Feeds:
Pos
Komentar

JOKOWI - JKPenulis: Firdaus Ali*) Jumat 14 03 14 @ 14:45 PDIP secara resmi mengumumkan Jokowi untuk Calon Presiden RI dari PDIP yang diikuti oleh masyarakat dengan penuh harap. Penantian panjang yang sarat polemik serta dipenuhi dikotomi pro dan kontra majunya Jokowi sebagai Capres RI terbalas. Pengumuman tersebut pasti disambut dengan syukur dan suka‐cita pihak yang penuh harap bahwa perubahan kedepan akan lebih pasti jika dipimpin oleh seorang Jokowi. Di pihak lawan, tentunya menimbulkan kecewa amat sangat, karena seorang Jokowi tentunya menjadi saingan yang berat sesuai hasil dari berbegai survei.

 

Di wilayah bagian selatan Ibukota pengumuman pencalonan Jokowi dilakukan oleh DPP PDIP dilakukan dengan sangat sederhana seakan tanpa persiapan gempita sebagaimana lazimnya kandidat dari partai lain ketika mengumumkan balon presiden mereka. Terpaut jarak nun di utara Ibukota, tepatnya di Rumah Si Pitung di Kampung Marunda yang merupakan representatif dari daerah kumis (kumuh dan miskin) Jakarta, Jokowi dengan cara sangat sederhana dan bersahaja menyampaikan kepada publik tentang amanah yang baru saja dia terima dari Megawati Soekarnoputri. Dengan mengucapkan Bissmillahirohmanirrohim kemudian Jokowi mencium bendera Merah‐Putih dengan hikmat. Selanjutnya Jokowi lugas melangkah meneruskan rutinitas “blusukan” Jumat tersebut.

 

Sebagai negara demokrasi yang sedang terus berjuang untuk maju dengan menjunjung martabat dan keadilan, tentunya berbeda pandang dan pendapat adalah suatu hal yang wajar. Dari anugerah perbedaan plurarisme tersebut bangsa ini bisa menjadi bangsa yang hebat. Hari Minggu, 16 Maret 2014 kemaren adalah hari pertama kampanye untuk Pileg 9 April 2014. Lazimnya kesempatan pesta demokrasi 5‐tahunan ini diisi dengan saling puji atau hujat demi untuk meyakinkan calon pemilih agar memilih partainya. Namun, saling hujat dan berbagai bentuk kampanye negatif lainnya bukanlah cara yang baik untuk dapat memenangkan hati masyarakat pemilih, kiranya pemilih sekrang sudah cukup pintar untuk dapat menilai. Akankah dari suatu perbuatan yang dipenuhi emosi negatif yang dibungkus untuk tujuan mulia suatu “perubahan” akan mendapat restu sang Pencipta untuk mencapainya?

 

Pemilu Legislatif dan Presiden kali ini akan sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Sosok fenomenal Jokowi akan menjadi fokus baik bagi banyak pihak Catatan perjalanannya (track‐record) yang sarat dengan pencapaian peningkatan kapasitas diri mulai dari bawah, yaitu dari seorang pedagang meubel yang menjadi walikota berprestasi di Solo melangkah menjadi Gubenur di wilayah sentral Indonesia yaitu DKI Jakarta. Jokowi memang baru 17 bulan memimpin ibukota dengan segala kompleksitas masalahnya, namun dia sudah memperlihatkan kinerjanya untuk rakyat, berproses dengan nyata menuju suatu perubahan. Namun, tentunya lumrah pula jika semua lawan politiknya kini kemudian mencoba menyerang Jokowi melalui berbagai media komunikasi yang ada dengan mengatakan dia gagal ini dan itu serta tidak punya pengalaman dan lain sebagainya. Termasuk menghujat bahwa Jokowi ingkar janji.   Waduk Pluit

 

Sesungguhnya mengatakan bahwa Jokowi tidak bertanggungjawab dan ingkar‐janji karena meninggalkan Jakarta dengan kompleksitas masalah perkotaannya, adalah kesalah‐ pahaman yang besar. Jokowi tidak akan penah meninggalkan Ibukota seandainya nanti terpilih menjadi Presiden NKRI. Jika Jokowi menjadi Presiden bahkan akan semakin memperkuat komitmennya untuk Ibukota, karena Jokowi sudah mengalami dan paham akan pentingnya peran dan komitmen Pemerintah Pusat untuk pembenahan Ibukota ini. Salah satu kunci utama membenahi ibukota ini dengan lebih cepat dan terintegrasi adalah sangat dibutuhkan adanya komitmen yang kuat dari Pemerintah Pusat (yang dikomandoi oleh Presiden), tidak hanya komitmen anggaran tetapi yang lebih penting adalah otoritas koordinasi untuk kerja yang lebih terarah dan terintegrasi. Permasalahan kota Metropolitan Jakarta terkait erat dengan kota‐kota atau daerah penyangga disekitarnya. Diperlukan koordinasi lintas Propinsi dan Kota/kabupaten sehingga pembenahan ibukota dan wilayah sekitarnya dapat sinergi, harmoni dan konsisten. Untuk itu dibutuhkan bantuan dan komitmen serius dari Pemerintah Pusat.

 

Dalam sejarah penataan ibukota suatu negara, peran dan tanggungjawab Pemerintah Pusat sangat menentukan karena Capital City adalah simbol kehormatan (dignity) suatu bangsa. Masalah‐masalah perkotaan di DKI tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh siapapun gubernurnya jika tidak ada pemahaman yang utuh oleh yang memimpin negara ini tentang akar permasalahannya. Sebagai orang yang pernah menjadi Gubernur Jakarta, dengan posisinya sebagai Presiden kelak, Jokowi justru akan mempunyai keleluasan dalam otoritas koordinasinya. Jokowi justru dapat membantu Gubernur penerusnya untuk dengan cepat dan terarah menangani masalah ibukota, baik berupa kemacetan, banjir, krisis air, dan penataan ruang yang terus memperburuk daya tampung dan daya dukung lingkungan ibukota ini. Kiranya, tanpa campur tangan Pemerintah Pusat dan sikap konsisten dari Presidennya, ibukota sulit dan lambat dibebaskan dari masalah perkotaan yang terus membelitnya karena sebagian besar kewenangan lintas wilayah ada di Pemerintah Pusat.   Kampung Deret

Oleh karena itu, jika ada yang menuduh bahwa Jokowi tidak pantas maju sebagai Capres karena beliau belum berbuat dan bahkan gagal membenahi kemacetan dan banjir di ibukota, itu adalah bentuk rasa frustrasi dan bahkan mungkin saja keberpihakan kepada existing sistem yang korup yang dalam 17 bulan terakhir ini dirubah oleh Jokowi bersamaAhok. Bagaimana kemacetan Ibu Kota dapat diselesaikan oleh seorang Gubernur DKI Jakarta sepihak jika kendali pengadaan kendaraan bermotor dipegang oleh pusat sedangkan upaya membangun sistem transportasi cepat masal terlambat diwujudkan Pusat. Penyelesaian masalah banjir tidak akan mencapai proses kemajuan seperti kini, jika tanpa upaya gerak cepat yang dilakukan oleh Jokowi secara teknis sementara pengelolaan kawasan hulu tidak ada dalam kendali koordinasinya. Sehingga upaya teknis penanganan banjir ibukota hanya sebatas mencoba menghilangkan titik genangan dalam kota dan memastikan pengerukan kali dan situ‐situ dipercepat. Karena memang itulah sebatas kewenangan yang sesungguhnya dimiliki oleh Pemprov DKI.

 

Dari 13 sungai atau kali yang selalu mengancam ibukota, hanya 4 kali yang kewenangan pengelolaannya ada di Pemprov DKI. Bahkan kewenangan pengelolaan waduk dan situ ada di Kementerian Pekerjaan Umum. Apa kurangnya seorang Jokowi yang ingin mengimplementasikan infrastruktur multi fungsi untuk tujuan pengendalian banjir, genangan, dan air baku untuk ibukota serta sekaligus untuk penanganan kemacetan secepat mungkin dengan TIDAK meminta alokasi dana APBN dan APBD sama sekali? Dalam hal ini justru Pemerintah Pusat yang menghambat dengan berbagai alasan sehingga Jokowi belum bisa segera mewujudkan Terowongan Multi Fungsi (TMF) Jakarta atau dikenal dengan Multi‐ purpose Deep Tunnel (MPDT). Kita masih beruntung pada musim hujan ini tidak mengalamibencana banjir yang parah padahal hampir sebagian besar belahan bumi di utara katulistiwa mengalami bencana banjir paling buruk dalam 60‐80 tahun terakhir ini, seperti yang dialami UK, Perancis Selatan, Italia, Jerman, AS, China, Kanada, dan bahkan Brazil sekalipun.

 

Selama ini, hampir seluruh gubernur yang memimpin ibukota ini yang telah mencoba menangani ibukota hanya dengan kewenang (power) dari selatan (baca: Balaikota di Medan Merdeka Selatan) selalu gagal dan larut dalam buruknya birokrasi. Padahal Jakarta sudah dikukuhkan sebagai ibukota NKRI melalui Undang No. 29 tahun 2007 yang sampai hari ini belum ada satupun PP aturan peraturan turunannya yang dibuat oleh Pemerintah Pusat. Melalui Pemilu 2014 khususnya PiIpres 2014 inilah kesempatan untuk merubah cara penanganan ibukota yaitu dengan kewenangan yang didorong penuh dari utara (baca: Istana Presiden di Medan Merdeka Utara). Ketika kemaren Jokowi mendeklarasikan pencapres‐annya kawasan kumis ibukota, itu adalah simbol semangat Jokowi akan menata Indonesia dari daerah termarjinalkan dan termiskin demi Indonesia Baru yang lebih baik dan bermartabat.

 

Jika ada yang mempertanyakan kematangan dan pengalaman Jokowi untuk bisa memimpin bangsa ini, itu adalah sangat wajar sekali. Rakyat Amerika Serikat pada tahun 2009 juga punya ketakutan dan kekuatiran yang dalam ketika Obama yang berpenampilan tidak menarik dan terutama berasal dari keturunan ras Afro‐American (bahkan pernah dididik di negara ketiga yang bernama Indonesia) maju mencalonkan diri menjadi Presiden ke‐44 negara adi daya tersebut. Namun toh takdir membuktikan walaupun dalam situasi kondisi sosial AS yang masih dipenuhi bayang‐bayang diskriminasi terhadap kulit hitam dan dalam kondisi ekonomi AS yang tengah terpuruk oleh ulah kebijakan pendahulunya Bush Jr., Obama justru mendapat percayaan rakyat dan bangsa AS untuk memimpin negara tersebut, bahkan untuk periode ke‐dua kalinya.

 

Dari belahan bumi yang lain, adalah Lee Myung‐bak Presiden Korea Selatan yang telah dicatat sejarah membawa perubahan dan kemajuan signifikan bagi Korsel. Dia adalah bekas Walikota Seoul yang berhasil menata kembali Sungai Cheonggyecheon menjadi surga yang membentang di tengah kota Seoul. Diapun terkenal kerap melakukan “blusukan” setidaknya 2 kali seminggu. Sementara itu, Ma Ying‐jeou adalah bekas walikota Taipe (1998‐ 2006) yang sukses menata kemacetan dan krisis air di Taipe dan kemudian terpilih menjadi Presiden Taiwan pada 2008 dan terpilih kembali menjadi Presiden untuk kedua kalinya pada tahun 2012. Dia terkenal sebagai pemimpin kota Taipe yang sederhana dan mempercepat penanganan masalah kota Taipe dalam posisinya sebagai Presiden Taiwan.

 

Dalam rasionalitas inilah, apapun yang akan terjadi pada Pilpres 9 Juli 2014 nanti, Jokowi tidak akan meninggalkan Jakarta apalagi menelantarkan janji‐janjinya. Saat ini, beliau mendapat amanah bertarung untuk insyaAllah dapat hijrah dari Selatan ke Utara demi menjemput kapasitas (sumber daya) yang lebih, otoritas penuh, dan kewenangan yang lebih dari cukup untuk menuntaskan amanah yang lebih besar tidak hanya untuk membantu permasalahan di Ibukota NKRI saja tetapi juga untuk seluruh wilayah NKRI yang selama ini termarjinalkan oleh pemimpin pendahulunya.

 

*) Firdaus Ali, PhD.

  • Pengajar & Peneliti Teknik Lingkungan FTUI Pendiri dan
  • Pimpinan Indonesia Water Institute

 

Catatan:

Gambar-gambar di atas ditambahkan oleh admin blog, diperoleh dari media sosial Facebook.

PRESTASI JOKOWI

image

(copas dari broadcasted bbm. Silahkan dicermati)

Di Solo:

  • 900 PKL diajak negosiasi sambil makan biar pindah ke tempat yang disediakan dan berhasil
  • Membangun pasar tradisional Solo jadi bagus dan bergengsi
  • Bikin trotoar lebar 3 meter sepanjang 7km di jalan-jalan utama Surakarta
  • Revitalisasi taman Belakambang, Sriwedari dan bikin Solo Techno Park
  • Bikin regulasi ngga boleh nebang pohon sembarangan lagi di Solo
  • Rebranding kota Solo dengan tagline “The Spirit of Java” yang keren banget sampe di appraise internasional
  • Promosiin Solo jadi kota sentral di pulau Jawa
  • Mempopulerkan budaya inspeksi langsung ke lapangan atau blusukan di Solo
  • Ngelarang keluarga dan sodaranya bidding buat trayek kota Solo, biar ngga kolusi
  • Healthcare!
  • Transportasi publik di Solo kayak Railbus.
  • Menolak suap, as simple as that.
  • Ngga mau lagi ada mall di Solo, tapi pasar tradisional yang dibagusin.
  • Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia

Spoiler foraward kota solo selama leadership Jokowi

  • Piala dan Piagam Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden Republik Indonesia (2009), untuk kinerja kota dalam penyediaan sarana Pelayanan Publik, Kebijakan Deregulasi, Penegakan Disiplin dan
  • Pengembangan Manajemen Pelayanan
  • Piala Citra Bidang Pelayanan Prima Tingkat Nasional oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia (2009)
  • Penghargaan dari Departemen Keuangan berupa dana hibah sebesar 19,2 miliar untuk pelaksanaan pengelolaan keuangan yang baik (2009)
  • Penghargaan Unicef untuk Program Perlindungan Anak (2006)
  • Indonesia Tourism Award 2009 dalam Kategori Indonesia Best Destination dariDepartemen Kebudayaan dan Pariwisata RIbekerjasama dengan majalah SWA.
  • Penghargaan Kota Solo sebagai inkubator bisnis dan teknologi (2010) dari Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI).
  • Grand Award Layanan Publik Bidang Pendidikan (2009)
  • 5 kali Anugerah Wahana Tata Nugraha (2006-2011) – Penghargaan Tata Tertib Lalu Lintas dan Angkutan Umum.
  • Penghargaan Manggala Karya Bhakti Husada Arutala dari DepKes (2009).
  • Kota Terfavorit Wisatawan 2010 dalam Indonesia Tourism Award 2010 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
  • Pemerintah Kota Solo meraih penghargaan kota/kabupaten pengembang UMKM terbaik versi Universitas Negeri Sebelas Maret alias UNS SME’s Awards 2012.
  • Penghargaan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu kota terbaik penyelenggara program pengembangan mewujudkan Kota Layak Anak (KLA) 2011.
  • Penghargaan Langit Biru 2011 dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kategori Kota dengan kualitas udara terbersih.
  • Penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam bidang Pelopor Inovasi Pelayanan Prima (2010).

Di Jakarta:

  • Ngelantik jadi gubernur ngga perlu gengsi, efisiensi biaya
  • Birokrasi protokoler diganti jadi blusukan-oriented
  • Membuka kantor balai kota untuk rakyat
  • Berani mecat pegawai-pegawai birokrat yang ribet kayak Anas Effendi
  • Mereformasi Satpol PP dan cara kerjanya
  • Digitalisasi layanan pemprov
  • KJS & KJP
  • Peremajaan bis-bis, dari kopaja sampe transjakarta
  • Berani copotin jabatan kepala sekolah ngawur
  • Lelang jabatan, biar yang mau dan berkompeten bersaing secara jujur
  • Relokasi pedagang dan penduduk bantaran tanpa konflik
  • Transparansi anggaran lewat website!
  • Revitalisasi taman-taman, danau, rusun sampe fasilitas publik.

Award pribadi

  • 10 Tokoh di Tahun 2008 oleh Majalah Tempo
  • He was awarded the Bintang Jasa Utama by President Susilo Bambang Yudhoyono
  • Juara 3 walikota terbaik di dunia
  • The Leading Global Thinkers 2013 Award dari majalah Foreign Policy
  • Walikota terbaik bulan februari 2013 dari The City Mayors Foundation dari London
  • Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Award
  • Bung Hatta Anticorruption Award (2010)
  • Charta Politica Award (2011)
  • Wali Kota teladan dari Kementerian Dalam Negeri (2011)
  • Jokowi was listed by Fortune (magazine) as one of the ‘The World’s 50 Greatest Leaders (2014).

Bersama Fadjroel Rachman (FR) dan Davy Sumolang (DS), kami bertiga mengunjungi Manado untuk agenda Diskusi Nasional yang diselanggarakan oleh Alumni Perguruan Tinggi dan Cendekiawan Sulut, serta pertemuan dengan Tim BaraJP Sulut.

Diskusi Nasional JKW-JK, Manado

Diskusi Nasional JKW-JK, Manado

Sebagai wakil dari Komunitas Alumni ITB, FR menjadi pembicara utama bersama panelis lain yang mempunyai keahlian diberbagai bidang, seperti Lingkungan, Pers, Politik, Pertanian dll. Berbekal konsep Nawacita pada lokakarya Visi-Misi JKW-JK, 23 Mei 2014 yang dihadiri JK (mewakili JKW), FR dengan sangat jelas dan fasih, mempresentasikan banyak hal yang berkaitan dengan alasan-alasan tentang perlunya untuk memenangkan JKW-JK sebagai RI1 dan RI2 sebagai kelanjutan dari cita-cita reformasi 1998, Trisakti. Berita harian Manado Post di bawah akan menjelaskan proses diskusi tersebut. DS, dalam closing statement nya, menyoroti perilaku pemerintah yang sudah tidak lagi menjunjung tinggi UUD’45 tentang kewajibannya untuk melindungi segenap rakyatnya tanpa diskriminatif. Ajakan DS supaya menggunakan kesempatan pilpres 2014 untuk memilih JKW-JK disambut dengan teriakan bersemangat dari para hadirin “JKW-JK !!!”.

BaraJP Manado

BaraJP Manado

Selesai acara Diskusi Nasional, kami bertiga diundang oleh BaraJP Sulut (Jhon) untuk bersilaturahmi di Pasar Roda Manado, tempat masyarakat Manado bersantai minum kopi susu dengan makanan kecil pisang goreng dan nasi jaha. Para politikus Manado menjuluki tempat ini sebagai DPR-3, karena banyaknya pembicaraan politik di tempat ini dan banyaknya anggota DPR/DPRD yang ‘lahir’ dari tempat ini. Cukup mengharukan, melihat begitu antusiasnya mereka, yang terdiri dari mahasiswa, LSM, pedagang pasar dll., memberi dukungan untuk kemenangan JKW-JK sebagai RI1-RI2. Di lokasi yang panas, gaduh dan meja kursi sederhana ini, ide-ide program aksi pemenangan seringkali muncul dari tempat ini. Sangat militan.

Diskusi dengan pemrakasa Diskusi Nasional, Dr. Roy Mamengko, dr. Lili dan Dr. Fabian Manoppo kembali dilanjutkan di hotel Swiss-bel dan rumah makan pinggir pantai hingga larut malam.

Di bawah ini adalah hasil pemindaian koran Manado Post, 25 Mei 2014.

Jokowi-JK = Jokowi Jalan Kebenaran

Editor: Idham Malewa, Peliput: Didit Sjamsuri

Diskusi Nasional Manado

Diskusi Nasional Manado

DIALOG Nasional bertajuk ‘Indonesia Hebat’ yang digagas Alumni Perguruan Tinggi dan Cendekiawan Sulut sekaligus relawan Jokowi-Jusuf Kalla berlangsung dinamis. Beragam masalah kebangsaan terungkap di dialog yang digelar di Swiss bel-Hotel Maleosan Manado, Sabtu (24/5) siang. Dialog yang mengulas tantangan yang akan dihadapi Capres – Cawapres Jokowi-JK, lima tahun ke depan menampilkan pembicara Nasional dan Sulut.

Fadjroel Rachman SE MH, pegiat LSM nasional sekaligus simpatisan Jokowi-JK memaparkan Nawacita. Ia menyebut Nawacita menggambarkan visi misi duet yang diusung PDIP, PKB, NasDem dan Partai Hanura adalah cita-cita mahasiswa Trisakti pada reformasi 1998 lalu. Cita pertama kata Fadjrul menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh rakyat Indonesia. “Tanpa memandang ras, agama, dan warna kulitnya, dengan prinsip melindungi segenap bangsa,” papar Fadjrul yang mengenakan kemeja batik.

Yang kedua akan membuat pemerintah yang tidak absen, dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan berdaya saing. Tidak ada seorang pun dari 250 juta rakyat Indonesia yang akan ditinggalkan oleh Jokowi dan Jusuf Kalla,” ujarnya. Yang ketiga, kata aktivis yang konsisten dengan HAM dan demokrasi adalah membangun Indonesia dari pinggiran, sehingga memperkuat daerah-daerah dan desa di seluruh Indonesia. Tidak boleh ada desa yang tertinggal. Keempat, akan menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem, dan penegakan hukum yang bebas dari korupsi, bermartabat dan terpercaya.

Kelima, akan meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Indonesia merupakan negara nomor 10 perekonomian terbesar di dunia, “Namun jika anda lihat ada 19 orang yang memiliki kekayaan Rp334 trilyun. APBN kita 1.865 triliun, jadi hanya ada 19 konglomerat yang menguasai sepertiga dari APBN. Makanya Jokowi berjanji akan meningkatkan dan memeratakan perekonomian tersebut,” jelasnya. Keenam, akan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional. Dalam lima tahun, Jokowi-JK akan menciptakan 15 juta lapangan kerja, “Jadi akan menciptakan tujuh setengah lebih besar lapangan kerja dari yang dijanjikan oleh lawan mereka”, terangnya.

Selain Fadjroel, moderator Dr Roy Mamengko mengenalkan para pembicara lokal, di antaranya Suhendro Boroma, akademisi Dr. Ir. Veronika Kumurur, Prof Ishak Pulukadang, Pdt Dr. Jhon Weol, Rektor UNPI Jan Drs Polii. Pdt Dr Jhon Weol yang hobi menulis ini mengawali dengan masalah diskriminasi agama yang terjadi di Bogor, Jawa Barat yang menimpa jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jasmin. “Saya sudah berkali-kali memohon kepada Presiden SBY untuk memperhatikan Gereja Kristen Indonesida (GKI) Jasmin. Saya pernah berkata kepada presiden, “Tolong perhatikan GM jasmin. Mereka adalah saudara-saudara saya di dalam nama Tuhan Yesus”, jelas Weol sambil memuji pasangan Jokowi-JK.

“Saya dan kita semua ingin majukan Indonesia tanpa diskriminasi, dan majukan Jokowi-JK yang memiliki cita-cita untuk menjadikan negeri ini menjadi lebih baik. Karena mereka berdualah jalan kebenaran yang akan membawa Indonesia ke arah yang Iebih baik,” tambahnya. Perkataan Weol mendapat apresiasi para peserta dan pembicara yang hadir. Seorang peserta dialog Taufiq Tumbelaka mempertanyakan etika politik para politikus saat ini. Menurutnya para elit politik dan anggota parlemen terlihat tidak bagitu serius dalam menanggapi sejumlah masalah di negeri ini. “Kehebatan dan UUD 1945 adalah bukan dari penyusunannya, tapi UUD 45 ini lebih tulus disusun. Tidak seperti saat ini. Daripada bersaing untuk memperebutkan RI satu lebih baik bersatu untuk membangun Indonesia menjadi Iebih baik, karena kebersamaan merupakan sebuah kemewahan bagi saya,” jelasnya.

Prof Ishak Pulukadang dengan lebih netral mengungkapkan bahwa orang bakal memilih karena figure seorang tokoh. Era sekarang tidak lagi melihat mesin partai. Karena dalam figur itu, akan menceminkan ketokohan dan kemampuan dirinya dalam memimpin negeri ini ke depan. “Figur atau ketokohan dari seorang calon sangat penting, karena pada dasarya, orang akan memilih berdasarkan figur tersebut,” tutur Pulukadang.

Pembicara satu-satu perempuan yg dikenal sebagai akademisi Fakultas Teknik di bidang lingkungan dan arsitektur Dr. Ir. Veronika Kumurur. Enci Vero mengulas figur yang fokus untuk memperhatikan lingkungan. Menurutnya, segala bentuk kerusakan lingkungan di seluruh Indonesia merupakan kesengajaan, dan bukan terjadi dengan tiba-tiba. Yang disebabkan tangan-tangan manusia. “Semua bencana merupakan sebuah tabungan yang dipupuk oleh manusia dari sebuah kesengajaan. Dan keadaan sudah seperti ini, siapa yang susah karena secara otomatis, laju perekonomian akan terhenti”, jelas Kumurur.

Kumurur berharap figur pemimpin ke depan harus pro lingkungan. “Saya sangat berharap akan perubahan yang terjadi di seluruh Indonesia, baik di bidang ekonomi, kemasyarakatan dan lingkungan terutama untuk Indonesia yang baik,”.tambahnya.

Enci Vero menjelaskan masyarakat harus memilih orang-orang yang paham dengan situasi saat ini, dan mengerti dengan pemerintahan. Karena selama ini banyak kebijakan yang tidak pro rakyat. “Indonesia merupakan negara terbesar secara luas dan ini harusnya dipahami oleh sejumlah politikus yang bakal mencalonkan diri. Tidak seenaknya mernbuat kebijakan, tanpa melakukan kajian terlebih dahulu,” pungkasnya.

Seorang tokoh masyarakat Minahasa Utara mengungkapkan sikap pemerintah yang tidak pro rakyat, hanya mementingkan pendapatan daerah semata. “Di daerah Minahasa Utara saat ini, ada investor yang ingin membangun tambang pasir besi di Pulau Bangka, dan ini merupakan keputusan dari pemerintah tanpa memikirkan dampak kerusakan lingkungan,” jelasnya. Johny Kalang, simpatisan PDIP dengan bersemangat mengungkapkan bahwa JK merupakan tokoh yang baik dan agamis, hanya saja ada beberapa kelompok orang yang memberi pandangan buruk terhadapnya. “JK merupakan orang yang sangat taat beribadah. Saya pernah bertemu dengannya sekali, dan dia hanya memberi pandangan bahwa apapun agamamu, yang penting taat dan patuhilah semua yang diwajibkan oleh Tuhan dalam beragama, seperti dirinya yang selalu taat beribadah menurut agama Islam. Saya pikir memang cocok JK berpasangan dengan Jokowi,” ungkapnya.

Drs. Jan WG Polii, Rektor UNPT mengatakan, harusnya ada pendidikan politik. Dengan demikian kita bisa tahu akan hak, dan demikian juga dengan pemerintah, yang tabu akan kewajibannya. “Siapapun yang menang, harus mendukung yang kalah, dan membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi dalam menghadapi kehiduppan berbangsa dan bernegara, tanpa harus saling bermusuhan”, jelas Polii.

Cerita yg hilang dari lepasnya Timor Timur.

avatar sangkusniJurnal Toddoppuli

MENIT-MENIT LEPASNYA TIMOR-TIMUR DARI INDONESIA

Berikut ini adalah tulisan seorang wartawan yang meliput jajak pendapat di Dili, Timor-timur. Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak.

Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999. Judul asli dari tulisan ini adalah Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia. Saya sengaja ubah judulnya dengan maksud agar lebih jelas mengenai apa yang terkandung dalam tulisan tersebut. 

Lihat pos aslinya 3.747 kata lagi

Ramayana Ballet

Tepat hari pertama kalender baru 2014 mulai dipergunakan, kami bertiga sampai di Yogya. Tak banyak berbeda yang biasa kami lakukan di kota ini, tapi selalu ingin untuk kembali. Entah mantra apa yang ditiupkan kota ini hingga banyak orang percaya bahwa siapapun yang pernah tinggal untuk sekolah ataupun bekerja di sini, akan selalu merindukan untuk kembali walaupun hanya sebentar saja. Namun ada baiknya perjalanan singkat ini aku tuliskan sebagai pengingat kecil jalan-jalan santai keliling keraton dan menonton pagelaran sendratari Ramayana di Prambanan.

Keliling Keraton
Kali ini gak banyak yang bisa diceritakan, karena keraton yang sedianya menjadi minat utamaku liburan kali ini ternyata harus tutup dan tidak menerima kunjungan wisatawan karena sedang berduka atas wafatnya adik Sultan HB X.

Di sekitar keraton banyak mas becak yang menawarkan jasa mengantar tamu sekaligus menjadi pemandu wisata keliling keraton sambil mengunjungi cagar budaya serta bercerita tentang sejarahnya. Tarif murah ditawarkan sebesar Rp25 ribu saja dan membawaku keliling keraton. Menurut mas becak, yang menemaniku keliling keraton siang itu, almarhum adalah pejabat keraton yang mengurusi karyawan, kira-kira semacam pejabat HRD atau kepegawaian dalam perusahaan atau pemerintahan.

Penjaga Gerbang Keraton

Penjaga Gerbang Keraton

Pintu gerbang bagian dalam keraton berbahan kayu tebal hitam yang tinggi, dalam keadaan tertutup. Seorang pria sepuh bersahaja menjaga pintu gerbang, berbusana Jawa lengkap dengan kain batik, berkemeja surjan biru gelap bergaris hitam melekat di badan, dan belangkon tanpa beralaskan kaki, tak lupa keris terselip di punggungnya dalam stagen yang melingkar erat di badannya, terlihat duduk diam di atas dingklik panjang dengan senyum ramah di wajahnya, saat para wisatawan memintanya menjadi obyek fotonya. Sementara beberapa penjaga keraton lainnya tampak beristirahat dalam pondok kecil tak jauh dari pintu gerbang.

Bangsal Pancaniti

Bangsal Pancaniti

Di depan pintu gerbang, berdiri bangunan besar beratap joglo semacam pendopo, yang dinamai Bangsal Pancaniti. Terlihat lantai berukuran 5x5x1 m di bagian tengah yang lebih tinggi dari lantai sekitarnya tanpa meja  kursi di atasnya. Menurut sang pemandu, bangsal Pancaniti ini dulu digunakan sebagai ruang sidang pengadilan keraton, dan lantai yang tinggi berpagar besi itu adalah tempat duduk sang hakim. Bangsal ini sekarang dipergunakan sebagai tempat pentas seni karawitan, macapat (membaca puisi Jawa yang dinyanyikan) dan tari Jawa.

Tepat di luar pintu masuk area keraton sebelah timur adalah tempat becakku parkir dan di depannya adalah rumah milik keluarga Sultan. Menurut mas becak, setiap putra/putri keraton yang telah menikah, harus bertempat tinggal di luar keraton. Kebetulan mas becak ini berdomisili sekitar keraton, yang bapaknya bekerja sebagai penjaga keraton.

Becak berjalan ke selatan di luar dinding timur keraton, lalu berbelok ke arah barat menuju alun-alun Kidul, mampir sebentar di tempat tinggal Sultan HB VII. Rumah tembok yang tak terlihat besar dengan taman kecil di depannya ini sekarang dipergunakan untuk memproduksi batik sekaligus sebagi tempat menjualnya.

Kereta Kencana HB VII

Kereta Kencana HB VII

Kereta kebesaran terlihat parkir di samping rumah dan dua foto besar berdampingan, sultan HB VII beserta permaisurinya, terpampang di dinding teras rumah seolah menyapa para tamunya. Foto tua selalu berkesan magis, menurutku. Sebuah patung besar perempuan tua sedikit menutupi jalan masuk ke dalam rumah, tidak jelas merepresantikan siapa. Di bagian dalam rumah banyak dipenuhi kain batik dan lemari tua. Banyak wisatawan sedang bertransaksi kain batik dengan para ibu penjaga rumah. Di bagian samping luar rumah adalah tempat prosesi pembuatan kain batik.

HB VII dan Permaisuri

HB VII dan Permaisuri

Bangunan sebelah rumah sultan HB VII adalah masjid tua yang seharysnya menjadi satu bagian dengan rumah sultan HB VII. Menurut mas becak, setiap tiang masjid ini dibuat dari satu pohon tunggal.

Perjalanan dilanjutkan ke arah barat, melewati alun-alun Kidul, yang terkenal dengan dua pohon beringin besar di tengahnya. Ada kepercayaan bahwa seseorang akan selalu gagal berjalan melewati tengah-tengah antara ke dua pohon tersebut dengan mata tertutup.

Rumah putra HB VII

Rumah putra HB VII

Becak mampir di kediaman putra HB VII. Rumah berpendopo besar dengan banyak tiang kayu ukir berwarna coklat dan atap yang juga berukir megah. Sebagian dari pendopo ini dipergunakan sebagai restoran. Sepi tanpa pengunjung. Prasasti hitam dari batu terpasang di depan pendopo dengan pahatan tulisan berwarna keemasan yang isinya menyatakan bahwa rumah ini pernah digunakan sebagai studio radio, cikal-bakal Radio Republik Indonesia, pada tahun 1928-1934. Berjalan ke belakang melewati samping barat rumah, terdapat musholla besar, redup kurang cahaya. Di bagian belakang rumah tampak berderet puluhan kamar dengan tempat tidur kecil berseprai putih tertata rapi. Masih menurut mas becak, kamar-kamar ini juga disewakan bila ada tamu yang berminat menginap. Terbayang sepi dan redup di sepanjang lorong saat malam hari. Wingit…

Tamansari

Tamansari

Becak kembali berjalan dan berhenti di Tamansari, pemandian sultan dan para selir keraton. Di antara kolam para selir dan kolam sang raja, terdapat bangunan berjendela tinggi. Menurut cerita, dari jendela ini sang raja memanggil selir pilihannya untuk bergabung dengannya berendam di kolam raja. Banyak sekali pengunjung di Tamansari, yang memerlukan tiket untuk memasukinya.
Perjalanan berbecak keliling keraton berhenti di pintu belakang sebelah barat, tepatnya di bangsal Kemagangan.

Ramayana Ballet, Prambanan

Pelakon Ramayana

Pelakon Ramayana

Anak-anakku

Anak-anakku

Ini adalah obyek wisata yang memang sudah masuk dalam prioritas kunjungan ke Yogya saat itu. Sendratari Ramayana diselenggarakan secara berkala di area sekitar candi Prambanan, Yogyakarta. Pada bulan Mei s/d Okt pentas malam hari di tempat terbuka berlatar-belakang candi Prambanan, sedangkan bulan-bulan lainnya, musim hujan, pentas di dalam ruang tertutup. Tiket VIP berharga Rp. 200 ribu. Pentas hari itu dilakukan dua kali, jam 16:00 dan 19:30 dalam ruangan. Ruang pentas tertata apik, lantai luas di bagian tengah dengan bangku penonton berundak mengelilingi bagian kiri-kanan dan depan. Gamelan dan pesinden berada di latar depan. Sorot lampu berwarna-warni dan sistem pengeras suara yang melantunkan bunyi keras-lemah gamelan dengan irama yang cepat-lambat mengiringi tarian, cukup memberikan nuansa dramatik dalam kisah Ramayana.Sendratari disajikan dalam empat babak dengan jeda di masing-masing babak memberikan cukup waktu untuk sedikit menikmati hidangan yang bisa dibeli di depan pintu ruang pentas.

Rahwana dan Shinta

Rahwana dan Shinta

Gerak gemulai Dewi Shinta dari semua lekuk tubuhnya mulai dari jentikan jemari lentiknya, lambaian selendang hingga kibasan kecil tumitnya untuk memindahkan ujung kain panjang yang terseret di belakangnya, juga gerakan patah bertenaga seperti yang disajikan Cakil serta langkah dan bentangan lengan gagah setinggi bahu Rahwana sangat indah untuk dicermati. Semua gerak lentur, halus kadang lembut,

Hanoman dan Shinta

Hanoman dan Shinta

kadang gagah menghentak para penari yang tak pernah henti, juga dengan mimik muka menyajikan emosi para tokohnya apalagi didukung para pemain gamelan tanpa cacat suara, juga sorot lampu yang mendukung cerita, pasti sangat menarik untuk terus dinikmati, apalagi bagi para pecinta budaya dan fotografi. Puas menikmati sajian sendratari Ramayana dan sangat direkomendasikan bagi para pecinta wisata budaya. Terimakasih bagi penyelenggara. Sayang, anak-anak kami belum bisa menikmatinya.

Tulisan ini telah dimuat di http://pedomannews.com/umum/26532-pma-selamat-anak-sendiri-sekarat

Kekhawatiran penulis atas ketidak-adilan dalam pemberlakuan UU Minerba No. 4/2009 seperti yang telat dimuat di media berita elektronik PedomanNews.com, 29 Desember 2013 http://pedomannews.com/umum/26171-refleksi-akhir-tahun-2013-tentang-pertambangan  memunculkan pertanyaan: Apa yang dipikirkan pemerintah saat membuat UU Minerba No. 4/2009?

Penulis meyakini bahwa pemerintah dalam hal ini kementerian ESDM, tentunya sudah sangat menyadari bahwa UU yang punya niat mulia untuk kepentingan bangsa ini akan berdampak serius terhadap semua aktifitas industri pertambangan yang terkait dengan UU ini, termasuk Kontrak Karya Freeport dan Newmont yang selama ini melakukan ekspor konsentrat tembaga, dengan emas dan perak yang terkandung di dalamnya. Berbagai ketentuan hukum diterbitkan pemerintah sejak diberlakukannya UU No. 4/2009 ini, dan juga telah dilakukannya berbagai negosiasi pemerintah dengan Freeport dan Newmont baik ditingkat eksekutif maupun legislatif; namun tetap kedua perusahaan tambang raksasa dunia ini tidak bergeming dan tanpa satupun dokumen rencana pembangunan smelter, yang berguna untuk memurnikan bijih hasil penambangannya, diserahkan ke pemerintah. Bahkan hingga akhir tahun 2013 pun masih simpang-siur tentang kesediaan mereka untuk mematuhi ketentuan hukum di Indonesia ini.

Ironisnya, justru pertambangan mineral nasional kecil-menengah yang bergerak digolongan mineral bernilai menengah, seperti nikel, bauksit, mangan dll justru sudah bergelimpangan, tutup dan melakukan phk ribuan karyawan karena tak tersedianya smelter atau tak mampu membangun smelter untuk mengolah dan memurnikan hasil produksinya. Sudah sedemikian rendahnyakah kewibawaan pemerintah di mata para pengusaha tambang AS ini?

Lima tahun Undang-Undang Minerba telah diundangkan hanya untuk dilecehkan perusahaan multi-nasional asing, sedangkan UU No. 4/2009 Pasal 107 telah menyatakan secara jelas bahwa pemegang Kontrak Karya yang sudah berproduksi WAJIB melakukan PEMURNIAN selambat-lambatnya 5 tahun sejak diberlakukannya UU ini. Alih-alih melaksanakan UU ini secara konsisten secara berkeadilan, pemerintah malahan menyelamatkan pengusaha asing untuk melakukan ekspor harta kekayaan bernilai mahal, yaitu emas, perak dan tembaga.

Dalam Lampiran Permen ESDM No. 7/2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral, dinyatakan bahwa kadar minimum mineral yang boleh diekspor setelah melalui proses pengolahan dan pemurnian untuk emas, tembaga, perak adalah diatas 99%. Ternyata oleh pemerintah melalui Permen ESDM No. 1/2014, syarat ekspor untuk mineral tembaga diturunkan menjadi 15%, setelah melalui proses pengolahan, tanpa perlu proses pemurnian. Maka Freeport/Newmont, yang seharusnya gagal ekspor bila ketentuan kadar 99% diterapkan, menjadi lolos ekspor karena memang sudah melakukan pengolahan bijih tembaga hingga kadar Cu melewati batas kadar 15%. Lalu bagaimana dengan emas dan perak yang juga berada dalam konsentrat dan turut terangkut keluar dari negeri ini? Yah selamat jalan saja, karena yang menjadi pembatas ekspor untuk bijih Tembaga hanya kadar tembaga setelah pengolahan (bukan pemurnian seperti yang diamanatkan UU No. 4/2009), setidaknya hingga tahun 2017.
Produk akhir tambang Freeport dan Newmont di Indonesia adalah konsentrat, berupa bubuk batuan yang mengandung tembaga, emas dan perak. Menurut Laporan Tahunan FCX 2012 (bisa diunduh dari internet), total penjualan Freeport Indonesia di tahun 2012 untuk emas adalah 915.000 ounce (1 ounce = 31.1 gram) dengan harga $1.664/ounce Au atau senilai $ 1.522.560.000 dan tembaga sebesar 716 juta pound, seharga $3,58/pound Cu atau $2.563.280.000. Untuk total penjualan perak yang terdapat dalam ekspor konsentrat, tidak ditemukan dalam laporan tahunan 2012 ini. Prediksi penjualan di akhir tahun 2013 untuk emas adalah 1,2 juta ounce dan 1,1 milyar pound tembaga. Dengan lolosnya Freeport dan Newmont mengekspor bahan tambang yang belum dimurnikan maka masih lenyap jugalah trilyunan rupiah dari negeri ini hingga 2017 nanti tanpa penambahan nilai yang bisa dinikmati oleh bangsa kita. Yakinkah kita bahwa ketentuan hukum ini akan ditegakkan pada tahun 2017? Semoga saja perubahan politik setelah pemilu 2014 akan lebih berpihak pada bangsa kita tercinta.

Pukat harimau dilarang karena menjaring ikan besar dengan korban ikan kecil maka UU Minerba ini untuk menjaring ikan kecil demi menyelamatkan ikan besar. Sebagai penutup, menarik untuk mengutip ulang pernyataan Simon Sembiring tentang lolosnya Freeport dan Newmont, bekas dirjen Pertambangan Umum: “Tindakan kompromi ini tentu menghilangkan kedaulatan negara. SBY melanggar UU Minerba,” tuturnya seperti yang dilansir harian Kontan, Jakarta, Senin (30/12).

The New Korea

The New KoreaThe New Korea

Penulis: Myung Oak Kim dan Sam Jaffe

Edisi: Terjemahan

Tahun: 2013

Penerbit: Kompas Gramedia

Buku ini ditulis tahun 2009, cukup lengkap sebagai potret Korea (Korea Selatan) saat ini. Mulai dari sejarah budaya politik hingga pop, pembangunan infrastruktur, industri mobil, barang elektronik dan gadget, musik dan drama televisi berseri serta  obsesi kedepannya berada ditingkat ke-5 industri hiburan dunia (sekarang ke-9), dapat ditangkap dengan jelas dengan membaca buku ini.

Gaya bahasa bercerita yang mengalir ringan dan kompilasi informasi permukaan yang tidak rumit, namun cukup bisa memberi gambaran awal tentang pesatnya pertumbuhan ekonomi Korea yang didukung semangat kesatuan, budaya dan ethos kerja bangsanya. Sebagai bukti kesetia-kawanan sosial yang tinggi, saat krisis ekonomi tahun 1997, rakyat Korea menyumbangkan 225 ton emas, bernilai 1,8 trilyun dollar ke pemerintah yg sebagian besar dipergunakan utk membayar hutang negara.

Resesi 1997 sungguh memukul ekonomi Korea dengan korban industri mobil Daewoo, bangkrut. Samsung yang sedang memasuki industri otomotif, divisi Samsung Motor, dan menginvestasikan lebih dari $10 juta, terpaksa harus menjual usahanya ke Renault untuk mempertahankan perusahaan induknya. IMF memperburuk ekonomi Korea dengan anjuran suku bunga tinggi. Tahun 1999 ekonomi Korea mulai bangkit lagi dengan angka pertumbuhan mencapai 0,9% setelah Stiglitz merekomendasikan suku bunga rendah. Ekspor dibidang teknologi informasi pada tahun 1998 kurang dari $20 milyar, namun tahun 2008 telah mencapai $100 milyar. Revolusi induatri mobilpun mulai bangkit lagi dan terkenal sebgai produk berkualitas tinggi.

Teknologi

Teknologi adalah obsesi nasional, yang bahkan sudah menjadi kritik sebagian bangsanya karena hampir-hampir menjadi agama baru. Ledakan teknologi ini dimulai sejak Korea merdeka dari Jepang. Presiden Korea, Park Chung-hee telah memanfaatkan betul pinjaman $5 milyar dan kerjasama dengan Jepang untuk meningkatkan kemampuan dan teknologi perusahaan Korea. Pada tahun 1963, presiden Park mencanangkan bahwa Korea akan menjadi pembuat mobil dan menjadi pemimpin ekonomi dunia.

Samsung dengan strategi bisnisnya “digital sashimi” dan LG dengan ‘Tear Down and Redesign’ (TDR), berhasil tampil sebagai industri elektronik kelas dunia. Masing-masing mendapat porsi satu bab tersendiri dari total 16 bab dalam buku ini. Kedua industri tersebut memang sedang menjadi andalan Korea saat ini khususnya dalam bidang elektronik, termasuk industri baja POSCO (Pahang Iron and Steel Cimpany) dan industri mobil Hyundai. Semuanya telah memiliki pabrik yang tersebar di dunia, kecuali satu yang gagal Daewoo.

Industri budaya pop seperti drama seri televisi dan musik mendapat perhatian khusus penulis dalam buku ini karena nilai ekspornya yang tinggi dan mendunia. Ekspor produk budaya Korea mencapai puncaknya pada tahu 2005, sebesar $2,2 milyar dan khusus untuk drama televisi mencapai $100 juta.

Industri Budaya

Lokasi shooting Winter Sonata

Lokasi shooting Winter Sonata

Drama seri televisi ‘Winter Sonata’ telah melambungkan budaya pop perfilman Korea ke tingkat dunia. Tayang ‘premium time’ di tv Korea pada tahun 2002 telah merenggut minat pecinta drama seri di negaranya. Setahun kemudian, pada 2003 telah merebut hati dan menjadi sensasi para penggemar drama tv di Jepang. Tak lama kemudian menjadi sihir di negara-negara produsen drama seri seperti China, Asia Tenggara, Amerika Latin dan beberapa negara Afrika. Bae Yong-joon, yang sangat dikenal sebagai mega bintang drama di dunia sebagai pemeran utama Winter Sonata, telah ditunjuk pemerintah Korea sebagai duta pariwisata negaranya pada tahun 2008. Bahkan pemujanya di Jepang telah memberinya panggilan khusus untuknya, ‘Yonsama’. ‘Yon’ adalah bagian dari namanya dan ‘Sama’ adalah gelar kehornatan yang biasa ditujukan untuk keluarga raja.

Begitu kuatnya sihir ‘winter sonata’ sehingga pemerintah Korea merasa perlu untuk mengabadikannya sebagai obyek wisata budaya dengan cara menjajakan lokasi-lokasi pengambilan gambarnya, yang ternyata sungguh laris menarik wisatawan. Tak jarang paket wisata ke Korea selalu mengikut-sertakan objek ‘winter sonata’ sebagai bagian tujuan wisatawan.

K-Pop sebagai bagian budaya pop musik telah memasuki industri budaya yang merambah dan menular ke negara-negara Asia Tenggara dan Jepang. Boa, penyanyi Korea berusia 13 tahun, yang banyak disetarakan dengan Britney Spears ini telah menduduki tangga teratas musik pop di Jepang tahun 2002 dan telah meluncurkan album pertamanya di AS pada tahun 2009. Album-album popnyapun mengalami sukses besar. Seperti halnya Boa, Rain, yang disejajarkan dengan Justin Timberlake, juga turut menangguk banjir rejeki di era K-Pop sebagai penyanyi pria ternama Korea.

Energi

GDP Korea sebesar $1,25 trilyun tahun 2009, dengan suku bunga dan inflasi rendah tidak mungkin tercapai tanpa tersedianya minyak bumi berharga rendah. Hingga saat ini Korea masih mengimpor 97% bahan bakarnya. Sangat berresiko terhadap fluktuasi harga komoditas. Penulis buku ini berpendapat bahwa kebijakan energi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil seperti angin, matahari dan mobil listrik akan sangat membantu dalam banyak hal.

Tantangan Kedepan

Hal yang perlu mendapat perhatian khusus untuk keberlangsungan pertumbuhan ekonomi Korea adalah:

  1. Menyelesaikan masalah ketergantungan pada bahan baku minyak bumi
  2. Kurangnya penangan masalah lingkungan
  3. Perencanaan yang terlalu terpusat
  4. Keresahan sosial politik

Penutup

Korea perlu mempertahankan nilai-nilai dasar yang mereka miliki, disiplin, pengorbanan kelompok dan kerja keras. Kerja-keras dan semangat kesatuan memang telah menjadi tulang punggung kemajuan ekonomi Korea sejak tahun 1960-an, dan telah menghasilkan pendapatan per kapita sebesar $20.000 tahun 2009, dan akan mencapai $30.000 pada tahun 2017 menurut perkiraan telivisi Arirang 2013 yang lalu.

Sebagai modal awal untuk mengenal Korea, buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca.

Murka

Rahwana

Rahwana

Seolah penguasa betul-salah manusia,
Berbekal ilmu yang dipilihnya,  tak hendak terima yang berbeda
Berbuih kata terlontar di jagad maya
Tak cuma cerca, fasih juga caci fitnah disemburkannya
Memang ilmu mengharuskannya, katanya
Rupa murka dibanggakannya
“Singkirkan dia”, perintah di dada
Membelit sudah nafsu kuasa

Tahukan dia, seluas apa ilmu berada
Tak berujung alam semesta, hilang kita di dalamnya
Setetes saja mampu mencerna, apalagi menguasainya
Lapangkan hati dan Bersyukurlah

Harga Nickel LME

Harga Nickel LME

Tulisan yang tayang di media berita elektronik ini, http://pedomannews.com/umum/26171-refleksi-akhir-tahun-2013-tentang-pertambangan telah mengalami pembaruan di paragraf akhir.

Negara kita tidak lagi mengijinkan ekspor mineral dalam bentuk bijih (masih berupa batu/tanah) tanpa melalui pengkayaan mineral, atau lebih jelasnya, tanpa pengolahan lebih lanjut sehingga kadar mineral relatif meningkat hingga mencapai persentase tertentu yang telah ditetapkan oleh pemerintah, karena telah disisihkannya mineral ikutan lainnya. Ini pesan utama dalam UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang kemudian dilanjutkan dengan terbitnya Permen Pertambangan No. 7/2012.

Tidak ada yang salah dalam UU ini, bahkan telah beberapa kali dimuat di media cetak bahwa asosiasi pengusaha pertambanganpun turut mendukung isi UU ini, yang terkandung maksud luhur di dalamnya, khususnya dalam klausul ‘menimbang’ yaitu: untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.

Pertambangan mineral nikel, emas, tembaga, timah, besi mangan, timbal dan mineral lainnya (ada 14 mineral), adalah yang menjadi sasaran utama UU ini, tidak termasuk batubara berkalori tinggi yang dianggap tidak lagi perlu dikayakan kandungan kalorinya sehingga diijinkan untuk langsung ekspor.

Persoalan mulai muncul ketika langkah-langkah penetapan UU mulai dijalankan, mulai dengan program Clean and Clear, kemudian penerapan Kuota Ekspor yang pengurusannya melibatkan dua kementrian, yaitu Pertambangan dan Perdagangan, pajak ekspor mineral yang mencapai 20%, dan yang terakhir adalah tersedianya pabrik pengolahan dan pemurnian produk tambang (smelter).

Clean and Clear
Clean and Clear adalah program direktorat pertambangan untuk mengklarifikasi bahwa semua Ijin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterbitkan oleh Bupati tidak bermasalah secara hukum. Hal utama yang menjadi perhatian adalah status hukum lahan, misalnya tumpang-tindih atau sengketa lahan. Dengan banyaknya IUP yang telah diterbitkan oleh Pemda, khusunya IUP batubara di Kalimantan dan nikel di Sulawesi, usaha dirjen Pertambangan dengan program ini patut didukung, untuk mencegah terjadinya sengketa lahan. Mengingat ketidak-siapan daerah dalam memgelola database status lahan secara terintegrasi dengan pihak-pihak terkait lainnya, seperti pertambangan, kehutanan, pertanian, lingkungan hidup tata-kota dll., sehingga sudah seharusnyalah ada instansi pemerintah yang memgambil alih kebutuhan ini. Dirjen Pertambangan sudah memulainya dengan konsep GISnya sejak tahun 1990an dan cukup efektif dalam mengelola KK(Kontrak Karya) maupun PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara).

Kuota Produksi
Berdasar status Clean and Clear, Laporan Eksplorasi dan Feasibility Study yang telah dilakukan perusahaan tambang maka Direktorat Pertambangan memberikan rekomendasi kuota produksi sebagai bentuk pelaksanaan UU No. 4/ 2009 dan diserahkan ke departemen Perdagangan untuk memperoleh Ijin Ekspor Terbatas. Untuk proses ini bisa membutuhkan waktu hingga 3 bulan karena kekurangan tenaga-kerja du instansi terkait. Perhitungan keekonomian tambang jelas akan bermasalah karena perencanaan tambang harus dirubah sesuai dengan kuota produksi yang seringkali lebih kecil daripada perencanaan ‘cashflow’ yang dibuat oleh pengusaha saat mengajukan IUP.

Pajak ekspor mineral 20%
Dalam UU No. 7 telah ditetapkan bahwa pajak ekspor dikenakan terhadap mineral sebesar 20%. Ini menjadi persoalan pengusahaan tambang, khususnya nickel yang pernah mencapai harga $27.000 per ton di LME (London Metal Exxhange) pada bulan Februari 2011 dan terus menurun hingga tak lebih dari $15.000 per ton selama semester dua tahun ini, apalagi ditambah 20% pajak.

Smelter
Benar bahwa pemerintah memang tidak mewajibkan pemilik IUP harus membangun smelter, melainkan bisa bekerjasama dengan pemilik smelter dalam negeri lainnya. Namun, dimana smelter nikel, emas, aluminium di Indonesia saat ini? Kalaupun ada, itu milik perusahaan-perusahaan besar saja, seperti Inco, Aneka Tambang, Freeport. Bagaimana dengan perusahaan tambang skala kecil-menengah? Membangun smelter, termasuk pembangkit listrik di dalamnya, adalah entitas bisnis yang berbeda dengan usaha penambangan. Mengapa pemerintah tidak membangun smelter untuk menampung bijih produksi tambang-tambang yang telah diberinya ijin IUP selama ini untuk berproduksi?

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang smelter ini adalah:

  • Proyek hilir pertambangan padat modal dengan marjin keuntungan rendah sehingga dibutuhkan waktu pengembalian modal yang cukup lama, bahkan bisa melebihi umur tambang yang dimilikinya
  • Membutuhkan pembangkit listrik yang juga padat modal, bahkan bisa melebihi nilai IUP itu sendiri, apalagi dilingkungan pertambangan yang biasa berada di lokasi terpencil
  • untuk membangun smelter skala kecil seperti yang berbahan mentah nikel, dibutuhkan waktu 18 bulan, sementara untuk smelter skala menengah ke atas membutuhkan waktu 2-3 tahun
  • Dibutuhkan pasokan bahan tambang (bijih) yang cukup sehingga smelter bisa bekerja dalam kapasitas optimal, sesuai cash flow yang direncanakan.

Harian Kompas, 28 Desember 2013, memuat kesanggupan 253 perusahaan tambang untuk mematuhi Pakta Integritas, yang termasuk di dalamnya kesanggupan perusahaan tambang untuk memenuhi kewajiban menyediakan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Pada akhir tahun 2012, banyak dimuat media bahwa dirjen Pertambangan menyatakan 154 perusahaan telah menyerahkan proposal pembangunan smelter. Banyak pengusaha pertambangan hanya tersenyum sinis dengan ekspos pejabat pertambangan tentang hal di atas mengingat kompleksitas pembangunan smelter.

Betulkah angka-angka tersebut di atas? Cobalah data tersebut diperinci lebih lanjut untuk mengetahui status kelanjutan proposal tersebut. Berapa persen realisasi kemajuan pembangunannya? Mengapa pejabat pertambangan sudah cukup senang hanya dengan proposal saja?

Amanat UU No. 4 tahun 2009 patut dan harus kita dukung. Lalu bagaimana dengan pengangguran, yang menurut asosiasi pertambangan sudah mencapai puluhan ribu orang, akibat tutupnya industri pertambangan? Bagaimana komitmen pemerintah untuk melindungi usaha kecil-menengah? Freeport dan Newmont sudah menyatakan bahwa awal 2014 akan menutup usahanya bila tidak tersedia smelter di Indonesia.

Mengingat Menteri Pertambangan Jero Wacik pernah mengatakan bahwa prioritas utama sasaran UU No. 7/2009 adalah perusahaan kecil karena lebih mudah diatur, sedangkan perusahaan besar seperti Freeport atau Newmont adalah prioritas berikutnya, maka muncul praduga apakah ini berarti akan mengalahkan yang kecil dan membela yang besar? Bukti kecurigaan ini mulai tampak ketika wacana menurunkan batas ‘peningkatan nilai tambah’ (pengkayaan) mineral akan diturunkan. Seperti diketahui bahwa Freeport/Newmont telah melakukan pengolahan di lokasi tambangnya namun tidak mampu memenuhi target persentase pengkayaan mineral emas, perak dan tembaga sebesar 99% seperti yang ditetapkan dalam Permen ESDM No. 7/2012. Mari kita tunggu seberapa serius pemerintah menjalankan UU dan PerMennya di tahun politik 2014. Apakah akan melindungi MNC seperti Newmont dan Freeport, dan membunuh usaha kecil-menengah, yang anaknya sendiri, atau tegar menegakkan amanah UU untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara BERKEADILAN?

The Big Flatline

wpid-The-Big-Flatline-Cover.jpgPenulis: Jeff Rubin
Tebal Buku: 262 halaman
Penerbit: palgrave macmillan
Tahun: 2012

Setelah bukunya Your World Is About To Get A Whole Lot Smaller, laris terjual, Jeff Rubin, dalam buku barunya  mengemukakan bahwa era minyak murah telah usai dan akan berujung pada berakhirnya masa pertumbuhan ekonomi. Lalu, apa artinya kehidupan tanpa pertumbuhan ekonomi?

Sebagai pembuka bukunya, Rubin memulai dengan informasi tahun 1889, tentang robohnya petinju akibat pukulan lawan yang menggunakan gelang besi (bare-knuckle) di kepalan-tangannya. Sejak saat itu, penggunaan sarung tinju mulai diwajibkan dalam setiap pertandingan tinju. Namun, korbanpun sering tak terhindarkan akibat pukulan di kepala yang merusak otak atlit. Ilustrasi ini untuk menunjukkan bahwa usaha perbaikan suatu sistem bisa menyebabkan kerusakan dalam hal lainnya. Hal ini menurut Rubin juga terjadi saat AS mengambil kebijakan terus-menerus menggelontorkan uang ke dalam sistem ekonomi untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi negaranya, seperti bail-out, quantitative easing atau skema lainnya, yang justru bisa menyebabkan keterperosokan lebih dalam, karena tanpa mengkaitkannya pada faktor tingginya harga minyak dunia.

Perubahan kecepatan pertumbuhan ekonomi
Harga minyak saat ini sangat menentukan kecepatan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Seperti halnya manusia yang membutuhkan makanan, maka demikian pula dengan ekonomi yang membutuhkan energi. Sehingga bisa dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah fungsi konsumsi energi. Dan sumber energi yang sangat penting untuk ekonomi global adalah minyak.

Bank Sentral dan kementerian ekonomi selalu menghitung potensial pertumbuhan ekonomi supaya negara dapat berjalan dengan aman dan lancar. Ada dua hal yang biasa dipergunakan sebagai acuan potensial ekonomi, yaitu pertumbuhan produktifitas, yang biasa juga disebut sebagai perubahan keluaran per individu, dan yang kedua adalah pertumbuhan tenaga kerja.

Begitu pentingnya Pertumbuhan Ekonomi, bahkan pimpinan Federal Bank, Ben Bernanke, atau gubernur Bank of Canada seringkali menyebut sustainability untuk mengatakan kelanggengan pertumbuhan ekonominya. Para pimpinanan Bank Sentral ini meyakini bahwa bila terjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari seharusnya maka dianggap telah terjadi gangguan sistem, slack of the system. Dari sisi produktifitas, ini berarti banyak pabrik telah berproduksi kurang dari kapasitas optimumnya, atau pabrik bekerja hanya dengan satu giliran (shift) saja, bukan dua giliran seperti seharusnya. Dalam hal tenaga kerja, ini juga berarti banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja atau dengan kata lain banyak perusahaan tidak membuka lowongan kerja. Kegagalan mencapai tingkat pertumbuhan potensial ekonomi berarti meningkatnya pengangguran, atau menurunnya indeks lowongan kerja.

Bila ekonomi berkembang melewati batas potensial pertumbuhannya maka tingkat pengangguran akan turun, yang biasanya dianggap sebagai hal yang positif. Namun, rendahnya pengangguran bisa berarti tingginya biaya belanja, yang berujung pada tingginya jumlah uang beredar hanya untuk mendapatkan sedikit barang dan jasa, atau tidak cukup banyak barang dan jasa tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Dalam kondisi seperti di atas, para pekerja punya posisi tawar untuk menuntut gaji yang lebih tinggi terhadap perusahaan, yang berarti semakin meningkatnya inflasi.

Bagi para ahli ekonomi yang mengamati status kesehatan finansial suatu negara, mengetahui posisi tingkat pertumbuhan ekonomi adalah sangat penting untuk menentukan strategi pengamanan, sehingga bila terjadi gangguan atau slack maka para pengambil kebijakan akan segera menggelontorkan stimulus, yang diyakini akan mampu meningkatkan pertumbuhan tanpa harus menanggung inflasi. Namun bila ekonomi sudah mendekati tingkat potensialnya, alih-alih menambah pertumbuhan, malahan hanya akan menyebabkan tingginya inflasi.

Semakin tinggi perbedaan antara portensial pertumbuhan ekonomi dengan aktual produksinya, biasa disebut output gap, akan memacu para pengambil kebijakan untuk segera mengambil tindakan untuk menutupnya. Tahun 2008, Bank Federal AS memperkirakan output gap ekonomi negaranya sebesar 6% dibawah tingkat potensial GDPnya sehingga Bernanke menyatakan bunga bank akan sangat rendah, bahkan mendekati nol sampai setidaknya akhir 2014 (buku ini diterbitkan 2012), untuk menggairahkan berputarnya roda ekonomi.

Menurut Rubin, menetapkan bunga hutang rendah adalah strategi kebijakan ekonomi konvensional yang lazim diterapkan untuk mengamankan ekonominya. Dengan dalih potensial pertumbuhan ekonomi, kebijakan bank sentral AS ini ternyata juga terjadi di Eropa dan Amerika Utara untuk menutup output gap yang cukup besar. Signal itu ditunjukkan dengan semakin naiknya jumlah angka pengangguran yang hampir dua kali lipat dibanding dekade sebelumnya di sebagian negara-negara kaya seperti 34 negara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Devolopment), yang berarti juga tingginya kapasitas tidak terpakai dalam rantai produksinya.

Satu hal yang terlupakan dalam pengambilan kebijakan stimulus untuk memacu mesin ekonomi ini, menurut Rubbin, adalah harga minyak satu dekade yang lalu adalah masih $20 per barrel, (sekarang lebih dari $100/barrel). Dan, harga minyak tidak dianggap sebagai variabel yang dapat dipergunakan untuk menentukan seberapa besar stimulus diperlukan untuk mengamankan pertumbuhan, kecuali komponen tingkat produktifitas dan tenaga kerja. Bila saja bank-bank sentral turut memperhitungkan faktor harga minyak, mungkin kebijakan moneter akan memutuskan lebih sedikit uang digelontorkan kedalam sistem ekonomi. Politisi mungkin juga akan kebih berhati-hati untuk turut menyetujui skema paket-paket stimulus yang dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Lalu, bagaimana bila pola permainan sistem ekonomi telah berubah? Bagaimana bila ternyata kebijakan yang diambil oleh pihak-pihak berwenang ternyata salah?

Belum lama berselang ketika harga minyak dunia $20/barrel, AS adalah lokomotif pertumbuhan ekonomi global. Washington menikmati surplus anggaran, tingkat pengangguran rendah, harapan pensiun muda yang menarik karena nilai simpanan yang tinggi berdasar pengamatan bursa saham Dow Jones. Namun mimpi itu berantakan, dan sekarang pertumbuhan ekonomi AS sedang dalam perjuangan dimana defisit anggaran mencapai lebih dari satu trilyun dollar, dan hampir 13 juta pengangguran, serta pada saat yang sama harga minyak dunia mencapai empat kali lipat. Bukan suatu hal yang kebetulan.

AS bukanlah satu-satunya negara maju yang menderita karena tingginya biaya energi. Dari Eropa hingga Jepang, semua pemerintahan sedang berjuang untuk mengamankan pertumbuhan GDPnya, namun alih-alih semua usaha perbaikan ekonomi membawa keberhasilan, justru malah menambah kesulitan. Defisit anggaran AS tidak pernah setinggi saat ini setelah perjuangan ekonomi yang keras pasca Perang Dunia II. Akhirnya, ekonomi tidak dapat tumbuh lebih tinggi karena kemampuan membeli bahan bakar sangat rendah. Realitas menunjukkan bahwa harga minyak sangat menentukan kecepatan pertumbuhan ekonomi.

Akhir pertumbuhan ekonomi berarti pemerintah membutuhkan perubahan radikal untuk mengelola ekonominya. Saat ini, Fiskal dan Kebijakan Moneter masih menjadi dua hal utama penentu langkah pertumbuhan ekonomi yang sehat. Namun dengan tiga digit harga minyak per barrel, kebijakan ekonomi seperti tersebut di atas sudah menjadi bagian masa lalu atau harus mencari terobosan kebijakan yang berbeda.

Kebijakan Quantitative Easing adalah cara bank sentral AS membanjiri uang ke dalam sistem ekonominya dengan tujuan memutar roda produksi. Penerbitan Surat Utang berjangka waktu lama (bond) dengan ROR rendah diharapkan dapat membantu mengamankan ekonominya disaat ketidaakpastian finansial yang tinggi sehingga dapat lebih menarik investasi. Investor biasanya lebih suka menyimpan dananya dalam bentuk Surat Utang saat badai finansial mendera. Sebagai bagian dari program Quantitative Easing ini,  Fed Bank juga melakukan penetrasi pasar penjaminan kredit untuk dapat mengatur turunnya bunga punjaman secara efektif, sehingga dapat menekan biaya kredit perumahan. Suatu upaya Fed untuk mendamaikan kembali pasar perumahan.

Dengan rendahnya bunga pengembalian Bond, Fed berharap mendapatkan dollar lebih banyak dari para investor. Rendahnya permintaan dollar akan menyebabkan pelemahan nilai mata uang $, yang akan memperkuat sektor ekspor nasional dan merangsang tumbuhnya produk dalam negeri dibanding barang impor dan berujung pada berkurangnya pengangguran.

Bank Federal meyakini bahwa implementasi kebijakan ekspansi moneter akan mencegah ekonomi AS terperosok lebih dalam dari apa yang terjadi pada tahun 2008. Namun Quantitative Easing masih didasarkan pada pemikiran ekonomi konvensional yang menganggap Pertumbuhan Ekonomi sebagai tujuan akhir. Namun yang terjadi justru harga minyak tetap tinggi berapapun banyaknya uang beredar.

Minyak adalah bahan bakar pertumbuhan

Lebih dari dua pertiga bagian dari setiap barrel minyak adalah untuk keperluan transportasi. Untuk volume yang sama, minyak menghasilkan energi dua kali lipat lebih banyak daripada penggunaan batubara, atau empat kali lipat penggunaan gas alam. Itulah sebabnya, seberapapun banyaknya pemboran shale gas dilakukan di Amerika Utara, tetap tidak mampu menggantikan minyak sebagai bahan bakar transportasi. Kurang dari 1% total kendaraan di AS menggunakan propan, gas alam cair yang umumnya dipergunakan sebagai bahan bakar. AS sudah banyak melakukan usaha untuk mengembangkan energi altetnatif, namun tetap saja belum mampu menggantikan fungsi minyak bumi.

Harga minyak bumi masih menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi dunia. Harga minyak yang rendah akan memacu pertumbuhan, sebaliknya harga minyak yang tinggi tak terjangkau akan menghentikan mesin pertumbuhan.

Hubungan antara harga minyak dan GDP bersifat linear. Selama empat dekade, menurut Rubbin, rata-rata 1% kenaikan konsumsi minyak akan menaikkan 2% pertumbuhan GDP global. Ini berarti bila pertumbuhan GDP mencapai 4% seperti saat sebelum resesi 2008, konsumsi minyak naik 2% per tahun. Saat harga minyak $20/barrel, kenaikan konsumsi minyak 2%/tahun masih cukup masuk akal, namun saat mencapai harga $100/barrel (puncaknya $147%/barrel, 2008), bisa dibayangkan kebutuhan uang yang harus tersedia, bila pertumbuhan konsumsinya 2%/tahun, pasti cukup menyebabkan runtuhnya ekonomi AS.

Selama empat dekade, fakta menunjukkan bahwa setiap kali harga minyak naik tinggi, saat itu juga ekonomi global memgalami resesi. Tahun 1973, saat perang Yom Kippur, menuntut OPEC memutus ekspor ke AS dan negara-negara sahabat Israel lainnya sehingga tahun berikutnya GDP AS mengalami penurunan 2,5%. Kemudian berturut-turut saat Revolusi Iran dan Perang Irak.

Fatih Birol, ahli ekonomi di IEA (International Energy Agency), memperkirakan bahwa pendapatan pertahun 12 negara anggota OPEC mencapai tidak kurang dari satu trilyun dollar pada tahun 2011. Sementara itu AS mengalami defisit anggaran sebesar satu trilyun dollar untuk menyelamatkan ekonominya yang berbasis minyak. Ini berarti akan sama bila AS langsung membelanjakan stimulus ekonominya ke negara-negara pengekspor minyak.

Menurut IEA, produksi minyak konvensional telah mencapai puncaknya dan akan segera terus turun selama beberapa dekade kedepan, meskipun ini bukan berarti tidak lagi akan ditemukan cadangan minyak baru. Rubbin meyakini bahwa cadangan minyak baru akan terus ditemukan. Yang dimaksud penurunan produksi minyak konvensional disini adalah bahwa masa depan pertumbuhan ekonomi akan disokong oleh minyak berharga mahal, dan berasal dari sumber minyak non-konvensional seperti tar sands, ladang minyak di laut-dalam atau oil shale, yang kurang ramah lingkungan dengan resiko mulai dari emisi karbon hingga potensi kontaminasi air tanah.

Ditemukannya berbagai cadangan minyak non-konvensional akan bermuara pada satu hal, yaitu harga minyak mahal. Seperti diketahui, bila harga minyak naik, ekonomi akan terkontraksi dan berakibat resesi. Kebutuhan minyak akan turun dan berlanjut dengan merosotnya harga minyak. Secara perlahan, ekonomi akan kembali pulih dan kebutuhan minyak kembali tinggi. Demikian siklus harga minyak dan pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung.

Terlihat disini bahwa bukan keberadaan cadangan fisik minyak yang menjadi isu utama dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, namun kebih pada persoalan biaya ekonominya. Dengan kata lain, sumberdaya minyak hanya akan berarti secara ekonomi bila memang tersedia uang untuk membelinya.

Tugas industri energi tidak hanya mencari cadangan minyak, namun juga mencari cara sehingga minyak tersebut secara ekonomi memang mampu untuk dipergunakan. Dan hal inilah, yang menurut Rubbin gagal dilakukan oleh para industrialis perminyakan dunia. Sumberdaya minyak mungkin saja ditemukan, namun biaya produksi yang tinggi menyebabkan ekonomi dunia tidak mampu menanggungnya.

Saat ini dunia membutuhkan 90 juta barrel minyak per hari (2012) untuk dibakar. Dengan kondisi pertumbuham ekonomi dunia yang sangat rendah, mungkin tidak perlu lagi dibutuhkan lebih banyak minyak untuk dibakar, atau malah lebih sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan lagi membongkar cadangan minyak tar sands atau mengangkat minyak yang berada di dasar Samudra Artik.

Puncak kejayaan minyak (oil peak) bisa juga berarti ‘akhir pertumbuhan ekonomi’.

Zerro-sum world

Zerro-sum world adalah permainan dimana negara pemenang memperoleh semua keuntungan dari kekalahan pihak lain. Pada tahun 1980an, China memgkonsumsi minyak tak lebih dari 2 juta barrel per hari, dan sekarang (2012) mencapai 9 juta barrel per hari. Saat itu produksi minyak dunia masih terasa lapang untuk memenuhi kebutuhan China, namun saat kebutuhan minyak dunia begitu cepat tumbuh seperti saat ini, maka negara lain yang tak cukup mampu dengan harga minyak tinggi terpaksa harus menyerahkan pasar minyak ke China.

Zero-sum game dalam hal memperebutkan pasokan minyak dunia, diperkirakan akan dimenangkan oleh China atas ‘kehilangan’ dipihak AS. AS mengkonsumsi minyak lebih dari 20% dari produksi dunia, sementara hanya mampu memproduksi kurang dari 10%, sehingga harus melakukan impor untuk menutup sisa 10% kebutuhan minyaknya. Namun bila pertumbuhan ekonomi China terus melewati AS maka China akan mempunyai keunggulan komparatif dalam kompetisi global untuk memperebutkan lebih banyak minyak.

Kebutuhan akan minyak di negara sedang berkembang semakin cepat tumbuh dibanding di negara maju. Konsumsi minyak di China dan India tumbuh sebesar 10% per tahun dan cenderung semakin meningkat. Pada tahun 2010, China menambah konsumsinya hampir 1 juta barrel per hari. Sebaliknya, sebelum resesi ekonomi 2008, kebutuhan minyak negara-negara OECD mencapai 50 juta barrel per hari, namun pada tahu 2009 telah turun menjadi 45 juta barrel per hari. Artinya, harga minyak dunia sebesar $100 per barrel bukan masalah besar bagi negara-negara separti China atau India yang sedang haus akan minyak, namun menjadi masalah besar bagi pasar minyak tradisional seperti OECD. Lalu, mengapa China dan India mampu memghadapi harga minyak diatas $100 per barrel?

Banyak pihak beranggapan bahwa kemampuan daya beli minyak bangsa China atau India ini disebabkan oleh adanya subsidi yang besar dari pemerintahnya. Tidak sepenuhnya benar. India memberikan subsidi untuk harga bensin dan solar tidak lebih dari $10 milyar per tahun, lebih kecil dari pendapatan pajak yang dipergunakan AS untuk subsidi produksi ethanol berbahan dasar jagung. AS memang tidak memberi subsidi pada kilang minyak supaya dapat menjualnya dengan harga murah, tapi negara mengenakan pajak sangat rendah pada rakyatnya untuk belanja bahan bakar.
Konsumsi minyak di negara-negara sedang berkembang, yang sedang bagus pertumbuhan ekonominya seperti China dan India, lebih sensitif terhadap pertumbuhan pendapatan per capita, daripada tingginya harga minyak. Bila anda baru pertama kali memiliki mobil, maka kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bukanlah hal besar untuk dipikirkan. Di India dan China, pendapatan tumbuh lebih cepat daripada di Amerika Utara, Eropa atau Jepang sekalipun. Di China dan India, banyak mobil baru terjual bukan untuk menggantikan mobil tua, melainkan untuk menggantikan sepeda sehingga kebutuhan BBM jelas semakin tinggi. Selain itu, China dan India masih menggantungkan minyak sebagai alternatif utama untuk pembangkit listrik bila terjadi masalah dengan batubara. Energi gas dan air belum menjadi alternatif utama pembangkit listrik seperti di negara-negara OECD.

Negara-negara OECD telah menjadi pasar minyak yunior, yang sebelumnya pernah mencapai puncak saat harga minyak antara $70-$80 per barrel. Meskipun AS masih menjadi konsumen minyak tertinggi, namun telah mengalami penurunan sebesar 10%, atau 2 juta barrel per hari, sejak sebelum resesi dan cenderung terus semakin turun. Dalam dunia zero-sum, penurunan konsumsi minyak negara-negara OECD sebenarnya memang tak terhindarkan bila melihat keberlanjutan  pertumbuhan ekonomi China dan India.

Lingkungan

Tentang lingkungan, Rubbin mengakui bahwa ada kaitan langsung antara kenaikan temperatur global dengan emisi karbon karena ulah manusia, meskipun banyak pihak lain juga beranggapan bahwa itu hanyalah fenomena natural yang mungkin disebabkan oleh aktifitas pembakaran matahari. Namun, mengingat minyak adalah ‘bahan bakar’ pertumbuhan ekonomi, maka dengan adanya resesi ekonomi, secara langsung akan juga mengurangi emisi karbon.

Berbagai upaya penurunan emisi karbon telah diusahakan dengan melakukan serangkaian diskusi dan kerjasama antar negara di dunia yang intinya adalah penyebab emisi harus dikenakan biaya mahal, dengan harapan akan mengurangi emisinya. Namun ternyata hal inipun menjadi masalah karena negara-negara sedang berkembang menganggap bahwa jumlah kumulatif emisi karbonlah yang harus menjadi basis perhitungan penyebab perubahan iklim, bukan total emisi tahunan. Bila konsep ini diterima maka AS jelas menanggung biaya emisi terbesar, meskipun total emisi karbon terbanyak saat ini adalah China. Emisi karbon AS secara kumulatif sejak Revolusi Industri sebesar 27% dari total emisi dunia, sementara emisi China hanya 9,5%. Bila hal ini belum tuntas, maka akan sulit untuk menuntut negara lain mengatur kebijakan emisi terhadap industri domestiknya.

Mengingat masih rumitnya perhitungan kredit karbon, maka resesi ekonomi bisa menjadi jalan keluar sementara untuk mengurangi emisi karbon, bahkan tanpa perlu usaha keras perdebatan ditingkat legislatif sekalipun. Sebagai contoh adalah AS, pada saat resesi ekonomi tahun 2008, penurunan emisinya mencapai 3% dan pada 2009 sebesar 7%.

Penutup
Di akhir bukunya, Rubbin berpendapat bahwa, mulai dari kenyataan tentang semakin turunnya kecepatan pertumbuhan ekonomi AS, defisit anggaran dan potensi bencana lingkungan karena emisi karbon, maka bisa diambil kesimpulan bahwa ungkapan pertumbuhan ekonomi akan langgeng, adalah salah. Melainkan hanya sementara.

Pemerintah harus berhenti untuk terus berusaha melindungi ekonominya dari serbuan biaya energi tinggi dengan cara penghematan dan efisiensi penggunaan bahan bakar. “.. do with less is better than always wanting more”, ini penggalan kalimat terakhir dari Jeff Rubin, yang sebetulnya adalah inti sari dalam buku ini.

Kritik Buku
Buku ini enak dibaca dari awal hingga akhir, mudah dicerna dan cukup ‘ringan’ namun tetap memberikan informasi yang bagus tentang resesi 2008 dan dampaknya di Eropa serta hubungannya dengan harga bahan bakar fosil dunia.