Persoalan muncul ketika Barat merasa keuntungan finansial yang diperoleh, tidak berimbang setelah pemenuhan berbagai persyaratan yang dipersyaratkan. Larry Summers, mantan Menteri Keuangan di era Obama, berpendapat, 

“the reality is that there is no credible calculation that suggests that U.S. GDP would be more than one percent higher even if China had acceded to every American economic request.”

China semestinya bisa belajar dari sejarahnya sendiri. Ketika Tembok China dibangun dan menutup diri dari dunia luar, kemunduran pun terjadi. Dan ketika Deng Xiaoping mulai membukanya, pertumbuhan ekonomi pun bergerak naik. Sudah saatnya mentalitas ‘tertutup’ era kekaisaran yang sudah berlangsung 2.000an tahun mulai diakhiri. Dan mulai terbuka membina jejaring sosio-ekonomi dengan banyak negara lain. Termasuk dengan AS.

Terbukti, laporan Mckinsey Juli 2019 menunjukkan capaian ekonomi China yang berkembang pesat. China menjadi dikenal global sebagai pasar, pemasok dan investor yang penting. Untuk menjaga keberlangsungan pertumbuhan di China, dibutuhkan lingkungan pengusahaan yang nyaman bagi mitra asing.

Anehnya, justru AS (Trump) yang mulai menutup diri dari iklim multilateral menjadi bilateral, bahkan uni-lateral. Maka bisa diduga bahwa kemunduranlah yang akan terjadi di AS.

Kesalahan Besar Strategi AS

Ketika Perang Dingin AS – Uni Soviet berlangsung, AS berinisiatif memimpin geopolitik multilateral global dengan membentuk sistem Bretton Wood, Marshall Plan dan NATO. Kini, China justru pemimpin inisiatif multilateral baru, dengan membentuk Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan the Belt and Road Initiative (BRI). Keanggotaan terus berkembang. Inggris, Jerman, India dan Vietnam menjadi anggota pendiri AIIB. Dan AS sebagai oposisi. Bahkan cenderung kearah bilateral, dengan mengancam akan keluar PBB.

Defisit Fiskal dan Defisit Perdagangan AS dengan China, tidak disebabkan oleh ketidakadilan China. Melainkan karena tingginya pengeluaran AS yang melebihi pemasukannya. Persoalan domestik tentang strategi makoekonomi. Menurut professor Harvard Marty Feldstein: 

“foreign import barriers and exports subsidies are not the reason for the US trade deficit… the real reason is that Americans are spending more than they produce… blaming others won’t alter that fact.”*

Penerbitan Obligasi atau Treasury Bill terpaksa dilakukan oleh AS untuk meningkatkan kepemilikan Dollar, yang diperoleh dari negara-negara lain. Karena tetap tingginya kekurangan Dollar, terpaksa AS membanjiri pasar dengan melakukan pencetakan Dollar.

Bila keberatan Trump adalah tentang defisit neraca perdagangan antara AS-China, mungkin China akan bersedia memperbaikinya. Masalahnya, untuk mengatasi defisit fiskal dan perdagangan, Trump memilih mengenakan sistem tarif terhadap masuknya barang-barang dari luar negeri, yang dicanangkan Juli 2018. Dan celakanya, Tarif tersebut dikenakan terhadap banyak negara lain, baik kawan maupun lawan. Termasuk EU, Canada, Jepang, Mexico dan tentu saja China. Strategi Tarif ini justru mempersulit diri sendiri. Myron Brilliant, executive vice president dari the US Chamber of Commerce, berkomentar, “Trump may be frustrated with China, but the answer isn’t for US companies to ignore a market with 1.4 billion consumers.”

Sikap Trump semakin mempersulit banyak pihak. Bahkan, Trump mulai menggunakan matauang Dollar AS sebagai senjata untuk mengancam negara lain (weaponization). Isolasi Iran contohnya. Tahun 2012, Standard Cartered bank, Inggris, terkena denda oleh pemerintah AS sebesar US$ 340 juta karena membantu transaksi perdagangan dengan Iran, MENGGUNAKAN matauang US$. Beberapa bank asing juga terkena denda karena terlibat transaksi dengan Iran, Cuba atau Sudan. BNP Paribas SA juga terkena denda $8,9 milyar di tahun 2015. Oleh sebab yang sama. Dilema memegang US$ mulai dirasakan banyak negara lain, serasa “a double-edged sword, cutting the fingers of whoever holds it”. Ini memicu tindakan banyak pihak untuk meninggalkan US$ dalam transaksi perdagangan. 

Untuk mengatasi dilema tersebut, Perancis, Jerman dan Inggris membentuk

Instrument in Support of Trade Exchanges (INSTEX), sebuah upaya alternatif untuk ‘mensiasati’ perdagangan dengan Iran tanpa menggunakan US$ sehingga tidak terkena sangsi oleh AS. Inisiatif tersebut menjadi modus yang semakin banyak dilakukan negara lain. Bukan hanya karena kekhawatiran atas hukuman dari AS, tapi juga karena mulai turunnya tingkat kepercayaan terhadap stabilitas nilai matauang US$. Akibat berantai dari trust terhadap US$ yang menurun, akan memicu negara lain untuk mengurangi kebutuhan adanya cadangan matauang US$. Kebutuhan permintaan US$ yang semakin kecil, akan menyebabkan turunnya nilai US$. Bila US Dollar tidak lagi dominan sebagai cadangan matauang global, maka institusi finansial AS yang pertama menjadi korban, karena Pendapatan dan Keuntungan mereka diperoleh dari transaksi US$. Menjadi masalah ekonomi AS.

Apakah China berwatak ekspansionis?

Genghis Khan (1162-1227)

Mantan Duta Besar AS untuk China, Stapleton Roy mengatakan bahwa dalam konferensi pers bersama Obama pada 25 September 2015, Xi Jinping telah mengajukan proposal tentang Laut China Selatan, dan mendukung penuh kesepakatan dan implementasi dari the 2002 Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea, yang ditandatangani bersama 10 negara Asia Tenggara. Isinya adalah, China tidak berminat (no intention) untuk melakukan militerisasi di Kepulauan Spratly, Laut China Selatan. Sayangnya, AS, negara yang berjarak ribuan kilometer dari Spratly, justru yang aktif berpatroli di wilayah tersebut. Provokasi ini memancing China untuk menanggapinya dengan aksi militer di area yang sama. Intinya adalah, Xi Jinping tidak melanggar janji. Dan AS lah yang menolak proposalnya.

Mahbubani menjelaskan bahwa lebih dari 2.000 tahun kekaisaran China menjadi negara terkuat di wilayah Eurasian. Sehingga, bila China memang berwatak militeristik, maka pasti sudah banyak negara taklukannya. Seperti halnya ketika bangsa Eropa menjadi penjajah di berbagai belahan dunia.

Professor Wang Gungwu dari National University of Singapore, kultur bangsa Han adalah petani. Mereka menyebar ke berbagai wilayah China hanya untuk mendapatkan tanah subur untuk pertanian. Bila hanya stepa (padang tandus) atau pegunungan terjal yang ditemui, maka berhentilah pencarian mereka. Pulang. Peperangan atau penaklukan bangsa Han terjadi dalam wilayah China. Menurutnya bangsa yang ekspansif teritorial di wilayah China adalah bangsa Mongol (Genghis Khan, Kublai Khan).

Apakah masih mungkin AS berubah sikap terhadap China?

Elite AS banyak yang meyakini bahwa AS akan mengalahkan China karena 5 hal:

  1. Telah memenangkan perang melawan Jerman, Jepang, dan Uni Soviet dalam perang dingin.
  2. Tak meyakini kekuatan ekonomi komunis China
  3. AS mempunyai sumberdaya
  4. AS meyakini bahwa secara fundamental sudah mantap secara sosial dan aturan hukum
  5. Meyakini bahwa banyak negara di dunia lebih berpihak pada AS

Menurut Mahbubani, keyakinan diatas adalah ilusi belaka, karena:

  1. AS sedang berhadapan dengan bangsa berperadaban matang dan terkuat di dunia
  2. Kualitas sumberdaya manusia China sekarang sedang sangat tinggi
  3. Persaingan global sekarang tidak dalam bentuk fisik, namun kualitas intelektual. Dan belanja China untuk R&D jauh melebihi AS sejak tahun 2000
  4. Rakyat AS tidak lagi menentukan nasibnya sendiri
  5. Sejak berakhirnya WW2, AS telah kehilangan keteladanan dalam hal disiplin strategis maupun moral.

Dan AS tetap tidak dapat menerima bahwa dirinya bukan lagi nomor 1.

Apakah China mesti berubah menjadi demokratis?

Kongres PKC 11 Maret 208 memutuskan untuk tidak lagi membatasi masa jabatan Presiden China. Media Barat, para pengamat China dan elit politiknya pun mulai ribut meresponnya. Kepemimpinan brutal, kemunduran budaya politik, kesewenang-wenangan, pre-modern, menjadi kata-kata ungkapan kekesalan media Barat, menanggapi hasil kongres tersebut. Bahkan para pengamat China dari AS, menyamakan Xi Jinping dengan Mao Zedong yang mengorbankan puluhan juta rakyatnya dalam Revolusi Kebudayaan dan Lompatan Jauh Kedepan. Dan semakin membingungkan, ketika elite politik AS terus meyakini bahwa upaya pendekatan terhadap China akan menyebabkan secara perlahan terjadinya keterbukaan sistem politik dan mengikuti arus utama proses liberalisasi Barat. Barat telah memaksakan ukuran sepatunya, untuk dikenakan oleh bangsa China.

China mempunyai sejarah kultur politik dan tradisi yang panjang. Bahkan sepuluh kali lebih panjang dari usia kemerdekaan AS. Tumbuh dan runtuhnya kekaisaran China telah terjadi berkali-kali, sejak penyatuan China oleh Kaisar Qin Shi Huang di tahun 221 SM. Dan Chaos menjadi pengalaman politik masyarakat yang buruk dan sangat ditakutinya. Pengalaman penderitaan sejak Perang Candu, 1842 hingga terbentuknya RRC, 1949, telah mengajarkan bangsanya untuk cenderung lebih memilih kepemimpinan terpusat yang kuat daripada kompetisi politis yang berpotensi chaos. 

Sejarah panjang dan kultur politik China inilah yang mungkin menjadi alasan Xi Jinping untuk tidak lagi membatasi masa jabatan Presiden. Juga turut memperkuat keputusan tersebut adalah munculnya dua faksi PKC yang dipimpin Bo Xilai dan Zhou Yongkang, yang memicu perpecahan, dan meningkatnya kasus korupsi.

Klaim Kebajikan

Menarik pendapat Mahbubani bahwa penyebab kesulitan memperbaiki hubungan China-AS adalah karena adanya konstruksi mental yang kuat dalam alam bawah sadar bangsa AS bahwa mereka memiliki keistimewaan kebajikan yang tidak dimiliki bangsa lain. Lihat saja bagaimana mereka mengukur dirinya seperti disebutkan Stephen Walt, professor Hubungan Internasional Universitas Harvard : ‘empire of liberty,’ a ‘shining city on a hill,’ the ‘last best hope of Earth,’ the ‘leader of the free world,’ atau the ‘indispensable nation”. 

Klaim berlebihan atas karakter bangsa yang istimewa tersebut berimplikasi pada keyakinan bahwa AS telah memberikan kualitas hidup terbaik bagi bangsanya, dibandingkan negara lain. Atau, dengan kata lain,  AS adalah bangsa terbaik di dunia yang sukses dalam mengembangkan kehidupan bangsanya.

Tabel Average Income of an Individual in the Bottom 50% of the Nation or Region

(Sumber: Prof. Danny Quah of the National University of Singapore)

Data tersebut menunjukkan bahwa bangsa AS yang berpendapatan di bawah rerata 50%, mengalami penderitaan karena penurunan tajam pendapatannya. Yang tidak dialami oleh negara lain. 

Tabel Ratio of avg. income in the top 1% to avg.  income in the bottom 50%

Terlihat bahwa Kesenjangan telah terjadi di banyak negara di dunia. Di China, persentase Kesenjangan naik 4x lipat dari tahun 1980 hingga 2015. Di Asia, naik hampir 2x lipat. Namun angka persentase kesenjangan di AS, adalah 138 di tahun 2010 (bukan 2015). Sungguh luar biasa,

Belum lagi studi dari Princeton University economists, Anne Case and Angus Deaton yang menyatakan betapa menyedihkan masa depan AS:

“compounds over time through family dysfunction, social isolation, addiction, obesity and other pathologies.”

Ray Dalio, seorang pengusaha hedge fund terkemuka di AS, menyatakan bahwa kelompok 60% populasi AS masuk dalam kategori miskin. Bahkan semakin buruk, 25% terendah dari kategori miskin tersebut, selama 10 tahun tetap tidak mampu untuk naik ke tingkat lebih tinggi. Tetap miskin. Dan persentase kenaikan tingkat semakin kecil. Turun dari 23% di tahun 1990, menjadi hanya 14% di tahun 2011. Makin terpuruk.

Ini mematahkan klaim bahwa “America is a society where hard work brings rewards”. Mengapa tidak banyak bangsa AS menyadarinya? Bahkan masih keukeuh menganggap “America is truly an “exceptional” nation in this area”?

Dua profesor dari Princeton University, Martin Gilens dan Benjamin Page, melakukan studi tentang pengaruh masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Hasilnya adalah, elit ekonomi dan kelompok bisnis mempunyai pengaruh kuat terhadap kebijakan pemerintah. Sebaliknya masyarakat kebanyakan hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil atau bahkan tidak punya pengaruh. Kesimpulan selanjutnya adalah, asas mayoritas dalam masyarakat bukanlah pengaruh penting dalam pembuatan kebijakan publik. Plutokrasi sedang terjadi di AS dan demokrasi terancam krisis.

Dan Mahbubani pun sampai pada kesimpulan bahwa: Bila pertandingan dilakukan antara Amerika dan China dengan pilihan Demokrasi yang sehat dan lentur versus sistem Komunis yang kaku dan rigid, maka Amerikalah yang menang. Tapi bila pilihannya adalah antara plutokrasi yang rigid dan kaku dengan sistem meritokrasi yang lentur, maka China lah pemenangnya. 

Sikap dunia terhadap perselisihan dagang AS-China

Sebagian besar negara-negara di dunia melihat perang dagang AS-China, yang dimulai dengan mundurnya AS, dibawah Trump, dari Kesepakatan Perdagangan Bebas (Free Trade Agreements), akan memberi dampak buruk bagi mereka. 

Saat mengunjungi China pada September 2019, Angela Merkel mengungkapkan kekhawatirannya,

“we hope that there will be a solution in the trade dispute with the United States since it affects everybody”. 

Demikian pula dengan Perdana Menteri Singapore, Lee Hsien Loong, pada kesempatan Shangri-La Dialogue, May 31, 2019, mengungkapkan keprihatinannya dan berharap bahwa inisiatif AS-China, seperti the Belt and Road Initiative (BRI) dan kerjasama Indo-Pacific, 

“should strengthen existing cooperation arrangements centered on ASEAN… not undermine them, create rival blocs, deepen fault lines or force countries to take sides. They should help bring countries together, rather than split them apart”.

Perselisihan AS-China ternyata tidak menyebabkan dunia untuk terpaksa memilih diantara keduanya. Namun justru memperkuat diri masing-masing dan melanjutkan kerjasama multilateral untuk kepentingan jangka-panjang. Misalnya, the Trans-Pacific Partnership (TPP), yang ditinggalkan AS, tetap melanjutkan diri dengan nama baru the Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Negara-negara Afrika justru membentuk African Continental Free Trade Agreement (AfCFTA) pada 30 Mei 2019. Bahkan, kemudian terbentuk kesepakatan perdagangan terbesar (jumlah populasi dan total GDP) yang beranggotakan 10 negara ASEAN, Australia, China, Jepang, Selandia Baru dan Korea di tahun 2020. Yaitu the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). India akan bergabung belakangan. 

Ini adalah kegagalan Gedung Putih di era Trump, yang mencoba ‘menyerang’ China. Yang ternyata justru berakibat buruk bagi AS. Tidak hanya terpisah dari China, namun juga tertinggal dari kesempatan pertumbuhan ekonomi bersama 15 negara RCEP.

Kesimpulan Mahbubani

Mahbubani menganggap adanya paradox dalam hubungan China-AS. Yaitu, perselisihan yang tak terhindarkan, namun sekaligus juga potensi untuk bisa dihindarinya perselisihan China-AS.

Yang menarik dari kesimpulan adalah bahwa ketika China bermaksud untuk meningkatkan kualitas peradabannya, teriring sikap di dalamnya tidak adanya niatan untuk ekspansi atau menyebarkan ideologi komunisnya. China akan berkembang dan merambah ke negara lain dengan sendirinya, selaras dengan tumbuhnya komunitas perdagangan antar negara dan kerjasama luar negeri, serta meningkatnya ekonomi domestik. Di sisi lain, AS selalu beranggapan bahwa China adalah ancaman yang memungkinkan runtuhnya AS, yang selama ini dirasakannya sebagai negara adidaya, serta penguasa dunia, dalam kekuatan pertahanan dan ekonominya.

Keputusan geopolitis, sangat dipengaruhi para personal di dalamnya, yang terus berganti, baik China maupung AS. Meskipun secara teori, kepentingan nasional yang menjadi agenda utama, namun dalam prakteknya personalitas sangat menentukan hasilnya. 

Richard Nixon dan Henry Kissinger, serta Mao Zedong dan Zhou Enlai menjadi penentu kesepakatan kerjasama yang baik antara China-AS di era 1970an. Demikian pula dengan George H. W. Bush dan Deng Xiaoping setelah berlalunya peristiwa Tiananmen, 1989. Namun, hubungan menjadi sedikit renggang di era George W. Bush dan Hu Jintao. Juga tidak harmonis ketika Hillary Clinton menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS, 2009-2012. Dan semakin buruk hubungan kedua negara ketika Wakil Presiden Mike Pence, di masa pemerintahan Trump, memberikan pidato yang menyerang China, 4 Oktober 2018. 

Menurut Mahbubani, itu adalah sebuah Pidato yang tak mungkin disampaikan oleh elit Washington di era sebelumnya. Wakil presiden semestinya lebih tenang dan hati-hati. Ternyata Pidato sejenis justru diulang oleh Wakil Presiden Mike Pence pada tanggal  24 Oktober 2019,

“… many of Beijing’s policies most harmful to America’s interests and values, from China’s debt diplomacy and military expansionism; its repression of people of faith; construction of a surveillance state; and, of course, to China’s arsenal of policies inconsistent with free and fair trade, including tariffs, quotas, currency manipulation, forced technology transfer, and industrial subsidies”.

Nine-Dash Line

Pemerintah China juga membuat masalah yang tidak perlu terjadi. Dalam paspornya, China menambahkan gambar batas wilayah negaranya dengan tambahan wilayah yang menjorok ke laut China Selatan hingga perairan Natuna, dengan batas sembilan garis putus-putus (Nine-Dash Line). Indonesia telah melakukan protes. Hal ini juga memancing munculnya sikap keras Presiden George H. W. Bush, untuk turut mendukung kebijakan menjual senjata ke Taiwan.

Mahbubani meyakini bahwa mithos Yellow-peril telah mengendap lama dalam bawah-sadar bangsa AS. Alam bawah sadar ini sering kali muncul dan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berbagai hal yang melibatkan bangsa Asia. China khususnya. Mengalahkan rasional. Napoleon pernah mengingatkan, “Let China sleep; when she awakes she will shake the world”. Sejarah kekuasaan Mongol sangat mengganggu bawah sadar mereka. 

Bangsa Barat cenderung bersikap hitam-putih atau benar-salah. Bangsa China bisa menganggap hitam dan putih adalah benar. Ada kesaling-tergantungan antara keduanya. Komposisi yang saling melengkapi.

Memahami adanya dua pandangan berbeda tersebut, Mahbubani menyajikan lima hal fundamental yang Tidak Kontradiktif antara China-AS:

  1. AS dan China mempunyai kepentingan nasional yang sama untuk meningkatkan kualitas hidup bangsanya
  2. AS dan China perlu untuk memperlambat kecepatan Perubahan Iklim
  3. Tantangan nyata kedepan bagi AS dan China adalah keberhasilan serta kemampuan daya saing ekonomi dan masyarakatnya
  4. Tidak ada benturan peradaban AS-China seperti dituliskan Samuel Huntington dalam artikelnya di Foreign Affairs, “The Clash of Civilizations?”.
  5. Dunia ini adalah tempat yang aman untuk perbedaan bagi AS-China

Akhirnya, satu hal yang bisa dianggap sebagai Kontradiksi mendasar antara AS dan Cina adalah nilai politik (political values).

  • Bangsa AS memegang prinsip kebebasan berbicara, pers, berkumpul, dan beragama. Dan meyakini bahwa setiap manusia berhak atas hak asasi manusia yang sama.
  • Bangsa Cina percaya bahwa kebutuhan sosial dan keharmonisan sosial lebih penting daripada kebutuhan dan hak individu. Untuk itu perlu dicegah terjadinya kekacauan sosial.

Singkatnya, Amerika dan China jelas percaya pada dua perangkat nilai politik yang berbeda. Namun, kontradiksi mendasar hanya akan muncul bila China mencoba mengekspor nilainya ke Amerika. Dan sebaliknya, bila Amerika mencoba mengekspor nilainya ke China.

Mahbubani mengalihkan hal kontradiktif bagi keduanya dengan menciptakan musuh bersama, yaitu Terorisme yang disponsori kelompok Islam Radikal. Ini sebuah lompatan kesimpulan yang sepertinya membutuhkan studi khusus lebih dahulu. Bahwa Amerika dan China masing-masing mengalami gangguan oleh kelompok radikal Islam memang benar adanya, seperti dituliskan dalam bab akhir buku ini, namun penyebab dasar dan pihak-pihak yang terlibat bisa jadi berbeda atau bahkan tidak berhubungan sama sekali. Perlu pembahasan khusus karenanya.

At the end of the day, this is what the six billion people of the rest of the world expect America and China to do: to focus on saving the planet and improving the living conditions of humanity, including those of their own peoples. The final question will therefore not be whether America or China has won. It will be whether humanity has won.

Rekomendasi

Buku yang bagus sekali untuk lebih memahami kultur politik China. Individualisme dan demokrasi, yang selalu diunggulkan dalam kultur Barat, bukanlah satu-satunya acuan yang tepat untuk menilai keunggulan peradaban suatu bangsa.

Tautan

Perubahan respon Indonesia terhadap klaim Nine Dash-Lines Tiongkok yang melewati perairan Natuna

Indonesia protested China passports

The American Dream Is Alive in China, Palladium Magazine, 11 Oktober 2019.

Read Full Post »