Judul Buku: Personality: What makes You the Way You Are
Judul Buku: Personality: What makes You the Way You AreDitulis dalam Buku | Dengan kaitkata Agreeableness, Conscientiousness, Daniel Nettle, Extraversion, Neuroticism, Openess, Personality, Psychology | Leave a Comment »

-
Cadangan bijih Tembaga/Emas yang ada dalam perut bumi yang tetap dimiliki RI
-
Perusahaan PTFI sebagai pemegang Kontrak Karya penambangan (sekarang IUP) yang memiliki asset peralatan produksi, infrastruktur dan organisasi
-
Perlu adanya Badan Usaha untuk mengoperasikan tambang ex-Freeport dan menyusun ulang infrastruktur fisik dan organisasi. Ketika pt. Freeport Indonesia dinyatakan bubar, maka semua karyawan harus dipulangkan karena tidak ada institusi resmi (PT) yang menaunginya
-
Semua peralatan operasi, fasos dan fasum berhenti dan sebagian peralatan lainnya dikembalikan ke owner (rental). Listrik mati karena power plant berhenti berhubung tidak ada lagi pasokan batubara.
-
Tidak ada perawatan infrastruktur tambang, seperti jalan, drainage system, terowongan, stockpile (tumpukan bijih emas/tembaga hasil penambangan)

Proses Pengolahan
-
Tidak adanya perawatan jalan untuk akses penambangan dan pengangkutan barang dan manusia, akan menyebabkan rusaknya jalan. Jalan tambang selalu dibutuhkan perawatan/pengerasan setiap hari karena bukan jalan permanent/aspal
-
Dinding tambang Grasberg yang berbentuk corong dengan diameter 2 km dan kedalaman 1 km bisa longsor karena tekanan air yang tinggi dari belakang dinding, banjir karena drainage yang tersumbat batuan
-
Tidak adanya pompa air di dasar tambang menyebabkan banjir besar
-
Terowongan yang tidak diawasi dan dirawat, akan ambruk. Akses menuju ke area penambangan bawah tanah semakin sulit. Memperbaiki tunner yang runtuh, bisa lebih mahal daripada membuat tunnel baru
-
Proses eksplorasi untuk menambah cadangan dan memodelkan swcara rinci cadangan bijih sehingga memudahkan dan mengefektifkan/efisienkan proses penambangan, tidak dapat dilakukan
-
Peralatan pabrik yang canggih bisa rusak karena tidak ada perawatan dan butuh waktu untuk memulai ulang
-
Masih banyak lagi
Ditulis dalam Opini | Dengan kaitkata Cadangan, Divestasi, freeport | Leave a Comment »
Mengamati perilaku seseorang memang bukanlah kesenangan, tapi lebih pada sikap instant saat berkomunikasi, baik satu arah maupun dua arah. Bahkan hanya sepintas terlihat mereka berkomunikasi, sudah membuatku ‘terganggu’, apalagi bila dilakukan secara anomali dibanding kondisi lingkungannya, bukan oleh isi pembicaraan, tapi lebih pada gestur qdan cara berkomunikasinya.-
I prefer one-on-one conversations to group activities.
-
I often prefer to express myself in writing.
-
I enjoy solitude.
-
I seem to care less than my peers about wealth, fame, and status.
-
I dislike small talk, but I enjoy talking in depth about topics that matter to me.
-
People tell me that I’m a good listener.
-
I’m not a big risk-taker.
-
I enjoy work that allows me to “dive in” with few interruptions.
-
I like to celebrate birthdays on a small scale, with only one or two close friends or family members.
-
People describe me as “soft-spoken” or “mellow.”
-
I prefer not to show or discuss my work with others until it’s finished.
-
I dislike conflict.
-
I do my best work on my own.
-
I tend to think before I speak.
-
I feel drained after being out and about, even if I’ve enjoyed myself.
-
I often let calls go through to voice mail.
-
If I had to choose, I’d prefer a weekend with absolutely nothing to do to one with too many things scheduled.
-
I don’t enjoy multitasking.
-
I can concentrate easily.
-
In classroom situations, I prefer lectures to seminars
-
A Note on the Dedication
-
A Note on the Words Introvert and Extrovert2
Ditulis dalam Buku | Dengan kaitkata Calm, Extrovert, Introvert, Psychological, Quiet, Rosa Parks, Shy, Shyness, Susan cain | Leave a Comment »
Matahari belum genap benar muncul di balik Patung Tani, tapi seputaran jalan disitu sudah macet. Banyak mobil merapat di depan Gedung Joang 45, jalan Cikini Raya, untuk menurunkan penumpang. Lagi, kostum merah-putih memenuhi halaman rumah itu. Suara rebana dan tembang shalawat Nabi menyemarakkan pagi, menunggu kehadiran Capres Jokowi dan Cawapres Ma’ruf Amin. Jam 8 lebih, capres/ cawapres turun dari mobil, dan tak lama kemudian mereka muncul di atas panggung. Meriah teriakan hadirin yang memadati halaman rumah, “Jokowi .. Jokowi …” berulang-ulang …
Deklarasi kesediaan beliau berdua sebagai capres/cawapres diucapkan Jokowi dan Ma’ruf Amin di depan para pejabat partai politik pendukung dan para relawan. Jam 10an Jokowi/Amin berangkat menuju KPU menggunakan mobil innova diiringi para pejabat partai dan relawan, mengawal dengan penuh harapan dan optimisme tinggi bahwa Kebaikan akan Menang. Jokowi 2 Periode.
Tak seperti pada upacara Proklamasi pada pemerintahan sebelumnya, pada era Jokowi ini, 17 Agustusan terasa menjadi moment penting yang ditunggu masyarakat Indonesia, baik yang berada di sekitar istana, maupun para pemirsa televisi di rumah, karena upacara dan perayaan yang menyertainya selalu semarak, indah, tak terduga dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Baik saat penaikan bendera, maupun penurunan bendera, yang keduanya selalu dihadiri Presiden. Menyenangkan, sekaligus melambungkan rasa cinta bangsa. Lagu kebangsaan Indonesia Raya yang seharusnya hanya diperdengarkan, bercampur haru para hadirin pun pada akhirnya turut bersemangat menyanyikannya. Dan untuk pertama-kalinya juga, lagu Padamu Negeri, diminta oleh pengarah acara supaya dinyanyikan bersama-sama oleh semua hadirin. “Padamu Negeri … “, terdengar gelora semangat suara nyanyian membuncah rasa bangga di dada. Rasa kebangsaan itu sungguh terasa ..
Cafe yg berada di Kemang Raya, depan Habibi Centre, itu terlihat penuh anak muda dan wartawan yang akan meliput acara pengumuman para pemenang Kompetisi Menyanyi Bersama Harmoni Indonesia 2018. Kompetisi ini dilakukan dengan cara mengunggah video sendiri saat menyanyikan lagu nasional Rayuan Pulau Kelapa, dengan juri dari White shoes and the Couples Company, yang juga menjadi band penghibur pada acara itu. Pemenang bersuara merdu, dari kategori single dan group, mendapatkan hadiah handphone Samsung. Semarak ceria. Selamat untuk pemenang.
Ini adalah tanggal yang bakal tercatat dalam sejarah kesuksesan bangsa Indonesia, Asian Games 2018 Opening Ceremony. Event internasional ini menjadi berita utama di media cetak dan elektronik di dalam dan luar negeri. Film pendek yang menyajikan aksi perjalanan Presiden Indonesia dari istana Bogor menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan mengendarai motor besar paspampres. Adegan lucu, menegangkan, empati dalam film pendek itu menjadi hiburan tersendiri dalam acara Pembukaan tersebut.
Kegembiraan dan antusiasme masyarakat menyambut Asian Games ini sungguh luar biasa. Kostum merah-putih berlalu-lalang, tumpah-ruah setiap harinya di seputaran Stadion Utama Senayan. Tiket semua cabang olahraga selalu habis terjual dan pemirsa televisi di rumah pun selalu siap terjaga menikmati liputan langsung dari arena pertandingan. Rasa haru pun selalu menyertai semua penonton setiap kali lagu Indonesia Raya dikumandangkan menyertai pengalungan medali emas untuk para atlet Indonesia yang menjadi juara pertama dalam pertandingan. Luar biasa, 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu telah diraih para pahlawan olahraga kita. Perhelatan yang melibatkan dana besar dan tenaga kerja puluhan ribu, telah sukses diselenggarakan, bahkan juga sukses melebihi target perolehan medali.
Dalam situasi memprihatinkan, masyarakat Lombok yang sedang terkena bencana gempa bumi, Presiden bersama warga Lombok di pengungsian, turut menikmati hiburan acara Penutupan Asian Games 2018 yang tersaji indah membanggakan karya anak bangsa pada 2 September 2018, melalui layar lebar di lapangan terbuka, Lombok.Ditulis dalam Opini | Dengan kaitkata Gedung Joang, Harmoni, Harmoni Indonesia, J2P, Jokowi, White shoes | Leave a Comment »
Pada awalnya hanyalah keprihatinan sosial atas kondisi bangsa yang carut-marut dalam jagad maya, namun juga nyata menghangat dalam jagad nyata, terkait dengan pilpres 2014, yang menerus hingga pilgub DKI dan potensial memanas menjelang pilpres 2019; lalu berkembang memancing tindakan.
Asian Games ke-2 di Indonesia yang segera dimulai pada 18 Agustus 2018 dan bulan ‘Kemerdekaan RI’ menjadi moment bagus untuk diselenggarakan event penggerak bangsa untuk turut memeriahkan dan mensukseskan acara Asian Games 2018, serta menyemangati para atlet Indonesia supaya lebih berprestasi dan sekaligus meningkatkan rasa kebangsaan dan Persatuan Indonesia. Event seperti apakah yang cocok untuk hal di atas?
Setelah ngobrol bersama opa Sidarto, uda Firdaus Ali dkk., muncullah gagasan menyanyi bersama lagu-lagu nasional dari seorang Addie MS, maestro orkestra, untuk menjawab pertanyaan di atas. Ide tersebut muncul dari pengalaman Addie MS yang sukses memimpin nyanyi spontan bersama di balaikota DKI beberapa tahun yll. Harmoni Indonesia 2018 (HI2018) menjadi judul event yang kita pilih setelah rapat kesekian-kalinya.
Kamis, 26 Juli 2018 siang, Presiden Jokowi memanggil Watimpres pak Sidarto dan uda Firdaus Ali ke istana Bogor, untuk mendapatkan persetujuan Beliau melaksanakan HI2018 pada 5 Agustus 2018, sesuai keinginannya di pertemuan sebelumnya pada bulan Juni, sebelum Lebaran. Langsung, jungkir-baliklah panitia penyelenggara mempersiapkan HI2018 supaya nyata adanya.
Rapat-rapat internal panitia dan rapat dengan para pihak eksternal segera dilakukan. Permohonan bantuan ke TNI/Polri tak lupa kami layangkan, juga prosedur resmi perizinan ke berbagai pihak demi terlaksananya acara ini, juga kami penuhi. Lokasi rapat yang berpindah-pindah karena kapasitas ruang, kelengkapan sarana atau kedekatan dengan GBK sering terjadi. Tidak ada tempat yang tetap sebagai sekrerariat. Internet of Things menjadi sarana komunikasi sejak persiapan hingga terlaksananya event ini. Akrobat panitia terpaksa dilakukan dengan saling mengisi kekurangan dan melengkapinya. Mengagumkan, nada tinggi sering terdengar, kuping merah sering terasa, namun karena semangat yang sama untuk mewujudkan HI2018, maka kesabaran, kekompakan dan kerja cerdaslah yang akhirnya bisa memenangkan.
Kamis, 2 Agustus 2018, perlengkapan panggung dan tenda-tenda mulai menumpuk di lokasi GBK Koridor Timur, siap dipasang. Sabtu, panggung berdiri megah dan LCD besar sebagai latar belakang masih dalam uji coba hingga malam hari. Video streaming teruji lancar untuk komunikasi gambar maupun suara, dengan berbagai kota dan negara lain.
Minggu, 5 Agustus 2018 6.15, jalan di depan hotel Century, Senayan, padat dengan kendaraan dan berjubel massa merah-putih peserta HI2018 berlalu-lalang. Macet. Bus kementerian berderet menurunkan penumpang di Pintu 10 Senayan (depan TVRI) dan Pintu 5 (depan hotel Century). Belasan mobil golf berlalu-lalang menjemput para atlet penyandang cacat dan veteran ke Pintu 5 dan Pintu 10. Luarbiasa animo masyarakat untuk turut terlibat menyanyi lagu-lagu nasional bersama Presiden.
Jam 7.30an Presiden Jokowi turun dari mobil, yang masuk lingkungan GBK melalui Pintu Utama komplek Senayan dan berhenti di belakang panggung HI2018. Polo shirt lengan panjang putih berlogo merah bundar Harmoni Indonesia 2018 di dada kiri, terlihat cocok di badan beliau. Gagah.
Ketua Umum Firdaus Ali, Ketua Dewan Pengarah Watimpres Sidarto, Setkab, MenRisetDikti, Menko PMK menjemputnya ketika Presiden turun dari mobil dan sempat menemaninya ngobrol sebentar di holding room, hingga televisi RCTI siap tayang mulai jam 8.00. Sayang sekali, karena padatnya acara, beliau tidak sempat menyapa peserta di daerah melalui video streaming di ruang yang telah disediakan oleh EO Nicky, yang telah dilengkapi dengan LCD monitor dan terkoneksi dengan 34 ibukota propinsi di Indonesia dan 8 kota besar di negara tetangga. Namun demikian, beliau faham betul bahwa 2 jutaan peserta Harmoni Indonesia 2018 di seluruh Indonesia dan beberapa negara sahabat turut meramaikannya. Pukul 7.55 Presiden Jokowi muncul tersenyum dan melambaikan tangan di atas panggung diiringi teriakan histeris massa menyapanya, “pak Jokowiiii, pak Jokowiii”. Sedikit sisa waktu sebelum on-air, digunakan Presiden untuk menyalami para peserta paduan suara di atas panggung, yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, juga para Menteri dan beberapa Kepala Lembaga Negara.
Tepat 8.00, Presiden berdiri di atas podium tengah panggung dan baton mulai terayun di tangan sang dirigen, Addie MS, tanda mulai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua terlihat semangat, berdiri tegap, tertib dan musik keras terdengar melalui puluhan pengeras suara terpasang menyebar, mengiringi serentak alunan suara massa di atas panggung, depan panggung dan lebih dari 50 kota. Menggema lantang mengharukan. Luar biasa.. Media sosial instagram dengan tagar #HarmoniIndonesia2018 dan youtube, banyak sekali menayangkan peristiwa ini. Apa yang membuat antusiasme untuk terlibat menyanyi bersama lagu nasional ini? Wajah-wajah ikhlas penuh semangat itu tak akan berbohong, Harmoni Indonesia 2018 menjadi sarana ungkapkan rasa CINTA Tanah Air, CINTA NKRI, CINTA Persatuan. Jayalah negeriku INDONESIA.
Catatan:
Gambar dan Video dapat dilihat di Youtube dan Instagram bertagar #HarmoniIndonesia2018
Rekaman liputan televisi TVONE dan SCTV:
Foto-foto di belakang layar:



Ruang Video Streaming

Universitas Gajah Mada

Universitas Indonesia

Ditulis dalam Opini | Dengan kaitkata Addie MS, Harmoni, Harmoni Indonesia, Jokowi | Leave a Comment »
Dalam artikelnya di Forbes 28 Desember 2015 yang berjudul “Trump explained by Neuroscience”, Roger Dooley berpendapat bahwa “what people say they believe doesn’t always reflect their non-conscious beliefs“. Implicit association test (IAT) telah membuktikannya melalui survey yang dilakukan Washington Post/ABC News tentang isu hangat yang dilontarkan oleh Trump, yaitu ‘larangan imigrasi Muslim’. Hasil survey menunjukkan 60% sampel berpendapat bahwa melarang imigrasi Muslim adalah tidak bijaksana, demikian juga dengan 82% pendukung Demokrat. Bahkan 54% berpendapat bahwa Islam adalah agama damai. Namun, IAT menunjukkan hal sebaliknya, bahwa 53% masyarakat AS, sebagai sampel pengujian, secara bawah-sadar lebih menyukai pelarangan imigrasi Muslim.
Buku yang sebetulnya membahas tentang hal yang sangat rumit, namun Doidge mampu menyajikannya dengan sangat nyaman, bahkan untuk pembaca yang sangat awam tentang Otak. Lembar-demi lembar membacanya, semakin menarik untuk tahu lebih banyak tentangnya. Berbagai kasus yang berhubungan dengan fungsi otak, Doidge menyajikannya dalam 11 bab dan 2 Lampiran, lengkap dengan Catatan dan References di bagian akhir bukunya.
Hasil penelitian Mark Rosenzweig dari Universitas Californi, Berkeley terhadap perbedaan antara tikus yang dilatih dan yang tidak terlatih, menunjukkan bahwa tikus terlatih akan mempunyai neurotransmitters lebih banyak, lebih berat dan mempunyai pasokan darah ke otak lebih baik. Mark dianggap sebagai ilmuwan pertama yang menunjukkan kenyataan neuroplastisitas dengan bukti bahwa, dengan beraktifitas, dapat menghasilkan perubahan struktur otak.
Bab ini menarik untuk dipelajari karena contoh kasus yang berhubungan dengan peristiwa menyedihkan di masa kecil, yang tersimpan dalam ingatan “bawah sadar”, hingga berdampak pada perilaku masa tuanya. Tidak banyak psikiatris pada masa awal 1990an, yang berpendapat adanya plastisitas otak, bahkan umumnya beranggapan bahwa dalam usia menjelang 60 tahun, sudah terlambat untuk memperbaiki gangguan psikis seseorang yang sudah terbentuk sejak masa kecilnya. Psikoanalisa yang dilakukan Sigmund Freud membuktikan hal sebaliknya, justru sesuai dengan prinsip Plastisitas.Ditulis dalam Buku | Dengan kaitkata Brain, cortex, Doidge, neuron, neuroplasticity, Neurosains, Neuroscience, Norman Doidge, Paul Bach-y-Rita, psikoanalisa, Sigmund Freud, synapse, The Brain That Changes Itself | Leave a Comment »
Nama Don Quixote rasanya sering sekali kita dengar sejak dulu, yang terbayang saat itu adalah cerita tentang pria parlente yang suka berbohong. Namun seperti apa persisnya cerita itu, tidak tahu. Nopember 2017, di pojok toko buku Gramedia Semarang, kutemukan buku tipis kecil terbitan Immortal, dan baru kubaca saat mudik Lebaran 2018 ini.Ditulis dalam Novel | Dengan kaitkata Cervantes, Don Quixote, Dulcinea, Mancha, Miguel, Panza, Rozinante, Sancho, Toboso | Leave a Comment »
Guns, Germs, and Steel adalah buku karya Jared Diamond, profesor geografi dan fisiologi dari Universitas California (UCLA), yang diterbitkan pertama kali di tahun 1997, dan setahun kemudian memperoleh penghargaan Pulitzer Prize untuk kategori Non-fiction.
- Spesies tanaman dan binatang liar sebagai sumber domestikasi
- Kondisi alam di dalam masing2 benua, yang mempengaruhi tingkat penyebaran dan migrasi
- Kondisi alam perbatasan antar benua, yang mempengaruhi tingkat penyebaran dan migrasi
- Luas area atau total populasi. Budaya kompetisi dalam wilayah yang padat dengan organisasi politik terpusat akan memicu tumbuhnya penemuan untuk meningkatkan kemampuan produksi dan akumulasi kelebihan makanan.
Ditulis dalam Buku | Dengan kaitkata Bulan Sabit Subur, Cro-magnon, Eurasia, Evolution, Fertile Crescent, Germs and Steel, Guns, Homo erectus, Homo sapiens, Jared Diamond, Manusia Jawa, Neanderthal | Leave a Comment »
Film Dilan 1990, diambil dari novel karya Pidi Baiq (1972), yang terasa meriah promosinya ini membuat kami keluarga bertujuh dengan usia beragam, dari 20 tahun hingga 55 tahun, terpancing untuk menontonnya. Bayangkan, hanya dalam 10 hari, film ini telah mampu menarik lebih dari 3 juta penonton. Kalau per tiketnya Rp. 25 ribu saja, sudah Rp. 75 milyar pemasukan. Luar biasa.Ditulis dalam Film | Dengan kaitkata 1990, Baiq, Dilan, Iqbaal Ramadhan, Milea, Pidi, Vanesha Prescilla | Leave a Comment »
Nama Diponegoro selalu bergaung di kepala sejak kecil. Bayang surban dan jubah putih berkibar terlihat gagah, pejuang bangsa yang tegap duduk di atas pelana kuda dengan keris menyelip dalam sabuk di atas perutnya. Film November 1928 karya Teguh Karya yang dibintangi oleh Slamet Rahardjo dan Yenny Rachman, cukup mengobati kerinduan visual terhadapnya. Atau, justru membatasi ruang imajinasi dan pemahaman sejarah ?
Tiga buku tentang Diponegoro terbit hampir dalam kurun waktu yang sama. Satu buku terjemahan bahasa Jawa “Pangeran Dipanegara” yang merupakan karya asli Pangeran Diponegoro yang ditulis di Manado, dan dua buku karya Peter Carey, “Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 – 1855” dan “Sisi lain Diponegoro: Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa“, sangat membantu pemuasan diri terhadap keingin-tahuan tentang Pangeran Diponegoro, yang ditangkap Belanda di Magelang pada 28 Maret 1830.
Takdir adalah karya Carey yang menjelaskan tentang Diponegoro berdasar Babad Diponegoro yang ditulisnya sendiri (1831-1832) saat berada di pengasingan Manado dan sepertinya menjadi dasar pengetahuan umum masyarakat kita selama ini, sedangkan Sisi Lain Diponegoro (SLD) adalah buku Carey setebal 270 halaman, yang ditulisnya berdasar studi terhadap Babad Kedung Kebo, karya Cokronegoro, bupati pertama Purworejo, dan Pangalasan, panglima perang Diponegoro untuk wilayah Bagelen (awal 1840an), yang kemudian justru menjadi lawan perangnya. Buku “Sisi Lain Diponegoro” lebih dulu dapat saya selesaikan membacanya, berhubung dalam format eBook yang bisa dibeli dari aplikasi android Scoop dan mudah dibaca dimanapun kita berada. Tulisan ini adalah komentar dan suntingan dari buku tersebut, sedangkan buku Takdir, dalam format hard copy setebal 512 halaman akan dibuatkan tulisannya dalam blog ini secepatnya.
Unik, itu yang bisa dirasakan ketika membaca buku Sisi Lain Diponegoro. Terbayang kesulitan Carey dalam melakukan studi tentang Diponegoro. Babad bukanlah sejarah kejadian faktual dimasa lalu, yang tersusun rapi dalam bentuk buku dengan kejelasan waktu, kejadian dan pelakunya; melainkan kumpulan cerita atau opini penulisnya dalam bentuk puisi atau tembang yang seringkali tanpa penunjuk waktu. Condro sengkolo atau simbol waktu dalam bahasa jawa, digunakan sebagai penunjuk waktu, yang membutuhkan keahlian penafsiran tersendiri. Kepekaan dan pengetahuan terhadap budaya Jawa, termasuk pengetahuan dalam hal pewayangan menjadi prasyarat utama untuk dapat menjelaskan isi Babad Diponegoro ini.
Kutipan dari buku Takdir menyatakan bahwa sejarawan militer Belanda, PJ.F. Louw (1856-1924), yang menjadi penulis mitra mahakarya tentang Perang Jawa, De Java-Oorlog van 1825-30 (1894-1909) menyatakan:
“Tanpa keraguan kita harus menghargai Babad Diponegoro begitu tinggi sehingga dengan gamblang kita bisa mengatakan bahwa suatu tulisan sejarah tentang Perang Jawa yang tidak menggunakan babad sebagai sumber utama harus dicap sangat kurang lengkap”.
Kutipan ini dijadikan rujukan oleh Carey untuk menggunakan Babad sebagai sumber utama studi tentang Diponegoro, meskipun ahli sejarah Profesor Sartono menganggap Babad itu bukanlah sejarah, melainkan sejenis dongeng, cerita turun-temurun atau hikayat. Bila anda berasal dari Jawa dan sering menikmati acara sandiwara ketoprak, maka cerita kerajaan Jawa semacam inilah mungkin yamg dimaksud oleh beliau sebagai dongeng tersebut.
Susunan penulisan buku Sisi Lain Diponegoro ini, Carey menyajikannya dalam tiga bagian, yaitu bagian 1 mengenai Ekologi Kebudayaan Jawa, yang menjelaskan tentang pentingnya peranan Wayang dalam kebudayaan Jawa. Cerita tentang wayang ini ternyata penting sekali dalam kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu, bahkan Diponegoro mangasosiasikan dirinya dengan Arjuna yang halus dan tegas juga suka bertapa, sementara Cokronegoro menganggap Diponegoro lebih cocok dengan karakter Suyudono (Kurawa) yang tewas ditangan Bima. Bagian 2 tentang perbandingan rujukan Babad Kedung Kebo karya Cokronegoro dan Pangalasan, serta Bagian 3 adalah Epilog yang menjelaskan tentang sejarah kota Puworejo, dimana Cokronegoro menjadi Bupati pertama.
Menurut kajian Carey, secara singkat ada tiga kelompok Babad Diponegoro:
1. Babad Diponegoro

Merupakan otobiografi sang Pangeran sendiri, yaitu Babad Diponegoro. Babad ini ditulis di Manado dalam kurun waktu sembilan bulan (13 November 1831-3 Februari 1832). Diponegoro sempat menceritakan sejarah Jawa dan riwayatnya hingga di pengasingan. Sepertiga dari Babad ini menyangkut sejarah Jawa dari Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) (wafat 1478) hingga sebelum kelahiran Diponegoro pada 11 November 1785. Sisanya menggambarkan kehidupannya serta keadaan zamannya sampai awal masa pengasingannya di Manado (1830-1833). Diduga Diponegoro menceritakan riwayat hidupnya kepada seorang juru tulis yang menulis babad asli dalam bentuk tembang macapat.
Babad Diponegoro merupakan sumber sejarah Jawa yang paling terkenal dan sekarang sudah diakui sebagai Warisan Dunia (Memory of the World) oleh UNESCO (18 Juni 2013). Salah satu sebab, babad ini telah diterjemahkan serta diterbitkan menggunakan aksara Jawa oleh penerbit di Surakarta sebelum Perang Dunia I. Namun sampai sekarang belum ditemukan naskah aslinya, dan semua referensi yang digunakan di dalam buku pendek ini berasal dari salinan yang belakangan dibuat di Surakarta dan yang sekarang dapat ditemukan di Perpustakaan Universitas Leiden.
2. Babad Kedung Kebo
Buku Sisi Lain Diponegoro ini lebih fokus menjelaskan tentang Babad Kedung Kebo, yang ditulis pada awal 1840-an hingga 1843, atas prakarsa bupati perdana Purworejo (pra-1831, Bupati Brengkelan), Raden Adipati Ario Cokronegoro I (menjabat 1831-1856), antara 1842 dan 1843. Kemungkinan besar bahwa seorang mantan komandan pasukan Diponegoro, Basah Pengalasan (sekitar 1795-pasca-1866) juga ikut menyusun kitab tersebut. Bagelen terletak di sisi timur Kali Bogowonto, yang berfungsi sebagai tangsi militer Belanda selama Perang Jawa. Setelah Perang Jawa, nama Kedung Kebo dipertahankan sebagai tangsi militer, tapi nama hoofdplaats (kota administratif) diubah dari Brengkelan menjadi Purworejo pada 26/27 Februari 1831.
Berbeda dari isi otobiografi Pangeran Diponegoro, babad ini bukanlah suatu pembenaran untuk berperang melawan Belanda, sebaliknya justru untuk membenarkan tindakan Cokronegoro yang bergabung di pihak Belanda melawan pasukan Diponegoro.
Di bagian awal Babad, gambaran sang Pangeran dapat dikatakan masih positif: ketaatan agamanya dikagumi, walaupun keterlibatan masyarakat agama dalam peristiwa politik dikritik keras. Memang ada dikotomi dalam sikap penulis Babad Kedung Kebo terhadap Diponegoro. Ini memperkuat teori bahwa Babad ini merupakan karya dua orang, sang bupati perdana Purworejo dan panglima Pangeran di Bagelen timur, Basah Pengalasan. Mungkin yang terakhir berkontribusi paling banyak mengenai riwayat Pangeran sebelum Perang Jawa.
Tradisi lisan Jawa menyebutkan bahwa Diponegoro maupun Cokronegoro, belajar tasawuf dan ajaran tarekat Shattariyah kepada guru agama yang sama sebelum meletusnya Perang Jawa, Kiai Taptojani dari Mlangi. Namun pada akhirnya justru bermusuhan ketika terjadi Perang Jawa. Cokronegoro beranggapan bahwa pencapaian spiritual Diponegoro memang besar. Namun kegagalan akhirnya harus diderita sang Pangeran. Keputusan Cokronegoro untuk berperang melawan Diponegoro digambarkan sebagai hasil pemahamannya atas kelemahan mendasar Diponegoro karena paduan karakter mental dan spiritualnya. Dalam babad, sikap ini diterangkan dalam konteks pandangan budaya Jawa yang tradisional dan pemahaman kosmis. Ada tiga buah tema utama yang ditemukan dalam Babad Cokronegoro:
- penggambaran sebelum meletusnya Perang Jawa, dan tanda serta keajaiban yang diterima oleh Diponegoro dan penasihat spiritualnya;
- setelah meletusnya perang, ada isu dari pembicaraan rakyat mengenai ramalan Joyoboyo dalam kaitannya dengan masalah kedatangan Ratu Adil; dan
- pada bagian akhir Babad ada gambaran wayang yang digunakan untuk mengukuhkan pandangan kritis tersebut terhadap pribadi pemimpin Perang Jawa.
Beberapa pertanda spiritual, yang telah diterima Diponegoro sebelum meletusnya Perang Jawa, menurut Cokronegoro banyak mengungkapkan sikap pribadinya yang menunjukkan sifat pamrih, dan kegagalan Diponegoro dapat dikaitkan dengan motif untuk melakukan pemberontakan yang tidak murni atau dipengaruhi oleh kepentingan serta ambisi pribadi. Pesan serupa juga disampaikan oleh Ki Ageng Selo, yang memperingatkan tentang bahaya yang akan ditimbulkan oleh sifat pongah (takabur).
Kemudian, ketika menjelaskan Diponegoro di markas pertama di Selarong (21Juli-5 Oktober 1825), secara eksplisit Cokronegoro mengemukakan bahwa Diponegoro terpengaruh oleh sifat kesombongan (kagepok takabur). Menurut Cokronegoro, Pangeran telah melupakan peringatan yang telah diberikan oleh Tuhan sebelum pecahnya perang. Dengan demikian Dia mengeluarkan murkaNya sebagai akibat dari perbuatannya. Di samping itu ia juga disesatkan oleh Kiai Mojo. Penasihat agama utama itu mendesak Diponegoro untuk memproklamasikan dirinya sendiri sebagai sultan pada saat yang tidak tepat.
Kelemahan fatal dari kepribadian spiritual Diponegoro ini dipertegas Cokronegoro dalam gambaran wayang yang ditulisnya di akhir Babad, bahwa Diponegoro disamakan dengan Prabu Suyudana, pemimpin kaum Kurawa, yang sombong dan tergoda pamrih, atau dengan kata lain ia menyatakan bahwa seorang yang memiliki kemampuan untuk menjadi penguasa yang besar, akhirnya mengalami kehancuran akibat kesombongannya. Dengan cara yang sama, sebagaimana ia menolak tuntutan Diponegoro atas kebangsawanannya, Cokronegoro juga menolak pendapat bahwa Pangeran tersebut memenuhi ramalan Joyoboyo tentang kedatangan sang Ratu Adil. Carey menulis rinci tafsir pewayangan terkait para aktor Perang Jawa, termasuk peran Diponegoro dalam Babad Kedong Kebo ini. Menarik.
Dengan memasukkan contoh wayang ini dalam kitabnya, Cokronegoro telah berhasil dengan baik memperlihatkan kekagumannya kepada Pangeran Diponegoro, sekaligus membenarkan tindakannya melawan Pangeran selama Perang Jawa.
3. Babad Surakarta
Babad Keraton Surakarta (selanjutnya: Babad Surakarta), menceritakan kejadian menjelang dan pasca Perang Jawa pada 20 Juli 1825, sudah diterbitkan sebagai edisi asli dengan huruf Romawi dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Melayu Indonesia oleh penulis sewaktu menyiapkan disertasi doktoral di Oxford pada 1975 (Carey 1981). Walaupun Babad ini hanyalah sebagian dari satu naskah keraton yang lebih panjang, ia tetap merupakan dokumen yang paling sesuai dengan masanya. Salinan Babad ini bisa ditemukan di Perpustakaan Universitas Leiden (LOr 2114) dan agaknya dibuat untuk sekolah bahasa Jawa yang didirikan oleh ahli bahasa Jawa dan misionaris Kristen berkebangsaan Jerman, J.F.C. Gericke (1798-1857), di Surakarta pada 1832.
Babad Diponegoro versi Keraton Surakarta, berbeda dengan kedua babad utama yang ditulis tokoh utama Perang Jawa, yaitu Babad Diponegoro dan Babad Kedung Kebo. Ini karena Babad Surakarta merupakan fragmen dari sebuah Babad Keraton yang jauh lebih panjang. Babad yang lengkap itu boleh dikatakan sudah hilang.
Sikap terhadap Diponegoro yang diperlihatkan oleh penulis Babad ini sangat mencerminkan nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang pejabat keraton. Demikianlah misalnya, pandangannya tentang hubungan yang dijalin Diponegoro dengan santri. Hubungan ini mendapat celaan dalam Bharatayuda dan penulis naskah melontarkan keraguannya mengenai kesungguhan keyakinan keagamaan Pangeran. Ucapan yang dimasukkannya ke dalam mulut Residen Smissaert mungkin sekali mencerminkan sikap penulis babad dan kalangan bangsawan keraton Jawa terhadap sang pemimpin Perang Jawa. Biarpun banyak yang mengagumi sikap tegas yang diperlihatkan Diponegoro saat menghadapi Belanda, mereka tetap memandang dengan perasaan amat tidak rela hubungannya dengan para santri.
Teks keraton Kasunanan ini juga menggambarkan perbandingan yang paling dekat antara Diponegoro dan sosok Ratu Adil sendiri. Perbandingan ini juga ditemukan pada semua laporan yang ada dalam kesusastraan Jawa. Oleh karena itu, babad merupakan sumber paling sezaman yang tersedia. Tampaknya harapan akan munculnya seorang Ratu Adil memang tersebar secara luas menjelang perang dimulai di Jawa bagian tengah-selatan. Gambaran yang diberikan mengenai keruntuhan kehidupan masyarakat serta tata susila keraton sangat jelas. Meskipun dikemukakan dengan istilah yang sangat tradisional, gambaran dari masa yang menandai kedatangan seorang Ratu Adil dalam Bharatayuda mirip sekali dengan apa yang terdapat dalam Serat Cabolang yang ditulis di Keraton Kasunanan Surakarta sepuluh tahun sebelumnya (1815).
Babad mencerminkan bagaimana Diponegoro telah dipandang oleh anggota masyarakat keraton Jawa sebelum perang. Maka naskah versi Surakarta bisa dipakai sebagai salah satu pembanding yang bermanfaat bagi otobiografi Babad Diponegoro, yang memberikan pandangan Pangeran sendiri, serta Babad Kedung Kebo yang ditulis dari sudut kritis seorang lawannya.
Pewayangan
Berbeda dengan Babad Kedung Kebo, dimana Cokronegoro mengasosiasikan Diponegoro sebagai Prabu Suyudono dari kerajaan Kurawa, Carey berpendapat bahwa di dalam Babad Diponegoro, yang ditulis sendiri atau atas perintah Diponegoro di Manado (1831-1832), terdapat berbagai bagian dari tulisannya yang memberikan petunjuk bahwa sesungguhnya ia sendiri merasa lebih cocok dengan karakter Arjuna, saudara ketiga dari lima bersaudara keluarga Pandawa, yang berperilaku tenang namun tegas, juga gemar akan bertapa dan pusaka. Dari semua naskah yang dibaca oleh Diponegoro dan orang-orang sekelilingnya di Tegalrejo, sepertinya cerita Arjunawiwaha-lah yang memberikan pengaruh yang paling besar kepadanya. Personifikasi Arjuna dalam dirinya terlihat pada tindak laku spiritualnya dengan seringnya melakukan pengasingan diri (bertapa) dengan tujuan untuk menyucikan diri agar di kemudian hari dapat menjalankan suatu pemerintahan spiritual.
Gambaran wayang juga kembali memainkan peranan menarik dalam Babad Keraton ini. Mungkin sekali banyak adegan dalam naskah Babad Surakarta ini telah diinspirasi oleh pertunjukan wayang orang yang sempat dilihat oleh penulis babad di keraton Surakarta.
Peran Sultan Agung dan Wali Songo
Selain kisah pewayangan Arjuna yang banyak mempengaruhi karakter dan pengembaraan spiritual Diponegoro, kehidupan Sultan Agung dan Wali Songo punya peranan sangat penting dalam keislamannya.
Relevansi Sultan Agung untuk Diponegoro, pertama adalah sang Pangeran merasa ada kemiripan situasi yang sedang dihadapinya; dan kedua ia sangat mengagumi kedudukan sang raja Mataram sebagai pelindung spiritual Jawa. Demikian pulalah, di dalam pengembaraan yang dilakukannya pada masa yang lebih dini- yaitu ziarah ke Samudera Selatan pada musim kemarau 1805- Diponegoro menggambarkan bagaimana ia pada suatu waktu mendapatkan ‘wangsit’ dari Sunan Kalijogo yang meramalkan bahwa kelak ia akan menjadi seorang raja. Tetapi bukan sebagai raja biasa tapi lebih sebagai seorang pengawas spiritual bagi semua penguasa duniawi di Jawa.
Carey berpendapat bahwa Diponegoro memang telah mempersiapkan dirinya, secara spiritual, dan kini harus menerima kekuasaan sebagai pemimpin agama Islam di Jawa serta melaksanakan kekuasaan duniawi. Diponegoro memandang dirinya sendiri sebagai seorang pemimpin Islam di Jawa.
Dalam buku ini juga dijelaskan tentang pertikaian Diponegoro dan Kyai Mojo. Berdasar Babad Diponegoro, Kiai Mojo pada 1827, menentang kekuasaan mutlak Diponegoro sebagai pandita-raja, Mojo menganjurkan Diponegoro untuk memilih satu kekuasaan pemerintahan dari empat posisi yang ditawarkannya:
- ratu (raja),
- wali (utusan keagamaan),
- pandita (ahli hukum),
- mukmin (orang-orang yang percaya dan yakin akan kebenaran agama Allah SWT).
Diponegoro menolak. Jika Diponegoro memilih kedudukan ratu, maka Mojo sendiri dapat mengambil gelar wali dan dengan demikian menikmati kekuasaan keagamaan yang mutlak.
Riwayat Hidup Cokronegoro (1779-1862)
COKRONEGORO lahir di Bagelen, sekarang wilayah Purwodadi, 17 Mei 1779, hampir semasa dengan Pangeran Diponegoro, yang lahir di Yogyakarta pada 11 November 1785.
Cokronegoro pada awal jabatannya sebagai bupati perdana Purworejo (1831-1856) berinisiatif membangun saluran irigasi, yang mengambil air dari Sungai Bogowonto. Saluran ini, yang dikenal sebagai Kedung Putri, mulai dibangun 3 Mei 1832 dengan mengerahkan 5.000 tenaga kerja dan masih berfungsi sampai sekarang dengan kemampuan mengairi sawah seluas 3.800 hektar di sekitar Purworejo. Cokronegoro dan Diponegoro mempelajari ilmu tasawuf serta kebatinan (disiplin spiritual orang Jawa) dari guru yang sama di sebuah desa di luar Surakarta, Kiai Taptojani.
Carey berpendapat bahwa sepertinya tugas Cokronegoro adalah menunjukkan jalan atau jalur di wilayah Bagelen kepada para perwira Belanda serta sekutu-sekutu Jawanya. Ketika semakin kuat perang pada tahun kedua di areal Bagelen timur, ia mengorganisasikan perlawanan setempat dengan memanfaatkan ikatan-ikatan kekeluargaannya yang banyak terdapat di daerah itu. Selama perang, tampaknya Cokronegoro berhasil membuat dirinya disenangi oleh para perwira pasukan Belanda, dan terkesan dengan cara hidup bangsa Belanda, sehingga dengan bangga ia menyinggung dalam Babad bahwa ia telah digambarkan sebagai ‘seorang Belanda’ saat penyerahan tanda jasa.” Dalam hubungan ini, ia benar-benar bertolak belakang dengan rekan se-ilmu tasawufnya, Pangeran Diponegoro, yang memandang hina cara hidup orang-orang Belanda.
Sejarah Cokronegoro dijelaskan oleh Carey dengan sangat rinci, termasuk hubungannya dengan Diponegoro, dan kedekatannya dengan kekuasaan Belanda. Cokronegoro ikut berperang di daerah-daerah Bagelen yang ia kenal sejak masa kecil, dan kadang-kadang memimpin pasukan pribumi (hulptroepen) dari Manado, Ternate, dan Madura, juga di daerah-daerah sekitarnya seperti Kedu Selatan (Gowong, Ledok) dan Kulon Progo (Gunung Kelir).
Diceritakan juga bahwa perang 1829, menyebabkan gugurnya panglima pasukan Pangeran Diponegoro yang paling disegani dan dihormati, Pangeran Ngabehi, dan kedua anak laki-lakinya-Pangeran Joyokusumo II dan Raden Atmokusumo-di daerah perbatasan antara Bagelen dan Kulon Progo. Kepala ketiga pangeran itu dipancung dan dikirim ke Jenderal De Kock di Magelang sebelum diserahkan ke Keraton Yogyakarta untuk dimakamkan di Pemakaman Pengkhianat di Banyusumurup. Diponegoro ditangkap di Magelang pada 28 Maret 1830.
Riwayat Hidup Basah Haji Ngabdullatip Kerto Pengalasan
(sekitar 1795-pasca-1866)
Selama tahun-tahun terakhir perang (1825-1829), Pengalasan hampir secara khusus beroperasi di Bagelen timur. Bahkan kolonel Cleerens menganggapnya sebagai salah seorang komandan terpenting pasukan ‘pemberontak’ (rebellen) di daerah mancanegara barat itu. Ia tetap dekat dengan Diponegoro dan disebutkan sebagai salah satu dari sejumlah kecil Basah, atau panglima pasukan, yang tetap setia dan berada bersama Pangeran Diponegoro setelah kekalahan yang menentukan di Siluk, di utara bukit-bukit Selarong pada 17 September 1829.
Setelah evakuasi ke barat Sungai Progo, karena kekalahan di Siluk pada 17 September 1829, situasi di medan perang tidak memungkinkan kekuatan Diponegoro bertahan lama, dan pada 25 September 1829 Pengalasan mengirimkan sepucuk surat kepada seorang kerabatnya, Tumenggung Cokrorejo, yang mengungkapkan kesediaannya untuk berpihak kepada Belanda. Inisiatif ini didorong pula oleh Cleerens yang rupanya ingin merangkul Pengalasan sebagai jalur negosiasi dengan Diponegoro. Akhirnya Pengalasan menyerahkan diri kepada Cokronegoro di Benteng Bubutan (Bagelen) tepat pada hari ulang tahun Diponegoro, 11 November 1829, dan tiga hari kemudian ia dibawa untuk menghadap Cleerens di markas sang kolonel di Kedung Kebo di sisi timur Kali Bogowonto. Kendati demikian terdapat kecurigaan bahwa penyerahan dirinya punya motif tersembunyi. Pun, di sisi Belanda, ada yang menduga bahwa sebenarnya Pengalasan diutus sendiri oleh Diponegoro untuk membuka perundingan perdamaian.
Cleerens mengemukakan, Basah yang berumur sekitar 34 tahun itu sering diundang untuk makan ke markas besarnya dan bahwa ia lebih banyak diperlakukan sebagai teman pribadi daripada seorang tawanan: kegemarannya akan anggur dan candu juga ikut disinggung, dan yang lebih penting lagi, perhatiannya pada situasi militer dan diplomatik Turki Osmani selama Perang Ketiga dengan Rusia (1829-1830). Ia tampak berusaha amat keras untuk mengambil hati Komando Tertinggi Tentara Belanda dengan mengorganisasikan perundingan-perundingan perdamaian dengan Diponegoro. Ia berharap, dengan usaha-usahanya itu ia akan mendapat sebuah jabatan dan penghasilan dari Belanda. Dalam hal ini, ia terutama merasa iri terhadap Sentot karena janji yang diberikan Belanda bahwa kelak bisa menjadi pemimpin barisan pribadi. Demikianlah, ia menulis dua surat kepada patih Diponegoro, Raden Adipati Abdullah Danurejo (menjabat 1828-1830), dengan permintaan untuk menghubungi Diponegoro. Dia juga menulis sepucuk surat berupa laporan panjang-lebar kepada Cleerens guna mengutarakan pandangan serta pendapatnya mengenai usul-usul perdamaian yang mungkin akan diajukan oleh Diponegoro jika negosiasi perdamaian dilakukan.
Perjalanan hidup Pengalasan memberikan kesan bahwa ia memang punya kedudukan yang memungkinkannya memberikan sumber langsung mengenai sejarah Yogyakarta dan masa sebelum Perang Jawa. Dia juga pernah terlihat dalam sejumlah pertempuran yang pecah di daerah Yogyakarta pada bulan Juli sampal Oktober 1825, peristiwa yang tidak mungkin diketahui oleh Cokronegoro. Hubungan Pengalasan yang begitu akrab dengan Diponegoro serta anggota keluarganya, yang dapat dipeliharanya sepanjang perang, juga mempunyai makna. Sang Basah seperti berada dalam kedudukan yang khas sehingga dapat menyajikan perincian pribadi Pangeran, sesuatu yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh Cokronegoro.
Hal itu juga diungkapkan terkait sikap terhadap Diponegoro dan Islam. Namun, Pengalasan dapat terus memainkan peran sebagai seorang penasihat dalam penulisan serta penyusunan bagian belakang babad ini karena sang Basahlah yang punya kemampuan memberikan keterangan-keterangan rinci mengenai pasukan Diponegoro yang beroperasi di Bagelen serta daerah-daerah lain. Terutama, hubungannya yang akrab dengan Kiai Mojo mungkin sekali punya arti penting dalam perincian terkait bentrokan dan perpecahan antara Kiai Mojo dan Diponegoro antara September 1827 dan November 1828, yang kemudian berujung dengan penangkapan sang Kiai dan pengikutnya oleh Letkol Lebron de Vexela, di lereng Gunung Merapi, 12 November 1828.
Penutup
Dalam Penutupnya, Carey berpendapat bahwa, walaupun dalam Babad agak sulit menentukan seberapa besar peranan Cokronegoro dalam penulisan dan penyusunannya, sudah jelas bahwa banyak dari bagian terakhir Babad adalah tanggung jawab sang bupati perdana Purworejo itu. Ini menyangkut masalah pertempuran-pertempuran yang berlangsung di Bagelen selama perang (khususnya tahun-tahun terakhir), serta sejarah Purworejo setelah 1830. Namun demikian, Carey terlihat ragu dalam beberapa hal tentang Babad Kedung Kebo ini, misalnya mengenai sejarah Yogyakarta sebelum perang, mengingat sang bupati perdana Purworejo pra-1830 itu seorang pejabat Surakarta. Jadi, informasi mengenai kisah Pangeran Diponegoro sebelum perang didapatkan dari mana? Lagi pula, terdapat berbagai laporan rinci mengenai pertempuran-pertempuran di sekitar Yogyakarta dan Selarong pada bulan-bulan awal perang yang sama sekali tidak melibatkan Cokronegoro, juga pada bagian awal Babad ada laporan-laporan yang menyamai dengan tepat surat-surat resmi tentang kegiatan militer tentara Belanda dan laporan Pangeran Diponegoro mengenai pertempuran tersebut, seperti yang tertera di dalam babad otobiografisnya. Pada bulan-bulan awal berlangsungnya Perang Jawa, Cokronegoro berada di Surakarta, bersama-sama dengan Pangeran Kusumoyudo, maka ia tidak pernah mengalami pertempuran-pertempuran yang berlangsung diwilayah Yogyakarta pada akhir Juli sampai awal Oktober 1825. Waktu ia turun ke medan perang pada 23 Agustus 1825, ia dikirim langsung ke wilayah barat, ke Bagelen. Tampaknya jauh lebih mungkin dan masuk akal tulisan-tulisan awal yang terdapat di dalam Babad, adalah Sumbangan Basah Pengalasanlah dan bukan Cokronegoro. Untuk memastikan semua ini kita harus memperkenalkan perjalanan hidup Pengalasan sendiri.
Kebudayaan Jawa dalam ketiga Babad tersebut, seperti wayang, pusaka dan bertapa, sangatlah mewarnai cerita kehidupan Diponegoro. Pada semua babad itu contoh yang diambil dari wayang digunakan untuk melukiskan watak pelaku sejarah, seperti gambaran Diponegoro sebagai Arjuna (versi Babad Diponegoro) atau sebagai Prabu Suyudono (babad Kedung Kebo). Demikian pula banyak orang Jawa yang memahami makna ramalan Joyoboyo, bahkan Diponegoro di mata para petani Jawa saat itu diyakini sebagai Sang Juru Selamat atau Ratu Adil, yang datang untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kemakmuran. Fakta ini menambah pengetahuan kita tentang diri Pangeran.
Menurut penulis, Babad harus dipandang sebagai sumber Jawa yang paling terkemuka mengenai Perang Jawa serta sebagai naskah rujukan yang bisa mengimbangi otobiografi Diponegoro sendiri dan babad-babad keraton, bahwa Babad Kedung Kebo ditulis serta disusun di bawah pengarahan dua orang yang memainkan peran dan perjalanan hidup yang begitu berbeda, karya ini telah menambah arti penting sejarah itu.
Saran Carey, Babad Kedung Kebo lebih baik dapat dipandang sebagai sebuah dokumen sosial untuk menggambarkan perjalanan hidup orang yang telah membuahkan karya tersebut, Raden Adipati Ario Cokronegoro l dari Purworejo.
Judul buku “Sisi Lain Diponegoro” yang didasarkan pada Babad Kedung Kebo ini sungguh tepat, karena menjelaskan sosok Diponegoro dari sisi penulis yang bukan pendukungnya, bahkan sebagai musuhnya, sehingga tentu saja menulis tentang hal-hal buruk terhadap subyeknya. Namun demikian, betulkah kesan buruk yang digambarkan oleh Cokronegoro dan Pengalasan terhadap Diponegoro tersebut? Carey tidak memastikan kebenaran Babad Kedung Kebo, namun memberikan kisi-kisi yang patut pembaca kritisi hingga bisa menafsirkannya sendiri.
Sangat direkomendasikan bagi para pecinta sejarah bangsa untuk lebih memahami Perang Jawa, khususnya sejarah perang Diponegoro. Perlu juga dibaca buku Carey lainnya, Takdir.
Ditulis dalam Buku | Dengan kaitkata Babad, Bagelan, Carey, Cokronegoro, Dipanegara, Diponegoro, Pangelasan, Peter Carey, Purworejo | 1 Comment »
