Feeds:
Pos
Komentar

The New China Playbook

Selalu menarik mengamati pertumbuhan ekonomi China. Di dunia pertambangan, sangat terasa perubahan ini. Awal tahun 1990an, pertambangan besar di Indonesia banyak dikuasai AS, Australia dan Canada. Emas dan batubara menjadi komoditi mineral yang ramai aktifitas eksplorasinya. Nickel, bertahun-tahun hanya dimiliki oleh Inco (Vale sekarang) dan Aneka Tambang. Seiring dengan mulai tumbuhnya industri baterai untuk keperluan komunikasi dan transportasi di 2010an, kebutuhan dunia terhadap Nickel sebagai bahan dasar baterai (Ni-Cad, Ni-Mn, dll.) meningkat pesat. Didorong oleh program hilirisasi pemerintah, yang melarang ekspor nickel ore (bahan mentah nickel), investasi pembangunan smelter Nickel di Indonesia pun menjadi ramai. Dan China merajainya. Dunia pun terbangun, menyadari bahwa industri mobil listrik dan baterai ternyata banyak dikuasai China. Setelah infrastruktur, kini China dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, banyak menguasai sektor pertambangan. 

Tahun 1978, kemiskinan sedang merebak. Dan reformasi ekonomi berada di punggung Deng Xiaoping yang sedang naik tahta. Namun saat ini China sudah menduduki posisi ke-2 sebagai negara dengan GDP terbesar dunia. Bagaimana bisa terjadi? Keyu Jin, PhD. melalui bukunya “The New China Playbook”, yang terbit 2023, mencoba menjawabnya.

Ini adalah ulasan buku ke-3 tentang China, setelah Banking on Beijing karya Axel Dreher, dkk. dan Has China won? karya Kishore Mahbubani, sekaligus sebagai catatan pribadi, yang mungkin juga berguna untuk pembaca sekalian.

Keyu Jin, PhD. lulusan Harvard University, AS. Lahir dan besar di Beijing, China. Berdomisili di Beijing dan London. Pengajar ekonomi di London School of Economics and Political Science. Pernah bekerja di China Banking dan Insurance Regulatory Commission, World Bank, dan IMF. 

Ada 10 bab disajikan Jin dalam buku ini, berturut-turut:

  1. The China Puzzle
  2. China’s Economic Miracle
  3. China’s Consumers and the New Generation
  4. Paradise and Jungle, the Story of Chinese Firms
  5. The State and the Mayor Economy
  6. The Financial System
  7. The Technology Race
  8. China’s Role in Global Trade
  9. On the World’s Financial Stage
  10. Toward a New Paradigm

Berikut ini adalah sedikit ringkasan penting yang bisa dibuat. Banyak informasi, data dan penjelasan lebih lengkap bisa diperoleh dengan membaca langsung bukunya.

1. The China Puzzle

Pengalaman hidup Jin ketika pindah domisili untuk sekolah, dari negara komunis China, memasuki dunia baru demokrasi AS, cukup mengejutkan. Ternyata banyak ketidak tahuan publik AS tentang kondisi ekonomi-politik China saat ini. Pertanyaan yang sering muncul, bahkan oleh mereka yang berpendidikan tinggi, juga para politisi, adalah: 

  • When will China become a democracy? 
  • Do you feel oppressed? 
  • How do you wake up in the morning knowing that you can’t elect your own president? 
  • When will the Chinese economy stop growing?

Menurutnya, mereka tidak memahami bahwa perubahan besar mulai terjadi sejak 1997. Saat itu rakyat China sudah mulai berdebat tentang Reformasi Ekonomi, penyelenggara Olimpiade, bergabung WTO, privatisasi BUMN dan adopsi teknologi Barat untuk infrastruktur, mobil dan model bisnis.

Buku-buku rujukan politik pun terus berkembang. Pikiran-pikiran Marx mulai tergantikan dengan ide ‘sosialis berkarakter China’. Masyarakat China menjalani hidup yang lebih baik, dibanding generasi-generasi sebelumnya. 

Gedung-gedung mercusuar banyak tumbuh dimana-mana. Sebanyak 20 juta perusahaan swasta telah tumbuh bagai jamur, bahkan ketika 30 tahun yang lalu tidak mampu beraktivitas secara normal dan legal. Saat ini, sektor swasta telah menjadi penyumbang 60% pendapatan nasional, 70% kekayaan nasional dan 80% tenagakerja.

Tahun 2019, China adalah negara dengan jumlah perusahaan ‘unicorn’ terbanyak di dunia. Bahkan, telah menjadi negara terkaya ke-2 di dunia. Namun, tetap saja masih banyak muncul pertanyaan yang membandingkan China dengan negara-negara komunis masa lalu yang otokratis dan represif.

Survey World Values Survey (2017–2020), menunjukkan bahwa 95% warga China mempercayai pemerintahnya, sementara warga AS hanya 33%, dan warga dunia lainnya hanya 45% yang mempercayai pemerintahnya. Data tahun 2022 tidak berubah banyak.

World Values Survey juga menunjukkan bahwa di China, 93% (AS, 28%) masyarakatnya lebih mengutamakan Keamanan (Safety) daripada Kebebasan (Freedom). Sejarah dan Budaya menjadi faktor penentunya. Artinya, bangsa China justru berharap bahwa pemerintahnya perlu campur-tangan menyelesaikan isu-isu sosial ekonomi. Hal tersebut tidaklah berarti melanggar kebebasan warganya.

Namun dunia masih juga meragukan pertumbuhan ekonomi China dengan dugaan bahwa model ekonomi China tak bertahan lama, negara telah memperdaya sektor privat dan mempersulit inovasi serta sektor finansial akan segera runtuh. Banyak yang percaya bahwa keruntuhan sistem ekonomi China akan terjadi bila tidak diubah  dengan nilai-nilai AS. Dan, kalaupun ada yang melihat kesuksesan ekonomi China saat ini, maka mereka akan menganggapnya sebagai ancaman terhadap ekonomi global.

Pada situasi bias perspektif tersebut, Jin yang hidup di dua dunia, China dan AS, merasa berkepentingan untuk mencoba menemukan puzzle-puzzle yang hilang dan merangkainya menjadi gambar China yang lengkap melalui buku ini.

Antara China dan Barat ada banyak area perbedaan nilai, perspektif dan berbagai pendekatan politik, yang seringkali menjadi kendala suksesnya berbagai kebijakan ekonomi.

Ada tiga perbedaan kontras antara model Ekonomi Pasar Bebas Barat vs Model Ekonomi Politik China, yaitu:

  1. Di Barat, pemerintah mempengaruhi pasar melalui kebijakan fiscal, finansial dan moneter. Sementara China perlu juga menambahkan keterlibatannya dalam kebijakan industrial dan manajemen BUMN. Pemerintah China sangat aktif melibatkan diri untuk kepentingan ekonomi hibridanya.
  1. Sentralisasi politik China, berdampingan dengan desentralisasi ekonomi. Perkawinan unik antara pemerintah lokal dengan sektor swasta telah mempercepat terjadinya reformasi, industrialisasi, urbanisasi dan inovasi. Kombinasi dari kebijakan pemerintah pusat dan mekanisme pasar di tingkat mikro, adalah penyebab meroketnya pertumbuhan ekonomi dan teknologi China. 
  2. Model pertumbuhan China dalam berbagai aspek ekonomi relatif masih muda. Institusi, hukum, peraturan, kontrak dll. masih lemah. China has strong state capacity and weak institutions, whereas advanced countries like the United States have strong formal institutions but state capacity is gradually eroding.

Sedangkan perbedaan besar Kapitalisme terhadap Sosialisme adalah Dynamic Innovation. Yaitu keunggulan nilai ekonomi-politik kapitalisme, yang ditandai dengan mekanisme kebebasan berkompetisi dan perlindungan terhadap hak cipta (property right). Sosialisme lemah dalam hal ini. Di China, inovasi dan kewirausahaan sudah menjadi bagian dari ekonomi itu sendiri. Perusahaan milik pemerintah dan privat, saling bekerjasama dalam menggunakan sumberdaya.

Banyak pihak menduga bahwa suksesnya ekonomi China saat ini adalah karena munculnya Pasar Bebas. Atau, dugaan lainnya adalah karena menguatnya kontrol rezim Komunis, sehingga semua hal bisa dikendalikan dengan mudah. Ternyata yang benar adalah kesuksesan ekonomi terjadi karena China berjalan di antara keduanya. Deng Xiaoping pernah meminta rakyatnya untuk menghentikan perdebatan tentang superioritas antara ideologi Kapitalisme atau Sosialisme. Dan berujung pada jargon tenar beliau, “it does not matter whether a cat is black or white, so long as it catches mice”. 

The New Playbook

Model baru memang lebih lamban, namun lebih sistematis tertata dan terawasi dalam mengejar pertumbuhan. 

Pendekatan model lama pembangunan China berorientasi cepat dalam jangka pendek, yang didukung oleh ekosistem regulasi dengan standar kualitas yang buruk dan dengan mengabaikan peraturan juga kesepakatan, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, telah berlalu. Kini saatnya era baru pembangunan China (new playbook), didasarkan pada inovasi dan kemandirian serta penguasaan teknologi. 

Jumlah masyarakat berpenghasilan menengah yang terus meningkat, termasuk didalamnya adalah konsumen generasi baru, akan menuntut standar hidup yang lebih baik. Dan percepatan pertumbuhan ekonomi China mulai digantikan dengan penekanan pada perkembangan pembangunan yang lebih ramah, yaitu lingkungan yang lebih bersih, ketahanan pangan yang lebih baik, dan kualitas hidup yang lebih tinggi.

China di era baru ini, akan berjuang untuk membangun bangsanya lebih daripada cita-cita Sosialisme, yang sering dicirikan dengan banyaknya “kekurangan”. Juga lebih daripada Kapitalisme yang dikenal dengan lebarnya Kesenjangan. 

Era baru ini muncul pada generasi muda yang dilahirkan pada tahun 1980an, 1990an dan 2000an. Yang sudah lepas dari trauma Revolusi Kebudayaan. Namun, mereka ini adalah generasi hasil kebijakan China’s one-child policy. Mereka adalah generasi yang mempunyai kemampuan dan perilaku berbeda dengan generasi sebelumnya, dalam hal spending/saving, inovasi, kompetisi dan soft skill.

Generasi baru ini punya kecenderungan tinggi dalam hal belanja, kredit dan fashion. Total, mereka bisa menghabiskan trilyun dollar untuk berwisata ke luar negeri, belanja fashion dan produk kesenian. Dan mereka berpikiran-terbuka (open minded) juga berkesadaran-sosial tinggi, dibanding generasi sebelumnya.

Meskipun eksposure cukup tinggi dan familiar terhadap Barat, namun mereka tetap merasa kurang nyaman dengan gaya demokrasi Barat. Tradisi Konfusius, yang sangat mengutamakan komunal, kepentingan sosial dan menghargai kebijakan pemerintah, telah berlangsung 2.000 tahun dalam masyarakat China. Deep down, China’s people are steeped in their own culture, bound by their own traditions, and rooted in their own communities.

Ini adalah generasi China dalam era liberalisasi ekonomi tanpa liberalisasi politik. Dapat diharapkan bahwa dengan pengetahuannya yang sudah mendunia, mereka nantinya bisa menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan, bila terjadi perbedaan pandangan terhadap nilai-nilai dunia lainnya.

2. CHINA’S ECONOMIC MIRACLE

Pertumbuhan ekonomi mencapai puncaknya 1978-2005, ketika sumberdaya manusia sebanyak kurang-lebih 400 juta orang dipindahkan dari kantong ekonomi rendah produktivitas ke kantong tinggi produktivitas, yaitu migrasi dari:

  1. sektor pertanian ke sektor industri. Turun dari 70% ke 30%
  2. sektor pemerintah (state sector) ke sektor swasta (private sector). Turun dari 52% ke 13%.

Seleksi alam terjadi, perusahaan berkinerja buruk akan mati. Dan sumberdaya akan banyak bermigrasi ke perusahaan yang berkinerja bagus. Efisiensi terjadi dan pertumbuhan produktivitas naik 75% kali di sektor manufaktur.

The Perils of Rapid Industrialization

Komposisi kekayaan Rumah Tangga dalam GDP China terus menurun, 1978-2008. Dari 70% menjadi di bawah 60%. Sementara kekayaan Rumah Tangga AS dan negara-negara maju mencapai 80%. 

Modernisasi adalah industrialisasi, bagi negara yang pernah mengalami penderitaan ekonomi ratusan tahun. Untuk itu, percepatan industrialisasi menjadi fokus pertumbuhan ekonomi. China mengalaminya. Berlebihan subsidi di sektor industri. Berakibat over-supply di industri baja, sel-surya dan pertambangan. Bunga tabungan rendah, dan kredit rumah tak terjangkau. Kredit murah akhirnya menjadi obat yang memabukkan.

Pilihan strategi industrialisasi dan percepatan pembangunan ini memakan biaya yang sangat besar. Bunga bank yang rendah sebagai subsidi industrialisasi, tidak merefleksikan pertumbuhan produktivitas. Pinjaman berbunga rendah juga menyebabkan rendahnya hasil simpanan rumah-tangga. Selanjutnya, berakibat pada ekonomi rendah konsumsi, investasi tidak tepat sasaran dan ekspor berbiaya tinggi.

Bunga rendah juga menyebabkan tingginya harga perumahan dan pasar modal, serta meningkatnya pinjaman di waktu yang bersamaan. Ini bisa mengakibatkan ancaman bagi kestabilan finansial.

Saran Keyu Jin, supaya model pertumbuhan berbasis Industrialisasi diubah ke Inovasi dengan peningkatan produktivitas. 

The Case for Future Growth

Berdasar pada prinsip-prinsip kemapanan ekonomi, sulit dibayangkan bahwa ekonomi China bisa berada pada kondisi prima seperti saat ini. Dari sisi rule of law, tahun 2018 China berada pada urutan 82 dari 126 negara. Berdasar ease of doing business, China berada di urutan 78, dibawah Azerbaijan dan Rwanda. Sedangkan berdasar corporate governance, China berada di urutan 72 dari 141 negara.

Tahun 2009an, middle income trap sempat terjadi di China. Demikian juga dengan negara-negara Amerika Latin seperti Peru dan Mexico. Juga di Asean seperti Indonesia, Thailand, Malaysia. Mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat, namun tak pernah sampai menjadi negara-negara berpendapatan tinggi. Banyak faktor yang bisa jadi penyebab terhambatnya pertumbuhan tersebut. Misalnya, korupsi, instabilitas politik, infrastruktur yang buruk, dan rendahnya R&D. 

Bila pertumbuhan ekonomi China tetap di 5%, dan AS tetap di 1,5%, maka ekonomi China kemungkinan akan melampaui AS pada tahun 2030.

Selain faktor siklus pengulangan seperti masalah kejutan-kejutan ekonomi global, rantai pasokan, Covid-19; maka distorsi yang berkepanjangan akan menjadi beban ekonomi yang berat untuk China. Sehingga banyak yang meragukan pertumbuhan 5%.

Masih ada 870 juta penduduk berpenghasilan kurang dari RMB 2.000 ($300) per bulan. Kategori kelas menengah di China, sebanyak 400 juta orang, berpenghasilan RMB2.000–5.000. Kelas menengah inilah yang diharapkan sebagai mesin penggerak ekonomi melalui konsumsi.

Proporsi tenagakerja ahli atau berpendidikan tinggi juga masih sangat kecil, dibanding AS. Bahkan masih lebih kecil dibanding Afrika Selatan atau Brasil.

Dengan kebijakan ekonomi pintu terbuka di China, persaingan usaha di sektor jasa semakin kuat. Termasuk di ranah hiburan, kesehatan dan pendidikan. Saat ini sektor Jasa masih berkisar  50% dari PDB. Masih kalah dengan di berbagai negara industrialis lainnya, yang bisa mencapai 70-80%.

Reformasi sebagai unsur penting penggerak ekonomi, yang mampu mengurangi distorsi dan meningkatkan efisiensi, masih belum selesai. Masih banyak ruang untuk mengejar negara maju lainnya, seperti:

  1. Peningkatan sektor Finansial. Meningkatkan alokasi kapital dan menyediakan pembiayaan berjangka panjang untuk inovasi.
  2. Reformasi sistem Hukou (sistem pencatatan rumah tangga). Menciptakan kesempatan kerja di wilayahnya sendiri.
  3. Reformasi Fiskal. Untuk menyelesaikan masalah hutang pemerintah daerah.

Lompatan besar China pertama selama empat dekade ini adalah dari pendapatan per kapita sebesar $380 menjadi $10.000. Selanjutnya, untuk mencapai Lompatan Besar kedua adalah bila tercapai lompatan pendapatan per kapita dari $10.000 ke $30.000. Bahkan, “influencer economy” di China mampu meningkat dua kali lipat per tahunnya hingga mendekati $1 trilyun. Dan konsumer China juga membelanjakan uangnya lintas negara untuk keperluan pembiayaan pendidikan keluarganya di berbagai belahan dunia, belanja properti di Sydney dan membantu peningkatan harga Bordeaux Wine.

3. China’s Consumers and the New Generation

Tanggal 11 November 2021, saat perayaan hari Singles Day di China (perayaan dicanangkannya one-child policy tahun 1970an), Alibaba dan JD.com mampu menjual barang secara daring sejumlah $140 Milyar. Ini jauh melebihi total penjualan di AS saat perayaan Black Friday, Thanksgiving, dan Cyber Monday.

Seperti diketahui, tiga faktor utama dalam penguatan perekonomian adalah: Konsumer, Perusahaan dan Negara. 

Konsumer China sebanyak 1,4 milyar menjadi faktor penting ekonomi. Apple mampu menjual sebesar $100 Milyar per hari di China. Lebih dari dua kalinya penjualan di AS. Seperlima dari total pendapatan Starbucks di dunia, diperoleh dari China. Tesla berinvestasi besar di China untuk membangun mobil listrik. Nike dan Estée Lauder sukses melakukan penjualan daring di China melalui WeChat dengan 1 milyar pengguna aktif per bulan.

Sistem pemerintahan China, memudahkan untuk pengendalian pola belanja konsumen. Kebijakan “Eight rules” yang diinisiasi oleh Presiden Xi Jinping pada tahun 2012, membuktikan hal tersebut. Eight Rules adalah kebijakan yang oleh beberapa pihak dianggap kebijakan “gila”, karena menghambat akses pendidikan di luar sekolah. Namun sebenarnya kebijakan ini dimaksudkan pemerintah China untuk mencegah tindak korupsi. Lihat Tautan di bawah. Begitu kebijakan tersebut dilaksanakan, maka penjualan jam tangan mewah dan wine yang mahal, langsung jatuh dalam sekejap.

Dampak kebijakan One-Child Policy

Dalam dua dekade ini, persentase rata-rata jumlah tabungan setiap keluarga di China mencapai 30% dari total pendapatannya. Sementara di 37 negara OECD, pada umumnya hanya bisa menabung kurang dari 10% dari total pendapatannya. Bahkan di beberapa negara OECD, hanya 5%.

Bila penduduk China bisa mengurangi jumlah simpanan dan dialihkan untuk keperluan konsumsi, maka akan banyak perusahaan global bisa turut menikmati keuntungannya. Juga, untuk keperluan pertumbuhan ekonominya, China bisa sedikit mengurangi investasi dan ekspor, untuk mencegah terjadinya ketidak-seimbangan neraca perdagangan yang menyebabkan perselisihan dagang antar negara.

Ajaran moral Konfusius bahwa banyak anak adalah berkah keluarga. Dan anak-anak akan bertanggungjawab untuk membantu keluarga, bahkan ketika masih muda sekalipun. Anak-anak juga berkewajiban membantu orangtua dalam hal finansial maupun tempat tinggal, di masa tuanya. Semakin banyak anak, diharapkan semakin ringan beban finansial untuk membantu keluarga. Maka, ketika One Child policy dicanangkan, keluarga merasa harus mempersiapkan ketahanan finansial untuk masa tuanya. Meningkatkan tabungan adalah solusinya.

Pensiun juga menjadi isu penting. Para pensiunan saat ini menerima uang pensiun sangat sedikit. Ini disebabkan oleh institusi tempat mereka bekerja sebelumnya, tidak cukup banyak membayar premi asuransi pensiun. Sistem Jaring Pengaman Sosial untuk pekerja di masa tua, belum cukup tertata bagus di China. Bagi generasi lanjut usia saat ini, dana pensiun tidak bisa menjadi sumber pendapatan yang dapat diandalkan.

Data terkait rumahtangga menunjukkan bahwa dimasa One Child Policy, tingkat tabungan keluarga beranak tunggal, lebih banyak 9% dibanding yang beranak kembar. Bila keluarga beranak tunggal mampu menabung 30% dari pendapatannya, maka keluarga beranak kembar hanya mampu menyimpan 21% saja. Dan bagi keluarga dengan anak kembar yang sudah dewasa, lebih boros pengeluaran (rendah tabungan) dibanding dengan keluarga beranak tunggal. Maka kebijakan One Child memang lebih signifikan dalam mensejahterakan rakyatnya, dibanding keluarga beranak banyak.

Pendidikan

Hal menarik mengenai pendidikan di China, disajikan buku ini pada analisis hasil survey tentang “bagaimana keluarga mengatasi persoalan pendidikan untuk anak yang lahir pada tahun 1980 hingga 2010? Lihat grafik “The One-Child Policy and Household Saving”.

Dari grafik tersebut terlihat bahwa ada suatu masa (usia 20 tahun?) dimana biaya pendidikan anak tunggal bisa hampir dua kali lebih besar dari anak kembar. 

Belanja pendidikan per tahun dalam satu keluarga di China mencapai 25% dari total pendapatan. Sementara di AS, belanja pendidikan untuk satu anak, hanya diperlukan 5% dari total pendapatan saja. 

Data tahun 2002-2009 menunjukkan bahwa kurang dari 40% siswa dari keluarga beranak kembar yang mampu melanjutkan ke SMU untuk selanjutnya melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan 30% dari keluarga anak kembar cenderung melanjutkan ke sekolah vokasi atau kejuruan.

Harapan orangtua supaya anak-anak tidak kalah dalam kompetisi kepandaian, menyebabkan ditambahkannya pendidikan tambahan (les privat) di luar waktu sekolah. Belanja pendidikan semakin tinggi. Survey menunjukkan bahwa 88,7% pelajar sekolah dasar dari keluarga mampu, mendapatkan les privat di luar sekolah. 

Minat pendidikan yang semakin tinggi, memicu tumbuhnya sekolah-sekolah unggulan. Bahkan sekolah-sekolah dari Inggris dan AS mulai membuka cabang di China. 

Sisi gelap dari persaingan pendidikan ini adalah semakin mahalnya biaya sekolah. Dan berujung pada rendahnya minat mempunyai anak.

Ketika pemerintah China mulai mengurangi tekanan pada One Child Policy, tidak serta merta berakibat pada bertambahnya angka kelahiran. Bahkan tahun 2021 menunjukkan rendahnya angka kelahiran, yang tidak memacu kecenderungan kenaikan. 

Kesimpulan sementara adalah:

The one-child policy led to a noteworthy increase in human capital investment, which hiked the cost of education, and in turned weakened the inclination to have more children.

Isu mahalnya pendidikan ini bahkan menjadi sajian sehari-hari dalam drama serial televisi yang menjadi hiburan keluarga di rumah. Tingginya biaya pendidikan dan perumahan menjadi hambatan kesejahteraan terbesar rakyat China, meskipun One Child policy mulai dilonggarkan. Presiden Xi Jinping pun menanggapi serius akan hal ini dengan agenda “maximising inclusive prosperity”.

Perempuan

Antara tahun 1980-2010, telah gagal dilahirkan 25 juta bayi perempuan. Ini terkait dengan budaya China saat itu yang lebih menyukai kelahiran bayi laki-laki. Dengan harapan lebih mampu menjaga orangtuanya dan membantu pekerjaan, daripada perempuan. Bahkan, bila anak pertama dan kedua adalah perempuan, tetap berusaha mendapatkan laki-laki pada kelahiran anak ketiga.

Demi pilihan favorit kelahiran bayi laki-laki, teknologi ultrasound diimplementasikan pada tahun 1980an untuk kontrol populasi. Digunakan untuk seleksi jenis kelamin embrio. Tindakan ini sekarang dianggap ilegal. 

Di era one child policy, akses ke pendidikan pun, perempuan tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Tidak prioritas.

Sekarang, anak-anak perempuan bahkan banyak mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dari laki-laki. Tahun 1978, 24,2% mahasiswa adalah perempuan. Tahun 2009, setengah jumlah mahasiswa adalah perempuan.

Karena kultur China yang mewajibkan laki-laki bertanggungjawab untuk menyediakan apartemen dan memimpin rumahtangganya, maka para orangtua lebih suka investasi pendidikan diberikan ke anak perempuan. Sehingga bisa bekerja sendiri dan membantu orangtuanya lebih lama.

Statistik di China tahun 2017 menunjukkan bahwa eksekutif perempuan di perusahaan publik yang lahir tahun 1950an sebanyak 12%, lahir 970an 23%, lahir 1980an 35% dan lahir 1990an 42%. Jumlah eksekutif perempuan cenderung naik.

Bahkan dibidang politik, lebih banyak perempuan memiliki pendidikan tinggi daripada laki-laki. Perempuan 75%, laki-laki 56%.

“It is a truth acknowledged in China that a single man in want of a wife must be in possession of a property and a car.”

One child policy berakibat kelahiran bayi laki-laki lebih disukai. Dan budaya China sangat mengagungkan keberlanjutan keturunan keluarga. Ketiadaan cucu adalah aib bagi sebuah keluarga. Untuk itu, orangtua sangat mengutamakan bantuan finansial bagi anak laki-lakinya. Sehingga mampu menabung untuk mulai membina rumahtangga. Kekayaan finansial menjadi faktor penting bagi laki-laki siap kawin. 

Jumlah perempuan usia kawin di China tidak sebanyak dengan jumlah laki-laki. Dan ketimpangan gender terjadi saat ini. 

Tabungan

One child policy dengan ketakutan finansial di masa pensiun dan biaya mahal untuk mulai berumahtangga, menjadi alasan utama meningkatnya jumlah tabungan nasional. 

Jepang dan Korea juga banyak diwarnai oleh budaya Konfucius, namun tabungan mereka antara 2-6% dari pendapatannya. Tidak seperti China yang sampai 30%. Total simpanan rumahtangga di China terus meningkat sejak 1990 hingga 2009 dan menduduki posisi ke-3. Sama dengan total simpanan korporasi.

Demografi

Menurut survey populasi PBB, di China ada 50% populasi dibawah usia 20, sebelum tahun 1980. Menurun di tahun 2015 menjadi 24%. Dan pada tahun 2050, lebih dari ⅓ populasi China adalah usia diatas 60 tahun. Ini adalah kecenderungan transformasi demografi di negara yang sedang tumbuh kekayaan ekonominya, dengan sedikit jumlah anak.

Risiko ekonomi di negara dengan populasi usia-lanjut yang tinggi adalah tingginya beban fiskal akibat kebutuhan dana pensiun dan menurunnya jumlah tenagakerja. 

Problem tenagakerja China saat ini bukanlah tentang jumlah, tetapi lebih pada ketidakcocokan antara kebutuhan dan keahlian yang tersedia. Lulusan universitas tidak banyak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, dan korporasi lebih membutuhkan tenagakerja terampil lulusan sekolah vokasi. Sementara Teknologi Otomatisasi dan Artificial Intelligence akan menjadi ancaman baru pada pola industri di masa depan. 

Penyumbang utama pertumbuhan ekonomi China adalah keterbukaan pasar, keuntungan produksi, efisiensi penggunaan asset dan tenagakerja, serta kemajuan teknologi. Sedangkan faktor penyebab penurunan pertumbuhan ekonomi adalah koreksi berlebihan terhadap kebijakan ekonomi dan situasi panik menghadapi perkembangan agresif sektor privat. Atau bahkan akan lebih buruk lagi bila reformasi dihentikan. Demografi bukan lagi pengaruh penting.

Sepakat dengan pernyataan menarik Penulis dalam bab ini adalah:

“Every generation distinguishes itself in terms productivity, consumption and saving patterns, appetite for risk, life-work balance, and political preferences, which we turn to next”.

Alibaba dan AliPay sudah mengubah budaya anak muda China sekarang untuk rajin belanja. Menggantikan budaya menabung orang tua mereka. “Just spend” menjadi perintah populer dalam budaya baru. Surplus akan berubah menjadi Defisit dikemudian hari.

Visi Baru

One child policy, tanpa diduga telah banyak mengubah banyak hal. Termasuk ekonomi, ketimpangan gender, tenagakerja, simpanan keluarga dan budaya keluarga. Dampak pemerintahan Deng Xiaoping yang efektif dimulai 1978 bisa dirasakan saat ini. Eksistensi generasi dengan karakter yang berbeda dari generasi sebelumnya, dalam hal perilaku, ethos, aspirasi dan ways of life.

Generasi baru ini tidak pernah merasakan penderitaan karena Kemiskinan dan situasi Depresif, seperti yang dialami orangtuanya. Mereka tumbuh dalam kesejahteraan dari hasil kerja keras orangtuanya, dan dengan perhatian penuh dari para gurunya. Bahkan tak perlu mereka bersusah-payah menyiapkan diri untuk situasi emergency. Tak ada persaingan dalam keluarga, karena One Child Policy. Juga tak perlu partner untuk berbagi beban dan tanggungjawab. Perlengkapan modern dan keahlian telah tersedia semua. Bahkan telah dibekali pengetahuan dan cara berpikir Barat untuk menghadapi masa depan. 

Mimpi buruk akut tentang depresi ekonomi di benak orangtua, tak ada sedikitpun dalam kesadaran para generasi baru ini. American dream” sudah bukan lagi menjadi tujuan, karena mereka sudah hidup dalam era kesejahteraan yang dirasa sama dengan masyarakat negara maju lainnya. 

Mereka mempunyai tujuan, arah dan perilaku kerja-keras, tidak lagi untuk tujuan kekayaan, tapi untuk kebahagiaan. Mereka bangga dengan negerinya yang powerful dan berpengaruh kuat di dunia. Rasa percaya diri generasi muda China ini akan sangat berpengaruh untuk negerinya di masa depan. 

4. Paradise and Jungle, the Story of Chinese Firms

Adalah fenomena ekonomi yang mencengangkan, ketika hanya dalam waktu 30 tahun, telah muncul lebih dari 20 juta perusahaan swasta di negara anti-kapitalis.

Investor asing mulai masuk China di akhir tahun 1970an. Panasonic masuk China 1978. Coca Cola dan IBM mulai masuk, 1979.

Seperti halnya di negeri kita, sektor korporasi China mempunyai dua jenis perusahaan, yaitu: state-owned enterprises (SOEs) atau BUMN dan sektor swasta.

Tahun 1990, sektor swasta menyumbang pendapatan (GDP) sangat kecil. Namun sekarang, walaupun harus melewati birokrasi yang sangat sulit berliku, mampu menghasilkan pertumbuhan yang sangat tinggi. Sumbangan sektor swasta terhadap penerimaan pajak mencapai 50%, GDP 60%, inovasi 70% dan lapangan kerja 80%.

Generasi Baru

Di era kompetisi global yang sangat intens dalam memperebutkan pasar, diperlukan keahlian untuk mencapai sukses, yaitu kecepatan, keluwesan, kearifan lokal, percaya-diri, kerendahan hati, dan kemampuan beradaptasi.

Saat ini suap, siasat licik dan mengakali peraturan, tidak bisa lagi menjadi katalis utama untuk ekspansi bisnis. Bahkan sejak menjadi Presiden China, 2013, Xi Jinping terus mengkampanyekan pentingnya “Anti Korupsi”. Maka generasi pengusaha baru harus dilengkapi dengan visi yang lebih jelas dan keterampilan canggih, serta didorong dengan motivasi yang lebih tinggi. 

Mereka perlu didorong oleh semangat dan kemauan untuk sukses—bukan dengan mengambil jalan pintas, namun dengan menghasilkan produk atau layanan yang lebih baik melalui kecerdikan dan tata kelola yang baik.

Para pengusaha generasi muda China sangat mengandalkan pada kegigihan, inovasi dan keuletan, untuk menghadapi tingginya intensitas kompetisi dan lingkungan regulasi yang ketat, dibanding era sebelumnya.

Environmental, social, and corporate governance (ESG) adalah acuan baru berstandar tinggi dari setiap perusahaan di dunia yang berharap sukses ditengah pasar yang berreputasi dan terkelola sangat baik.

Setiap generasi dari para pengusaha China, perlu punya sensitifitas terhadap garis batas antara kepentingan bisnis dan kepentingan negara dalam menjaga stabilitas sosial. Mereka perlu memberikan respon yang lentur terhadap perubahan mendadak dari kebijakan dan kepemimpinan.

Untuk setiap milyarder yang kecewa terhadap intervensi negara, akan selalu ada banyak kaum milenial yang percaya bahwa akan menjadi jutawan atau bahkan milyarder berhubung sudah terbukanya kesempatan untuk turut bermain dan berkompetisi.

5. The State and the Mayor Economy

Beberapa tahun terakhir ini, telah dibangun lebih dari 150 kawasan pembangunan hi-tech di berbagai kota di seantero negeri. Dengan tujuan mengembangkan sentra-sentra penghubung komersial untuk pembangunan produk elektrik, biomedicine dan energi bersih. Kawasan Ekonomi.

Di tahun 2019 saja, telah diselenggarakan lebih dari 3.000 pameran, menyajikan teknologi lingkungan terbaru atau produk kecantikan baru atau desain terobosan pengemasan barang.

Dalam Kawasan Ekonomi, pemerintah lokal sangat mendukung pengusahaan dan menjanjikan untuk meminimalkan berbagai hambatan birokrasi demi berkembangnya inovasi. 

Ada tiga karakter yang menguntungkan dari pemerintahan China:

  1. Mempunyai sumberdaya dan kemampuan administratif untuk memobilisasi dengan cepat aksi kolektif untuk mencapai target-target nasional
  2. Sentralisasi struktur politik, yang disandingkan dengan desentralisasi ekonomi. Ini memungkinkan munculnya kreativitas bisnis lokal yang disupervisi dari Pusat.
  3. Adaptif. Mudah beradaptasi terhadap perubahan cepat situasi sosial. 

Fenomena pertumbuhan China ini membantah teori Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam bukunya Why Nations Fail, yang mengatakan bahwa negara dengan kekuasaan yang terpusat hanya pada sedikit orang, cenderung menyebabkan terjadinya eksploitasi terhadap rakyatnya. Dan biasanya tak peduli terhadap pertumbuhan ekonomi, teknologi baru, pendidikan dan investasi. Namun itu tak terjadi dengan China. Sebaliknya, justru tumbuh menjamur dua puluhan juta perusahaan swasta baru. Alih-alih menghambat perkembangan teknologi, China justru berupaya menjadi pionir teknologi baru dengan penggelontoran triliunan dollar untuk mendukung berbagai pengusahaan, pusat penelitian, universitas dan zona hi-tech.

Sinergi Pemerintah dan Partai Politik

Konsentrasi kekuatan politik China kembali mirip dengan era kerajaan, ketika raja memegang supremasi kekuasaan. Puncak kepemimpinan Partai Komunis adalah pemegang kekuasaan tertinggi. 

Realitas keseharian yang terjadi, adalah kekuatan roda ekonomi berada di tingkat pemerintahan lokal atau tengah. Merekalah yang mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai target, melaksanakan reformasi dan memasukkan investor asing.

Salah satu faktor besar dalam keberhasilan perekonomian Tiongkok adalah kemampuannya untuk bisa menerima perubahan, inovasi, dan risiko — hal-hal yang lazimnya tidak terkait dengan rezim politik terpusat.

Model konsentrasi kekuasaan politik yang dikawinkan dengan desentralisasi adalah khas ekonomi-politik China. Pemerintah pusat mengurusi politik domestik dan internasional serta menyusun semua kebijakan ekonomi. Sementara pemerintah lokal bertugas mengimplementasikan kebijakan ekonomi tersebut.

China Baru

Achieving high growth can be impressive, but the key question is, at what cost?

China telah berubah. Sebelumnya, tuntutan terhadap tingginya Pertumbuhan Ekonomi (Economic Growth), telah banyak mengorbankan sektor lingkungan. Dan paradigma pembangunan baru, telah menyadarkan China akan pentingnya kualitas pertumbuhan. Sehingga selanjutnya pembangunan fisik juga diiringi dengan pembangunan infrastruktur lunak, seperti Pendidikan, Kesehatan dan Pelayanan Publik lainya.

Kongres Partai Komunis ke-20, 2022, tidak lagi menempatkan Pertumbuhan Ekonomi sebagai satu-satunya agenda prioritas. Kualitas Pertumbuhan (bukan Kuantitas) menjadi hal utama, seperti halnya Keamanan dan Kemakmuran. Kurva Lingkungan Kuznet menjadi acuan penting.

Pada awalnya, masyarakat banyak mengabaikan Lingkungan demi percepatan pertumbuhan ekonomi. Namun setelah kelayakan Pendapatan tercapai, maka mereka lebih membutuhkan Lingkungan yang lebih baik. Meskipun dibutuhkan biaya lebih besar. Ketika kesejahteraan telah dirasa semakin tinggi, maka tuntutan akan Kesehatan dan Lingkungan yang lebih baik pun juga menjadi tinggi.   

Kini, tuntutan terhadap GDP setinggi mungkin, telah bergeser. Menjadi tuntutan meningkatnya Kualitas Hidup yang lebih baik.

Meskipun tumbuhnya kelas menengah China tidak serta-merta dibarengi dengan bertambahnya peran partisipasi politik, namun tetap menjadi tekanan politik yang perlu diperhitungkan. Bila institusi politik gagal menyikapi berkembangnya sosio-ekonomi, akan menyebabkan kekecewaan publik. Dan keberhasilan pemerintah China menyikapinya, berakibat fenomena Arab Spring tidak terjadi disana. Terkenal semboyan partai Komunis China, “yu shi ju jin”, terus maju bersama waktu.

Legitimasi Kekuasaan

Legitimasi Partai Komunis seringkali menjadi gunjingan di berbagai negara Demokrasi. Namun realitasnya, rasa Aman dan Kemakmuran materiil memang sudah dirasakan masyarakatnya. Dan yang lebih memuaskan lagi adalah dirasakannya tanggapan cepat Pemerintah terhadap keluhan-keluhan masyarakat terkait dengan pelayanan publik.

Pranab Bardhan, ekonom, berpendapat bahwa sistem pemerintahan sentralisasi cocok untuk program jangka-panjang, namun mempunyai kelemahan dalam hal akuntabilitas dan keluwesan. 

Demikian juga dengan sistem politik pluralisme, akan menguntungkan dalam isu keterwakilan dari populasi yang beragam. Namun, akan sangat mahal untuk keperluan aksi kolektif (collective action). Demikian juga, musyawarah dalam alam demokrasi akan berperan penting pada legitimasi sosial. Namun, kompetisi antar partai juga akan terus menurun hingga di tingkat akar-rumput. 

Alih-alih memenuhi kewajibannya untuk melayani keperluan masyarakat yang beragam, Demokrasi justru seringkali dibelokkan menggunakan kekuasaan uang dan lobbying

Markus K. Brunnermeier, ekonom Princeton University, berpendapat bahwa ekonomi politik China memang sedang jaya, namun meragukan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai goncangan. 

Model Pertumbuhan ekonomi China yang gemerlap tersebut, tidaklah cukup lentur. Kredit tetap perlu disuntikkan untuk memutar roda ekonomi. Intervensi terhadap harga properti dan harga saham perlu selalu dilakukan. Dan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, tetaplah membutuhkan biaya mahal. Entah untuk mencegah keruntuhan finansial ataupun mengawal kebijakan Zero Covid (saat pandemi).

Menurut Brunnermeier, “an economy, or a system, is most sustainable when it can be more like a reed than an oak, that “bends often but does not break”. That would be a worthy goal for China’s new playbook”.

6. The Financial System

Menurut Penulis, sistem finansial China belum cukup berkembang. Kredit bank di China pada tahun 2019 mencapai 165% dari GDP. Sementara AS hanya membutuhkan kredit sebesar 52% dari GDPnya. 

Di AS, nilai saham yang beredar di bursa saham sebanyak 150% dari GDP. Dan jumlah Bond yang beredar mencapai 205% dari GDP. Sementara di China, total saham di pasar hanya 60% GDP dan pasar Bond (2020) sebanyak 113% GDP.

Asset yang dikelola Investment Fund di China tidak lebih dari 12% GDP (lebih 100% di AS). 

The Financial System as a Tool

Bank-bank Pemerintah lebih suka memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan milik negara, yang diarahkan untuk keperluan di bidang infrastruktur, teknologi, dan industri. Sesuai program pemerintah.

Ada 5 bank pemerintah, yang menguasai 40% total deposit perbankan. BUMN lebih banyak menerima kredit untuk keperluan proyek-proyek Pemerintah, umumnya dibidang infrastruktur, teknologi, dan industri. Alih-alih diberikan pada masyarakat atau sektor swasta, banyak kredit justru diberikan pada Perusahaan Pemerintah yang susah untuk dijual. Sangat beresiko. 

Non Performing Loan (NPL) pada Bank-bank Pemerintah China mencapai 20% total kredit di tahun 2000an. Bahkan di puncak krisis 2009, NPL bank di AS hanya mencapai tidak lebih dari 5%. 

Ketika Bursa Saham kembali dibuka 1990, di Shanghai dan Shenzen, mayoritas pesertanya adalah perusahaan Pemerintah. Tujuan Deng Xiaoping saat itu bukanlah meningkatkan dana perusahaan privat. Melainkan, untuk menyehatkan perusahaan pemerintah dan mampu melantai di bursa saham. 

Tahun 2000, 70% dari perusahaan yang melantai di bursa saham, adalah BUMN. Dan tahun 2018 komposisi BUMN turun menjadi 30% karena makin banyaknya perusahaan privat yang turut bermain di bursa saham.

Pertumbuhan dan Bursa Saham

Pertumbuhan ekonomi China (2000-2014) jauh melewati Brazil, India, Jepang dan AS. 

Korelasi positif antara Pertumbuhan GDP dan pendapatan rata-rata Bursa Saham dalam waktu lima tahun, bisa mencapai 50% di UK dan Jerman serta 30% di AS. Namun itu tidak terjadi di China, atau korelasi 0%. Atau tidak ada korelasi antara pertumbuhan GDP dengan pendapatan Bursa Saham.

Ini berarti masyarakat tidak turut serta menikmati buah pertumbuhan ekonomi melalui Pasar Modal. Yang juga berarti bahwa kinerja perusahaan di Pasar Modal tidak selalu menunjukkan fundamental value.

Return on assets, return on equity, dan net income growth suatu perusahaan listed tidak menunjukkan margin yang lebih bagus daripada perusahaan unlisted

Ditengarai, ada dua faktor penyebab buruknya kinerja perusahaan listed, yaitu:

  1. Proses seleksi untuk menjadi perusahaan listed. Di China mesuknya perusahaan ke lantai bursa didasarkan pada Persetujuan Pemerintah, yaitu China Securities Regulatory Commission (CSRC). Tidak seperti lazimnya persyaratan masuk bursa saham di negara lain, dibutuhkan Laporan Finansial secara terbuka (published) dan kemudian mendaftarkan diri untuk melakukan IPO. 
  2. Perilaku buruk perusahaan, setelah masuk ke dalam bursa saham. Di China, return on assets rerata 50% setelah satu tahun IPO, sedangkan di AS hanya turun tak lebih dari 10%.

Syarat wajib untung selama 3 tahun hingga IPO, membuat banyak perusahaan China tidak bisa listing di negerinya. Dan memilih listing di luar negeri. JD.com perusahaan terbesar kedua setelah Alibaba, tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut, karena dua tahun sebelum IPO, 2014, menunjukkan adanya kerugian dalam Laporan Keuangannya. Bursa saham Nasdaq kemudian menjadi pilihan JD.com, dengan market capitalization sebesar $115 milyar.

Banyak pengamat membedakan Pasar Equity China dengan AS. Pasar Saham China lebih melihat ke masa lalu, sedangkan Pasar Saham AS melihat potensi perusahaan ke masa depan.

Tahun 2000 hingga 2018, perusahaan China yang melantai di bursa saham luar negeri meningkat hingga empat kali. Bahkan di pertengahan 2021, bursa saham AS mengelola perusahaan China senilai $2,1 Triliun.

Di China, Return on Assets (ROA) berkurang hingga 50% dalam tahun yang sama setelah IPO. Di AS, ROA hanya berkurang tidak lebih 10% dalam kurun waktu yang sama.

Kinerja buruk perusahaan China biasanya terjadi karena terlalu ekspansif investasi di bidang yang bukan kompetensi utamanya. Bisnis properti merosot tajam di tahun 2021 hingga hampir mengganggu stabilitas finansial, karena ekspansi bisnis di bidang peternakan babi, air kemasan, klub sepakbola dan mobil elektrik. Yang semua ekspansi bisnis tersebut berada di luar kompetensinya.

Bursa saham China sangat bergejolak. Tahun 2008, Bursa Saham China sempat merosot hingga 70%, hanya beberapa bulan setelah Shanghai Stock Exchange (SSE) mencatat komposit index puncak tertingginya. Di tahun 2015, nilai saham di SSE merosot ⅓ nya hanya dalam satu bulan, setelah meningkat 150% pada bulan sebelumnya.

Di China, retail investors menguasai 80% bursa saham. Sementara di New York Stock Exchange, 85% bursa saham dikuasai oleh investor institusi.

The Great Housing Rush

Harga perumahan di China rata-rata naik pesat 4 kali lipat dari tahun 2003 hingga 2013. Harga rumah di Beijing dan Shanghai sama dengan di Boston, $550/feet2. Dan harga di Shenzen hampir mengejar harga di San Fransisco. Namun, pendapatan per kapita di Beijing, Shenzen dan Shanghai hanya sebesar $7.500. Berbeda jauh dengan pendapatan di Boston $40.000. Bahkan di San Fransisco mencapai $50.000.

Shadow banking

NBFI: Non-Bank Financial Intermediation
(Shadow banking)

Shadow banking merujuk pada institusi yang berperilaku semacam bank untuk melakukan bisnis pembiayaan namun bukanlah bank resmi. Bank resmi maupun pemerintah lokal China, juga melakukan Shadow banking. Resesi dunia 2008, juga disebabkan oleh Shadow banking oleh bank-bank resmi di AS. Biasanya mulai dijalankan bank-bank konservatif ketika mereka mulai menyiasati aturan resmi pemerintahnya. Atau menjalankan skema off-balance sheet.

Shadow banking mulai menjadi medium finansial menarik di China, mulai 2005. Wealth management products (WMPs) menjadi produk andalan perbankan. Sejenis deposit yang tidak dibatasi oleh bunga bank (interest rate) atau fixed-rate. Off-balance sheet tentunya. 

Dari kurang 2,6% GDP di tahun 2008, WMP ini meningkat menjadi 40% GDP di tahun 2016. Sejumlah RMB 3,1T WMP terjual. Dan di akhir 2017, tumbuh menjadi 22,2T ($3,36T).

Bank kemudian menyalurkannya kepada perusahaan terpercaya untuk digunakan berinvestasi di pasar bond, instrumen kredit atau investasi di suatu perusahaan atau proyek.

Antara 2010-2015 aset dari perusahaan terpercaya tersebut meningkat dari 6% menjadi 24% GDP. 

Peran Pemerintah Lokal

Kebijakan Anggaran China yang diundangkan sejak 1994 adalah bahwa Pemerintah Lokal tidak diperkenankan Defisit. Hal ini menjadi kesulitan saat resesi ekonomi terjadi pada tahun 2008. Untuk intu, pemerintah lokal mensiasatinya dengan membentuk Local Government Financing Vehicle (LGFV). Institusi bisnis non-pemerintah, yang sebenarnya dimiliki oleh pemerintah lokal. Dari institusi inilah pemerintah lokal bisa meminjam uang dari bank atau Shadow Bank dengan akutansi off-balance sheet. Dan hutang tersebut akan diperlakukan sebagai hutang korporasi, bukan hutang pemerintah.

Tahun 2009, hanya ada 3.800 LGFV. Tahun 2013 tumbuh menjadi 7.170. Dan 30 pemerintah lokal (dari total 36) sudah memilikinya. Hutang yang digelontorkan dari LGFV ini di tahun 2009 sebesar RMB 6T, dan meningkat menjadi RMB 45T enam tahun kemudian. Beberapa tahun yang lalu, LGFV telah mendanai pembangunan Shanghai Tower sebesar $2,4 Milyar, gedung tertinggi ke-2 di dunia.

Menteri Keuangan mendorong Pemerintah Lokal untuk memberdayakan LGFV untuk meminjam uang. Sementara regulator Bank Sentral menyarankan bank pemerintah untuk meminjami LGFV. Sinergi terjadi. Pinjaman sebesar RMB 4,7T di tahun 2009, setengahnya untuk keperluan LGFV. Bila biasanya Pinjaman sebesar 15% GDP, maka di tahun 2009 menjadi 27,5%. Dan hutang diberikan untuk pembiayaan proyek Pemerintah Lokal.

Selanjutnya, LGFV menerbitkan Chengtou Bond. Bond korporasi untuk pembangunan infrastruktur dan investasi, yang dijamin oleh Pemerintah Lokal. Jumlah bond yang terbit tahun 2008 sebanyak 79, kemudian tumbuh hingga 1.704 di tahun 2014. Sumber dana utama bond ini adalah dari Shadow Banking yang dipermudah prosesnya oleh Pemerintah Lokal. 

Setiap Pemerintah Lokal kini menggunakan LGFV untuk menerbitkan Chengtou Bond. Akhir 2014, total outstanding Chengtou bond mencapai RMB 4.95T. Sumber pembiayaan primer bagi Pemerintah Lokal.

Enam tahun setelah Resesi 2008, ekonomi China tumbuh double dari $4,5T ke $9T di tahun 2014. Namun, hutang China juga tumbuh menjadi 230% GDP. Yang mayoritas melalui skema Shadow Banking.

Perbankan di China vs US

Tim Geithner, menteri Keuangan AS tahun 2008, dalam bukunya Stress Test: Reflections of Financial Crises menyatakan bahwa setiap kejadian krisis finansial, sejatinya adalah Krisis Kepercayaan Diri. Bila masyarakat tidak lagi percaya bahwa pemerintah mampu mengamankan bank, pasar saham atau institusi keuangan tempat mereka menyimpan uangnya, maka disinilah krisis keuangan dimulai.

Berbeda dengan di AS, yang mungkin saja tidak akan menyelamatkan bank (Lehman Brothers), pemerintah China tidak akan menghalangi penyelamatan sistem finansial dari keruntuhan

Pemerintah tidak hanya sebagai regulator terhadap perbankan, tapi juga sebagai pemilik saham mayoritas. Dan sebaliknya, bank mempunyai piutang Pemerintah Daerah. Sehingga, rasanya tidak mungkin Pemerintah membiarkan runtuhnya perbankan. Seperti halnya dengan Lehman Brothers. 

Buntut dari Resesi Ekonomi 2008, Utang China terhadap GDP (Debt to GDP ratio) mencapai 275% di tahun 2022.

Asset Pemerintah Lokal di akhir tahun 2017 diperkirakan mencapai RMB 126T ($17,28T). Dan utangnya RMB 29T (2022 menjadi sebesar RMB 61,3T). Hutang rumahtangga yang utamanya untuk kredit perumahan, cukup aman. Jauh lebih aman daripada AS, Jepang atau Spanyol. Terselamatkan karena tingginya tingkat simpanan mereka. 

Interest Rate dan Growth Rate menjadi faktor penentu Debt Sustainability. Bila Interest Rate < Growth Rate maka Debt to GDP semakin kecil. Sehingga Debt Sustainability akan aman. Negara Sedang berkembang, umumnya sedang menikmati Growth Rate yang lebih tinggi daripada Negara Maju.

Jumlah Simpanan China sudah mampu mencukupi untuk menutupi kebutuhan investasi domestik. Sehingga tidak membutuhkan investasi asing. Dengan kata lain, sistem finansial China dalam kondisi stabil, namun tidak cukup efisien

7. The Technology Race

Pertama kali dalam sejarah, negara sedang berkembang dengan tingkat kualitas hidup masyarakat yang hanya ¼ kalinya negara industrialis, namun telah mampu membangun dan memiliki teknologi super canggih.

Tahun 1999, majalah Times dalam edisi “Beyond 2000” masih meremehkan China dengan pernyataan: “China cannot grow into an industrial giant in the 21st century. Its population is too large and its gross domestic product too small.”

Inovasi

Pengertian umum, ada dua jenis inovasi teknologi:

  1. Fundamental breakthroughs. Penciptaan teknologi baru. Revolusioner (0 to 1)
  2. Creative adaptations. Adaptasi dan pengembangan teknologi. Evolusioner (1 to N)

Inovasi China cenderung masuk dalam kategori Creative Adaptations. Menciptakan aplikasi baru berdasar teknologi yang sudah ada. Menjadi lebih baik dan lebih murah. Highly innovative nation.

Persaingan usaha di China cenderung keras. Bahkan brutal. Perang harga, saling melakukan tuntutan pidana, menggagalkan sistem pembayaran, merusak software kompetitor, dll. adalah bagian dari pertempuran tersebut. Positifnya adalah ‘memaksa’ peningkatan kualitas produk, pemotongan biaya produksi secara agresif dan terus berusaha mencari cara monetisasi yang baru.

8. China’s Role in Global Trade

Peran China dalam memperoleh pertumbuhan keuntungan perdagangan global, bisa ditunjukkan dari contoh produksi Iphone. Tahun 2009, dari produksi iphone senilai $100, pemasukan China sebesar $1,30. Pada tahun 2018, dengan harga barang yang sama, pemasukan China menjadi $10,40. Artinya, China telah masuk semakin ke tengah dalam proses Global Supply Changes, mengambil alih peran industri sebelumnya di negara lain.

Tahun 2000 China mulai berperan dalam supply change industri tekstil. Dan di tahun 2017, China sudah mengambil peran utama dalam supply change industri tersebut. Demikian juga dengan sektor information and communication technology (ICT). China telah mengambil alih peran dominan dari Jepang. 

The Rise of Economic Nationalism

Globalisasi memang sudah menjadi semangat semua pihak. Namun, kebijakan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan kecenderungan ekosistem rantai pasokan (supply change) lebih mengarah pada nasionalisasi ekonomi. Di China, ini muncul dalam konsep “dual circulation”, sebagai bagian dari komponen inti dalam Rencana Lima Tahunan China yang ke-14. Dua mesin penggerak ekonomi, yaitu sikap terbuka (international circulation), dan sikap yang lebih mengutamakan pasar domestik (domestic circulation). Kedua penggerak tersebut mesti saling menguatkan.

China telah bergabung dalam Blok Perdagangan 15 Negara Asia (the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di awal tahun 2022, dan berjanji untuk membuka sepenuhnya, sedikitnya 65% di sektor jasa.

FDI terus mencapai puncaknya, meskipun telah terjadi perang dagang dengan AS. Dunia dan China, tetap saling membutuhkan. “Cold politics but hot economics.” 

Global supply chains dan global interdependency akan tetap menjadi hal penting, dan China tak tergantikan.

China telah menjadi bagian kontributor terbesar untuk PBB, WHO, IMF. Dan terus membantu pendanaan World Bank, the Asian Development Bank (ADB), dan mekanisme kerjasama ekonomi multilateral lainnya. Berusaha untuk bisa mandiri, namun tak berharap untuk mendominasi lainnya. Terkenal dengan jargonnya yang MENOLAK semboyan “great powers must be hegemonic” (guo qiang bi ba).

China meyakini akan tetap dapat hidup damai berdampingan dengan bangsa lain yang berbeda nilai, sistem politik, agama dan model ekonomi, meskipun bukan penganut nilai-nilai demokrasi AS.

Memahami bahwa Climate change, environmental degradation, global pandemics, terrorism, dan cybersecurity memerlukan kerjasama dengan banyak pihak, China telah menjadi investor global terbesar ke-3 dalam penelitian untuk Energi Terbarukan. Setiap tahun, China mengalokasikan lebih dari $50 Milyar untuk R&D Energi Bersih. Dan China berjanji akan mencapai Carbon Netral di tahun 2060.

Perlu diketahui bahwa gabungan antara China dan AS saja sudah mencapai 40% konsumsi energi dan emisi global. Juga 50% konsumsi batubara dunia. Maka kedua negara tersebut menjadi penentu dalam kesuksesan Green Initiatives.

9. On the World’s Financial Stage

Kekhawatiran muncul bila terjadi guncangan di Tiongkok, baik dalam bentuk inflasi, pembatasan terhadap sektor properti, atau kegagalan perusahaan, akan berakibat fatal pada pasar global, karena tingkat integrasi keuangan Tiongkok tertinggal jauh dibandingkan dengan AS. Oleh karenanya, perbaikan terhadap sistem finansial dan moneter China menjadi sangat penting.

China’s Opportunity

Di akhir PDII, 44 perwakilan negara-negara Sekutu mengadakan pertemuan di Bretton Woods, New Hampshire, untuk membahas tentang international monetary system. Disepakati bahwa US$ digunakan sebagai mata uang global yang dijamin dengan emas oleh pemerintah AS. Namun, di tahun 1960an, Robert Triffin, ekonom AS, mengkritisinya. Dikenali sebagai Triffin Dilemma. Yaitu prediksi akan gagalnya sistem Bretton Woods karena ketidakmampuan menjaga likuiditas dan tingkat kepercayaan.

Karena tingginya permintaan global, menyebabkan total US$ beredar semakin jauh melebihi nilai emas yang tersedia. Tahun 1971, presiden Nixon terpaksa menghentikan konversi dollar terhadap emas. Dollar AS berubah menjadi “fiat money”, tidak lagi ditanggung oleh komoditi apapun, termasuk emas. Sistem Bretton Woods gagal, sesuai prediksi Triffin.

Matauang US$ yang dipergunakan sebagai cadangan internasional tentu diharapkan mempunyai nilai yang stabil. Kekayaan AS mencapai 25% GDP global, sedangkan permintaan matauang US$ melampaui 60% total cadangan global. Mengingat kondisi ekonomi AS saat ini (buku ini terbit) yang menurun, maka akan semakin sulit untuk dapat diharapkan mampu menjaga kestabilan nilai US$ tersebut.

Bila global kehilangan trust terhadap kemampuan AS untuk membayar hutang-hutangnya, akibat semakin tingginya defisit, maka nilai US$ akan merosot tajam. Untuk itulah dibutuhkan matauang lain selain $.

Great Recession memberi pelajaran buruk pada semua pihak. Bank-bank ternama mengalami kesulitan likuiditas. IMF pun memberi penawaran yang buruk kepada negara-negara sedang berkembang. 

Pada titik inilah, Bank Central China mengambil peran dengan memberi tawaran menarik kepada negara-negara yang sedang kesulitan likuiditas, berbasis Renminbi. Dan alternatif China semacam inilah yang menyebabkan sistem moneter internasional semakin aman dan efisien.

Namun, Renminbi masih belum cukup populer sebagai matauang perdagangan dan pembiayaan. Bahkan belum masuk dalam 5 besar matauang yang dipergunakan dalam perdagangan global.

Matauang yang diakui dunia mesti memenuhi kriteria:

  • Dipergunakan sebagai cadangan dalam bank-bank sentral
  • Dipergunakan untuk tagihan (invoice) perdagangan internasional
  • Dipergunakan sebagai denominasi matauang untuk korporasi, bond pemerintah dan pinjaman bank

Renminbi hanya dipergunakan sebanyak 2.66% dari total foreign reserves pada tahun 2021. Sementara US$ dipergunakan sebanyak 59%. Sebagai alat pembayaran global, Renmimbi hanya dipergunakan sebanyak 4%. US$ 39%, Euro € 33% dan £ 7%.

10. Toward a New Paradigm

Kekuatan sistem pemerintahan China berakar pada struktur birokrasi kuno, yaitu Tiao Tiao Kuaikuai (garis dan kotak). Bisa diartikan sebagai sistem administrasi yang memungkinkan berjalannya perintah dan pengawasan dari otoritas tertinggi ke struktur terendah birokrasi. 

Bangsa Tiongkok yang terus berupaya untuk mendapatkan posisi teratas di kancah global adalah salah satu kenyataan yang harus diakui dan diterima oleh negara-negara lain.

China: Toward the Future

Meskipun sistem ekonomi-politik China cukup kuat, namun ada lima hal penting yang akan mempengaruhi bentuk wajah China di masa depan, yaitu:

  1. Masalah sosial
    1. Perlu diantisipasi persoalan semakin besarnya middle-income group dan perlindungan konsumer
    2. Terjadi meluas di dunia saat ini, porsi pekerja dalam GDP semakin kecil, dan porsi modal semakin besar: daya tawar pekerja semakin kecil, semakin kehilangan kekayaan yang diakibatkan oleh modal yang dikenakan pajak ringan. 
    3. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi mulai menggantikan peran pekerjaan, kesempatan kerja semakin kecil bagi mereka yang berpendidikan rendah.
    4. Ketegangan sosial, frustasi dan kemarahan mulai terjadi dimana-mana karena kesenjangan ekonomi.
  2. China dibawah bayang-bayang status sebagai bangsa dengan sejarah ekonomi yang masih muda.
  3. Masa depan China sangat dipengaruhi dua capaian penting:
    1. Menjadi negara dengan keunggulan ekonomi (GDP).
    2. Bisa terjadi bila China mampu membuat hubungan baik dengan ekonomi global. Pada saat yang sama juga mampu menunjukkan independensi dan kepemimpinan teknologi dan pasokan energi. 
  4. Perlu berbagi dengan AS secara damai dan kooperatif di kedua belah pihak. 
  5. China tidak akan mengubah dirinya menjadi demokrasi ala Barat, namun rakyatnya akan semakin menyadari akan pentingnya lingkungan sosial yang melindungi hak-haknya.

Di tahun 1960an, 1970an, banyak warga China mendapat kesempatan belajar di AS. Kehidupan lebih baik, kebutuhan sehari-hari banyak tersedia, dan pendapatan bisa 10 kali lipat daripada di China. Keinginan tinggal disana, menjadi tujuan hidup. Tahun 2000an mulai banyak pemuda China mencari bersekolah tidak jauh dari China. Masih di kota kosmopolitan, Singapore dan Hongkong. Dan mulai 2013, China sudah menjadi pilihan utama sebagai tujuan pendidikan. Bahkan semakin banyak warga asing yang bersekolah di China.

Deng Xiaoping pernah memberi kesempatan supaya pelajar China yang sudah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, tetap tinggal dan bekerja disana untuk membantu China. Namun ternyata keinginan ‘pulang kampung’ justru jauh lebih besar. Menurut Menteri Pendidikan Cina, ada 5 juta pelajar yang telah lulus dari pendidikan di luar negeri antara tahun 2000-2019, sudah kembali ke China sebanyak 86%.

Hidup di Amerika, Eropa atau Australia, sudah bukan impian lagi bagi para pelajar China. Karena impian tersebut kini bisa diwujudkan dinegerinya sendiri, Cina.

Di awal pemerintahannya, Deng Xiaoping mempunyai ide untuk mengijinkan beberapa orang menjadi kaya supaya bisa mengangkat atau menyelamatkan banyak pihak lainnya dari kemiskinan. Seolah sekoci penyelamat penumpang dari kapal besar yang sedang tenggelam. Berhasil. Beberapa sudah menjadi kaya. Bahkan sangat kaya. Sehingga terjadi kesenjangan kekayaan yang sangat lebar. 

Setengah bagian bawah dari distribusi kekayaan di China, sama dengan yang dimiliki oleh 15% bagian teratas. Sebagai pembanding, di AS dimiliki oleh 12% dan 22% di Perancis. Potensi masalah sosial yang perlu diantisipasi.

Tradisi China yang menempatkan kepentingan komunitas lebih tinggi daripada kepentingan individu, adalah hal penting untuk kemajuan bersama. Budaya inilah yang menjadi perbedaan utama modal sosial China dengan AS.

Bagi siapapun yang masih percaya bahwa gaya demokrasi Barat dengan kapitalismenya adalah satu-satunya jalan menuju kesejahteraan, maka pertumbuhan ekonomi China di kancah global menjadi paradox yang membingungkan.

Tautan:

Eight-point Regulation

Economist’s ‘6-wallet’ theory triggers housing debate

China Bikin Heboh! Xi Jinping Buat 8 Aturan ‘Gila’, Apa Saja?

State Council of the People’s Republic of China, “China and the World in the New Era,” September 27, 2019

Balance of Payments and International Investment Position Statistics

The Bretton Woods International Monetary System: A Historical

Overview

Catatan:

Ini buku yang sangat menarik bagi banyak pihak yang ingin mengetahui wajah ekonomi China. Pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tinggi, dibarengi dengan budaya komunal dengan penuh rasa cinta tanah air. Tak bosan membacanya berulang kali.

Namun demikian, prasangka buruk Penulis, Keyu Jin, tentang kemungkinan terjadinya korupsi dalam proses masuknya perusahaan ke dalam bursa saham, lagi-lagi menunjukkan berperannya ‘kacamata Barat’ dalam membaca fenomena China. Sangat subyektif.

Contoh lain penggunaan ‘kacamata Barat’ yang sepertinya tidak disadari Keyu Jin adalah pernyataan berikut:

The financial system in China is faced with a perennial dilemma: because it is not yet mature, the state feels the need to constantly intervene and preserve its stability. But the more it intervenes, the more distortions are created, and the slower it is to mature.

Kedewasaan ekonomi-politik suatu bangsa, diukur dari seberapa jauh keterlibatan negara. Pandangan yang sangat khas Barat. Sistem ekonomi liberal menjadi acuan dalam menilai sistem ekonomi sosialis China. Tentu akan sangat bias.

Has China won?

Salah satu kalimat dalam artikel di buletin digital The Economist, 18 Mei 2023 yang berjudul Joe Biden’s global vision is too timid and pessimistic mengatakan:

“Unfortunately the Biden doctrine fails to rebut the narrative of American decline and so has not resolved the tension between the country’s toxic politics and its role as the linchpin of a liberal order”. Komentar semacam ini banyak ditemukan di berbagai media Barat. 

Kemudian artikel The Economist, 16 Mei 2023, berjudul, Can the west win over the rest of the world?

They fret that ruling elites in many developing countries are starting to prefer dealing with China, which offers more stability, more roads and bridges, and fewer lectures. In Japan’s estimation, American preaching about democracy has been especially ineffective. “Liberal democracy has proved a poor rallying cry,” says one Japanese official.

Intinya adalah, adanya penyangkalan bahwa AS sudah bukan lagi yang No. 1. Ini sikap banyak elite politik AS di pemerintahan, yang menyusun strategi politik, ekonomi dan pertahanan. Sikap AS yang seperti ini menjadi hal penting untuk dikritisi dalam buku “Has China won?”, karya Kishore Mahbubani. Terbit pertama kali di tahun 2020. Mantan pimpinan Badan Keamanan PBB, sekaligus mantan Duta Besar Singapura untuk PBB. Selain itu, Mahbubani juga memetakan kelebihan dan kekurangan strategi geopolitik dari AS dan China. Termasuk mencari celah di antaranya, supaya muncul strategi yang mengarah pada perdamaian global.

Pembuka

Aplikasi digital pembaca ebook, Kindle, mempunyai kemampuan otomatis untuk menampilkan tanda garis di bawah kalimat yang dibuat oleh banyak pembaca buku yang sama. Untuk buku ini, salah satu garis tersebut muncul di bawah penggalan paragraf berikut ini:

In 1950, in PPP (purchasing power parity) terms, America had 27.3 percent of the world’s GDP, while China had only 4.5 percent. At the end of the Cold War, in 1990, a triumphant moment, America had 20.6 percent and China had 3.86 percent. As of 2018, it has 15 percent, less than China’s (18.6 percent). In one crucial respect, America has already become number two. Few Americans are aware of this; fewer still have considered what it means.

Dari pengalaman para pakar geopolitik Singapore, yaitu Lee Kuan Yew, Goh Keng Swee, dan S. Rajaratnam; Mahbubani belajar bahwa langkah pertama untuk merumuskan strategi jangka panjang yang baik adalah dimulai dengan membuat daftar “think the unthinkable”. Mahbubani menuliskan 10 pertanyaan penting yang patut menjadi perhatian para pemikir strategis AS dalam rangka berhadapan dengan China, yaitu:

  1. Perubahan strategi apakah yang perlu AS lakukan, bila tidak lagi menjadi Penguasa ekonomi global?
  2. Apa yang seharusnya menjadi tujuan utama Amerika? Meningkatkan kehidupan 330 juta warganya atau mempertahankan keunggulannya dalam sistem internasional?
  3. Belanja apakah yang sebaiknya dilakukan AS? Mengurangi anggaran belanja senjata untuk pertahanan dan perang ekspansinya, atau meningkatkan investasi untuk pelayanan sosial dan pembangunan infrastruktur? Apakah China lebih menyukai peningkatan atau penurunan anggaran belanja Pertahanan AS?
  4. Apakah Amerika mampu membangun koalisi global yang solid untuk mengimbangi China? Apakah keputusan Amerika untuk meninggalkan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) merupakan keuntungan geopolitik bagi China? Apakah Belt and Road Initiative (BRI), yang merupakan kemitraan ekonomi baru China dengan tetangganya, merupakan ancaman bagi Barat? 
  5. Apakah menggunakan matauang US$ sebagai senjata untuk tujuan sepihak merupakan pilihan strategi geopolitik yang bijak bagi AS? Saat ini, belum ada alternatif praktis untuk menggantikan dolar AS. Akankah US$ tak tergantikan?
  6. Setelah berbagai pelanggaran HAM di berbagai negara lain, sejak “9/11”, apakah bangsa Amerika siap untuk melakukan pengorbanan yang diperlukan demi meningkatkan soft power (kekuatan spiritual) Amerika? Mampukah Amerika memenangkan pertempuran ideologis melawan China, yang masih dianggap sebagai negara “normal”, bukan negara “adidaya”?
  7. Apakah pemikir strategis Amerika mampu mengembangkan kerangka analitis baru untuk menangkap esensi persaingan dengan China? China tidak bermaksud ekspansi dan dua negara demokrasi besar di Asia (India dan Indonesia) tidak merasa terancam dengan ideologi China.
  8. Dengan mengendapnya isu “yellow peril” dalam emosi bawah sadar elit politik AS, apakah masih mungkin rasionalitas bisa diandalkan dalam perencanaan strategis berkaitan dengan China? 
  9. Meskipun China dan Rusia adalah negara komunis, namun ideologi China bukanlah Marxism-Leninism, tapi lebih pada peningkatan peradaban bangsa China. Seberapa banyakkah rakyat AS memahami hal tersebut?
  10. Wei Qi adalah permainan catur China, yang mengandalkan penguasaan aset untuk mengalahkan lawan, dalam tempo permainan yang lamban dan panjang. Berbeda dengan permainan catur Barat yang mengutamakan target menangkap atau membunuh raja. Dengan analogi permainan tersebut, apakah para pemikir strategis AS sudah mempersiapkan sumber daya yang cukup untuk persaingan panjang melawan China?


Kesalahan Besar Strategi China

Bab 2, buku ini menjelaskan tentang kesalahan fatal China yang telah memperlakukan dengan buruk terhadap sebagian besar mitra bisnis AS. Meskipun ada sebagian kecil yang diuntungkan. Sehingga ketika Presiden Trump mengumandangkan permusuhannya dengan China, tak satupun para pengusaha AS yang berbisnis dengan China, terlihat berkeberatan atau berusaha mencegahnya. 

Tahun 1990an, banyak pengusaha AS-China memprotes upaya Washington untuk mencabut status China sebagai most-favored-nation (MFN). Namun ada sedikit yang diuntungkan. Tiga perusahaan raksasa AS ini diantaranya yang diuntungkan berbisnis dengan China. Boeing, General Motor dan Ford.

Boeing. Lebih dari 2.000 pesawat Boeing terjual di China. Mengeruk Pendapatan US$ 1,2 Milyar tahun 1993 dan meningkat 10 kali lipat di tahun 2017 menjadi $11,9 milyar. Dari 5,7% menjadi 21% dari total pendapatan Boeing. Bahkan tahun 2018, Boeing telah mengumumkan bahwa China akan membutuhkan penambahan pesawat sebanyak 7.690, senilai US$ 1,2 trilyun, di tahun 2038. Keuntungan finansial dan penyerapan tenagakerja.

General Motor (GM). Bahkan di negaranya, pasar penjualan mobil dikuasai oleh mobil produksi Jepang. Oleh karenanya, Presiden Reagan pernah meminta pemerintah Jepang untuk membatasi jumlah ekspor mobilnya ke AS. Untuk menyelamatkan produksi dalam negerinya. Mobil yang tidak kompetitif di negeri sendiri ini, ternyata sukses di pasar China. Bagaimana bisa? 

GM menjual 3,64 juta mobil di China tahun 2018. Rahasia kesuksesan ini karena GM bermitra dengan perusahaan lokal yang punya ‘kedekatan’ dengan Partai Komunis China, Shanghai Automotive Industry.

Laporan CNN, Februari 2017 menyatakan bahwa China menjadi pasar terbesar penjualan mobil GM. Operating Profit 2016 mencapai $ 12,5 milyar. Meningkat 16% dari tahun sebelumnya. Industri pabrikan AS ini mengalami kebangkrutan 7 tahun sebelumnya, sehingga perlu mendapat “bailout” dari pemerintah federal AS. China telah menyelamatkannya.

GM dan Ford laris manis di China karena mendapatkan perlindungan atau proteksi dari pemerintah. Kebijakan ini dilakukan China untuk membatasi banjirnya produk Eropa di pasar mobil China.

Namun, banyak produk lain AS yang mengalami hambatan di pasar dalam negeri China. Ada sedikitnya tiga hambatan utama dalam kelancaran perdagangan AS-China, yaitu:

  1. Otonomi daerah. Menyebabkan tak terawasinya oleh Beijing, perilaku yang tak semestinya terhadap produk AS di berbagai propinsi dan kota besar. Misalnya, pemaksaan transfer teknologi, pencurian hak cipta, pengenaaan tarif, dll.
  2. Pengalaman buruk resesi finansial global 2008 yang menyebabkan kekacauan ekonomi sehingga muncul resistensi terhadap produk asing.
  3. Kelemahan strategi ekonomi kepemimpinan pusat di tahun 2000 an. Pertumbuhan pesat ekonomi China (10,29%) tahun 2000 an, banyak disumbang oleh perilaku ‘perang dagang’ dengan AS..

Dalam pidatonya Singapura, November 2018, Hank Paulson, Menteri Keuangan AS, mengatakan bahwa:

“17 years after China entered the WTO, China still has not opened its economy to foreign competition in so many areas. It retains joint venture requirements and ownership limits. And it uses technical standards, subsidies, licensing procedures, and regulation as non-tariff barriers to trade and investment. Nearly 20 years after entering the WTO, this is simply unacceptable. It is why the Trump Administration has argued that the WTO system needs to be modernized and changed. And I agree”.

Selanjutnya,

“Meanwhile, Chinese firms are permitted to operate in other countries in ways that foreign firms cannot act in China itself”.

Peraturan dagang WTO memang “mewajibkan” negara berkembang supaya memberikan insentif untuk melakukan transfer teknologi terhadap perusahaannya, yang bekerjasama dengan mitra usaha di negara kurang berkembang. Persoalan muncul ketika Barat merasa keuntungan finansial yang diperoleh, tidak berimbang setelah pemenuhan berbagai persyaratan yang dipersyaratkan. Larry Summers, mantan Menteri Keuangan di era Obama, berpendapat, 

“the reality is that there is no credible calculation that suggests that U.S. GDP would be more than one percent higher even if China had acceded to every American economic request.”

China semestinya bisa belajar dari sejarahnya sendiri. Ketika Tembok China dibangun dan menutup diri dari dunia luar, kemunduran pun terjadi. Dan ketika Deng Xiaoping mulai membukanya, pertumbuhan ekonomi pun bergerak naik. Sudah saatnya mentalitas ‘tertutup’ era kekaisaran yang sudah berlangsung 2.000an tahun mulai diakhiri. Dan mulai terbuka membina jejaring sosio-ekonomi dengan banyak negara lain. Termasuk dengan AS.

Terbukti, laporan Mckinsey Juli 2019 menunjukkan capaian ekonomi China yang berkembang pesat. China menjadi dikenal global sebagai pasar, pemasok dan investor yang penting. Untuk menjaga keberlangsungan pertumbuhan di China, dibutuhkan lingkungan pengusahaan yang nyaman bagi mitra asing.

Anehnya, justru AS (Trump) yang mulai menutup diri dari iklim multilateral menjadi bilateral, bahkan uni-lateral. Maka bisa diduga bahwa kemunduranlah yang akan terjadi di AS.

Kesalahan Besar Strategi AS

Ketika Perang Dingin AS – Uni Soviet berlangsung, AS berinisiatif memimpin geopolitik multilateral global dengan membentuk sistem Bretton Wood, Marshall Plan dan NATO. Kini, China justru pemimpin inisiatif multilateral baru, dengan membentuk Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan the Belt and Road Initiative (BRI). Keanggotaan terus berkembang. Inggris, Jerman, India dan Vietnam menjadi anggota pendiri AIIB. Dan AS sebagai oposisi. Bahkan cenderung kearah bilateral, dengan mengancam akan keluar PBB.

Defisit Fiskal dan Defisit Perdagangan AS dengan China, tidak disebabkan oleh ketidakadilan China. Melainkan karena tingginya pengeluaran AS yang melebihi pemasukannya. Persoalan domestik tentang strategi makoekonomi. Menurut professor Harvard Marty Feldstein: 

“foreign import barriers and exports subsidies are not the reason for the US trade deficit… the real reason is that Americans are spending more than they produce… blaming others won’t alter that fact.”*

Penerbitan Obligasi atau Treasury Bill terpaksa dilakukan oleh AS untuk meningkatkan kepemilikan Dollar, yang diperoleh dari negara-negara lain. Karena tetap tingginya kekurangan Dollar, terpaksa AS membanjiri pasar dengan melakukan pencetakan Dollar.

Bila keberatan Trump adalah tentang defisit neraca perdagangan antara AS-China, mungkin China akan bersedia memperbaikinya. Masalahnya, untuk mengatasi defisit fiskal dan perdagangan, Trump memilih mengenakan sistem tarif terhadap masuknya barang-barang dari luar negeri, yang dicanangkan Juli 2018. Dan celakanya, Tarif tersebut dikenakan terhadap banyak negara lain, baik kawan maupun lawan. Termasuk EU, Canada, Jepang, Mexico dan tentu saja China. Strategi Tarif ini justru mempersulit diri sendiri. Myron Brilliant, executive vice president dari the US Chamber of Commerce, berkomentar, “Trump may be frustrated with China, but the answer isn’t for US companies to ignore a market with 1.4 billion consumers.”

Sikap Trump semakin mempersulit banyak pihak. Bahkan, Trump mulai menggunakan matauang Dollar AS sebagai senjata untuk mengancam negara lain (weaponization). Isolasi Iran contohnya. Tahun 2012, Standard Cartered bank, Inggris, terkena denda oleh pemerintah AS sebesar US$ 340 juta karena membantu transaksi perdagangan dengan Iran, MENGGUNAKAN matauang US$. Beberapa bank asing juga terkena denda karena terlibat transaksi dengan Iran, Cuba atau Sudan. BNP Paribas SA juga terkena denda $8,9 milyar di tahun 2015. Oleh sebab yang sama. Dilema memegang US$ mulai dirasakan banyak negara lain, serasa “a double-edged sword, cutting the fingers of whoever holds it”. Ini memicu tindakan banyak pihak untuk meninggalkan US$ dalam transaksi perdagangan. 

Untuk mengatasi dilema tersebut, Perancis, Jerman dan Inggris membentuk

Instrument in Support of Trade Exchanges (INSTEX), sebuah upaya alternatif untuk ‘mensiasati’ perdagangan dengan Iran tanpa menggunakan US$ sehingga tidak terkena sangsi oleh AS. Inisiatif tersebut menjadi modus yang semakin banyak dilakukan negara lain. Bukan hanya karena kekhawatiran atas hukuman dari AS, tapi juga karena mulai turunnya tingkat kepercayaan terhadap stabilitas nilai matauang US$. Akibat berantai dari trust terhadap US$ yang menurun, akan memicu negara lain untuk mengurangi kebutuhan adanya cadangan matauang US$. Kebutuhan permintaan US$ yang semakin kecil, akan menyebabkan turunnya nilai US$. Bila US Dollar tidak lagi dominan sebagai cadangan matauang global, maka institusi finansial AS yang pertama menjadi korban, karena Pendapatan dan Keuntungan mereka diperoleh dari transaksi US$. Menjadi masalah ekonomi AS.

Apakah China berwatak ekspansionis?

Genghis Khan (1162-1227)

Mantan Duta Besar AS untuk China, Stapleton Roy mengatakan bahwa dalam konferensi pers bersama Obama pada 25 September 2015, Xi Jinping telah mengajukan proposal tentang Laut China Selatan, dan mendukung penuh kesepakatan dan implementasi dari the 2002 Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea, yang ditandatangani bersama 10 negara Asia Tenggara. Isinya adalah, China tidak berminat (no intention) untuk melakukan militerisasi di Kepulauan Spratly, Laut China Selatan. Sayangnya, AS, negara yang berjarak ribuan kilometer dari Spratly, justru yang aktif berpatroli di wilayah tersebut. Provokasi ini memancing China untuk menanggapinya dengan aksi militer di area yang sama. Intinya adalah, Xi Jinping tidak melanggar janji. Dan AS lah yang menolak proposalnya.

Mahbubani menjelaskan bahwa lebih dari 2.000 tahun kekaisaran China menjadi negara terkuat di wilayah Eurasian. Sehingga, bila China memang berwatak militeristik, maka pasti sudah banyak negara taklukannya. Seperti halnya ketika bangsa Eropa menjadi penjajah di berbagai belahan dunia.

Professor Wang Gungwu dari National University of Singapore, kultur bangsa Han adalah petani. Mereka menyebar ke berbagai wilayah China hanya untuk mendapatkan tanah subur untuk pertanian. Bila hanya stepa (padang tandus) atau pegunungan terjal yang ditemui, maka berhentilah pencarian mereka. Pulang. Peperangan atau penaklukan bangsa Han terjadi dalam wilayah China. Menurutnya bangsa yang ekspansif teritorial di wilayah China adalah bangsa Mongol (Genghis Khan, Kublai Khan).

Apakah masih mungkin AS berubah sikap terhadap China?

Elite AS banyak yang meyakini bahwa AS akan mengalahkan China karena 5 hal:

  1. Telah memenangkan perang melawan Jerman, Jepang, dan Uni Soviet dalam perang dingin.
  2. Tak meyakini kekuatan ekonomi komunis China
  3. AS mempunyai sumberdaya
  4. AS meyakini bahwa secara fundamental sudah mantap secara sosial dan aturan hukum
  5. Meyakini bahwa banyak negara di dunia lebih berpihak pada AS

Menurut Mahbubani, keyakinan diatas adalah ilusi belaka, karena:

  1. AS sedang berhadapan dengan bangsa berperadaban matang dan terkuat di dunia
  2. Kualitas sumberdaya manusia China sekarang sedang sangat tinggi
  3. Persaingan global sekarang tidak dalam bentuk fisik, namun kualitas intelektual. Dan belanja China untuk R&D jauh melebihi AS sejak tahun 2000
  4. Rakyat AS tidak lagi menentukan nasibnya sendiri
  5. Sejak berakhirnya WW2, AS telah kehilangan keteladanan dalam hal disiplin strategis maupun moral.

Dan AS tetap tidak dapat menerima bahwa dirinya bukan lagi nomor 1.

Apakah China mesti berubah menjadi demokratis?

Kongres PKC 11 Maret 208 memutuskan untuk tidak lagi membatasi masa jabatan Presiden China. Media Barat, para pengamat China dan elit politiknya pun mulai ribut meresponnya. Kepemimpinan brutal, kemunduran budaya politik, kesewenang-wenangan, pre-modern, menjadi kata-kata ungkapan kekesalan media Barat, menanggapi hasil kongres tersebut. Bahkan para pengamat China dari AS, menyamakan Xi Jinping dengan Mao Zedong yang mengorbankan puluhan juta rakyatnya dalam Revolusi Kebudayaan dan Lompatan Jauh Kedepan. Dan semakin membingungkan, ketika elite politik AS terus meyakini bahwa upaya pendekatan terhadap China akan menyebabkan secara perlahan terjadinya keterbukaan sistem politik dan mengikuti arus utama proses liberalisasi Barat. Barat telah memaksakan ukuran sepatunya, untuk dikenakan oleh bangsa China.

China mempunyai sejarah kultur politik dan tradisi yang panjang. Bahkan sepuluh kali lebih panjang dari usia kemerdekaan AS. Tumbuh dan runtuhnya kekaisaran China telah terjadi berkali-kali, sejak penyatuan China oleh Kaisar Qin Shi Huang di tahun 221 SM. Dan Chaos menjadi pengalaman politik masyarakat yang buruk dan sangat ditakutinya. Pengalaman penderitaan sejak Perang Candu, 1842 hingga terbentuknya RRC, 1949, telah mengajarkan bangsanya untuk cenderung lebih memilih kepemimpinan terpusat yang kuat daripada kompetisi politis yang berpotensi chaos. 

Sejarah panjang dan kultur politik China inilah yang mungkin menjadi alasan Xi Jinping untuk tidak lagi membatasi masa jabatan Presiden. Juga turut memperkuat keputusan tersebut adalah munculnya dua faksi PKC yang dipimpin Bo Xilai dan Zhou Yongkang, yang memicu perpecahan, dan meningkatnya kasus korupsi.

Klaim Kebajikan

Menarik pendapat Mahbubani bahwa penyebab kesulitan memperbaiki hubungan China-AS adalah karena adanya konstruksi mental yang kuat dalam alam bawah sadar bangsa AS bahwa mereka memiliki keistimewaan kebajikan yang tidak dimiliki bangsa lain. Lihat saja bagaimana mereka mengukur dirinya seperti disebutkan Stephen Walt, professor Hubungan Internasional Universitas Harvard : ‘empire of liberty,’ a ‘shining city on a hill,’ the ‘last best hope of Earth,’ the ‘leader of the free world,’ atau the ‘indispensable nation”. 

Klaim berlebihan atas karakter bangsa yang istimewa tersebut berimplikasi pada keyakinan bahwa AS telah memberikan kualitas hidup terbaik bagi bangsanya, dibandingkan negara lain. Atau, dengan kata lain,  AS adalah bangsa terbaik di dunia yang sukses dalam mengembangkan kehidupan bangsanya.

Tabel Average Income of an Individual in the Bottom 50% of the Nation or Region

(Sumber: Prof. Danny Quah of the National University of Singapore)

Data tersebut menunjukkan bahwa bangsa AS yang berpendapatan di bawah rerata 50%, mengalami penderitaan karena penurunan tajam pendapatannya. Yang tidak dialami oleh negara lain. 

Tabel Ratio of avg. income in the top 1% to avg.  income in the bottom 50%

Terlihat bahwa Kesenjangan telah terjadi di banyak negara di dunia. Di China, persentase Kesenjangan naik 4x lipat dari tahun 1980 hingga 2015. Di Asia, naik hampir 2x lipat. Namun angka persentase kesenjangan di AS, adalah 138 di tahun 2010 (bukan 2015). Sungguh luar biasa,

Belum lagi studi dari Princeton University economists, Anne Case and Angus Deaton yang menyatakan betapa menyedihkan masa depan AS:

“compounds over time through family dysfunction, social isolation, addiction, obesity and other pathologies.”

Ray Dalio, seorang pengusaha hedge fund terkemuka di AS, menyatakan bahwa kelompok 60% populasi AS masuk dalam kategori miskin. Bahkan semakin buruk, 25% terendah dari kategori miskin tersebut, selama 10 tahun tetap tidak mampu untuk naik ke tingkat lebih tinggi. Tetap miskin. Dan persentase kenaikan tingkat semakin kecil. Turun dari 23% di tahun 1990, menjadi hanya 14% di tahun 2011. Makin terpuruk.

Ini mematahkan klaim bahwa “America is a society where hard work brings rewards”. Mengapa tidak banyak bangsa AS menyadarinya? Bahkan masih keukeuh menganggap “America is truly an “exceptional” nation in this area”?

Dua profesor dari Princeton University, Martin Gilens dan Benjamin Page, melakukan studi tentang pengaruh masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Hasilnya adalah, elit ekonomi dan kelompok bisnis mempunyai pengaruh kuat terhadap kebijakan pemerintah. Sebaliknya masyarakat kebanyakan hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil atau bahkan tidak punya pengaruh. Kesimpulan selanjutnya adalah, asas mayoritas dalam masyarakat bukanlah pengaruh penting dalam pembuatan kebijakan publik. Plutokrasi sedang terjadi di AS dan demokrasi terancam krisis.

Dan Mahbubani pun sampai pada kesimpulan bahwa: Bila pertandingan dilakukan antara Amerika dan China dengan pilihan Demokrasi yang sehat dan lentur versus sistem Komunis yang kaku dan rigid, maka Amerikalah yang menang. Tapi bila pilihannya adalah antara plutokrasi yang rigid dan kaku dengan sistem meritokrasi yang lentur, maka China lah pemenangnya. 

Sikap dunia terhadap perselisihan dagang AS-China

Sebagian besar negara-negara di dunia melihat perang dagang AS-China, yang dimulai dengan mundurnya AS, dibawah Trump, dari Kesepakatan Perdagangan Bebas (Free Trade Agreements), akan memberi dampak buruk bagi mereka. 

Saat mengunjungi China pada September 2019, Angela Merkel mengungkapkan kekhawatirannya,

“we hope that there will be a solution in the trade dispute with the United States since it affects everybody”. 

Demikian pula dengan Perdana Menteri Singapore, Lee Hsien Loong, pada kesempatan Shangri-La Dialogue, May 31, 2019, mengungkapkan keprihatinannya dan berharap bahwa inisiatif AS-China, seperti the Belt and Road Initiative (BRI) dan kerjasama Indo-Pacific, 

“should strengthen existing cooperation arrangements centered on ASEAN… not undermine them, create rival blocs, deepen fault lines or force countries to take sides. They should help bring countries together, rather than split them apart”.

Perselisihan AS-China ternyata tidak menyebabkan dunia untuk terpaksa memilih diantara keduanya. Namun justru memperkuat diri masing-masing dan melanjutkan kerjasama multilateral untuk kepentingan jangka-panjang. Misalnya, the Trans-Pacific Partnership (TPP), yang ditinggalkan AS, tetap melanjutkan diri dengan nama baru the Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Negara-negara Afrika justru membentuk African Continental Free Trade Agreement (AfCFTA) pada 30 Mei 2019. Bahkan, kemudian terbentuk kesepakatan perdagangan terbesar (jumlah populasi dan total GDP) yang beranggotakan 10 negara ASEAN, Australia, China, Jepang, Selandia Baru dan Korea di tahun 2020. Yaitu the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). India akan bergabung belakangan. 

Ini adalah kegagalan Gedung Putih di era Trump, yang mencoba ‘menyerang’ China. Yang ternyata justru berakibat buruk bagi AS. Tidak hanya terpisah dari China, namun juga tertinggal dari kesempatan pertumbuhan ekonomi bersama 15 negara RCEP.

Kesimpulan Mahbubani

Mahbubani menganggap adanya paradox dalam hubungan China-AS. Yaitu, perselisihan yang tak terhindarkan, namun sekaligus juga potensi untuk bisa dihindarinya perselisihan China-AS.

Yang menarik dari kesimpulan adalah bahwa ketika China bermaksud untuk meningkatkan kualitas peradabannya, teriring sikap di dalamnya tidak adanya niatan untuk ekspansi atau menyebarkan ideologi komunisnya. China akan berkembang dan merambah ke negara lain dengan sendirinya, selaras dengan tumbuhnya komunitas perdagangan antar negara dan kerjasama luar negeri, serta meningkatnya ekonomi domestik. Di sisi lain, AS selalu beranggapan bahwa China adalah ancaman yang memungkinkan runtuhnya AS, yang selama ini dirasakannya sebagai negara adidaya, serta penguasa dunia, dalam kekuatan pertahanan dan ekonominya.

Keputusan geopolitis, sangat dipengaruhi para personal di dalamnya, yang terus berganti, baik China maupung AS. Meskipun secara teori, kepentingan nasional yang menjadi agenda utama, namun dalam prakteknya personalitas sangat menentukan hasilnya. 

Richard Nixon dan Henry Kissinger, serta Mao Zedong dan Zhou Enlai menjadi penentu kesepakatan kerjasama yang baik antara China-AS di era 1970an. Demikian pula dengan George H. W. Bush dan Deng Xiaoping setelah berlalunya peristiwa Tiananmen, 1989. Namun, hubungan menjadi sedikit renggang di era George W. Bush dan Hu Jintao. Juga tidak harmonis ketika Hillary Clinton menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS, 2009-2012. Dan semakin buruk hubungan kedua negara ketika Wakil Presiden Mike Pence, di masa pemerintahan Trump, memberikan pidato yang menyerang China, 4 Oktober 2018. 

Menurut Mahbubani, itu adalah sebuah Pidato yang tak mungkin disampaikan oleh elit Washington di era sebelumnya. Wakil presiden semestinya lebih tenang dan hati-hati. Ternyata Pidato sejenis justru diulang oleh Wakil Presiden Mike Pence pada tanggal  24 Oktober 2019,

“… many of Beijing’s policies most harmful to America’s interests and values, from China’s debt diplomacy and military expansionism; its repression of people of faith; construction of a surveillance state; and, of course, to China’s arsenal of policies inconsistent with free and fair trade, including tariffs, quotas, currency manipulation, forced technology transfer, and industrial subsidies”.

Nine-Dash Line

Pemerintah China juga membuat masalah yang tidak perlu terjadi. Dalam paspornya, China menambahkan gambar batas wilayah negaranya dengan tambahan wilayah yang menjorok ke laut China Selatan hingga perairan Natuna, dengan batas sembilan garis putus-putus (Nine-Dash Line). Indonesia telah melakukan protes. Hal ini juga memancing munculnya sikap keras Presiden George H. W. Bush, untuk turut mendukung kebijakan menjual senjata ke Taiwan.

Mahbubani meyakini bahwa mithos Yellow-peril telah mengendap lama dalam bawah-sadar bangsa AS. Alam bawah sadar ini sering kali muncul dan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berbagai hal yang melibatkan bangsa Asia. China khususnya. Mengalahkan rasional. Napoleon pernah mengingatkan, “Let China sleep; when she awakes she will shake the world”. Sejarah kekuasaan Mongol sangat mengganggu bawah sadar mereka. 

Bangsa Barat cenderung bersikap hitam-putih atau benar-salah. Bangsa China bisa menganggap hitam dan putih adalah benar. Ada kesaling-tergantungan antara keduanya. Komposisi yang saling melengkapi.

Memahami adanya dua pandangan berbeda tersebut, Mahbubani menyajikan lima hal fundamental yang Tidak Kontradiktif antara China-AS:

  1. AS dan China mempunyai kepentingan nasional yang sama untuk meningkatkan kualitas hidup bangsanya
  2. AS dan China perlu untuk memperlambat kecepatan Perubahan Iklim
  3. Tantangan nyata kedepan bagi AS dan China adalah keberhasilan serta kemampuan daya saing ekonomi dan masyarakatnya
  4. Tidak ada benturan peradaban AS-China seperti dituliskan Samuel Huntington dalam artikelnya di Foreign Affairs, “The Clash of Civilizations?”.
  5. Dunia ini adalah tempat yang aman untuk perbedaan bagi AS-China

Akhirnya, satu hal yang bisa dianggap sebagai Kontradiksi mendasar antara AS dan Cina adalah nilai politik (political values).

  • Bangsa AS memegang prinsip kebebasan berbicara, pers, berkumpul, dan beragama. Dan meyakini bahwa setiap manusia berhak atas hak asasi manusia yang sama.
  • Bangsa Cina percaya bahwa kebutuhan sosial dan keharmonisan sosial lebih penting daripada kebutuhan dan hak individu. Untuk itu perlu dicegah terjadinya kekacauan sosial.

Singkatnya, Amerika dan China jelas percaya pada dua perangkat nilai politik yang berbeda. Namun, kontradiksi mendasar hanya akan muncul bila China mencoba mengekspor nilainya ke Amerika. Dan sebaliknya, bila Amerika mencoba mengekspor nilainya ke China.

Mahbubani mengalihkan hal kontradiktif bagi keduanya dengan menciptakan musuh bersama, yaitu Terorisme yang disponsori kelompok Islam Radikal. Ini sebuah lompatan kesimpulan yang sepertinya membutuhkan studi khusus lebih dahulu. Bahwa Amerika dan China masing-masing mengalami gangguan oleh kelompok radikal Islam memang benar adanya, seperti dituliskan dalam bab akhir buku ini, namun penyebab dasar dan pihak-pihak yang terlibat bisa jadi berbeda atau bahkan tidak berhubungan sama sekali. Perlu pembahasan khusus karenanya.

At the end of the day, this is what the six billion people of the rest of the world expect America and China to do: to focus on saving the planet and improving the living conditions of humanity, including those of their own peoples. The final question will therefore not be whether America or China has won. It will be whether humanity has won.

Rekomendasi

Buku yang bagus sekali untuk lebih memahami kultur politik China. Individualisme dan demokrasi, yang selalu diunggulkan dalam kultur Barat, bukanlah satu-satunya acuan yang tepat untuk menilai keunggulan peradaban suatu bangsa.

Tautan

Perubahan respon Indonesia terhadap klaim Nine Dash-Lines Tiongkok yang melewati perairan Natuna

Indonesia protested China passports

The American Dream Is Alive in China, Palladium Magazine, 11 Oktober 2019.

Xivilisation
China’s latest attempt to rally the world against Western values
The Economist, 27 April 2023

Berikut ini adalah ringkasan artikel harian elektronik The Economist, 27 April 2023. Sebagai catatan pribadi, yang mungkin juga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Presiden Xi Jinping mempunyai tiga inisiatif besar tentang bagaimana seharusnya dunia ini dikelola.

Konsep pertama adalah Global Development Initiative (GDI) yang dicanangkan 2021, beriringan dengan Belt Road Initiative (BRI). Dalam inisiatif tersebut, China mengalokasikan $4 milyar untuk kerjasama pembangunan di berbagai bidang, mulai dari sektor kesehatan hingga Perubahan Iklim, di berbagai negara sahabat.

Global Security Initiative (GSI) adalah inisiatif ke-2, yang bersemangat perdamaian. Upaya kongkrit dengan GSI ini adalah keterlibatan China dalam perdamaian Arab – Iran. Dilanjutkan dengan upaya China menghubungi presiden Volodymyr Zelensky, Ukraina untuk proses perdamaian dengan Rusia.

Yang ke-3 adalah Global Civilisation Initiative (GCI). Dicanangkan Xi Jinping 15 Maret 2023 dalam format dialog virtual dengan 500 organisasi politik dari 150 negara. Dalam pidatonya yang berjudul Join Hands on the Path Towards Modernization, Xi Jinping menyatakan bahwa,

“The practice of stoking division and confrontation in the name of democracy is in itself a violation of the spirit of democracy …. It will not receive any support.”

Dan,

“Countries need to keep an open mind in appreciating the perceptions of values by different civilisations, …. and refrain from imposing their own values or models on others and from stoking ideological confrontation.”

Intinya adalah semangat perdamaian tidak mengenal pemaksaan nilai-nilai peradaban suatu negara ke negara lainnya. Dan upaya memecahbelah serta konfrontasi atas nama demokrasi tidak dapat dibenarkan. Contradictio in terminis.

Sejak dicanangkannya GCI, media pemerintah China mulai menjuluki inisiatif tersebut sebagai “Xivilisation”. Penuh dengan spirit kebijaksanaan China, unggahnya.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, pakar politik Samuel Huntington mencanangkan pendapatnya bahwa “clash civilisations” akan menggantikan “perang dingin” antara Barat dan Timur. Namun Xi Jinping merasa bahwa berbagai peradaban tersebut bisa berjalan bersama dalam damai. Dan, Harian Hongkong, South China Morning Post, menanggapi thesis lama Huntington tersebut dengan mempertegas bahwa China merasa perlu lebih memberikan perhatian terhadap kesetaraan peradaban demi dunia yang damai. Oleh sebab itu, AS perlu menahan diri untuk tidak memaksakan nilai-nilainya bagi negara lain. Atau sebaliknya, thesis Huntington akan terbukti karenanya.

Para petinggi Barat mulai khawatir tentang GCI, karena bisa menjadi garis pemisah antara pendukung pemerintah dan oposan.

Menurut artikel ini, Xi meyakini 4 spirit yang perlu menjadi acuan dalam berbangsa, “four self-confidences”. Tiga aspek terkait penguatan faham komunisme China, dan satu aspek adalah perlunya menjaga keberlangsungan budaya China.

Four self-confidences” tersebut merujuk pada kepercayaan diri terkait empat aspek penting, yaitu:

  1. Keyakinan bahwa model pembangunan sosialis dengan karakteristik China adalah jalan yang tepat bagi negara tersebut. Hal ini berarti China memiliki kepercayaan diri dalam mempertahankan dan mengembangkan sistem politik, ekonomi, dan sosialnya sendiri.
  2. China memiliki keyakinan pada prinsip-prinsip dasar Marxis, yang menjadi landasan ideologi bagi Partai Komunis China. Hal ini mencakup keyakinan pada nilai-nilai sosialis dan perspektif historis Marxis.
  3. Keyakinan pada sistem sosialisme dengan karakteristik China, berarti mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya dan mencapai kemajuan terus-menerus. China memiliki keyakinan dalam mempertahankan dan memperbaiki sistem ini.
  4. Keyakinan pada kekuatan budaya China, yang memiliki kekuatan dan daya tarik yang unik serta dapat berkontribusi pada perkembangan dan kemajuan negara. China memiliki keyakinan dalam mempromosikan dan melindungi kekayaan budaya dan nilai-nilai tradisional China.

Keempat elemen ini merupakan pilar-pilar utama dalam konsep kebangsaan China yang digagas oleh Xi Jinping, yang bertujuan untuk membangun kepercayaan diri dan identitas nasional yang kuat di tengah perubahan global.

Mao Zedong menekan kemunculan budaya Kongfucianisme, sementara Xi Jinping berupaya melestarikannya.

Beberapa tahun terakhir ini, banyak pusat studi Konfucius di universitas-universitas AS banyak ditutup. Dikhawatirkan bahwa studi tentang bahasa dan kebudayaan China yang ada di dalamnya akan berdampak politik. Karena banyak pusat studi tersebut didanai oleh pemerintah China.

Pidato Xi Jinping

Pidato Presiden Xi Jinping


Tahun 2021, China mencanangkan Global Development Initiative (GDI), beriringan dengan Belt Road Initiative (BRI). Dalam inisiatif tersebut, China mengalokasikan $4 milyar untuk kerjasama pembangunan di berbagai bidang, mulai dari sektor kesehatan hingga Perubahan Iklim, di berbagai negara sahabat.

Dua bulan setelah perang Rusia – Ukraina mulai terjadi, 24 Februari 2022, President Xi Jinping mencanangkan Global Security Initiative (GSI), di bulan April 2022, dalam upaya meningkatkan keamanan global dengan lebih mengutamakan dialog daripada konfrontasi, kemitraan daripada aliansi dan win-win daripada zero-sum.

Satu tahun kemudian, tanggal 21 Februari 2023, Presiden Putin berpidato di Majelis Federal Russia, Gostiny Dvor, Moskow. Resensi terkait pidato tersebut ada dalam blog ini, berjudul “Pidato Putin – Ukraina”. Isi dari pidato tersebut adalah penjelasan atas invasi Rusia ke Ukraine, response terhadap propaganda Barat yang menyudutkan Rusia, dan penjelasan tentang ekonomi Rusia yang dalam keadaan aman.

Satu bulan kemudian, 15 Maret 2023, Presiden Xi Jinping berpidato di depan 500 pimpinan partai politik dunia dari 150 negara, secara virtual, tentang perlunya modernisasi peradaban berdasar kemandirian bangsa tanpa tekanan atau hegemoni bangsa lain. Pada kesempatan tersebut, Global Civilisation Initiative (GCI) dicanangkan oleh Xi Jinping. Dinyatakan bahwa,  “The practice of stoking division and confrontation in the name of democracy is in itself a violation of the spirit of democracy,” dan “It will not receive any support.” Selanjutnya Xi menyatakan,  “Countries need to keep an open mind in appreciating the perceptions of values by different civilisations,” dan, “and refrain from imposing their own values or models on others and from stoking ideological confrontation.” Ini adalah inisiatif untuk menjunjung tinggi prinsip-prinsip kesetaraan, saling belajar, dialog dan inklusivitas antar peradaban, pertukaran budaya, saling belajar alih-alih perselisihan, dan koeksistensi alih-alih mengagungkan superioritas. Intinya adalah semangat perdamaian tidak mengenal pemaksaan nilai-nilai peradaban suatu negara ke negara lainnya. Dan upaya memecah-belah serta konfrontasi atas nama demokrasi tidak dapat dibenarkan. Contradictio in terminis.

Satu minggu kemudian, 21 Maret 2023, Presiden Xi Jinping bertemu Presiden Putin di Moscow untuk membicarakan tentang kemungkinan penghentian peperangan atau perdamaian dengan Ukraina. 

Selanjutnya Rabu, 26 April 2023, presiden Xi Jinping telepon presiden Ukraine, Zelensky, dalam upayanya membuat cease fire atau bahkan perdamaian. 

Terlepas dari hidden agenda China, yang sebetulnya lazim dalam aksi politik, namun upaya perdamaian yang dilakukannya itu nyata. Dan Barat pun curiga dengan langkah Xi Jinping. Karena kedekatan China dengan Moscow. Loh …

Membaca rentetan peristiwa aksi politik global dari China dan Rusia diatas, terlihat adanya kepedulian dan sikap yang sama terhadap kesewenangan hegemoni Barat, AS khususnya. Pidato Putin dan Xi Jinping terasa sama isinya, meskipun dengan kehalusan narasi yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa kutipan translasi pidato Xi Jinping, yang lengkapnya berjudul Join Hands on the Path Towards Modernization.

Pidato Xi diawali dengan pernyataan puitis kekhawatiran atas kenyataan situasi sosial budaya, ekonomi, politik dan lingkungan global yang masih tak menentu, 

Polarization or common prosperity? Pure materialistic pursuit or coordinated material and cultural-ethical advancement? Draining the pond to catch the fish or creating harmony between man and nature? Zero-sum game or win-win cooperation?” 

Program modernisasi, semestinya berkelanjutan, dan berpusat pada serta bertujuan untuk Kemanusiaan.

“We must put the people first and ensure modernization is people-centered”. Dan  “Modernization is not only about indicators and statistics on the paper but more about the delivery of a happy and stable life for the people”.

Sudah semestinya bahwa Negara2 Sedang Berkembang berhak menentukan langkah-langkah modernisasinya sendiri, berdasarkan realitas sosial, keunggulan dan kearifan bangsanya. Ini serasa kritik terhadap adanya kecenderungan pemaksaan ideologi oleh beberapa negara besar lainnya.

“Developing countries have the right and ability to independently explore the modernization path with their distinctive features based on their national realities”.

“We stand firmly opposed to the practice of preserving one’s own development privilege by suppressing and containing other countries’ endeavor to achieve modernization”.

Dengan demikian, diharapkan tatanan internasional bisa menjadi lebih adil dan setara, dalam lingkungan global yang memiliki hak yang sama, kesempatan yang sama, dan aturan yang adil untuk semua. Tentu, menurutnya, untuk mencapai modernisasi, perlu solidaritas dan kerjasama sehingga diperoleh keuntungan bersama.

Kritik Xi Jinping terhadap upaya-upaya pecah-belah dan pemaksaan hegemoni oleh Barat, ditemukan  dalam kalimat-kalimat berikut:

  • We firmly oppose hegemony and power politics in all their forms. 
  • The world does not need a new Cold War. 
  • The practice of stoking division and confrontation in the name of democracy is in itself a violation of the spirit of democracy. 
  • A modernized China will strengthen the force for world peace and international justice. No matter what level of development China achieves, it will never seek hegemony or expansion.

Penutup

Membaca pidato Presiden Xi Jinping dan Presiden Putin beberapa waktu sebelumnya, mengisyaratkan adanya semangat yang berbeda daripada keseragaman informasi yang membanjiri media cetak dan elektronik di negeri ini selama ini. Semangat yang lebih memanusia tanpa perlu mengagungkan ke-adikuasa-an. Semoga nyata dalam prakteknya.

Tautan

Global Security Initiative:China’s Solution to Address the Security Dilemma and Safeguard World Peace

Pidato Putin – Ukraina

PIDATO PRESIDEN PUTIN

Pidato Presiden Putin di Majelis Federal Russia, Gostiny Dvor, Moskow, 21 Februari 2023.

Berselancar di dunia maya mencari ebook dari penulis credible, tentang perang Ukraine dari sudut pandang Russia, sungguh sulit. Banyak ebook tentang hal tersebut ditemukan di amazon.com, namun selalu dari sudut pandang Barat. Sudah dua tulisan disajikan dalam blog ini terkait pemberitaan tentang perang Rusia – Ukraina, yaitu: Perang Rusia – Ukraina dan RT alternatif Sumber Berita, belum juga menemukan sumber berita yang meyakinkan dari sisi Rusia. Hanya channel Russia Today yang memberitakan perang Ukraine dari sudut pandang Russia. Coba saja BBC, CNN, Bloomberg, TRTWorld, Al Jazeera, DW dll; sudah seperti representasi NATO. Seragam, sudut pandang Barat. Gagal mendapatkan  keseimbangan informasi. Tidak ada lagi Cover both sides.

Tak disangka, muncul Presiden Putin memberikan sambutan di depan para pejabat di Majelis Federal Russia, Gostiny Dvor, Moskow pada tanggal 21 Februari 2023. Sebagai sebuah informasi penyeimbang terhadap media berita yang substansinya seragam pro-Barat tersebut, Pidato Putin ini cukup memuaskan. Apalagi disampaikan langsung oleh otoritas tertinggi pemerintah Rusia. Presiden Putin. Sumber terpercaya.

Pada transkrip pidato yang sudah dipublikasikan dan diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Sumber Internet Resmi Kepresidenan Russia  terbaca adanya dua target audiences yang ingin dicapai dari pidato tersebut, yaitu:

  1. Masyarakat Global, untuk menjelaskan maksud invasi Russia ke Ukraina, Bela Negara, serta menolak standar ganda dan hegemoni Barat
  2. Masyarakat Russia, untuk memberikan semangat Bela Negara, persatuan, kemandirian bangsa dan peningkatan kesejahteraan.

Berikut ini adalah, beberapa cuplikan penting dari naskah pidato Putin (translated), dalam menanggapi sikap dan tindakan Barat yang mendukung Zelensky, Ukraina. Naskah lengkapnya ada dalam daftar Tautan di bawah.

Tak butuh berlama-lama, di awal pidatonya, Putin pun langsung menjelaskan alasan Rusia melakukan invasi ke Ukraina di tahun 2022:

  1. to protect the people in our historical lands, 
  2. to ensure the security of our country and 
  3. to eliminate the threat coming from the neo-Nazi regime that had taken hold in Ukraine after the 2014 coup,

Dalam wawancara Helmi Yahya dengan Dubes Rusia, Lyudmila Vorobieva, juga sudah dijelaskan tentang tujuan diatas, beberapa bulan sebelum pidato Presiden Putin. (Tautan terlampir di bawah)

RT channel berulang kali menayangkan film dokumenter penguasaan brutal yang memakan korban jiwa dan harta, oleh pemerintah Kiev, Ukraine terhadap wilayah Donetsk dan Luhansk, yang masyarakatnya pro-Rusia di tahun 2014. Peta distribusi kebangsaan dari Seymour Hers terlampir, menunjukkan bangsa Rusia ada 22% di Ukraina. Munculnya kelompok ultra-kanan Ukraina yang seringkali muncul di publik berkelompok, menggunakan atribut Nazi dan melakukan salam dengan menjulurkan lengan kanan seperti layaknya anggota Nazi saaat WWII, menjadi pembenaran Putin untuk menjulukinya sebagai Neo-Nazi dalam pidatonya diatas.

Since 2014, Donbass has been fighting for the right to live in their land and to speak their native tongue. … we were doing everything in our power to solve this problem by peaceful means, and patiently conducted talks on a peaceful solution to this devastating conflict. This appalling method of deception has been tried and tested many times before. They behaved just as shamelessly and duplicitously when destroying Yugoslavia, Iraq, Libya, and Syria.

Kekesalan Putin terhadap sikap mendua dan hipokrit Barat, diungkapkannya dalam kalimat berikut:

It turned out that they treat people living in their own countries with the same disdain, like a master. After all, they cynically deceived them too, tricked them with tall stories about the search for peace, about adherence to the UN Security Council resolutions on Donbass. Indeed, the Western elites have become a symbol of total, unprincipled lies.

Menurutnya, Perang Ukraina ini bukan memerangi masyarakat Ukraina.

We are not at war with the people of Ukraine. I have made that clear many times.

Responsibility for inciting and escalating the Ukraine conflict as well as the sheer number of casualties lies entirely with the Western elites and, of course, today’s Kiev regime, for which the Ukrainian people are, in fact, not its own people. The current Ukrainian regime is serving not national interests, but the interests of third countries.

… the longer the range of the Western systems that will be supplied to Ukraine, the further we will have to move the threat away from our borders. This is obvious.

Gita Wirjawan dalam podcast youtubenya, yang berdialog dengan Connie Bakrie, berjudul: Tunjukkan taring, pimpin dengan integritas berpendapat bahwa Putin tidak pernah terlihat berniat untuk menguasai Ukraina. Disetujui oleh Connie. Dan juga ditegaskan oleh Dubes Rusia, Vorobieva, dalam wawancaranya dengan media Kumparan.

Putin mengaku bahwa Rusia sudah bersedia untuk dialog, namun tidak mendapat tanggapan berarti:

We were open and sincerely ready for a constructive dialogue with the West; we said and insisted that both Europe and the whole world needed an indivisible security system equal for all countries, and for many years we suggested that our partners discuss this idea together and work on its implementation. But in response, we received either an indistinct or hypocritical reaction, as far as words were concerned. But there were also actions: NATO’s expansion to our borders, the creation of new deployment areas for missile defence in Europe and Asia–they decided to take cover from us under an ‘umbrella’–deployment of military contingents, and not just near Russia’s borders.

Finally, in December 2021, we officially submitted draft agreements on security guarantees to the USA and NATO. In essence, all key, fundamental points were rejected. After that it finally became clear that the go-ahead for the implementation of aggressive plans had been given and they were not going to stop.

Intelejen Rusia mengendus adanya rencana penyerbuan brutal oleh Kiev ke Donbass, seperti pernah terjadi di 2014. Putin pun merasa dikhianati oleh Badan Keamanan PBB.

… there was no doubt that everything would be in place by February 2022 for launching yet another bloody punitive operation in Donbass. Let me remind you that back in 2014, the Kiev regime sent its artillery, tanks and warplanes to fight in Donbass.

In 2015, they tried to mount a frontal assault against Donbass again, while keeping the blockade in place and continuing to shell and terrorise civilians. Let me remind you that all of this was completely at odds with the documents and resolutions adopted by the UN Security Council, but everyone pretended that nothing was happening.

… they were the ones who started this war, while we used force and are using it to stop the war.


Putin pun tak merasa perlu lagi menahan geram atas sikap dan tindakan Barat, maka kekesalan pun diungkapkannya.

.. the Organisation for Economic Cooperation and Development, the G7 countries earmarked about $60 billion in 2020–2021 to help the world’s poorest countries. Is this clear? They spent $150 billion on the war, while giving $60 billion to the poorest countries,

According to US experts, almost 900,000 people were killed during wars unleashed by the United States after 2001, and over 38 million became refugees.


Putin menunda keikutsertaan dalam SART, karena ada kewajiban disana untuk bersedia diperiksa fasilitas pertahanan nuklirnya. Menurutnya, dalam situasi perang, dimana Barat berada di belakang Ukraine, maka tidak mungkin Rusia memberi kesempatan Barat berada di fasilitas pertahanannya. Demikian juga pasti sebaliknya.

Ref.: Seymour Hersh: Bertaruh pada Kemenangan Ukraina adalah Bunuh Diri

In early February, the North Atlantic alliance made a statement with actual demand to Russia, as they put it, to return to the implementation of the Strategic Arms Reduction Treaty, including admission of inspections to our nuclear defence facilities. I don’t even know what to call this. It is a kind of a theatre of the absurd.

The drones used for this purpose were equipped and updated with the assistance of NATO specialists. And now they also want to inspect our defence facilities? In the current conditions of confrontation, it simply sounds insane.

Putin juga menengarai adanya upaya Barat untuk melakukan perang ekonomi dan pembusukan dari dalam negeri Rusia.

… they sent prices soaring in their own countries, destroyed jobs, forced companies to close, and caused an energy crisis, while telling their people that the Russians were to blame for all of this. We hear that.

“Make them suffer”–what a humane attitude. They want to make our people suffer, which is designed to destabilise our society from within.


Namun Putin meyakinkan bangsanya bahwa ekonomi Rusia masih dalam kondisi aman.

The Russian economy, as well as its governance model proved to be much more resilient than the West thought.

I would like to draw your attention to the fact that this has nothing to do with printing money. Not at all. Everything we do is solidly rooted in market principles.


Selain pembelaan diri untuk invasi ke Ukraina dan kecaman terhadap sikap dan tindakan AS dan Sekutunya, sisa pidato Putin adalah pernyataan ketahanan ekonomi Rusia yang masih aman. Bahkan berencana untuk meningkatkan anggaran persenjataan, gaji ASN dll.

PENUTUP
Kutipan dari buku “How the West Brought War to Ukraine”, karya Benjamin Abelow di bawah ini mungkin bisa jadi pengingat:

Gilbert Doctorow—an independent, Brussels-based political analyst whose Ph.D. and post-doctoral training are in Russian history—comments:

Be careful what you wish for. Russia has more nuclear weapons than the United States. Russia has more modern weapons than the United States. Russia can level to the ground the United States in 30 minutes. Is this a country in which you want to create turmoil? Moreover, if [Mr. Putin] were to be overturned, who would take his place? Some little namby-pamby? Some new drunkard like [first Russian president Boris] Yeltsin? Or somebody who is a Rambo and just ready to push the button? … I think it is extremely imprudent for a country like the United States to invoke regime change in a country like Russia. It’s almost suicidal.

Perang, bagaimanapun akan berakibat langsung pada penderitaan rakyat. Semoga cepat berakhir dengan Perdamaian. Dan tidak ada lagi Negara yang merasa sebagai pemegang kuasa penentu Nilai Kebenaran terhadap negara lain.

Mengutip media berita The Economist, pidato Xi Jinping 15 Maret 2023, the “Global Civilisation Initiative”, … that countries should “refrain from imposing their own values or models on others and from stoking ideological confrontation.”


Sebagai Penutup, Tautan berikut ini cukup bagus memberi gambaran tentang persoalan Ukraina dan mereka yang memperkeruhnya.

Pidato Presiden Putin, 21 Februari 2023, Moskow

Wawancara Dubes Rusia, Vorobieva

Wawancara Helmi Yahya dengan Dubes Rusia

Why is Ukraine the west’s faults?

Seymour Hersh: Bertaruh pada Kemenangan Ukraina adalah Bunuh Diri

Salam Damai

Jiwa-Jiwa Mati

Nikolai Vasilevich Gogol

Jiwa-Jiwa Mati (Dead Souls) adalah novel karya Nikolai Vasilevich Gogol (1809-1852), yang dipublikasikan tahun 1842, di era Tsar Nicholas I. Penulis religius kelahiran Ukraina. Pindah ke Petersburg saat usia 19 tahun, dan wafat di Moskow, Russia dalam usia 42 tahun. Setelah tinggal di Jerman, Perancis, Swiss, Italia dan sempat beribadah ke Jerusalem.

Novel klasik berbahasa Indonesia, terjemahan Koesalah Soebagyo Toer ini, bisa diperoleh di toko buku Gramedia untuk format hard copy nya. Untuk format digital pdf, bisa diperoleh di aplikasi Gramedia Digital dan ipusnas.id. Format ebook berbahasa Inggris, bisa diperoleh di web Project Gutenberg, atau beli di Kindle atau Play Books. Untuk keperluan pemahaman lebih dalam dari isi cerita atau pembuatan resensi, kedua format terakhir paling enak untuk dibaca, karena text bisa dicopy, diwarnai, diberikan catatan dan diekspor ke format txt.

Ini novel satire realis, tentang wabah korupsi di aparat pemerintahan Rusia. Berlatar-belakang abad 19, di kota kecil N, era monarki Rusia, setelah perang dengan Napoleon. Beberapa tahun setelah 1812. Ditengah tingginya kondisi Kemiskinan dan Feodalisme. Getir.

Alkisah, munculnya pendatang baru di kota N. Sosok paruh baya Paul Ivanovitch Chichikov, anggota Dewan Kolegial, yang mengunjungi pejabat-pejabat daerah. Dewan Kolegial adalah pegawai pemerintah tingkat 6. Setingkat lebih tinggi daripada anggota Dewan Pengadilan. Jauh dibawah para jenderal di tingkat 3 atau 4. Chichikov dicitrakan sebagai bujangan, pengusaha kaya yang ambisius, menyenangkan, santun, berpendidikan dan berwawasan. Berpengalaman sebagai pegawai sipil di Pengadilan dan Pabean. Licik dan kikir dalam perkembangannya, ketika obsesi kekayaan semakin menguat.

Chichikov mengalami masa kecil yang suram. Tak berkawan. Ditinggal wafat ayahnya ketika masih usia sekolah. Gogol pun menggambarkan kesepian dan kepatuhan Chichikov dengan gaya sangat kelam.

Dari sekali hidup telah tampak tampangnya yang asam dan tak bersahabat kepadanya, seolah-olah memandangnya melalui jendela yang kabur dan tertabur salju: selagi kanak-kanak ia tak mempunyai teman ataupun kawan main. Sebuah kamar kecil yang mungil dengan jendela-jendela kecil yang tak pernah dibuka pada musim dingin dan panas. Ayahnya, seorang yang cacat, yang mengenakan jas panjang bergaris bulu anak biri-biri dan kakinya yang telanjang mengenakan selop rajut, selalu mengeluh sambil berjalan mondar-mandir dalam kamar dan terus meludah ke dalam tempolong yang penuh pasir di sebuah sudut. Chichikov selalu duduk di bangku memegang pena dengan jari-jari yang ternoda tinta, bahkan juga bibirnya, sedangkan perintah-perintah abadi tampak di depan matanya: “Jangan berbohong! Dengarkan orang tua! Tumbuhkan kebajikan dalam hatimu!”

Setelah menginap semalam di sana, keesokan harinya ayahnya pulang. Tak ada air mata perpisahan pada ayahnya. Ia mendapat lima puluh kopek uang tembaga untuk uang saku dan untuk membeli gula-gula, dan yang lebih penting lagi ialah teguran bijaksana ini: “Ingat, Pavlusha, kerjakan pelajaranmu. Jangan kurang ajar dan jangan nakal. Terlebih-lebih, berusahalah sebaik-baiknya untuk menyenangkan guru dan atasanmu. Kalau kamu menyenangkan atasanmu, keadaanmu akan beres dan kamu akan mendahului siapa saja, sekalipun ternyata kamu sarjana yang buruk, dan sekalipun Tuhan tidak memberimu bakat. Jangan berteman dengan kawan-kawan sekelasmu. Mereka tak akan mengajarkan hal yang baik. Kalau kamu memang ingin berteman dengan mereka, bermainlah dengan yang lebih berada dan bisa bermanfaat untuk kamu. Jangan menjamu atau menyenang-nyenangkan siapa pun, melainkan berlakulah sedemikian rupa sehingga kamu dijamu oleh orang lain, dan terlebih lagi. Berhati-hatilah dengan uangmu dan simpanlah: uang merupakan barang yang paling dapat diandalkan di dunia. Kawan sekelas atau teman bisa menipu kamu dan segera meninggalkan kamu dalam kesulitan, sedang uang tak akan membiarkan kamu jatuh, dalam kesulitan yang bagaimana pun.”

Sesudah menyampaikan ajaran ini, ayah itu pun berpisah dari anaknya dan menyeret diri lagi pulang dengan “burung magpie”, dan sejak itu anaknya tidak pernah lagi melihatnya, tetapi kata-katanya dan ajaran-ajarannya terhunjam dalam di otak.

Paul Ivanovitch Chichikov

Chichikov kecil, Pavlusha, tidak menggunakan peninggalan uang 50 kopek uang tembaga dari ayahnya. Bermodalkan ajaran-ajaran hidup ayahnya, kepintaran dan kreatifitasnya, Pavlusha mampu mencari uang dari berdagang dengan teman-teman sekolahnya. Tak banyak, namun dari sana lah jiwa dagang Pavlusha bermula.

Pavlusha dikenal sebagai murid pintar dan penurut di sekolah. Berkelakuan baik dan menjadi kecintaan gurunya. Tak banyak warisan dari ayahnya, yang meninggal ketika Pavlusha baru saja lulus dari sekolah.

Selama bersekolah ia memperoleh nama yang baik, dan setelah selesai pendidikan ia mendapat angka-angka bagus untuk semua mata pelajaran. Sertifikat dan sebuah buku dengan tulisan huruf emas, “Untuk kerajinan, teladan, dan tingkah laku gemilang”. Keluar dari sekolah ia ternyata menjadi pemuda yang agak menarik penampilannya, dengan dagu yang sudah membutuhkan pisau cukur. Justru pada waktu itulah ayahnya meninggal. Yang diwarisinya hanyalah empat buah sweater wol yang usang dan tak dapat diperbaiki lagi, dua buah mantel tua yang bergaris wol anak biri-biri, dan sejumlah uang yang tak ada artinya. Ayahnya agaknya hanya pandai dalam memberikan nasihat bagaimana menyimpan uang. 

Muram, tragis dan semakin kelu kisah Chichikov di tangan Gogol. Tragis dimasa kecil, berubah licik dalam perkembangan usianya. Sepenggal kisah berikut sebagai contohnya:

Dalam keadaan sakit, lapar dan tanpa penolong, tinggallah ia di sebuah gubuk yang tak berpemanas dan telah ditinggalkan orang. Bekas-bekas muridnya, anak-anak yang pandai dan cerdas, yang selalu dicurigai mempunyai tingkah laku bandel dan bermuka tebal, ketika mengetahui nasib guru yang melarat itu, mulailah mengumpulkan sumbangan untuknya dan bahkan menjual banyak barang dengan hasilnya untuk sumbangan.

Hanya Pavlusha Chichikov yang meminta maaf karena tak punya dana dan hanya menawarkan uang perak lima kopek, yang oleh bekas teman sekelasnya dilemparkan kembali kepadanya sambil berkata, “Orang kikir kamu!”.

Guru yang malang itu menutup muka dengan tangan waktu mendengar apa yang dilakukan oleh murid-muridnya; air mata menderas dari matanya yang mengabur seolah-olah ia anak yang suka menolong. 

Terperdaya sang Guru oleh kelicikan Chichikov, yang selama sekolah dianggapnya sebagai murid teladan. Hanya karena penurut dan kelihaian menyenangkan gurunya.

Selanjutnya, pemuda Chichikov diterima sebagai Dinas Sipil di Kantor Pengadilan. Obsesinya untuk menjadi kaya, memotivasinya bekerja keras di kantornya. 

Berperilaku baik di lingkungan kerjanya. Bahkan mampu mengambil hati atasannya, yang dikenal punya perangai kasar dan kejam terhadap karyawannya. Rajin, penurut dan kerja keras. Begitulah kesan yang dibangun oleh Chichikov dalam bekerja, hingga Juru Tulis Kepala jatuh hati padanya. Bahkan, muncul kesan di lingkungan kerjanya bahwa Chichikov akan menjadi menantunya. Diangkatlah posisi Chichikov menjadi Juri Tulis Kepala. Tak ada lagi cerita tentang calon menantu. Terperdaya lah sang Juri Tulis Kepala tua. Licik dan kejam. Berhenti sudah puasa Chichikov dimasa muda. Penampilan pun berubah gaya. Dan roda korupsi pun mulai berputar.

Namun Chichikov harus pindah kerja, karena tak mampu menaklukkan atasan baru dari militer, yang cukup gigih memerangi korupsi. Lanjut bekerja di jawatan Bea dan Cukai. Pindah lagi, sebagai Pengacara.

Chichikov selalu ditemani Selifan, si kusir kereta berkuda tiga dan Petrushka, berhidung besar dan berbibir tebal, sebagai pengawal yang biasa menjaga kamar penginapannya. Ia berkeliling ke berbagai wilayah di sekitar kota N, untuk menemui banyak pejabat, pengusaha dan petani untuk keperluan bisnis. Perbudakan. Di era monarki Russia dibawah Tsar Nicholas I (1796-1855), pekerja lahan pertanian adalah budak atau aset yang bisa dimiliki dan diperjual- belikan oleh Pengusaha atau Tuan pemilik lahan. Bisnis yang sedang dilakukan Chichikov adalah perdagangan budak. Lebih tepatnya adalah pembelian mantan budak. Hanya nama-nama dari mereka yang sudah mati. Dipergunakan sebagai agunan untuk mendapatkan pinjaman uang. Edann … Kelucuan getir. Satire menyakitkan.

Banyak relasi dengan beragam strata sosial, mulai dari Gubernur hingga petani miskin, dikunjungi Chichikov di berbagai wilayah. Untuk keperluan bersosialisasi menebar citra, demi pembelian ‘mantan budak’. Gogol menyebutnya ‘Jiwa-Jiwa Mati’ atau ‘Dead Souls’. 

“Tuan tahu, saya menghendaki orang-orang yang telah mati, tapi masih terdaftar sebagai orang-orang yang masih hidup dalam sensus,” kata Chichikov.

Pembawaan yang santun dan pandai mengambil hati, menyebabkan para pejabat menjadi terpedaya olehnya. Dengan sarkastik Gogol menjelaskannya:

Dalam pembicaraan dengan para penguasa itu ia menunjukkan kecakapan yang besar dalam menjilat mereka, seorang demi seorang, kepada gubernur ia mengisyaratkan secara sambil lalu, bahwa memasuki provinsinya seperti memasuki surga, jalan di mana-mana serata beledu, dan bahwa pemerintah yang telah menunjuk orang-orang penting yang demikian bijaksana patutlah memperoleh pujian yang tertinggi. Kepada kepala polisi ia menyatakan sesuatu yang sangat menjilat mengenai polisi-polisi di kota itu; dan dalam pembicaraannya dengan wakil gubernur dan ketua pengadilan yang masih baru sebagai anggota dewan negara, dua kali ia secara salah mengatakan “yang mulia”, yang memang benar-benar menyenangkan mereka.

Gogol cenderung sinis dan stereotype dalam menggambarkan nasib seseorang. Badan gemuk adalah pejabat atau orang kaya. Sedangkan yang kurus adalah pegawai biasa dan tidak sejahtera hidupnya. Sinis.

Chichikov berkenalan dengan Tuan Tanah Sobakevich yang terkesan canggung, dan Malinov yang cukup mempesona ketika hadir di undangan pesta Gubernur pada hari pertama. Pada saat makan malam dan main kartu bersama Kepala Pos dan Ketua Pengadilan di rumah Kepala Polisi di hari kedua, dia berkenalan dengan tuan tanah periang yang masih muda, Nozdryov. Usia 30 tahunan. Dia juga sempat makan malam di rumah Wakil Gubernur. Dan dengan Ketua Pengadilan di malam lainnya. Chichikov telah sukses memikat warga kota N.

Suatu saat, Chichikov ke luar kota mengunjungi Manilov dan Sobakevich. Dalam perjalannya, digambarkan suasana sunyi kelam:

Begitu kota menghilang di kejauhan, dengan cepat terlihatlah oleh pahlawan kita, segala macam barang dan sampah di kedua sisi jalan, seperti yang seharusnya terlihat di pedesaan: bukit-bukit kecil, pohon-pohon den yang masih muda, macam-macam tumbuhan liar, dan benda-benda yang menyerupai sampah. Mereka melintasi desa-desa yang hanya memiliki satu jalan lurus dan panjang. Bangunan-bangunannya menyerupai tumpukan balok tua, yang ditutupi atap-atap kelabu, sedangkan hiasan-hiasan kayu berukir yang ada di bawahnya tampak seperti handuk bersulam. Seperti biasa, sejumlah petani yang mengenakan mantel kulit biri-biri duduk mengangkang di atas bangku di depan gerbang rumah. Perempuan- perempuan tani dengan muka yang gemuk dan dada yang terbungkus rapat, memandang ke luar dari jendela atas; dari jendela bawah terlihat seekor anak sapi atau seekor babi yang sedang menjulurkan moncongnya. 

Gogol biasa menggambarkan para tokohnya dengan rinci. Berikut adalah gaya Gogol menggambarkan sosok Manilov:

Dilihat dari penampilannya, ia orang yang tampak mengesankan; garis-garis wajahnya agak menyenangkan, tapi hal yang menyenangkan terasa terlalu banyak mengandung gula; dalam tingkah laku dan cengkok bicaranya ada sesuatu yang agaknya menuntut simpati menghendaki kasih, dan persahabatan. Ia tersenyum memikat. Rambutnya pirang dan matanya biru muda. Pada menit pertama bercakap-cakap dengannya, bagaimana pun kita akan mengatakan, “Alangkah baik dan menyenangkan orang ini!” Pada menit berikutnya kita tak akan mengatakan sesuatu, dan pada menit yang ketiga kita akan mengatakan, “Terkutuklah kalau aku mengerti dia!” dan kita akan menjauhkan diri darinya sejauh-jauhnya, karena kalau tidak, kita akan bosan setengah mati. Kita tak akan pernah mendengar satu kata pun yang bersifat merangsang atau bahkan sombong darinya.

Malinov bahagia dengan perkawinan yang sudah lebih 8 thn dilaluinya. Kemesraan selalu mengiringi sehari-hari kehidupannya. Di rumah ia sedikit bicara. Kebanyakan hanya berpikir dan merenung. Bekas tentara. Dianggap sebagai perwira sederhana, bijaksana dan beradab.

Situasi sosial di jaman Tsar Nicholas I menempatkan perempuan tak beda jauh dengan budaya saat ini. Tiga pelajaran pokok para murid perempuan di Rusia yang dianggap sebagai dasar kebajikan manusia saat itu adalah: bahasa Perancis yg tak boleh dihindari, piano untuk disuguhkan pada para suami, dan ilmu rumahtangga seperti merajut, dll.

Untuk menunjukkan ketidak-setaraan perempuan terhadap laki-laki, Gogol menggambarkan bahwa jiwa perempuan yang ditawarkan Sobakevich tidak diminati oleh Chichikov. Walaupun dengan harga murah sekalipun, 1 rubbel. Jiwa mati laki-laki dibeli Chichikov dengan harga lebih mahal, 2,5 rubbel.

Mencari Jiwa-Jiwa Mati

Dalam perjalanan menuju rumah Sobakevich, Chichikov tersesat hingga terpaksa menginap di rumah milik seorang Perempuan tua, Korobochka Natasya Petrovna. Janda seorang sekretaris kolegial.

Perempuan tua itu, tanpa memahami sebenarnya maksud Chichikov, akhirnya menerima tawarannya, untuk menjual jiwa-jiwa mati. Setelah cukup alot bernegosiasi. Meskipun tetap curiga muncul di benaknya.

Gogol cukup sinis menggambarkan perilaku hipokrit masyarakatnya (hal. 63):

Misalnya, marilah kita membayangkan suatu kantor pemerintah bukan di sini, tapi di suatu kerajaan Ruritania – dan marilah kita menduga bahwa kantor itu mempunyai seorang kepala. Cobalah perhatikan saat ia duduk di antara para bawahannya – nah, Anda akan menjadi begitu gentar hingga Anda tak dapat mengucapkan sepatah katapun! Kesombongan dan kemuliaan dan entah apa lagi yang tak diungkapkan oleh mukanya? Satu-satunya yang Anda dapat perbuat ialah mengambil sebuah kuas dan melukisnya – seorang Prometheus, ya, seorang Prometheus yang sebenar- benarnya! Ia tampak seperti rajawali, berjalan dengan langkah-langkah lembut yang terukir. Tapi rajawali itu, bila meninggalkan kantornya dan mendekati kantor kepalanya sendiri, akan terbirit-birit seperti ayam hutan sambil mengepit kertas, secepat kakinya dapat berlari.

Dalam masyarakat dan perjamuan malam, jika semua orang lebih rendah pangkatnya, Promotheus kita tetap seorang Promotheus, tetapi jika mereka naik sedikit saja di atasnya, Promotheus itu mengalami metamorfosa seperti yang tak pernah terpikirkan oleh Ovid sekalipun: seekor lalat, ya, lebih rendah dari seekor lalat, ia telah memerosotkan dirinya menjadi satu butir pasir!

Chichikov bertemu Nozdryov dan iparnya, Mizhuyev. Chichikov pernah bertemu Nozdryov ketika makan bersama Penuntut Umum. Kini bertemu lagi tanpa sengaja di penginapan, setelah meninggalkan kota domisili Korobochka. Chichikov berharap Nozdryov mau menjual jiwa-jiwa mati yang dimilikinya. Gagal.

Chichikov telah menerima ratusan jiwa mati dari Korobochka, Plyushkin, Sobakevich. 

Kepada Ketua Pengadilan, Chichikov beralasan bahwa orang-orang yang dibelinya akan dipekerjakan di kota Kherson. Disana tersedia sungai, kolam dan lahan luas. Dan para penjual Jiwa-Jiwa Mati mengaku kepada Ketua Pengadilan bahwa hal tersebut dilakukannya karena tidak lagi membutuhkan tenaganya atau karena lalai dan terlanjur menjualnya.

Kecurigaan

Pergunjingan permainan kotor jutawan Chichikov merebak di kota N. Membayangkan besarnya jumlah dan tingkat kualitas hamba-hamba yang dibeli untuk dipekerjakan di perkebunan Chichikov di kota Kherson, cukup mengherankan bagi warga setempat, karena di Kherson tak ada cadangan air yang cukup untuk perkebunan. Kering, menurut cerita-cerita dalam keriuhan gunjingan itu.

Dan akhirnya, runtuhnya reputasi Chichikov bermula dari maboknya Nozdryov, seperti tertulis di halaman 245 berikut ini:

Sementara itu, Nozdryov melihatnya dan langsung menghampiri. “Aakh, tuan tanah Kherson, tuan tanah Kherson!” serunya seraya mendekat dan tertawa keras hingga kedua pipinya yang segar dan merah muda seperti bunga mawar musim semi itu bergetar dan bergoyang. “Nah? Apa Tuan telah memborong banyak orang mati? Maaf, yang Mulia,” serunya dengan keras dan sambil menoleh kepada gubernur, “dia ini punya urusan tentang orang-orang yang telah mati, ya, betul-betul ini, hati saya boleh disalib! Dengar, Chichikov, tuan ini saya katakan ini kepada Tuan sebagai seorang teman, karena kita semua di sini teman Tuan, dan yang mulia ini pun teman Tuan – akan saya gantung Tuan, dan terkutuklah saya kalau saya tak melakukannya!”

Chichikov betul-betul tak tahu apakah ia sedang berdiri dengan kepala atau tumit.

“Tuan percaya atau tidak,” sambung Nozdryov yang ditujukan kepada gubernur, “ketika ia mengatakan kepada saya ‘Juallah pada saya orang-orang yang sudah mati’, hampir meletus perut saya karena ketawa. Ketika saya tiba di sini, orang bilang ia sudah membeli hamba-hamba untuk dipindahkan seharga tiga juta rubel. Untuk dipindahkan! Dengarlah, ia sudah tawar-menawar dengan saya mengenai orang yang sudah mati. Dengar, Chichikov, Tuan binatang yang kotor; digantunglah saya ini kalau Tuan bukan seperti itu! Yang Mulia pun ada di sini. Bukankah begitu, penuntut umum?”

Menarik untuk merenungi paragraf berikut ini. Ternyata sudah menjadi sifat manusia sejak dulu kala bahwa pergunjingan memang mudah menular. Cukup teliti Gogol mengamati perilaku sosial masyarakatnya.

Bahwa Nozdryov seorang pembohong yang tak dapat dimungkiri merupakan kenyataan yang mereka ketahui, dan bukan hal yang luar biasa mendengar ia berbicara omong kosong yang paling iseng pun; tapi, dasar manusia, dan memang sukar memahami manusia itu terbuat dari apa, bagaimana pun konyolnya suatu berita, selama berita itu masih berupa berita, ia akan menganggap kewajibannya untuk meneruskan kepada orang lain, walaupun sekadar untuk mengatakan, “Cobalah pikir, kebohongan macam apa yang sedang disebarkan orang!” … Dan sudah dapat dipastikan bahwa berita itu akan mengitari kota, dan semua manusia, berapapun banyaknya, akan membicarakannya sampai muak dan lelah, dan kemudian dengan suka rela akan menyetujui bahwa hal itu tak pantas untuk ditangkap dengan sungguh-sungguh dan tak ada nilainya untuk dibicarakan.

Budaya feodal yang snob dan bangga dengan tampilan negara maju, supaya terlihat modern dan selalu updated, mewakili para selebriti seperti digambarkan dengan gaya para ibu-ibu yang senang dengan ungkapan-ungkapan bahasa Perancis berikut ini:

Disebutkan di sini bahwa percakapan antara kedua orang nyonya ini dicampuri dengan sejumlah besar kata asing dan kadang-kadang bahkan dengan kalimat Perancis yang utuh. Akan tetapi, betapa pun penghargaan pengarang kepada keunggulan yang telah dianugerahkan oleh bahasa Perancis pada bahasa Rusia, dan betapa pun penghargaannya kepada kebiasaan terpuji golongan atas menyatakan diri dengan bahasa ini sepanjang hari dikarenakan kecintaannya yang dalam kepada tanah airnya, tapi ia tak dapat membiarkan dirinya memperkenalkan kalimat-kalimat dalam bahasa asing apa pun ke dalam syair Rusianya ini. Oleh karena itu, marilah kita jalan terus dalam bahasa Rusia.

Ketua Pengadilan mulai panik.

Hal ini dikemukakannya kepada Ketua Pengadilan. Ketua menjawab bahwa itu omong kosong, tapi kemudian ia pun tiba-tiba menjadi pucat, sesudah ia bertanya kepada diri sendiri apakah hamba-hamba yang dibeli oleh Chichikov itu benar-benar sudah mati, sementara ia telah mengizinkan akta pembelian itu direncanakan dan bahkan telah bertindak atas nama Plyushkin dalam hal itu.

Nyanya Korobochka sebagai penjual jiwa-jiwa mati ke Chichikov, mulai menjadi isu publik.

Selanjutnya apa yang dikatakan oleh Nyonya Korobochka merupakan pengulangan, dan para pejabat pun sadar bahwa nyonya itu hanyalah perempuan tua yang edan. Manilov menjawab bahwa ia selalu siap menjawab pertanyaan mengenai Chichikov seperti mengenai dirinya sendiri, dan seluruh tanah miliknya hanya seharga seperseratus dari nilai sifat-sifat Chichikov yang mulia, dan sejalan dengan itu, ia pun berbicara mengenai Chichikov dengan istilah-istilah yang paling menjilat, seraya mengemukakan pula sejumlah kenangan mengenai persahabatannya, dengan ekspresi mata dan wajah seperti binatang. Kenang-kenangan ini tentu saja paling mesra untuk diungkapkan. Akan tetapi, para pejabat tidaklah mengungkapkan apa yang ada di balik urusan itu. Sobakevich menjawab bahwa menurut pendapatnya, Chichikov orang yang baik dan telah menjual kepadanya petani pilihan yang paling baik dalam arti yang seluas-luasnya, tetapi ia tak dapat menjawab mengenai apa yang bisa terjadi pada masa depan, dan bukanlah kesalahannya jika mereka mati ketika diangkut, karena beban perjalanan, dan semuanya ada di tangan Tuhan, mengingat bahwa di dunia ini terdapat begitu banyak penyakit demam dan penyakit yang mematikan, dan memang ada contohnya: penduduk seluruh desa mati. 

Seperti lazimnya sebuah pemufakatan jahat, bila mulai terkuak ditengah masyarakat, maka mulailah tercerai-berai para sekutunya. Bagaikan merebaknya aroma bangkai. Maka mulailah Gubernur, wakil Gubernur, Kepala Polisi, Kepala Kantor Pos dan semua pejabat daerah serta kolega lainnya, menolak untuk menerima Chichikov sebagai tamu. Bahkan turut serta mencercanya dengan menyebarkan cerita-cerita yang menyudutkannya. Tentu, untuk menutupi keterlibatannya. Berujung Chichikov meninggalkan kota.

Kemuraman puitis mengiringi keruntuhan Chichikov:

Rusia! Rusia! Saya lihat kamu, dari tempat jauh yang indah mengagumkan: saya lihat kamu sekarang. Segalanya tampak papa, terserak-serak, dan menyesakkan: tak ada keajaiban alam yang gagah, yang dimahkotai keajaiban seni yang lebih gagah lagi; tak ada kota-kota dengan istana-istana tinggi berjendela banyak yang dibangun di atas batu karang; tak ada pohon-pohon yang permai; tak ada rumah-rumah terselimut tanaman rambat dan percikan abadi air terjun yang akan menggembirakan musafir dan mempesonakan pandangan matanya.

Dengan melalui relung-relung gelap ia tak akan melihat jajaran abadi gunung-gunung di kejauhan, yang bercahaya redup dan menjulang ke langit: keperakan dan cemerlang. Segalanya dalam keadaan terbuka, kosong, dan datar. Kota-kotamu yang letaknya rendah, terlihat menempel seperti titik-titik di atas daratanmu seperti tanda-tanda yang hampir tak kelihatan; tak ada yang akan menipu atau menggiurkan mata. 

Akan tetapi, kekuatan aneh dan ajaib apa yang menarik dari dirimu? Mengapa lagumu yang penuh duka itu, yang tersebar ke seluruh dataranmu dari laut ke laut, bergema dan bergema lagi tak putus-putusnya di telingaku? Apa yang ada dalam lagu itu? Siapa yang memanggil, dan tersedu-sedu, dan mencekam hatiku? Suara-suara apakah itu yang membelaiku demikian pedih, yang merasuk ke dalam jiwaku dan membelit-belit hatiku? Rusia! Apakah yang kau minta dariku? Apakah ikatan gaib yang tersembunyi di antara kita? Dan mengapa engkau selalu memandang penuh harapan padaku? 

Dan selagi aku berdiri tak bergerak-gerak diliputi kebingungan, awan yang mengandung ancaman dan curahan hujan melontarkan bayangannya pada kepalaku, dan pikiran pun menjadi beku berhadapan dengan keluasanmu. Apakah yang tersimpan dalam ruangan yang maha besar, lebar dan terbuka luas itu? Tidakkah di sini, tidakkah di dalam dirimu pikiran yang tak terbatas akan dilahirkan, karena engkau sendiri tak berakhir? Tidakkah di sini tempat pahlawan yang legendaris dari fabel Rusia itu? Di sini, terdapat banyak ruangan untuk menebarkan sayap dan mengembara dengan bebas? 

Dan dengan sikap yang mengancam, keluasanmu yang perkasa itu merangkumku, bercermin dengan kekuatan yang mengerikan pada kedalaman diriku; mataku menyala dengan tenaga gaib. Oh, sungguh ruang tanpa batas yang gemerlap dan mengagumkan, yang tak dikenal oleh dunia! Rusia …!

Runtuh

Chichikov pindah dan tinggal di suatu desa yang penduduknya terkesan ceria. Penduduk gemar bernyanyi dan menari. Teman serumahnya adalah Tentetnikov. Pemalas dan Penyendiri, menurut Gogol.

Chichikov mengunjungi Jenderal Betrishchev, yang menurut Tentetnikov, teman serumah Chichikov, sedang bermasalah dengan dirinya. Kunjungan ini tak lepas dari maksud Chichkov untuk membeli Jiwa-Jiwa Mati. Digambarkan oleh Gogol bahwa sang jendral berperawakan tampan, agung, jantan, jujur, berkumis, cambang dan sudah beruban. Stereotip jenderal dimasanya. 

Apakah ia mengenakan jas kebesaran, jas luar, atau kimono, selalu sama saja. Segala sesuatu tentangnya, mulai dari suaranya sampai pada gerakannya yang sekecil-kecilnya pun, bernada memerintah, menguasai, dan menimbulkan perasaan segan, kalau bukan hormat, pada orang-orang yang lebih rendah pangkatnya. Chichikov merasakan keseganan dan hormat kepadanya.

Jenderal Betrishchev bersedia mengalihkan 300 jiwa mati untuk kepentingan Chichikov. Chichikov berdalih bahwa pamannya bersedia mengalihkan 300 orangnya, bila Chichikov bisa mendapatkan 300 orang baru. Transaksi dagang yang aneh. Untuk itu ia perlu nama-nama kosong sebanyak 300 biji.

Tentang ‘kebersihan’, melalui pengusaha  ladang yang bersih, Kostanjoglo, Gogol menitipkan pesan seperti dituliskannya berikut ini:

“Itu selalu demikian. Itulah memang hukumnya,” kata Kostanjoglo. “Orang yang dilahirkan dengan beberapa ribu dan dibesarkan dengan beberapa ribu tak akan pernah mencetak uang, karena ia telah mengembangkan segala macam kebiasaan mahal dan segala macam hal yang lain. 

Orang harus mulai dari permulaan dan bukan dari tengah, dari satu kopek, dan bukan dari satu rubel, dari bawah dan bukan dari atas. Barulah orang akan mendapat pengetahuan yang menyeluruh mengenai hidup dan juga orang-orang, yang di kemudian hari akan berurusan dengannya. 

Kalau Tuan telah mengalami semua itu dan telah mengerti bahwa setiap uang tembaga harus dijaga baik-baik sebelum Tuan dapat melipatkannya menjadi tiga, dan apabila Tuan telah melewati segala macam cobaan dan bencana, Tuan akan menjadi demikian terlatih dalam berbagai cara dunia, hingga Tuan tak akan pernah membuat kesalahan dan tak akan pernah bersedih dalam usaha apa pun. 

Percayalah saya, demikianlah adanya. Orang harus mulai dari permulaan dan bukan dari tengah. Kalau orang mengatakan kepada saya,’ Berilah saya seratus ribu, dan saya akan menjadi kaya dalam sekejap,’ maka saya tak akan percaya kepadanya: dia itu mengandalkan diri pada kebetulan, dan bukan pada kepastian. Orang harus mulai dengan satu kopek.”

Melalui personifikasi Khlobuyev, Gogol melukiskan Ironi kebaikan yang disandingkan dengan kemiskinan. 

Namun, segera sesudah memasuki tanah Khlobuyev, mereka pun terdiam dengan sendirinya. Bukannya hutan yang mereka lihat, melainkan semak-semak yang dirusak oleh ternak, sedang gandum hitam yang dikotori oleh rumput-rumputan hampir-hampir tak kelihatan. Akhirnya tampaklah oleh mereka pondok-pondok petani yang sudah runtuh dan tak berpagar, dan di tengah-tengahnya sebuah rumah batu yang tak dihuni dan belum selesai. Pemiliknya agaknya tak cukup punya uang untuk membuat atap. Maka rumah itu tinggal tertutup atap lalang yang telah menjadi hitam. Pemilik tanah itu tinggal di rumah lain yang cuma satu tingkat. Ia berlari ke luar menyambut mereka dengan berpakaian jas panjang yang sudah tua, kusut, dan mengenakan sepatu bot yang penuh lubang. Ia tampak mengantuk dan mesum, tetapi pada wajahnya terlihat sifat yang baik. la gembira melihat para tamunya, seakan-akan mereka itu saudara- saudaranya yang sudah lama hilang.

Dilanjutkan dengan pesan spiritual Gogol:

“O, Tuan rupanya pengagum pemandangan indah?” kata Kostanjoglo sambil melontarkan pandang keras. “Biarlah saya mengingatkan Tuan, bahwa kalau Tuan mulai mengejar pemandangan, Tuan akan tertinggal tanpa roti dan tanpa pemandangan. Pikirlah selalu tentang apa yang berguna dan bukan yang indah. Keindahan akan datang sendirinya. Yang terindah ialah yang tumbuh wajar, setiap orang membangun menurut kebutuhannya dan sesuai dengan seleranya. Kota-kota yang dibangun dengan garis-garis lurus menyerupai barak-barak…. Tak usah dipikirkan soal keindahan itu! Pusatkan pada hal-hal berarti.”

“Ya, alam cinta kepada kesabaran, dan itu hukum yang diberikan kepadanya oleh Tuhan sendiri, yang memberkahi orang-orang yang sabar.”

Akhirnya 

Sikap religius Gogol pun terwakili dengan pesan-pesan berikut ini:

“Tapi bagaimana mungkin Tuan hidup tanpa kerja? Bagaimana mungkin tanpa suatu jabatan, tanpa pekerjaan. Coba dengar, Tuan, lihatlah setiap makhluk Tuhan ini melakukan suatu pekerjaan, masing-masing ada peranan yang dimainkannya dalam hidup ini. Batu pun ada kegunaannya, dan manusia yang merupakan makhluk yang terpandai harus ada kegunaannya, bukan?”

“Kalau begitu berbaktilah kepada-Nya yang begitu bersifat mengampuni Tuan. Kerja akan disambut baik oleh-Nya seperti doa. Ambillah pekerjaan apa saja yang Tuan sukai, tetapi lakukanlah pekerjaan Tuan seolah-olah Tuan melakukannya untuk-Nya dan bukan untuk manusia. Setidak-tidaknya Tuan tak akan punya waktu lagi untuk hal yang buruk, menghabiskan uang untuk main kartu, melahap makanan yang enak-enak, membuang-buang waktu dalam pergaulan kelas atas, dan itu sudah baik!

Prosesi penghakiman tindak kriminal, terus berlanjut. Namun tindak korupsi pun selalu mengambil kesempatan di setiap langkahnya. Samotsvetov, pejabat pengamanan tahanan, mengeluarkan Chichikov dari penjara dengan ongkos 30.000 Rubel. Korupsi. Dan atas saran dari Murazov, Gubernur Jenderal pun memerintahkan untuk membebaskan Chichikov.

Namun, marilah kita singkirkan persoalan siapa yang paling patut dipersalahkan. Soalnya ialah bahwa saatnya telah tiba bagi kita semua untuk menyelamatkan negeri kita, bahwa negeri kita sekarang berada di tepi keruntuhan: bukan karena serbuan sejumlah bangsa asing, melainkan karena diri kita sendiri; bahwa di samping pemerintah kita yang sah, di samping para penguasa kita yang sah, penguasa-penguasa baru telah muncul, yang jauh lebih kuat dari penguasa-penguasa kita yang sah. Para penguasa ini telah menetapkan syarat-syarat sendiri, nilai-nilai sendiri, dan bahkan harga-harga itu sekarang telah diketahui secara umum. Tak ada seorang penguasa pun, sekalipun ia lebih bijaksana dari semua pembuat undang-undang dan penguasa, yang mempunyai kekuatan untuk mengoreksi kejahatan, betapa pun ia dapat mengurangi kegiatan para pejabat yang buruk dengan menempatkannya di bawah pengawasan pejabat-pejabat yang lain. Semua itu akan sia-sia, sampai kita masing-masing merasa, bahwa seperti pada waktu kebangkitan seluruh rakyat secara umum, ia telah mempersenjati dirinya terhadap (musuh-musuhnya?). Demikianlah sekarang ia harus bangkit melawan ketidakadilan. 

Sebagai seorang Rusia, sebagai orang yang terikat kepada Tuan-tuan oleh ikatan kelahiran dan darah, sekarang saya mengimbau kepada Tuan-tuan. Saya mengimbau kepada sebagian di antara Tuan-tuan yang mempunyai gagasan tentang apa yang dimaksud dengan kebangsawanan pikiran. Saya undang Tuan-tuan agar mengingat tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap orang, sesuai dengan jabatan apa pun yang dipegangnya. Saya undang Tuan-tuan supaya mengamati dengan lebih teliti tugas Tuan-tuan dan kewajiban- kewajiban Tuan di dunia ini, karena ini merupakan hal yang hanya samar-samar saja kita sadari, dan kita hampir tidak….”

(Di sini naskah terputus)

TAMAT

Gaya penulisan

Nikolai Vasilevich Gogol (1809-1852)

Satu hal yang lazim dalam novel-novel Rusia, selalu rinci menjelaskan setiap hal. Selintas tak relevan dengan pokok cerita, namun seringkali bisa mewakili situasi sosial lingkungan cerita. Misalnya:

Pengarang yakin sekali bahwa ada pembaca yang sangat ingin tahu, sehingga ingin mengetahui denah dan susunan dalam kotak itu. Nah, kenapa tidak memuaskan hati mereka itu? Dan, inilah susunan di dalamnya: di bagian tengah ada sekat kecil untuk sabun, di sampingnya ada enam atau tujuh sekatan sempit untuk pisau cukur; kemudian ada sekat-sekat persegi untuk sebuah kotak pasir dan sebuah botol tinta dengan piringan kecil yang diberi lekuk untuk pena, lilin materai, dan barang lainnya yang diletakkan pada sisi yang panjang, kemudian segala macam sekat kecil dengan dan tanpa tutup untuk barang-barang yang berukuran pendek, penuh dengan kartu nama, kartu penguburan, karcis teater, dan barang-barang lain yang disimpan untuk tanda mata. Keseluruhan bagian atas kotak itu dengan segala sekat di dalamnya dapat diangkat, dan di bawahnya terdapat satu sekat yang penuh dengan carik-carik kertas; kemudian ada sebuah laci rahasia yang kecil untuk uang, yang dapat ditarik tanpa diketahui dari sisi kotak itu. Laci itu selalu ditarik dan dikembalikan dengan begitu cepat oleh Chichikov, hingga tak memungkinkan kita mengatakan berapa banyak uang ada di dalamnya.

Gogol sering menulis berkepanjangan dan rinci terhadap tindak tokohnya untuk menggambarkan karakternya. Sepertinya, ini dilakukannya untuk menghindari penjelasan naratif, yang sebetulnya juga biasa dia lakukan. Berikut contohnya:

Sesuai kebiasaannya, pahlawan kita pun segera melibatkan perempuan itu dalam percakapan. Ia bertanya apakah ia sendiri pemilik rumah penginapan itu ataukah ada pemilik yang lain, berapa pemasukan dari rumah penginapan itu, apakah anak-anak lelakinya tinggal bersamanya, apakah anak terbesar sudah kawin atau masih bujangan, seperti apa istri yang dinikahi oleh anak laki-lakinya, apakah anak laki- lakinya mempunyai mas kawin yang besar atau tidak, apakah ayah pengantin perempuan itu puas, dan apakah istri dari anaknya marah waktu menerima hadiah kawin yang demikian sedikit. Singkatnya, ia tak melewatkan apa pun.

Dan berikut ini adalah contoh penjelasan naratif terhadap karakter tokoh yang Gogol tuliskan: 

Pembaca mungkin sudah kenal dengan pribadi Nozdryov dalam batas-batas tertentu. Tiap orang pernah menjumpai orang seperti dia. Mereka dikenal sebagai orang yang perlente, bahkan pada masa kanak-kanak dan sekolah, mereka dikenal sebagai kawan yang baik. Namun, karena itu pula sering sekali menerima pukulan yang menyakitkan. Pada wajah mereka selalu tampak sesuatu yang terbuka, bersifat terus terang, dan ceroboh. Mereka cepat memperoleh kenalan, dan sebelum kita sadar akan keberadaan kita, mereka sudah memperoleh hubungan yang akrab dengan kita. Kita menyangka bahwa persahabatan mereka itu akan berlangsung selama hidup, tetapi hampir selamanya terjadi bahwa teman baru mereka itu akan mulai berkelahi dengan mereka saat itu juga di satu perjamuan. Mereka selalu suka bicara, peminum, dan pejudi besar, dan sungguh berani mati untuk selalu dipandang oleh umum. Pada umur tiga puluh lima, Nozdryov tampak sama seperti ketika ia berumur delapan belas dan dua puluh.

Muram, kusam dan gelap, yang disampaikan dalam bahasa puitis adalah biasa dalam novel Rusia dimasanya. Tetap enak dibaca.

Di sana, di dalam kamar kecil yang sudah sangat dikenal oleh pembaca, dengan pintu yang terhalang oleh meja berlaci, dengan banyak kecoa yang mengintip dari sudut-sudutnya, pikiran dan otaknya berada dalam keadaan yang tak menyenangkan, sama dengan kursi besar yang didudukinya.

Komentar

Membaca karya sastra Russia itu seperti menonton teather, lucu menghibur namun getir. Hanya, seringkali menjadi hambatan untuk memulai membaca sastra Rusia adalah ketidaknyamanan terhadap terjemahan bahasa, dan sedikitnya pemenggalan paragraf, sehingga terasa lelah membacanya. Namun rincinya penggambaran budaya masyarakat saat itu dan konflik sosial di dalamnya, menjadi kekayaan yang membangunan inspirasi kepekaan sosial.

Akan sangat membantu mencerdaskan bangsa, bila ada penerbit buku berbahasa Indonesia dalam format ebook dengan aplikasi yang menyediakan fasilitas di dalamnya untuk dapat mewarnai text dan mengekspornya, menandai halaman, copy text hingga 75% dari isi buku dan memberikan catatan, seperti layaknya memegang format hard copy. Kindle dan Play Books mampu menyediakan fasilitas tersebut. Fasilitas tersebut sangat membantu untuk dapat lebih memahami isi buku.

Tautan

Nikolai Gogol

RT alternatif Sumber Berita

Russia Today (RT)

Sejak perang terjadi antara Ukraine – Russia, dan berita mulai semarak di berbagai media pada tahun 2022, hanya saluran tv Russia Today (RT) yang menarik kami nikmati sebagai sumber berita asing. Sesekali channel CGTV (China). Saluran TV berita nasional tak pernah lagi muncul. Bukan karena menolaknya, tapi karena semua berita sudah ramai muncul di sosial media.

Sejak lengsernya Presiden Soekarno, informasi publik didominasi oleh media Barat. Yang turunannya hingga media nasional, pun memberikan berita senada dengan Barat. Seragam. Narasi bisa berbeda, tapi inti berita tetap sama.

Channel RT ini memang corong propaganda Russia. Program Dokumenter yang mengarah pada kesimpulan ketidakadilan dan rasisme Barat seringkali diulang. Sejarah tentang Nazi, dan turunannya yang muncul di Ukraina dan AS, menjadi program penting di channel ini. Video pendukung Nazi yang sedang berbaris dan memberi salam hormat dengan menjulurkan lengan ke depan, lengkap dengan atributnya, terus tayang berulang. Tak lain untuk memberikan persepsi betapa rasisnya Barat.

Komunitas rasis di AS

Siang tadi, program dokumenter channel RT menayangkan sejarah kolonialisasi Mali oleh Perancis dan Congo oleh Belgium.  Diikuti dengan wawancara lelaki seniman lukis Mali yang pernah kuliah di Russia. Menurut sang Pelukis, Perancis tidak peduli dengan kebudayaan asli Mali sehingga bahasa Perancis masih tetap menjadi bahasa nasional. Sedangkan Mali mempunyai empat bahasa daerah. Sang Pelukis mengakui bersyukur pernah kuliah di Russia, sehingga menyadari sepenuhnya bahwa Perancis bukanlah penolong, namun Penjajah. “Russia tidak pernah menjajah Afrika”, ujarnya di RT channel.

Kemudian program dokumenter tentang penguasaan atas minyak Nicaragua oleh Shell, Inggris. Wawancara dilakukan terhadap pengusaha minyak Russia yang merasa dirugikan dengan kebijakan bisnis di Nicaragua, yang menurutnya telah dalam kontrol sepenuhnya oleh Inggris. 

Kehancuran Iraq oleh serangan AS dengan alasan keberadaan instalasi pengkayaan uranium, Nuklir, yang terbukti alasan BOHONG, menjadi video berita yang juga terus muncul di Russia Today channel. Kehancuran suatu negara oleh ambisi kekuasaan Barat, yang beritanya hilang begitu saja. Sejarah kelam dunia yang dilupakan, dan seolah kesalahan kecil belaka oleh AS dengan bungkus ‘pembebasan warga atas kediktatoran Sadham Husein’. Seolah heroik. Lengkap channel RT mendokumentasikannya.

Keterlibatan AS di Amerika Latin dalam kerusuhan politik Peru 2022, tak lepas dari pantauan RT channel. Tentu juga kasus-kasus lama AS dan Barat di berbagai negara Amerika Latin lainnya, seperti El Salvador, Nicaragua, Honduras, Grenada, dll.

  1. History of U.S. interventions in Latin America 
  2. United States involvement in regime change in Latin America

Sejarah dan video serbuan Ukraina ke wilayah Donbas dan Luhank yang mencabik-cabik kehidupan warga pendukung Russia di tahun 2014, termasuk program yang sering tayang ulang. Derita kematian, cedera, kehancuran bangunan, kemiskinan dan kelaparan, sangat mewarnai video tersebut. Tak pernah fakta ini muncul di media berita Barat. Tidak juga muncul di media cetak dan elektronik negeri kita. Fakta tersebut menjadi alasan Russia melakukan invasi ke Ukraina 2022, untuk menyelamatkan warga dan wilayahnya.

Ada acuan bagus dari wartawan senior @ndorokakung di dalam akun Instagramnya. Yaitu, suatu media bisa dianggap kredibel, apabila memenuhi unsur-unsur berikut: Obyektif,  Independen, Responsif, Akurat, Transparan, Lengkap, Akuntabel dan Profesional.

Lalu, benarkah berita-berita di channel RT diatas? Tak penting sekali untuk mengetahui kebenarannya. Kecuali anda memang bermaksud melakukan studi tentangnya. Yang penting adalah, ada berita ‘penyeimbang’ terhadap pemberitaan dari sumber Barat. Sehingga muncul pemikiran kritis bahwa ada fakta lain dari sumber yang berbeda. Ada fakta tak Lengkap yang disampaikan oleh Barat. Ada ke-tidak Transparan-an berita Barat. Tidak Independen. Artinya, ‘kebenaran’ suatu peristiwa konflik antar negara yang hanya didasarkan pada berita media adalah absurd. Naif. Dari kedua sisi, Barat atau Timur, nilai berita-berita tersebut adalah sama. Propaganda belaka. 

Kesimpulan dan Saran

Disarankan untuk lebih sering menikmati channel RT atau CGTV (China). BUKAN untuk membenarkan isi beritanya, tapi untuk mengetahui bahwa ada saling ke-tidak lengkap-an berita dari masing-masing sumber tersebut, Barat ataupun Timur. Sehingga, bisa dianggap bahwa berita dari keduanya tidaklah masuk dalam kategori valid atau kredibel. Oleh karenanya, tak perlulah sibuk berargumentasi mendukung atau mengecam suatu konflik antar negara, apabila hanya berdasar berita yang bersumber dari media cetak atau elektronik manapun. Pada akhirnya, Media Berita adalah alat propaganda semata. Dan Berita, tidaklah berada dalam ruang hampa. Peace.

Tautan

Why is Ukraine the west’s faults?

Keliling Inggris

Berikut ini adalah catatan perjalanan akhir tahun 2022. Barangkali bisa menjadi info yang bermanfaat bagi sahabat semua bila akan melakukan kunjungan ke tempat yang sama.

Perlu diketahui bahwa Visa inggris dijadwalkan oleh Kedubes Inggris akan selesai dalam 7 minggu untuk berlaku selama 6 bulan. Ternyata, 5 minggu sudah jadi itu visa.

Dua hal penting yang ingin kami kunjungi adalah tentang sepakbola dan situs budaya. Lebih penting dari keduanya adalah mengunjungi anak yang sedang libur kuliah. Kota-kota yang kami kunjungi berturut-turut adalah London – Reading – Manchester – Edinburgh (Scotland), melalui wilayah barat. Dan melalui wilayah timur, kembali dari Edinburgh – York – London. Transportasi antar kota yang dipergunakan adalah keretaapi. Kecuali London – Reading, menggunakan bus.

Hari ke-1, Jakarta – Istanbul

Minggu di bulan Desember 2022 penerbangan menuju Heathrow, London dimulai. Paket telkomsel roaming untuk London selama 40 hari mulai aktif jam 02.00 keesokan harinya

Pukul 21.40wib, bandara Soetta Terminal 3, Boeing 777-300 Turkish Airlines TK57. Takeoff. Seat 2J dan 2K.

Makanan dihidangkan dua kali. Dinner dihidangkan setelah kursi dan bantal dipasangkan sarungnya oleh mas pramugara. Dipersiapkan untuk tidur malam. Enak makanannya.

Waktu Turkiye 4 jam lebih lambat.

Hari ke-2, Istanbul – London – Reading

Pukul 5.20 (9.20WIB) pesawat mendarat di bandara Istanbul. Penerbangan Turkish Airlines TK57 mendarat lebih cepat dari rencana 5.55. Hampir 12 jam penerbangan.

Lounge Turkish Airlines di bandara Istanbul luas dan lega. Ramai namun tetap cukup kursi untuk semua penampangnya. Makanan banyak dan bermacam-macam menu. Teh Turki panas dan pekat, dengan gelas kecilnya menjadi target utama. Kenangan saat berkunjung ke Turki, 2018. (?).

8.55 Istanbul Airport. Turkish Airlines TK1979 takeoff menuju Heathrow, London. Pesawat Airbus A330-300. Seat 2A dan 2B. Kabin kecil. Satu baris berisi 6 kursi, 2-2-2. Sementara Boeing 777-300 Jakarta-Istanbul di flight sebelumnya TK57, satu baris berisi 7 kursi, 2-3-2.

9.55 TK1979 mendarat di Heathrow, London. Terminal 2. Istanbul – London membutuhkan 4 jam penerbangan. Cukup jauh jalan dari pesawat ke layanan imigrasi. Mungkin sejauh jarak Gate 25 di Terminal 3, Soetta ke tempat ambil bagasi. 

Bus Heathrow-Reading. Di Stasiun KA, Reading

Proses imigrasi lancar. Petugasnya ramah. Kebetulan bandara Terminal 2 tidak ramai. Hanya 1 belt conveyor yang aktif, membawa bagasi kami. Anak semata wayang sudah menunggu di depan pintu kedatangan internasional di Terminal 2, Heathrow, London. Pertemuan sangat membahagiakan.

Tak lama jalan bertiga, sampailah kami di stasiun bus Heathrow. Bus bagus tertata rapi dengan informasi jurusan masing-masing. Tiket bus bisa dipesan online. Tidak ada antrian untuk jurusan Reading. Sampai di Reading satu jam kemudian. Hanya ada 5 penumpang di dalamnya, tapi bus tetap jalan selalu sesuai skedul. Bus route Reading – Heathrow ini tersedia setiap 30 menit. Entah bagaimana proses bisnisnya. Mungkin masuk kategori layanan publik.

Bus berhenti di Stasiun Kereta Reading. Sejuk terasa saat berjalan kaki menuju hotel. Temperatur 1°C. Jalan kaki 10 menit bertiga, sampailah kami di hotel Roseate. Tempat kami menginap selama di Reading. Hotel kecil, rapi, bagus dan ramah layanannya. Lokasi berada di seberang Reading Abbey Ruins. Situs purbakala peninggalan jaman Raja Henry I.

Hotel The Roseate, Reading

Jam 4 sore matahari mulai tenggelam. Serasa magrib. Dan jam 8 pagi, langit baru mulai terang. Desember memang matahari berada di ujung perputarannya pada 23,5° Lintang Selatan. Jarak terjauh dari Inggris, sehingga sinarnya pun tak sampai 12 jam setiap harinya.

Makan siang di resto Yunani, The Real Greek. Lokasi berada di seberang Oracle River Side. Banyak resto waralaba global di area ini. 

Hari ke-3, Reading

Lingkungan Reading University

Sarapan di hotel Roseate, pesan Royal Benedict, yang isinya  dua roti panggang, masing-masing ditumpuk dengan salmon, telur rebus setengah matang dan saos rasa asin asam. Dan teh kental panas penghangat badan. 

Dengan bus kota, menuju apartemen anak di lingkungan kampus Reading University. Lanjut jalan-jalan sekitar kampus Henley Business School, tempat kuliah S2 anak. Sempat ngopi di Starbucks. Luas, tenang, hijau berarsitektur modern. Kereenn .. Alhamdulillah

Makan siang di resto waralaba Nandos, pinggir sungai Kennet, dekat gedung Oracle. Ayam panggang berasa asam, asin, pedas. Disajikan dengan jagung bakar manis. Menu masakan Portugal. Enak

Buku “Being You”, karya Anil Seth menjadi buku pertama yang kubeli dari toko buku Waterstone di Broad st., Reading. Sebagai kenangan, namun juga bagus isinya.

Hari ke-4, Reading

Suhu udara -1°C. Sarapan di resto hotel Roseate. Ambil salmon, semangka dan nanas. Minum jus jeruk dan teh panas tawar.

Reading Abbey Ruins

Keluar hotel mampir di Reading Abbey Ruins, depan hotel. Situs puing-puing sisa bangunan 900 tahun yang lalu, jaman raja Henry I. Lanjut dengan bus kota double decker menuju stadion Reading Football Club untuk mencari pernak-perniknya. Beberapa jersey Reading FC masuk dalam daftar belanja.

Hari ke-5, Reading – Manchester

Suhu udara Reading terbaca -7°C. Errgghhh … Sarapan, tetap dengan menu Royal Benedict. Lanjut jalan ber 3 menuju stasiun kereta Reading. Kereta “Cross Country Trains” berada di platform 8A. Sedikit ditunda pemberangkatan kereta menuju Manchester karena gangguan teknis. Kereta nyaman, bersih dan tanpa goncangan. Tiga kursi di setiap barisnya, dan total ada 20 kursi. Kami bertiga di Coach A, kursi 4A, 5A dan 8A. Sedikit kritik, ruang bagasi di atas kursi tidak muat untuk koper kabin. Dan ruang untuk bagasi koper besar di sebelah pintu gerbong, hanya muat  5 kopor besar. Terpaksa, simpan kopor besar di bawah kursi .. kaki terganggu.

Dari Reading, route kereta melewati beberapa kota ini: Leamington – Coventry –  Birmingham – Wolverhamton – Stafford – Stoke on Trent – Macclesfield – Stockport. Dan sampai di stasiun Manchester pukul 15.00. 

Jalan 10 menit dari stasiun kereta, sampailah di Staycity aparthotel. Desain minimalis, bersih. Satu flat tersedia 2 kamar tidur di dalamnya, masing2 tersedia satu tempat tidur king size. Ruang makan/sofa berada satu ruangan dengan mesin cuci dan dapur kering. Sempurna.

Simpan barang di kamar 410, lalu keluar untuk cari makan. Sekitar hotel banyak cafe dan resto. Kami menemukan resto Asia berlabel halal, “RICE resto”. Menyajikan masakan indonesia (nasi goreng), Jepang, Thai, China. Lanjut belanja cemilan. Kembali ke hotel.

Hari ke-6, Manchester

Tujuan hari ini adalah kunjungan ke Manchester United FC. Ini adalah bagian dari misi prioritas ke Inggris. Selain mengunjungi anak dan melawat ke Edinberg.r

Tram tujuan Pomona menjadi pilihan transportasi untuk membawa kami ke Old Trafford. Markas Manu FC. Kebetulan stasiun tram hanya 5 menit jalan kaki dari hotel tempat kami tinggal. Dari shelter Pomona, masih perlu jalan kaki kira-kira 15 menit untuk sampai di stadion Manu FC.

Gedung tinggi besar bertingkat 12, berwarna hijau  bertuliskan “Manchester United” terpampang merah jelas di atasnya. Terlihat mencolok di lingkungannya, gagah megah. Membanggakan, bagi mereka yang terlibat di dalamnya, maupun para pendukungnya yang tersebar di berbagai belahan dunia. 

Di depan gedung, berdiri patung 3 pemain besar Manu FC, yaitu George Best, Denis Law dan Sir Bobby Charlton. Mereka bersama berhasil membawa piala Liga Champion 1968 untuk pertama kalinya bagi MANU FC. Mereka bertiga tersohor dengan sebutan The United Trinity.

Tiket £35 per orang membawa kami dalam tour ke dalam museum dan berbagai lokasi kegiatan persepakbolaan MANU. Dan yang utama tentunya merasakan duduk di kursi penonton stadion Old Trafford. Guide senior menemani kami melihat museum, yang di dalamnya terpajang piala-piala kemenangan MANU, foto/poster para pemainnya sejak tahun baheula hingga era Fernandez. Kamar ganti kostum, kamar mandi, kamar cek doping, ruang konferensi pers dan terakhir para wisatawan sempat dipimpin oleh Guide untuk memperagakan berbaris memasuki stadion pertandingan. Seolah siap bertanding. Industri olahraga sepakbola yang mengagumkan. Luarbiasa.

Acara terakhir di stadion adalah makan siang di cafe MANU, lantai 3. Lanjut belanja pesanan kerabat di toko cenderamata MANU. 

Hari ke-7, Manchester

Masih tentang bola, kunjungan kami kali ini adalah National Football Museum. Museum ini banyak menyimpan dan memajang foto, video dan barang-barang persepakbolaan Inggris, seperti piala, kostum, sepatu dan bola yang dipergunakan para pemain sepakbola Inggris, sejak akhir abad 19. Menarik untuk bisa merasakan suasana gegap-gempita fanatisme para pendukung sepakbola, melalui video layar besar. Meskipun belum berwarna, alias hitam-putih.

Manchester City FC sebagai rekan sekaligus kompetitor satu kota dari Manchester United FC, menjadi target selanjutnya kunjungan utama hari ini.  Stadion MC sangat mudah dijangkau menggunakan tram. Stasiun tram berada dalam lingkungan stadion. Beberapa cenderamata pesanan kerabat, masuk dalam kantong plastik kami, berlogo Manchester City.

Hari ke-8, Manchester – Edinburgh

Scott Monument (Foto: ASK)

Kereta Traspennine Express siap membawa kami bertiga ke Edinburgh. Berangkat direncanakan pukul 10.26 GMT dari stasiun kereta Mancester Piccadilly. Tiket menunjukkan tempat duduk kami di Ciach E,  kursi 9, 10 dan 11. 

Route kereta melewati kota-kota berikut ini: Preston – Lancaster – Ocenholme – Penrith – Carlisle – Lockerbie – Edinburgh.

Kincir angin sebagai pembangkit listrik, banyak terlihat beroperasi di perbukitan, sebelum masuk kota Edinburgh.

Sepanjang perjalanan terlihat daratan, mobil dan atap rumah memutih oleh salju. Serta pepohonan yang meranggas. Suhu udara 1°C.

Sampai di stasiun Edinburgh sekitar pukul 13.40. Jarak dari stasiun ke hotel sebetulnya dekat, namun karena sedang ada pembangunan infrastruktur maka akses menuju hotel ditutup. Sehingga harus jalan sedikit lebih jauh untuk sampai di hotel.

Royal Mile (Foto: ASK)

Jam 19.00, setelah menonton final FIFA World Cup Argentina vs Perancis, yang dimenangkan Argentina melalui adu penalti,  menyempatkan diri keluar hotel Scott Monument.

Monumen ini dibangun oleh arsitek Kemp tahun 1844 sebagai penghargaan untuk Sir Walter Scott, sastrawan puisi, novelis, sejarawan, biographer, yang meninggal tahun 1832 (61 tahun). Ketinggian menara ini adalah 61 meter. Sayang sekali  menara gothic bersejarah yang indah ini berada dalam lingkungan yang ‘rusuh’, tak tertata apik. Arena bermain atau pasar malam. Sulit untuk dapat fokus mengambil gambarnya. Akan jauh berbeda bila monumen ini berada dalam lingkungan taman, sehingga fokus hanya padanya.

Di waktu malam, bila kita menghadap selatan ke atas bukit, dari Scott Monument, akan terlihat bangunan kubah dengan terang lampu warna-warni, yaitu Museum on the Mound. Indah.

Hari ke-9, Edinburgh

Edinburgh Castle di puncak bukit

Acara hari ini ke Grass Market via Royal Mile. Grass Market sebetulnya adalah “pasar kaget” yang hanya buka dihari Sabtu dan Minggu. Selain itu, area Grass Market ini juga banyak toko cinderamata dan cafe, dengan harga relatif murah. Yang juga menarik, disini ada spot foto bagus ke Edinburgh Castle di puncak bukit.  

Jalan Royal Mile masuk dalam area Old Town. Berbahan dasar batu hitam, mengkilat halus, bersih. Menakjubkan. Ini area wisata yang wajib dikunjungi, selain Edinburgh Castle dan Scott Monument. 

Di area ini banyak bangunan lawas berdinding batu tebal berwarna abu-abu gelap atau coklat, berarsitektur era raja-raja Scotland, dari masa  berabad-abad yang lalu. Juga banyak patung tembaga (?) berwarna hijau. Kecuali patung Sir Walter Scott berwarna putih, di dalam monumen Scott di jalan Prince st.

Cafe dan toko cinderamata juga banyak di Royal Mile. Yang paling ramai dikunjungi wisatawan adalah Museum Harry Potter. Disini dijual banyak barang yang berhubungan dengan buku/film Harry Potter. Perlu dikunjungi.

Edinburgh adalah kota kecil, dan semua obyek wisata yang menarik, bisa dikunjungi dengan jalan kaki. Dari hotel Hilton, rata-rata hanya membutuhkan 10-15 menit saja. Atau, visa dicapai dengan menggunakan bus wisata keliling kota., “hop on, hop off“.

Edinburgh ini mungkin bisa disamakan dengan Yogya. Wisata budaya menjadi andalan. Bedanya, bangunan di Edinburgh terasa sekali nuansa zaman kerajaan. Gedung-gedung tua masih terawat dan berfungsi dengan baik. Gereja, gedung parlemen, museum dan gedung-gedung lainnya terlihat dalam desain sejenis. Berdinding batu keras warna coklat gelap, berpintu besar dan beratap tinggi. Lega rasanya. Bahkan hotel-hotel baru pun banyak yang berarsitektur sebelum abad 20.

Hari ke-10, Edinburgh

Tujuan pertama pagi ini ke National Museums Scotland, di Chamber st. Museum besar, 5 lantai. Memajang artefak fosil binatang purba, hingga teknologi robotik. Budaya Eskimo dengan kereta salju dan kostum kesehariannya, hingga keahlian masyarakat Aborigin, Australia membuat patung. Menarik.

Palace of Holyroodhouse (foto: ASK)

Lanjut ke Camera Obscura, tapi sold out. Batal. Jalan naik sedikit sampailah kami di pelataran Edinburgh Castle. Sama, gak bisa masuk. Sold Out. Ramai sekali wisatawan. Setidaknya bisa sampai di tujuan utama wisata budaya Edinburgh, yaitu Edinburgh Castle.

Perjalanan dilanjutkan menuju Palace of Holyroodhouse. Istana yang luas, di pinggir kota dan terlihat megah kokoh berdiri ini, dikelilingi oleh pagar jeruji besi tinggi. Sayang sekali, banyak hal bersejarah ingin dilihat di dalamnya, namun istana hari itu ditutup dan hanya bisa melihatnya dari luar pagar. Lingkungan taman hijau sangat terawat. Yang tersohor menghuni istana ini adalah Ratu Mary, yang hidup pada tahun 1561-1567. 

Sudah jam 3 sore, lanjut angkat kaki menuju National Monument of Scotland. Dibutuhkan 30 menit jalan kaki, mendaki. Berada di puncak dataran tinggi Calton Hill, dan sudah tersedia tangga permanen untuk mendakinya. Desain monumen terinspirasi puing Parthenon di Athena, Yunani. Didesain tahun 1823-6 oleh Charles Robert Cockerell and William Henry Playfair.

National Monument of Scotland (foto: ASK)

Alhamdulillah, setidaknya beberapa obyek utama dari obyek-obyek wisata budaya yang ada di Edinburgh sempat dikunjungi, yaitu: 

Scott Monument,

Royal Mile dan Grass Market

St Giles’ Cathedral

National Museums Scotland

Palace of Holyroodhouse dan 

National Monument of Scotland

Semua obyek wisata tersebut telah dikunjungi dengan jalan-kaki, karena lokasinya memang tidak cukup jauh. Dari hotel Hilton, masing-masing objek tersebut bisa dicapai kurang dari 20 menit. Dengan suhu udara tidak lebih dari 8°C, cukup untuk menghangatkan tubuh. Masih banyak objek wisata yang masih bisa dinikmati di Edinburgh. Sampai jumpa lagi Edinburgh. Semoga diberi kesempatan lagi olehNya. Amin. 

Hari ke-11, Edinburgh – York

Kereta London North Eastern, Coach K, seat 28, siap membawa kami ke kota York pada pukul 11.00 dari stasiun kereta Edinburgh. Kereta bagus dan bersih. Ruang bagasi, kecil. Namun rak bagasi diatas kursi penumpang, cukup lega untuk menyimpan kopor kabin. Untungnya, ini kereta memang awal berangkatnya dari Edinburgh, sehingga ruang bagasi masih cukup lega untuk menyimpan barang. 

KA London North Eastern

Setelah 40 menit kereta jalan, sebelah kanan rangkaian kereta adalah lautan North Sea. Masih musim dingin, tapi salju sudah meleleh. Suhu 5°C.

Mendekati kota Morpeth, di sebelah kiri terlihat ladang rumput luas dengan beberapa kincir angin pembangkit listrik berwarna putih. Kontras. Indah

Pukul 13.30 kereta memasuki stasiun York. Jalan tak sampai 10 menit, sampailah kami di hotel Grand York. Eksterior hotel seperti lazimnya gedung lama berdinding batu bata merah tebal dengan satu pintu masuk kecil. Kokoh bersih. Interior hotel berkesan antik, dengan meja receptionist kecil, menghadap pintu masuk. Ada lagi ruang receptionist yang lebih lapang di bagian dalam. Interior kamar terkesan mewah dan luas dengan plafon kamar tinggi (6 m?) Dan jendela lengkung besar, layaknya gedung era kolonial. Kerennn ..

Sore itu kami sempat makan di resto China, di sekitar hotel. Menu nasi goreng ikan asin dan bihun seafood menjadi pilihan kami. Enak mengenyangkan.

Lanjut kami jalan ke jalan Shambles, area pertokoan berjalan sempit. Ramai sekali pengunjung. Salah satu toko yang ramai dikunjungi wisatawan adalah “The Shop That Must Not Be Named”. Itu adalah toko yang menjual atribut-atribut Harry Potter. Laris sekali. 

Di area tersebut juga ada toko pembuat sekaligus penjual Coklat, “Chocolate Story”. Banyak kreasi Coklat nikmat dijual disini. Bungkus beberapa.

Hari ke-12, York

York Minster di belakang

Setelah sarapan pagi yang menyimpan banyak kalori, kami berangkat jalan-jalan menuju York Castle Museum, melewati York Minster. Gereja katedral Katolik Roma. Merupakan salah satu katedral Gothik terbesar di Eropa Utara, setelah Katedral Köln. Pembangunan gedung yang ada saat ini dimulai sekitar tahun 1230 dan diselesaikan pada tahun 1472.

Sambil terus jalan kaki dibawah hujan gerimis, sampailah kami di York Castle Museum. Berbayar. Selain berisi sejarah Inggris, ada juga area bermain anak-anak. Tidak besar museum ini dan rasanya tidak cukup “serius” barang-barang bersejarah di dalamnya, bila dibandingkan dengan National Museum di Edinburgh. Barang peninggalan Perang Dunia I banyak disajikan dalam museum ini.

Hari ke-13, York – London

Kereta London North Eastern, Coach L bertempat duduk di no. 41, 42 dan 43 membawa kami menuju London King Cross. Berangkat 10.58 dan sampai di tujuan 12.49. Dua jam perjalanan. Taksi membawa kami ke London Marriott Hotel, County Hall. Hanya beberapa meter dari Westminster Bridge. Kamar Suit 320 cukup lega untuk kami bertiga. Tersedia dua tempat tidur berukuran Queen dan satu bed sofa. Kamar menghadap sungai Thame dan London Eye tepat berada di depan jendela kamar. 

Big Ben dan Westminster Hall. Dari Westminster Bridge

Ditemani keponakan yang sudah seperti anak sendiri dan sedang kuliah art entrepreneurship di London, Dira, kami berempat jalan ke The Westminster Shop. Toko yang berada persis di di sebelah gereja gothic Westminster Abbey ini, menjual banyak cindera-mata. 

Sebelum waktu makan malam di resto The Grill, yang lokasinya berada di dalam mall Harrods, kami berjalan-jalan keliling dalam mall. Saat makan malam, bergabung juga pacar dari keponakan kami, Arik. Yang sedang kuliah hukum S2 di London. Makan malam menyenangkan bersama anak-anak muda.

Hari ke-14, London

Sarapan pagi di hotel dengan cara memilih paket menu yang ditawarkan oleh restonya. Tidak ada pilihan buffet style seperti lazimnya sarapan di hotel. Roti bakar, smoked salmon dan fresh fruits yoghurt, jadi pilihan pesanan. Kenyang.

Lanjut gunakan taksi bertiga ke Emirates Stadium, milik Arsenal. Berfotoria di depan stadion dan sedikit belanja cinderamata untuk oleh-oleh.

Di depan Buckingham Palace

Menggunakan taksi, lanjut kunjungan ke Notting Hill, untuk melihat lokasi pembuatan film “Notting Hill”, yang dibintangi oleh Hugh Grant dan Julia Roberts, di tahun 1999. Film romans ringan yang enak ditonton. Ada dua lokasi shooting, yaitu toko buku milik William Thacker (Hugh Grant) di jalan Blenheim Cres dan apartemen kecil, tempat tinggal Thacker, the Blue Door di jalan B412.

Dengan menggunakan tram, kami menuju Buckingham Palace. Turun di Piccadilly. Jalan kaki sambil window shopping. Berfotoria di Buckingham Palace. Lanjut jalan kaki menuju Trafalgar. Ramai sekali. Banyak kedai kue donut berjajar di pinggir plaza Trafalgar. Cukup nikmat di udara dingin. Jam 16.00 matahari mulai tenggelam. Lebih dari 10.000 langkah kami berjalan kaki hari itu. Sehat pegal. Puas

Hari ke-15, London

Tepat di hari Natal ini, acara kami adalah mencari resto Indonesia. Tidak ada target kunjungan wisata. Selain hanya ingin mengulang foto di depan jalan Downing Street. Ada tiga resto Indonesia ditemukan di Google, yaitu Rasa Sayang (Malaysia), Nusa Dua dan Bali Bali. Nusa Dua menjadi pilihan. Sepanjang jalan menuju area Pecinan, semua pertokoan dan resto tutup. Untung, jam 11.00 resto Nusa Dua sudah buka, dan masih sepi. Pesan Soto Lamongan, Mie Bakso, Nasi Goreng, Tempe Goreng dan Laksa. Lumayan, mengenyangkan porsinya.

Hari ke-16, Stonehenge, Windsor Castle dan Bath

Windsor Castle

Melalui online booking beberapa hari sebelumnya, kami bertiga berangkat ke Victoria Coach Station, stasiun bus, untuk one day trip ke Stonehenge, Windsor Castle dan Bath. Hari masih gelap, jam 7 pagi. 

Windsor Castle termasuk castle terbesar di dunia. Lebih sering menjadi tempat tinggal Ratu Elisabeth 2, daripada Buckingham Palace. Dibangun mulai abad ke-11 den kemudian direnovasi dari masa ke masa. Dipergunakan sebagai istana kerajaan sejak raja Henry I (1100–1135). Sejarah Raja Henry VIII dengan drama 4 istrinya dan keluarnya Inggris dari Katolik Roma, ada di castle ini. Juga, Raja Henry VIII (1491-1547) dimakamkan disini. Istri keduanya, Anne Boleyn, tewas dipenggal kepalanya. Film The Tudors, menceritakan kisah tragis Inggris awal abad ke-16 ini.

Sempat mampir di Krispy Kreme, untuk sarapan donat dan coklat panas.

Stonehenge

Stonehenge. Para pengguna Windows operating system di akhir tahun 90an, tentu ingat OS Windows98. Nah .. disitu ada screensaver gambar Stonehenge. Entah apa kisah sebenarnya dari tumpukan beberapa batu besar tua melingkar ini, namun faktanya memang masih ada disana. Guide sejarawan Inggris yang menemani kami pun tidak bisa memastikan kisah sebenarnya. Di tengah padang rumput Salisbury, dengan morfologi sedikit bergelombang, tiba-tiba muncul batu-batu besar tersusun dalam format melingkar bertumpuk. Dari info uji umur karbon tulang-tulang manusia yang ditemukan di bawahnya, diduga berasal dari tahun 3000-2000 BC. Informasi terbaru tentang Stonehenge, bisa diperoleh on-line dari aplikasi Gramedia Digital, majalah National Geographic edisi bahasa Indonesia, Agustus 2022.

Bath Abbey (Foto: ASK)

Bath. Adalah kota kecil yang menjadi world heritage WHO. Karena ini adalah pusat kota lama Inggris. Banyak bangunan masih berarsitektur Roman, bergaya palladianism.

Di Bath ini terdapat bangunan gothic lawas abad ke-7, yang kemudian diperbaiki berturut-turut di abad ke 10, 12 dan 16, yaitu gereja Bath Abbey. Masih berfungsi dengan baik.

Masih ada waktu 1 jam. Cukup bagi kami untuk makan di resto.

One day trip ke Windsor Castle, Stonehenge dan Bath, ini diawali dengan keberangkatan dari Coach Victoria bus station, London pukul 8.00 pagi dan kembali di tempat yang sama pada pukul 19.00. Puass

Pulang dengan bus kota, mampir beli makan malam di Subway.

Hari ke-17 London – Jakarta

Pukul 11.45 turun dari kamar 330 hotel Marriot, Weatminster untuk checkout menuju Terminal 2, bandara Heathrow. Turkish Airlines membawa kami pulang ke Jakarta. Tidak ada pemeriksaan imigrasi. Hanya pemindaian boarding pass saat memasuki bandara, setelah check in penerbangan. Berpisah dengan anak di bandara, untuk melanjutkan studinya disana. Semoga sukses lancar dan menyenangkan kuliahnya ya nak. Amin


Tautan video

  1. Windsor Castle – The Queen’s Royal Residence
  2. Mysterious history of Stonehenge
  3. Visit Bath
  4. Windsor, Stonehenge and Bath


Toko Harry Potter, York

Donut di Trafalgar, London

Banking on Beijing

Disclaimer

Kata “Penulis” dalam tulisan dibawah ini dimaksudkan sebagai “Penulis Buku”.

PEMBUKA

Dalam Kongres Nasional Partai Komunis China ke-19, Oktober 2017, Presiden Xi Jinping menyatakan, 

“blaz[ed] a new trail for other developing countries to achieve modernization” and that “[i]t offers a new option for other countries … who want to speed up their development while preserving their independence.” (Bab 5).

Selanjutnya, dalam pidatonya di tahun 2017, Presiden Xi menyatakan bahwa 

“[w]e will … strengthen international cooperation on anticorruption in order to build the Belt and Road Initiative with integrity.”

Kalimat dalam editorial majalah the Economist, edisi 15-21 Oktober 2022, halaman 13 bisa mewakili cara pandang China terhadap persepsi Barat, yang sering menggunakan norma sendiri untuk mengukur sikap dan tindakan bangsa lain.

Mr Xi’s aim is not to make other countries more like China, but to protect China’s interests and establish a norm that no sovereign government need bow to anyone else’s defini­tion of human rights.

Berita harian Bisnis.com berjudul “Jokowi Bertemu Xi Jinping, Segini Total Investasi China di Indonesia” menyebutkan bahwa China menduduki peringkat kedua sebagai investor asing terbesar pada semester I tahun 2022, setelah Hongkong. Tercatat US$3,6 miliar atau meraih porsi 16,8 persen dari total investasi yang masuk selama semester I/2022. Proyek Nasional atas biaya China sudah masuk negeri kita ini sejak pembangunan Waduk Jatigede, Jalan Tol Medan-Kualanamu hingga Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Tak faham tentang siapa lebih diuntungkan dalam kerjasama dengan China, buku Banking on China. The aims and impacts of China’s Development Program ini bisa sedikit memberi pencerahan. Dari kacamata Barat tentunya. Berikut ini disampaikan inti tulisan dan opini beberapa Bab dari buku ini.

Buku ini ditulis oleh 5 orang peneliti, yaitu: 

  1. Axel Dreher is Professor of International and Development Politics, Universität Heidelberg, Heidelberg, Germany. He is also a Fellow at CEPR, CESifo, and AidData.
  2. Andreas Fuchs is Professor of Development Economics and Director of the Centre for Modern East Asian Studies at the Georg-August-Universität, Göttingen, Germany. He is also Director of the Kiel Institute China Initiative.
  3. Bradley Parks is the Executive Director of AidData, a research lab at William & Mary, Virginia. He is also a Non-Resident Fellow at the Center for Global Development.
  4. Austin Strange is an Assistant Professor of International Relations at The University of Hong Kong.
  5. Michael J. Tierney is Professor of Government and Director of the Global Research Institute at William & Mary, Virginia. 

Sistematika penyajian

  1. Alasan ditulisnya buku ini menjadi ulasan panjang dalam BAB 1. 
  2. Kemudian dilanjutkan dengan sejarah Bantuan Pembiayaan China pada BAB 2. 
  3. Metode kompilasi data pembiayaan China di abad 21 disajikan pada BAB 3. 
  4. Bab-bab selanjutnya adalah penjelasan terhadap berbagai pertanyaan, misalnya pada BAB 4, seperti apakah status program pembangunan global China? Atau, negara manakah dan sektor apakah yang menerima bantuan dana China? Apakah kategori Aid atau Loan? 
  5. Kemudian BAB 5 adalah, faktor-faktor apakah yang mempengaruhi alokasi bantuan China ke berbagai negara di dunia? Dan, bagaimana bila motif tersebut dibandingkan dengan para pendonor tradisional atau kreditor, seperti World Bank? 
  6. Lalu di BAB 6, apa yang menentukan alasan perbedaan alokasi bantuan pembangunan China di berbagai wilayah dalam suatu negara? Apa bedanya dengan alokasi bantuan dana dari World Bank? 
  7. Kemudian di BAB 7 adalah penjelasan dari pertanyaan: bagaimana dampak pertumbuhan ekonomi dan hasil dari berbagai pembangunan yang berasal dari bantuan pembangunan China? Apakah dampak ekonomi dari pembiayaan pembangunan China yang bermotivasi politik, akan berbeda hasilnya secara signifikan, daripada jenis bantuan pembangunan Tiongkok lainnya? 
  8. Dan pada BAB 8 disajikan penjelasan terhadap pertanyaan, apa dampak bantuan China terhadap isu korupsi, konflik sosial, lingkungan, demokrasi? Bagaimana tingkat keefektifan bantuan dari Barat? 
  9. Akhirnya di BAB 9 adalah pendapat penulis tentang bagaimana China perlu melakukan rekonsiliasi terhadap aturan dan standar pembangunan internasional atau Barat.

LATARBELAKANG PENELITIAN

Negara-Negara penerima Bantuan Proyek Pembangunan China, 2000-2014 (ref. Banking on Beijing)

Penulis meneliti isu terkait tujuan dan dampak bantuan pendanaan China, yang berupa Pinjaman (lending) dan Hibah (aid), untuk proyek-proyek di negara-negara sedang berkembang. Analisis data dilakukan sebanyak 4500 proyek, senilai $358 milyar, di 138 negara, selama 15 tahun. Pendanaan dari China banyak ditujukan ke negara-negara di Afrika, semenanjung Arab, Asia Tengah, Afghanistan, Pakistan, Srilangka, juga Indonesia, dll. Informasi rinci tentang Hibah/Pinjaman dari China untuk Pembangunan di negara Srilanka, Tanzania dan Pakistan banyak disampaikan dalam buku ini.

Analisis data dimaksudkan untuk mengetahui beberapa hal. Diantaranya adalah tentang motivasi Bantuan. Apakah kemanusiaan atau komersial? Bagaimana skema bantuan diberikan? Bagaimana dengan risiko dan keuntungan negara penerima bantuan? Apa perbedaan dan persamaan dengan bantuan dari lembaga donor atau negara Barat?

Pengumpulan dan kompilasi data untuk kebutuhan penelitian ini, dilakukan oleh Aiddata, William & Mary’s Global Research Institute. Salah satu penulis buku ini adalah Direktur Eksekutif Aiddata, Bradley Parks.

Kalimat pembuka di halaman pertama buku ini bisa menjadi Pengantar bagi para pembaca untuk memperkirakan isi bukunya :

China is now the lender of first resort for much of the developing world, but Beijing has fueled speculation among policymakers, scholars, and journalists by shrouding its grant-giving and lending activities in secrecy.

Sejak bab pertama dalam buku ini, secara tersurat sudah menunjukkan prasangka buruk Penulis terhadap maksud pemerintah China untuk membantu pembiayaan pembangunan ekonomi negara-negara sahabat. Dan ternyata memang prasangka buruk itulah motif utama penelitian dilakukan. Yang kemudian berusaha dibuktikannya pada bab-bab berikut, dengan analisis statistik berdasar data yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

Beberapa kutipan berita negatif yang disadur dalam Bab I buku ini misalnya, 

  • “praktek bantuan China melemahkan negara penerima karena menyuburkan korupsi, menguasai industri ekstraktif, dan melanggengkan hutang”.
  • “China sudah menggelontorkan cadangan mata-uang asingnya sebesar $3 triliun sebagai bantuan pembiayaan pembangunan, untuk menguasai pengaruh politik global”.
  • “China membantu pembangunan infrastruktur pemutar roda ekonomi negara-negara sahabat, seperti jalan raya, kereta api, jembatan dan bendungan, dengan lebih mengutamakan pada kecepatan pembangunan daripada kualitas, mengabaikan isu lingkungan, sosial, keselamatan kerja serta lemah pada sistem pengawasan dan evaluasinya”.
  • Pembiayaan oleh bank di Beijing secara ekonomi tidaklah efisien. Namun diakui bahwa memang dibutuhkan untuk keperluan pembiayaan proyek-proyek besar.
  • China adalah rekanan pembangunan yang pragmatis, dan berusaha mendapatkan beragam kepentingan ekonomi dan politik. 
  • Dll.

Tahun 2013, President Xi Jinping mencanangkan Belt and Road Initiative (BRI). Dan menggelontorkan US$1 triliun, untuk program pembiayaan infrastruktur global.

Dana besar Beijing untuk pendanaan pembangunan bagi negara-negara sahabat berpendapatan rendah-sedang tersebut, menjadikan kekhawatiran AS dan sekutunya. 

Just fifteen years ago, China was a net recipient rather than a net donor of aid. So, how did we get here?” 

Sehingga pada Oktober 2018, Dewan Perwakilan AS memberlakukan BUILD (Better Utilization of Investment Leading to Development), yaitu institusi finansial pendanaan pembangunan, untuk bersaing dengan China di seluruh dunia. Dan pada September 2019, mereka menggelontorkan US$375 Juta untuk bantuan “Countering Chinese Influence”.

Pada tahun 2019 itu juga, Jepang dan Australia bergabung dengan AS mencanangkan “Blue Dot Network”, untuk menghadapi BRI (Belt and Road Initiative). Mereka membentuk jaringan kerjasama untuk menerapkan sertifikasi kualifikasi proyek sehingga bisa mendapatkan bantuan pendanaan di wilayah Indo-Pasifik dan seluruh dunia. Kelayakan pasar, transparansi dan keberlanjutan finansial pembangunan infrastruktur menjadi perhatian penting.

Tahun 1980-1990an, China bersikap low-profile dalam kebijakan investasi atau pembiayaan asingnya. Deng Xiaoping mencanangkannya sebagai prinsip “hide your capabilities, and bide your time”. Namun berubah di tahun 1999 setelah Beijing mencanangkan strategi “Going Out”. Bank milik pemerintah China – China Eximbank dan China Development Bank – ditugasi untuk membantu perusahaan-perusahaan China di luar negeri supaya mampu berdiri kokoh dan sanggup bersaing di pasar global. Mulai agresif.

Strategi Going Out ini diberlakukan karena kondisi ekonomi yang perlu mendapat perhatian Beijing, yaitu:

  • Industri domestik China sedang mengalami masalah over produksi. Perusahaan-perusahaan baja, besi, semen, aluminium dan kayu, tidak efisien dan merugi.
  • Oversupply mata-uang asing. Surplus perdagangan tahunan menyebabkan cepatnya pertumbuhan cadangan mata-uang asing, sehingga berisiko instabilitas makro-ekonomi (inflasi atau revaluasi mata-uang). Oleh karenanya, Beijing berharap bisa menempatkan kelebihan dollar dan euro di outlet-outlet luar negerinya yang produktif.
  • Untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi domestik yang tinggi, China perlu untuk menambah kecukupan sumberdaya alam. Sehingga bank-bank nasional diwajibkan membantu proyek-proyek di luar negeri yang fokus pada industrial, infrastruktur, dan akuisisi sumberdaya alam.

Setelah 15 tahun (2000-2014) menjalankan strategi Going Out, pengeluaran China untuk pembangunan di luar negeri meningkat pesat. Sumbangan dan pinjaman tanpa bunga ke dunia yang sedang berkembang, banyak diberikan dalam mata-uang Renminbi. Berjalannya waktu, perilaku Beijing mulai berubah. Dari Benefactor bergeser kearah Banker, yang memberi pinjaman dengan bunga harga pasar.

Untuk mengatasi masalah kelebihan produksi, kelebihan mata-uang asing dan kekurangan akses sumberdaya alam, perbankan Beijing memberlakukan kebijakan:

  1. Pinjaman dengan mata-uang asing, berbunga mendekati harga pasar
  2. Mewajibkan para peminjam luar negeri untuk memenuhi keperluan industrinya, seperti baja dan semen, supaya membeli dari China
  3. Mempermudah Pembayaran Hutang dengan menggunakan pendapatan dari penjualan komoditi ke China

Setelah tahun 2000, pengeluaran Beijing untuk Bantuan Pembangunan luar negeri berbunga rendah (Aid) semakin berkurang. Sebaliknya pemberian Pinjaman (Debt) semakin bertambah. Hanya 23% dari total pengeluaran luar negeri China selama tahun 2000-2014 yang masuk dalam kategori Bantuan (Aid), menurut definisi OECD-ODA (Organisation for Economic Co-operation and Development’s – Official Development Assistance). Sebaliknya, dalam rentang waktu yang sama, anggota Development Assistance Committee (DAC), berasal dari negara-negara industri Barat (termasuk Jepang dan Australia) yang menguasai pasar finansial pembangunan internasional, telah mengeluarkan total 90% dari belanja luar negerinya untuk keperluan ODA (Official Development Assistance). 

Sayangnya, buku ini hanya menyajikan Angka Bantuan diatas, hanya dalam format Persentase saja. Tidak termasuk Angka Nominalnya. Berapa besar angka Bantuan negara-negara Barat? Apakah lebih besar dari pengeluaran China?

Munculnya kontroversi di kalangan jurnalis, politisi dan peneliti tentang program Bantuan Pembangunan luar negeri China ini, menurut Penulis karena adanya kesulitan membedakan antara proyek-proyek yang dibiayai dengan gratis atau bunga rendah (Aid), dengan proyek-proyek yang dibiayai oleh Pinjaman berbunga pasar atau mendekati bunga pasar (Debt). 

Lebih jauh, Penulis mencurigai bahwa niat baik China hanyalah bungkus untuk maksud tersembunyi lain, yaitu:

  • Membeli loyalitas penguasa korup dan rejim otoriter penerima bantuan
  • Mengeksploitasi sumberdaya alam tanpa memperdulikan dampak lingkungan
  • Membuat keuntungan finansial yang tidak adil, untuk kepentingan perusahaan China di pasar global 

Pemerintah China dianggap tidak cukup transparan dalam mengelola Pendanaan Pembangunan Luar Negeri. Penulis beranggapan bahwa ini karena:

  1. Sebagai negara Komunis, otoritas Pemerintah China jauh lebih powerful daripada negara-negara OECD-DAC (Organisation for Economic Co-operation and Development – Development Assistance Committee) yang mengedepankan prinsip demokrasi. Tuntutan informasi publik terhadap belanja pemerintah yang akuntabel, rinci, akurat dan komprehensif, tidak cukup kuat.
  2. China tidak cukup mendapat dukungan politik untuk bisa bersikap terbuka untuk mengekspose kebijakan pembiayaan pembangunan di luar negeri. Juga kurang mendapat dukungan publik untuk program Bantuan Asing ini. Hanya 23% responden survey di China mendukung adanya Bantuan Asing tersebut
  3. Sistem Statistik dan Database China untuk pengawasan portofolio Bantuan dan Pinjaman Luar Negerinya, tidak cukup bagus. 

Ada juga anggapan Penulis, bahwa bila dari negara penerima Bantuan diharapkan untuk bisa mendapatkan kebijakan luar negeri yang menguntungkan, maka China akan memberi skema pembiayaan Pinjaman Tanpa Bunga atau bahkan Hibah (Aid). Sedangkan bila yang diharapkan adalah pengembalian investasi maksimum atau mendapatkan Sumberdaya Alam, maka digunakan instrumen pembiayaan komersial, seperti Pinjaman dengan Bunga Pasar atau sedikitnya mendekati Bunga Pasar.

Terlepas dari perbedaan dan kesan negatif terhadap maksud dan tujuan Bantuan Asing dari China, ternyata ada kesamaan antara China dan negara-negara OECD-DAC, yaitu, keduanya menawarkan pertumbuhan ekonomi ke berbagai negara berpendapatan rendah dan sedang, serta sama-sama memberi Bantuan Dana ke negara-negara dengan rezim korup dan otoriter. Mereka juga sama-sama memberlakukan Bantuan Dana sebagai instrumen untuk mengamankan kepentingannya di PBB. 

Beijing pun menggunakan kriteria yang sama dengan negara-negara donor Barat untuk menyalurkan alokasi Bantuannya (aid), yaitu tingkat pendapatan per kapita. Negara-negara dengan tingkat kebutuhan lebih tinggi, akan mendapatkan Bantuan yang lebih tinggi juga. Kriteria tersebut akan sama, baik dari Washington, London, Brussels, ataupun Beijing. Demikian juga dengan skema Pinjaman (Loan). China dan negara-negara OECD-DAC akan menggunakan kriteria dan skema yang sama, yaitu memungkinkan adanya kepastian pembayaran. Baik untuk Pinjaman (Loan) dengan bunga pasar, maupun dengan bunga mendekati harga pasar.

Menurut Penulis, perbedaan utama antara Pendanaan oleh China dengan Barat adalah China lebih mengutamakan skema Pinjaman (Loan). Sedangkan OECD-DAC cenderung menggunakan skema Bantuan (Aid). Betulkah? Lagi, seberapa besar nilai nominalnya?

Ideologi jelas menjadi pembeda dalam mengelola bantuan untuk negara lain. Di negara market-led economies, pemerintah berharap sektor swasta menjadi aktor utama untuk segera bisa mendapatkan pengembalian investasi yang menguntungkan. Juga membatasi keterlibatan pemerintah dalam aktifitas komersial. Pasar bebas.

Berbeda halnya dengan China yang sentralistik, dimana Pemerintah adalah aktor utama ekonomi untuk mendapatkan keuntungan, maka bank-bank pemerintah menjadi ujung tombak dalam aktifitas komersial untuk mendapatkan keuntungan maksimal.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa proyek-proyek Pembangunan oleh Barat memberi hasil yang bervariasi, bergantung pada banyak kondisi negara penerima Bantuan. Tidak ada bedanya dengan hasil Bantuan dari China. Negara-negara Afrika cukup berhasil Pembangunan Ekonominya karena Bantuan China, namun banyak juga yang gagal di negara-negara lainnya.

Penulis berpendapat bahwa visi Bantuan Asing dari China tidak transparan. Bahkan New York Times menyebutnya, 

“China has never released any official map of Belt and Road routes nor any list of approved projects, and it provides no exact count of participating nations or even guidelines on what it means to be a participant.” 

Perubahan dari skema Hibah menjadi Pinjaman perbankan oleh China untuk proyek pembangunan infrastruktur Negara-Negara Berkembang akan membuka kesempatan bagi negara penerima untuk mempercepat pengembangan sosio-ekonominya. Namun juga meningkatkan risiko finansial, korupsi, konflik sosial dan degradasi lingkungan. 

Belt Road Initiative (BRI) dimaksudkan China untuk membangun proyek-proyek infrastruktur jalan, rel kereta api dan pipa yang menghubungkan antar wilayah dari China ke Asia Tengah dan Eropa. Demikian juga dengan proyek “Maritime Silk Road”, proyek bawah laut Samodra India yang menghubungkan China ke Asia Selatan, Asia Tenggara, Timur Tengah dan Afrika.

Srilanka

Di jaman pemerintahan Srilanka, dibawah presiden Mahinda Rajapaksa, China menggelontorkan bantuan dana untuk berbagai proyek pembangunan infrastruktur senilai total $12.4 billion, antara tahun 2005-2014. Realisasi proyek pembangunan tersebut mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8% dalam periode 7 tahun pertama pemerintahannya. Namun di sisi lain, LSM setempat menemukan adanya dugaan penyalahgunaan Bantuan finansial tsb. Kolusi dan korupsi melalui penggelembungan anggaran. President Rajapaksa dan lingkaran terdekatnya sebagai terduga.

Pembengkaan biaya dan korupsi mewarnai proyek-proyek infrastruktur Srilanka di masa pemerintahan Rajapaksa, yang dibiayai perbankan Beijing. Menjadi lebih buruk ketika banyak proyek-proyek besar tidak dibiayai oleh Hibah, melainkan Pinjaman berbunga pasar atau mendekati bunga pasar. Di akhir masa pemerintahan Rajapaksa, Srilanka mengumpulkan hutang sebesar US$8 miliar ke China.

Proyek besar Bandara International Mattala Rajapaksa yang berhasil dibangun, gagal menghasilkan revenue yang akan digunakan untuk membayar hutang. Asset bangsa terpaksa dijual. China menjadi pemilik saham mayoritas dan mendapatkan hak sewa selama 99 tahun untuk mengoperasikan pelabuhan laut dalam Hambatota. Sebagai pembayaran hutang senilai US$1,1 miliar. Debt-for-equity swap juga terpaksa dilakukan untuk kegagalan komersialisasi bandara yang dibangun di wilayah kediaman Presiden.

Tindakan pertama yang dilakukan Maithripala Sirisena ketika menggantikan Rajapaksa, Januari 2015, adalah memberhentikan route penerbangan ke bandara Mattala Rajapaksa International, dan audit kemungkinan terjadinya ketidakwajaran proyek-proyek infrastruktur dari China.

Yang terjadi kemudian, Beijing menyetujui Hibah US$100 juta untuk pembangunan Rumah Sakit modern di wilayah kediaman Presiden, Polonnaruwa. Peristiwa berulang kembali.

Tanzania

Oktober 1970, proyek raksasa kereta-api sepanjang 1.860 km, dari Kapiri Mposhi, Zambia ke pelabuhan Dar es Salaam, Tanzania dicanangkan oleh presiden Presidents Kenneth Kaunda (Zambia) dan Julius Nyerere (Tanzania).

Soviet, AS, Inggris, World Bank, dan PBB menolak terlibat pendanaan. Hanya China yang bersedia. US$415 juta pinjaman tanpa bunga digelontorkan. 

Proyek ini meliputi pemindahan material 89 juta meter kubik dan konstruksi 22 terowongan, 320 jembatan dan 2.225 gorong-gorong. Termasuk 40.000 tenagakerja.

Tautan:

TANZANIA-ZAMBIA RAILWAY AUTHORITY

Africa’s Freedom Railway: How a Chinese Development Project Changed Lives and Livelihoods in Tanzania

Yang aneh, buku ini menyatakan, “It launched the project in October 1970 and sent an estimated 30,000–40,000 Chinese workers by boat to work alongside tens of thousands of Tanzanian workers”. Tanpa acuan informasi. 

Tapi, laman resmi pemerintah Tanzania, TANZANIA-ZAMBIA RAILWAY AUTHORITY menyebutkan, “At the height of construction, the workforce rose to 38,000 Tanzanian and Zambian workers and 13,500 Chinese technical and engineering personnel. Siapa yang benar? Apa motif mengubah angka tenagakerja?

Akhir tahun 1973, 27 bulan sejak konstruksi dimulai, proyek kereta-api Tanzania-Zambia, TAZARA, sukses terbangun di sisi Tanzania. Proyek trans-nasional ini sukses menggerakkan populasi, barang dan jasa. Juga menghidupkan perdagangan lokal dan regional. Bahkan Jamie Monson, Professor Sejarah dan Direktur Pusat Studi Afrika, di Michigan State University, yang juga penulis buku “Africa’s Freedom Railway: How a Chinese Development Project Changed Lives and Livelihoods in Tanzania”, menyebutkan bahwa “[u]pon its completion, the TAZARA railway formed the backbone of a new spatial orientation for agrarian production and rural commerce”. Otoritas China dan Tanzania menjuluki kesuksesan ini sebagai, “the poor helping the poor”.

Rerata Pertumbuhan ekonomi tahunan Tanzania meningkat, menjadi 7%. China menjadi pahlawan kesuksesan Tanzania karena menyelamatkan pembiayaan pembangunan infrastruktur TAZARA railway yang masuk dalam the five-year development plan (FYDP) atau Repelita. 

Pemerintah Tanzania menegaskan bahwa lembaga bantuan Barat dan bank pembangunan multilateral tidak bersedia terlibat membiayai pembangunan infrastruktur yang masuk dalam program Repelita. Kalaupun ‘bersedia’, akan sangat lamban realisasinya. Proses persetujuan pembiayaan Barat terhadap pembangunan infrastruktur membutuhkan waktu setidaknya Lima tahun. Sementara pembiayaan dari China hanya membutuhkan waktu Satu tahun saja.

Mengapa proses Persetujuan Pembiayaan China bisa cepat? Menurut buku ini, karena tidak butuh proses lelang yang sangat rumit dan kompetitif untuk memilih kontraktor. Alias, kontraktor sudah disediakan oleh China. Selain itu, prosedur lelang pemilihan kontraktor tidak banyak menuntut standar kepatuhan Lingkungan dan Keselamatan Kerja yang ketat, seperti yang biasa diberlakukan para pendonor Barat.

Survei 2014 terhadap masyarakat Tanzania, menghasilkan bahwa China adalah pendukung sekaligus model terbaik bagi Pembangunan Ekonomi masa depan Tanzania (35%). Selanjutnya AS (30%), Afrika Selatan (10%), Inggris (6%),dan India (4%).

Deborah Bräutigam, peneliti Pembangunan, Universitas Johns Hopkins, berpendapat bahwa dampak pembangunan berdasar pembiayaan dari China akan bervariasi. Bergantung pada sektor pembangunan dan negara/pemerintahan penerima dana. Bukan bergantung pada China sebagai pemberi bantuan.

Pendekatan analisis data

Informasi keuangan dan semua aspek yang terkait dengannya, dirasakan para peneliti dan penulis buku ini sangat tertutup. Sulit mendapatkan akses informasi dari sumber resmi otoritas China. Rahasia.

Informasi keuangan China yang diperoleh oleh para peneliti Barat selama ini tidak dalam format database yang validitas datanya bisa dipertanggungjawabkan.

Penulis buku ini bermaksud untuk dapat menyediakan informasi berbasis data yang rinci dan akurat, sehingga bisa digunakan sebagai basis dialog yang konstruktif antara pemberi dana dan peminjam, dari Barat maupun China.

AidData sebagai bagian dari lembaga peneliti William & Mary’s Global Research Institute yang fokus pada manajemen informasi, sangat berperan dalam penyajian data dalam buku ini. Sumber data diperoleh dari:

  1. Chinese ministries, embassies, and economic and commercial counselor offices (ECCOs); 
  2. the aid and debt information management systems of finance and planning ministries in counterpart countries; 
  3. case study and field research undertaken by scholars and NGOs; 
  4. English, Chinese, and local-language news reports.

Total bantuan China untuk pembiayaan proyek-proyek Pembangunan luar negeri dalam periode tahun 2000 hingga 2014 sebesar US$354 Milyar, dipergunakan sebagai basis kajian buku ini. Meliputi 4.368 proyek di 138 negara, di wilayah Afrika, Timur Tengah dan Pasifik, Amerika Latin dan Kep. Karibia, serta Eropa Tengah dan Timur.

Berdasar kompilasi data yang diperoleh dari AidData tentang pendanaan China untuk kategori Aid (Hibah) dan Debt (Hutang), Penulis mengalami tiga kesulitan, yaitu:

  1. Sulit membandingkan secara apples-to-apples antara pembiayaan dari China dengan dari sumber-sumber lain. Termasuk dari OECD-DAC.
  2. Menjadi lebih sulit untuk memahami motif Beijing dalam membiayai berbagai proyek Pembangunan yang berbeda-beda tersebut
  3. Ketika pembangunan berbagai jenis proyek memberikan hasil yang tidak konsisten, maka kecil kemungkinan perbedaan ini akan terungkap alasannya.

Acuan definisi “aid” dan “debt” yang dipergunakan dalam buku ini didasarkan pada standar OECD-DAC, yaitu:

  • ODA (Official Development Assistance), adalah pemberian hibah, pinjaman tanpa bunga dan pinjaman berbunga rendah kepada negara sedang berkembang dengan maksud meningkatkan kondisi sosio-ekonomi.
  • OOF (Other Official Flows), adalah pinjaman dan kredit ekspor yang diberikan dengan bunga pasar atau mendekati bunga pasar.

Juga, bila suatu pemerintah atau organisasi antar-pemerintah memberikan bantuan pendanaan kepada negara sedang berkembang untuk keperluan DILUAR keperluan peningkatan kesejahteraan sosio-ekonomi, maka OECD-DAC mengklasifikasikannya sebagai OOF. Bukan ODA.

Atau, lebih jelasnya, “aid” (hibah) adalah ODA dan “debt/credit” (hutang/pinjaman) adalah OOF. Dan bila membicarakan tentang jumlah total pembiayaan, atau jumlah total ODA dan OOF, makan akan disebut sebagai Official Financing (OF) atau menyebutnya sebagai “development finance”, “development projects”, “funding” atau “projects” saja.

Bantuan bilateral negara-negara Barat pada umumnya adalah ODA. Misalnya, antara tahun 2000-2014, AS menyediakan US$394.6 milyar untuk negara lain. Sebesar 93% sebagai ODA dan 7% sebagai OOF. Sedangkan total bantuan OECD-DAC keseluruhan, sebesar US$1.753 trilyun. Yaitu 80,6% sebagai ODA dan 19,4% sebagai OOF.

Para peneliti dalam buku ini mengaku telah membangun sistem data yang paling komprehensif tentang pembiayaan pembangunan luar negeri China. Termasuk di dalamnya klasifikasi “aid” dan “debt” dari 138 negara dalam rentang waktu 15 tahun, 2000-2014. 

Mereka juga melakukan Geocoding data terhadap proyek-proyek Pembangunan China. Penggabungan data spasial dari satelit dengan data survey rumahtangga, bisa menghasilkan informasi geografis tentang dampak proyek-proyek pembangunan China terhadap pembangunan ekonomi, kesehatan masyarakat, konflik sosial, dan kualitas lingkungan. Dengan data geo-referensi, bisa dianalisis latar-belakang pengalokasian bantuan finansial China ke suatu negara, dan kemungkinan terjadinya manipulasi politik domestik di dalamnya.

Dalam buku ini, World Bank dijadikan pembanding untuk menganalisis program Pembiayaan China. Karena :

  1. World Bank mempunyai juga dua kategori pembiayaan, yaitu IDA (International Development Association) yang menyediakan pembiayaan proyek berdasar Hibah (aid/ODA) dan IBRD (International Bank for Reconstruction and Development), pembiayaan berdasar Pinjaman (debt/OOF)
  2. World Bank menggunakan seperangkat kriteria yang transparan dan efisien untuk mengalokasikan sumberdayanya ke berbagai negara
  3. Data dari World Bank dan China, tahun 2000-2014 untuk Asia, Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin serta Eropa Timur dan Tengah, sudah cukup lengkap dan komprehensif. Termasuk koordinat lokasi semua proyeknya juga sudah dimiliki. Sehingga memungkinkan untuk dapat dianalisis secara head to head terhadap dampak pembiayaan pembangunannya.

Menurut penulisnya, argumen utama menuliskan buku ini adalah karena pada kenyataannya, China telah menjadi penyedia bantuan pembiayaan pembangunan global, yang bisa menciptakan kesempatan pertumbuhan maupun risiko baru bagi negara-negara berpendapatan rendah-menengah.

SEJARAH CHINA SEBAGAI DONOR PEMBANGUNAN

Sejarah bantuan finansial China ke negara lain yang cukup spektakular adalah bantuan pembangunan jalan raya Pakistan-China, Karakoram Highway. Tingkat kesulitan dan bahaya pembangunannya cukup tinggi. Beberapa bagian ada pada ketinggian 4.700 m. Jalan sepanjang 1.300 km dari ibukota Pakistan, Islamabad ke Kashgar, Xinjiang, daerah otonomi Uyghur. Sejak pembangunannya dimulai tahun 1959, politikus di kedua negara tersebut menjulukinya “Sino-Pakistani Friendship Highway” sebagai simbol “all-weather friendship”. Selesai 1968. Di sisi Pakistan, proyek ini selesai dalam dua tahap, yaitu tahun 1971 dan 1978, atas bantuan China.

Presiden Xi Jinping

China terus membantu pembiayaan berbagai proyek di Pakistan sejak konstruksi  Karakoram Highway. Bahkan hingga era Presiden Xi Jinping, melalui skema BRI (Belt Road Initiative), dengan nama khusus the China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) initiative. Total, China telah menggelontorkan bantuan sekitar US$2 milyar, selama lebih dari 60 tahun.

Selain sebagai satu-satunya akses darat Pakistan-China, Karakoram Highway juga sukses meningkatkan perdagangan diantara kedua negara, bahkan mampu menjangkau jaringan transportasi dari dan ke Asia Tengah dan Barat. 

Kisah sukses Karakoram ini menunjukkan bahwa Beijing tetap berminat sebagai donor pembangunan, ketika negara lain meninggalkannya. Kepentingan Ekonomi bukanlah satu-satunya alasan China untuk membantu negara lain. Namun, sayangnya, Barat, melalui penulis buku ini, mencurigainya sebagai upaya China untuk mempererat perkawanan politik antar-negara. Strategi geopolitik. Kalaupun benar, apakah Barat tidak melakukan hal yang sama?

Hanya 15% kredit untuk pembangunan Pakistan yang disetujui China Eximbank tahun 2016, berasal dari skema GCL (government concessional loan) dan sisanya 85% berasal dari PBC (preferential buyer’s credit loan). Pakistan menerima pinjaman dengan skema pembayaran tidak semenarik untuk pembangunan Karakoram Highway.

Sebagai catatan:

  • GCL, adalah pinjaman dengan matauang Renminbi, yang biasanya bertenor 25 tahun, 5 tahun grace period, dan bunga 2%. 
  • PBC, pinjaman bermatauang US$, tidak semenarik GCL, namun tetap lebih baik daripada bunga komersial.
  • BCL (non-preferential buyer’s credit loan), adalah pinjaman komersial. Lebih singkat masa berlakunya, juga grace periodnya. Mengacu pada suku bunga pasar (floating rate), seperti London Interbank Offered Rate (LIBOR) atau the Euro Interbank Offered Rate (EURIBOR).

Beberapa proyek pembangunan besar China di Pakistan lainnya adalah:

  • US$6,4 milyar, dari China Eximbank untuk pembangunan dua PLTN di Karachi 
  • US$2,8 milyar, dari China Eximbank untuk perbaikan jalan Karachi-Peshawar sepanjang  470 km, Multan-Sukkur
  • US$1,62 milyar, dari China Eximbank untuk konstruksi Metro Lahore 27 km 

Bila valuta asing banyak digunakan untuk membayar hutang luar negeri, Pakistan akan kesulitan impor atau rendah pertumbuhan ekspor. Pinjaman berlebihan juga bisa menyebabkan tingginya inflasi, depresiasi mata-uang, dan menghambat investasi asing. Tingginya pinjaman ke China juga bisa menyebabkan kelemahan politis bagi para pemimpin negara peminjam.

Perubahan skema bantuan China ke Pakistan, dari Benefactor ke Banker, terjadi dalam dua dekade pertama abad 21 ini. Bank-Bank pemerintah China lebih banyak meningkatkan pinjamannya ke SVP (special vehicle purposes) daripada langsung ke pemerintah Pakistan. SPV dimaksudkan sebagai entitas independen yang sah, yang digunakan untuk merencanakan, membiayai dan mengerjakan proyek tertentu.

Historical Foundations and the Early Years (1949–1959)

Sejarah keterlibatan China untuk membantu pembiayaan pembangunan luar negeri sejak 1949-1959 secara rinci banyak dijelaskan dalam buku ini. Termasuk terlibat aktifnya China dalam Konferensi Jenewa, 1954. Yang mengangkat misi kebijakan luar negeri China untuk bekerjasama dengan negara-negara independen baru di Afrika dan Asia. Juga Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 1955 yang menelorkan Gerakan Non-Blok dan “Five Principles of Peaceful Coexistence”: 

  1. mutual respect for states’ territorial integrity and sovereignty, 
  2. mutual nonaggression; 
  3. mutual noninterference in states’ internal affairs, 
  4. equality and mutual benefit, and 
  5. peaceful coexistence. 

Aid as Politics: Mao’s Revolutionary Foreign Policy (1960–1977)

Tahun 1958, Komite Sentral Partai Komunis China mengeluarkan laporan “Report on Strengthening Foreign Economic and Technical Cooperation”, yang isinya menyatakan bahwa Bantuan (aid) adalah bagian dari misi politik yang penting. Dan menegaskan perlunya China untuk membina persaudaraan dengan negara-negara nasionalis.

Dalam periode 60-70an, bantuan ke negara lain menjadi fokus China untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan negara-negara sedang berkembang di Asia dan Afrika. Terkait dengan program tersebut adalah juga memberi dukungan ke negara-negara revolusioner di Angola, Congo-Brazzaville, Ghana, South Africa, dan Tanzania. Untuk wilayah Asia Tenggara, bantuan diberikan untuk gerakan komunisme di negara-negara anti komunis, di Malaysia, Thailand, Singapore, dan Philippina. 

Bersesuaian dengan program Mao, Revolusi Kebudayaan, di tahun 1965-1973, pengeluaran China meningkat pesat. Ketika pendapatan per kapita hanya US$200, pengeluaran pemerintah sudah mencapai US$12 milyar untuk keperluan bantuan luar negeri.

Pengeluaran luar negeri terus meningkat setelah 1970 dan mencapai paling tinggi di 1975. Lebih dari 5% dari anggaran pemerintah digunakan untuk bantuan pembangunan luar negeri. Sebagai pembanding, pengeluaran AS untuk bantuan asing adalah tidak lebih dari 1% total anggaran. Dan, bantuan pembangunan oleh Beijing sebelum 1978, lebih banyak diberikan dengan skema grant (hibah) dan pinjaman tanpa bunga.

China adalah salah satu negara yang sudah memberi bantuan untuk negara lain, ketika dirinya masih menerima bantuan. Tentu lebih karena motif politik daripada ekonomi. Termasuk kepentingannya untuk mendapat dukungan dari negara-negara sahabat penerima donor, supaya berada dalam satu barisan di PBB untuk melawan Taiwan. 

Reform-Era Recalibration: Foundations for a Shift from Benefactor to Banker (1978–1998)

Deng Xiaoping dan Jimmy Carter (Pres. AS)

Tampilnya Deng Xiaoping sebagai Presiden (1978), menggantikan Mao (wafat 1976), mengubah kebijakan luar negeri China. Tidak lagi sepenuhnya ideologis, bahkan lebih ke arah pragmatis-ekonomis. Dan kebijakan ekonomi yang lebih terbuka di akhir 1970an dan 1980an tersebut, menghasilkan banyak bantuan masuk. Lebih besar daripada pengeluaran untuk memberi bantuan luar negeri. Kebijakan luar negeri China bergeser dari pendekatan ekspansif ke pendekatan yang lebih halus dan mengutamakan pertumbuhan ekonomi.

Pemerintahan Deng mulai melakukan transisi kebijakan bantuan luar negeri, dari program bantuan bermotif politik yang didukung dana hibah (grant), ke arah bantuan bermotif ekonomi komersial dengan skema pinjaman berbunga (interest-bearing loan)

Transisi ini dilakukan China dengan mulai melakukan menggabungkan Hutang dan Investasi, menjadi Joint Ventures. Pembentukan Rekanan dilakukan antara perusahaan negara China dengan perusahaan negara di negara penerima investasi. Menjadi perusahaan joint venture baru (JVC). JVC adalah entitas baru yang legal untuk melakukan develop, own, and operate proyek.  Kemudian Beijing memberikan pinjaman ke perusahaan baru tersebut. Tentu, perusahaan China menjadi pemilik mayoritas.

Di akhir 1980an, para peneliti China telah memberi masukan ke pemerintah supaya tetap mencadangkan Bantuan Bebas Bunga (interest-free loans) untuk negara -negara sangat miskin. Dan mulai memberikan Pinjaman Berbunga, kepada negara-negara yang punya proyek pembangunan yang menguntungkan dan punya kapabilitas membayar pinjaman.

Beijing mulai mencanangkan isu interest-bearing loans di tahun 1990an. Dilanjutkan merealisasikannya dengan dibentuknya China Eximbank di tahun 1994. 

Mei 1995, pemerintah mencanangkan bahwa China Eximbank mulai mempromosikan bantuan luar negeri, yang kemudian dinamai Government Concessional Loans (GCLs). Dengan bunga 4%-5%. Kurang disambut pasar. 

Tahun 1999, dengan Going Out strategy, China Eximbank menawarkan GLC dengan item lebih menarik, yaitu bunga 2%, maturity 20 tahun dan grace period 5 tahun.

Beberapa tahun kemudian, China Eximbank kembali mengembangkan produk pinjaman untuk pemerintah asing, yaitu Preferential Buyer’s Credit (PBC). Dengan bunga lebih rendah daripada harga pasar. Berbeda dengan GLC yang menggunakan matauang Renminbi, PBC menggunakan matauang US$. Cukup laris, karena dapat membantu negara penerima kredit mengatasi kelebihan matauang asing, US$.

Ringkasnya, di abad 20, China telah menyiapkan landasan keuntungan geopolitik, keberlanjutan fiskal dan keuntungan komersial, dalam rangka menyediakan bantuan pembiayaan pembangunan luar negeri di abad 21. Hal ini dilakukan karena Beijing telah banyak belajar bahwa Hibah (grants) dan Pinjaman Bebas Bunga (interest-free loans) dapat menghasilkan keuntungan politik yang besar. Meskipun juga berbiaya ekonomi besar. Namun dapat membuka jalan untuk menciptakan lagi instrumen pembiayaan pembangunan yang baru.

“Going Out” and China’s Rise as a Global Development Banker (1999–Today)

Tahun 1999 adalah saat krusial dalam mengantisipasi menurunnya pertumbuhan dalam negeri China. Strategi ‘Going Out’ menjadi penting untuk:

  • Membangun perusahaan-perusahaan nasional andalan
  • Mengurangi biaya transportasi barang dari dan ke negara lain
  • Meningkatkan kebutuhan eksternal terhadap barang dan jasa dari China
  • Mengurangi investasi infrastruktur domestik
  • Mulai menggunakan teknologi masa depan
  • Mengamankan energi dan bahan mentah

Fokus utama Beijing adalah menciptakan kondisi yang aman untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Terjadinya surplus perdagangan tahunan, menyebabkan tumbuhnya akumulasi cadangan valuta asing. Ini berbahaya karena bisa memacu inflasi dan revaluasi matauang. Outward foreign direct investment (OFDI) juga meningkat pesat, dari NOL di tahun 2000, menjadi lebih dari US$120 milyar di tahun 2014.

Dengan dasar “saling menguntungkan”, Beijing akan ‘bundling’ aid, debt dan OFDI menjadi satu paket yang menjamin keuntungan bagi kedua belah pihak. Keuntungan bagi negara penerima bantuan adalah bisa mendapatkan hibah, pinjaman, dan kredit ekspor, yang biasanya sulit diperoleh. Dari sisi pendonor, China, biasanya perusahaan-perusahaan China bisa mendapatkan kesempatan berbagai investasi dan keunggulan komersial. Seperti misalnya, tidak harus ikut lelang supaya bisa mendapatkan berbagai kontrak atau lisensi untuk melakukan penambangan sumberdaya mineral tertentu.

Strategi ‘Going Out’ mampu menempatkan China dalam posisi dominan di pasar global pembiayaan infrastruktur. Namun di awal abad 21, China mengalami masalah kelebihan pasokan industri domestik, seperti aluminium, semen, gelas, besi, baja dan kayu. Ini disebabkan karena banyak perusahaan pemerintah terlalu eksploitatif, tidak efisien dan tidak menguntungkan.

Bila perusahaan-perusahaan tersebut tidak mampu mendapatkan pembeli yang bisa menampung kelebihan produksinya, maka mereka bisa gagal bayar hutang-hutangnya, menutup pabriknya. Dan selanjutnya, akan meningkatkan jumlah pengangguran baru. China kurang mempersiapkan jaring pengaman sosial, yang lazim tersedia di negara-negara industri demokratis Barat. Hal ini mengkhawatirkan otoritas, karena gelombang pengangguran di negara dengan jumlah tenagakerja raksasa seperti China ini, bisa menjadi isu ketidakstabilan sosial-politik.

Untuk mengatasi masalah diatas, Strategi Going Out berupaya 

  • mengurangi pasokan domestik dan sekaligus meningkatkan permintaan internasional. 
  • Memindahkan fasilitas produksi untuk keperluan industri ke luar negeri.

Dari sisi domestik, China berupaya untuk 

  • melarang pembangunan fasilitas produksi baru, 
  • Mempercepat penutupan operasi-operasi yang tidak efisien
  • Meningkatkan harga kebutuhan pokok industri, seperti air dan listrik
  • Menekankan pentingnya standar kualitas produk yang lebih tinggi

Di luar negeri, China melakukan

  • Peningkatan penawaran bantuan pemerintah secara konsesional dan tidak-konsesional seperti hibah, pinjaman dan kredit ekspor untuk proyek infrastruktur. Dan, 
  • Memberikan bantuan dengan syarat pembelian bahan-bahan mentah industri dari China

Faktor lain yang mendorong China melakukan ekspansi program pembangunan luar negeri di abad 21 ini adalah keinginannya untuk menjadi pengaruh utama dalam pengendalian pembangunan di berbagai belahan dunia. Tahun krisis finansial global 2008, menjadi kesempatan dan titik balik. Ketika Barat sedang mengalami krisis finansial dan mengurangi budget bantuan luar negerinya, justru menjadi kesempatan bagi China untuk semakin memperbesar pengeluaran bantuan pembangunan di negara-negara berpendapatan rendah-sedang. 

Sejak pelantikannya, Presiden Xi Jinping sudah mencanangkan strategi niat baiknya untuk melipat-gandakan hibah dan kredit ke seluruh dunia. Tak lama setelah program BRI dicanangkan, Presiden Xi mengumumkan bahwa 

“[w]e should increase China’s soft power, give a good Chinese narrative, and better communicate China’s message to the world.” 

Tentang sejarah Bantuan China selama 70 tahun tersebut diatas, Penulis buku ini berkesimpulan bahwa portofolio China di luar negeri setelah Mao, semakin meningkat dan dalam bentuk dominan pendanaan komersial yang direncanakan untuk menguasai akses sumberdaya alam, bahan mentah, militer dan asset strategis lainnya. Tentu juga financial return on investments.

Prinsip-prinsip Utama Bantuan China seperti, menghormati kedaulatan, tidak mencampuri urusan domestik negara lain, menegaskan kepentingan G2G dan kemandirian bangsa; hanyalah rethorika belaka, untuk melancarkan kepentingan strategis China lainnya. Politik dan ekonomi.

DAMPAK BANTUAN CHINA

Secretary-General Ban Ki-moon addresses the 4th High Level Forum on Aid Effectiveness in Busan, Republic of Korea 30 November 2011.

Menurut buku ini, hingga 2011, ketika terjadi pertemuan antar negara-negara donor dan juga para peminjam di Busan, Korea Selatan. Pertemuan ini dihadiri perwakilan negara AS, Eropa, Australia, Jepang, PBB, World bank, China dan negara-negara bukan Barat. Barat berharap supaya semua negara donor mengikuti aturan International Aid Transparency Initiative ( IATI) dan secara sukarela juga mengikuti standar transparansi OECD-DAC. China menolak. Menurutnya, 

“principle of transparency should apply to north-south cooperation, but … it should not be seen as a standard for south-south cooperation”

Keputusan heroik terhadap negara-negara yang berusaha memaksakan hegemoninya.

Tuntutan Transparansi

Namun demikian, ketidaksediaan China untuk mengikuti standar pelaporan Barat, menyebabkan kesulitan bagi para peneliti untuk dapat menganalisis dampak bantuan China terhadap pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, kesehatan masyarakat, buta huruf dan keberlanjutan lingkungan dari negara penerima bantuan. Hal ini menimbulkan prasangka negatif Barat bahwa China tidak mempunyai Master Database proyek pembiayaan pemerintah. Ini disebabkan karena:

  1. Tuntutan domestik untuk bersikap transparan terhadap Pemerintahan China tidak cukup kuat, seperti halnya negara-negara OECD-DAC.
  2. Lemahnya motif politik Pemerintah China untuk bersikap transparan tentang bantuan luar negerinya. Stabilitas politik masih diperlukan, karena ekonomi dalam negeri belum sepenuhnya stabil. GDP per capita masih rendah.
  3. Persetujuan bantuan luar negeri di China, terdesentralisasi dan sangat rumit. Birokratis

Meskipun buku ini terbaca dengan jelas bermaksud merendahkan upaya China dalam membiayai proyek-proyek negara sedang berkembang, namun ada juga pengakuan atas dampak positifnya. Misalnya, tertulis,

“Leaders of the developing world frequently lavish praise on the Chinese government for its willingness to bankroll the “hardware” of economic development – roads, railways, power plants, electricity grids, and telecommunication systems – and address local needs that traditional donors and creditors have neglected for decades”.

Menarik, pengakuan penulis bahwa proyek-proyek pembangunan oleh China pada umumnya lebih efektif daripada proyek-proyek yang dibiayai oleh Barat. Menurutnya ini disebabkan karena:

  1. China lebih senang membiayai proyek-proyek terintegrasi yang selaras dengan strategi pembangunan nasional dari negara penerima dana
  2. China lebih mengutamakan pembiayaan pada infrastruktur ekonomi dan sosial. Seperti, jalan, kereta api, pembangkit listrik, bendungan.
  3. China sudah berpengalaman dalam pembangunan proyek infrastruktur berskala besar dengan cepat dan efisien.

Does Chinese development finance favor needy provinces?

Penulis melakukan beberapa analisis untuk memperkirakan tingkat  kebutuhan penerima bantuan setiap provinsi pada tahun tertentu,

  1. Analisis statistik berdasar data sekunder pengamatan satelit terhadap tingkat luminositas cahaya listrik malam hari, untuk memperkirakan tingkat pembangunan ekonomi. Cahaya lemah menunjukkan ekonomi berada di tingkat rendah, miskin. 
  2. Analisis statistik berdasar tingkat populasi suatu provinsi. Bila bantuan China sensitif terhadap tingkat kebutuhan lokal, maka bantuan semestinya diberikan pada wilayah dengan populasi tinggi
  3. Analisis statistik berdasar tingkat kekeringan suatu wilayah. Ini merupakan kriteria penting untuk mendapat bantuan pembangunan. Kekeringan tinggi, diperkirakan akan mengalami kekurangan pasokan dan tingginya harga makanan.
  4. Analisis statistik berdasar perkiraan waktu tempuh ke kota terdekat dengan populasi 50.000 orang atau lebih. Digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan daerah urban dalam rangka mendapatkan bantuan pembangunan China 

Di beberapa wilayah dalam negara penerima dana bantuan China, menunjukkan adanya dampak ekonomi positif di negara-negara Afrika, namun tidak ditemukan di negara-negara Asia dan Amerika. 

This result does not hold in Asia, where we find no evidence that Chinese development projects increase per capita nighttime light at the district level. Nor does it hold in the Americas, where Chinese development projects seem to actually reduce per capita luminosity. 

(Catatan: No evidence diatas perlu dibaca dalam konteks keberadaan emisi cahaya listrik. Bukan tentang dampak ekonomi).

Berdasar analisis emisi cahaya malam di propinsi-propinsi yang mempunyai deposit sumberdaya emas, minyak, gemstone dan intan, ternyata tidak menunjukkan adanya bantuan pendanaan China yang signifikan. Data menunjukkan hasil yang kurang-lebih sama dengan data World Bank. Artinya, penulis menyimpulkan, kecurigaan bahwa bantuan pendanaan China dimaksudkan untuk menguasai sumberdaya alam, tidak terbukti.

Secara umum, proyek Bantuan China, baik Hibah maupun Pinjaman, memberi hasil bervariasi di berbagai belahan dunia. Namun khusus di Afrika, Bantuan tersebut memberi dampak pertumbuhan ekonomi yang signifikan, serta mengurangi konsentrasi aktifitas ekonomi secara spasial. Bahkan bila dampak pembiayaan pembangunan China ini dipecah berdasarkan sektor pembangunan, i.e. infrastruktur ekonomi, infrastruktur sosial dan sektor produksi; semuanya tetap terbaca sebagai pertumbuhan positif.

Dampak proyek bantuan World Bank di Afrika sebesar kira-kira ⅔ lebih kecil daripada rerata dampak bantuan China. Bahkan, bantuan proyek-proyek infrastruktur dari World Bank, TIDAK memberi dampak pengurangan  konsentrasi aktifitas ekonomi spasial, di dalam berbagai wilayah provinsi.

Hasil analisis tersebut menunjukkan tidak ditemukannya bukti kebenaran tuduhan ‘rogue donor’ (bantuan ‘nakal’) terhadap China. Bahkan penelitian penulis menunjukkan bahwa dampak sosioekonomi proyek-proyek World Bank ternyata tidak sebagus dampak proyek-proyek bantuan China. Juga tidak ditemukan bukti bahwa terjadi bias politik yang mengganggu efektivitas proyek-proyek pembangunan dari China. Baik ditingkat nasional, maupun sub-nasional.

Namun Penulis tetap menyimpulkan bahwa Beijing menggunakan Aid sebagai alat untuk menyukseskan kepentingan politik luar negeri China. Berperan sebagai Benefactor. Sementara, Debt digunakan untuk meraih keuntungan finansial semata. Atau Banker.

Korupsi, Konflik sosial dan Lingkungan

Tiga hal utama yang menjadi perhatian penulis buku ini terkait dampak Bantuan Pembangunan China pada negara penerima adalah Korupsi, Konflik Sosial dan Degradasi Lingkungan.

Aspek Korupsi

Uji statistik terhadap dampak tata-kelola pemerintahan terhadap berbagai negara penerima bantuan China (chapter 8), menunjukkan bahwa semakin banyak bantuan dana pembangunan China diberikan pada suatu negara, maka semakin menurun tingkat korupsi negara tersebut.

Kasus korupsi proyek-proyek Bantuan Hibah (aid finance) dari China lebih sedikit dibanding Bantuan Pinjaman (debt finance), karena melibatkan jumlah uang yang relatif kecil, menghasilkan pendapatan yang kecil, dan memang tidak berada dalam sistem yang tidak kondusif untuk bisa dikorupsi. Sedangkan skema Bantuan Pinjaman China lebih berisiko korupsi karena melibatkan proyek besar, menghasilkan pendapatan besar, banyak terjadi transaksi finansial, dan berada dalam lokasi dan situasi yang kondusif untuk dikorupsi.

Proyek Pinjaman China memang menguntungkan bagi para peminjam karena terbukti meningkatkan sosio-ekonomi. Namun potensi risiko korupsi juga besar karena syarat Pinjaman yang relatif tidak begitu ketat bila dibandingkan dengan pinjaman dari negara-negara OECD-DAC.

Aspek Konflik Sosial

Penelitian Richard Bluhm dan rekan terhadap dampak sosial atas Bantuan OECD-DAC, menunjukkan bahwa bantuan Barat berisiko akan meningkatkan konflik sosial kecil menjadi konflik bersenjata. Namun aman dan tidak berdampak konflik sosial bila diberikan pada masyarakat dalam kondisi damai.

Namun demikian, Penulis juga menyajikan data buruk terhadap dampak Bantuan China tersebut, seperti meningkatnya korupsi, instabilitas politik dan degradasi lingkungan. Contoh kasus bisa dibaca pada bab 8 tentang proyek Standard Gauge Railway (SGR), pembangunan kereta api di Kenya, Afrika. Banyak pejabat Kenya ditangkap karena kasus korupsi proyek tersebut. 

Sebaliknya, dampak konflik sosial dari Bantuan China, penulis tidak mampu mengambil kesimpulan dengan tegas. 

“The estimated effects that we report in Table 8.1 show that no matter the level of conflict in the previous year, Chinese development projects reduce the probability of peace and increase the risk of armed conflict and civil war. However, all of these effects are estimated imprecisely, so we cannot confidently conclude that there are effects of Chinese development projects on peace and conflict at the country level”.

Namun secara umum, bantuan Hibah China tidak mengakibatkan dampak konflik sosial. “We find that, on average, there is no effect of Chinese aid on conflict”.

Aspek Lingkungan

Temuan Penulis menunjukkan tidak-adanya kerusakan lingkungan atau penggundulan hutan (deforestasi) di proyek-proyek Bantuan China. Namun sayangnya, justru Penulis buku ini resisten untukndapat menerima hasil analisisnya sendiri. Dan memberi opini, 

“However, our results rely on a substantially smaller sample than the other regressions related to environmental outcomes, so they should be interpreted as suggestive rather than definitive”. Ini komen Penulis yg tidak adil. 

PERBANKAN UNTUK BELT AND ROAD INITIATIVE (BRI)

Menurut Penulis, sentimen publik terhadap China semakin buruk, dan banyak negara beranggapan bahwa berpartisipasi dalam BRI (Belt and Road Initiative) akan menjadi kelemahan (liability) daripada menjadi asset.

Donor Barat mendorong China untuk segera melakukan multilateralisasi BRI dengan menjalankan prosedur standar dalam hal penilaian kelayakan proyek, pengadaan barang dan jasa, tanggungjawab direksi, kebijakan transparansi, tanggungjawab sosial dan lingkungan, sehingga memungkinkan lembaga-lembaga Bantuan dan perbankan pembangunan lainnya dapat turut terlibat.

Setelah satu dekade Going Out Strategy dicanangkan (1999], tahun 2010 China mulai khawatir dengan beberapa hal:

  • Stabilitas politik dan ekonomi
  • Banyak perusahaan China terperangkap hutang karena krisis ekonomi
  • Semakin tingginya biaya tenagakerja, menyebabkan keunggulan komparatif tenagakerja manufakturing mulai terganggu.
  • Investor global mulai memindahkan bisnis manufakturingnya ke Asia Tenggara untuk mengurangi biaya produksinya
  • Over-produksi masih menjadi masalah yang bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi China
  • Otoritas China melihat middle income trap bisa menjadi ancaman stabilitas keberlanjutan pertumbuhan ekonomi

Tahun 2013, Belt Road Initiative (BRI) dicanangkan oleh Presiden Xi Jinping. Sebelumnya disebut One Belt, One Road (OBOR). Inisiatif ini dimaksudkan sebagai bagian upaya mengurangi biaya perusahaan China dengan cara memindahkan low-end manufacturing ke negara-negara dengan tenagakerja berbiaya rendah. Sekaligus mendukung program “Made in China 2025”, untuk mengupayakan bisnis China lebih fokus pada pemasaran produk high-end untuk kepentingan pelanggan domestik dan asing.

BRI mempunyai peran penting dalam Going Out strategy, yaitu membangun fasilitas-fasilitas produksi dan menciptakan kebutuhan pasar di luar negeri untuk menampung over-produksi dalam negeri. Meningkatkan ekspor dengan cara menciptakan kebutuhan barang-barang industrial yang diperlukan dalam proyek-proyek pembangunan luar negeri berbiaya bantuan China. Sumber lain untuk menjaga kesinambungan program BRI dan Going Out Strategy adalah penggunaan mata uang asing yang menumpuk di China sebagai pinjaman pembiayaan pembangunan luar negeri.

Keputusan dicanangkannya BRI tahun 2013 ini, merupakan signal geopolitik penting untuk mengatakan kepada dunia bahwa China merupakan kekuatan ekonomi politik penting yang harus diperhitungkan.

China yang sebelumnya kurang memperhatikan pembangunan di wilayah barat seperti Xinjiang, Tibet, Qinghai, dan Gansu, saat ini telah berubah menjadi pemberhentian penting sepanjang sabuk BRI. Menjadi provinsi-provinsi yang terintegrasi ke dalam jaringan ekonomi regional.

Can Beijing Multilateralize the BRI?

Tahun 2018, Beijing mensponsori pembentukan China-IMF Capacity Development Center, untuk melatih aparat pemerintah China mengenai debt sustainability framework (DSF) di negara-negara berpenghasilan rendah dan isu-isu yang berhubungan dengan BRI.

Berkaitan dengan upaya globalisasi BRI, pada tahun 2019, pemerintah China mengumumkan akan bekerjasama dengan 8 institusi multilateral untuk membentuk Multilateral Cooperation Center for Development Finance. Mandatnya adalah :

  1. Lebih banyak investasi di pekerjaan penyiapan proyek hulu
  2. Meningkatkan kapasitas debitur dan kreditur menjadi lebih efektif dalam mengelola dan memitigasi risiko yang berhubungan dengan keberlanjutan hutang, pengadaan barang dan jasa, korupsi, lingkungan dan isu-isu sosial lainnya. 
  3. Memfasilitasi sharing informasi yang lebih luas dan berkoordinasi antar berbagai institusi finansial pembangunan, China maupun diluar China.

Di tahun yang sama, presiden Xi mengumumkan bahwa China akan mengadopsi lebih luas berbagai peraturan dan standar, serta mendorong berbagai perusahaan yang terlibat, untuk mengikuti peraturan-peraturan umum internasional dalam hal pengembangan proyek, operasi, pengadaan barang dan jasa, serta lelang.

Disini terlihat bahwa Beijing bermaksud untuk menjadikan BRI bersifat multilateral, sekaligus memberikan signal bahwa pemerintah China berkeinginan untuk terlibat dalam kepemimpinan pasar finansial pembangunan global.

What Can China Do to Overcome Its Trust Deficit with Traditional Donors and Creditors?

Ternyata, pemerintah China tidak cukup sukses menggalang dukungan dari donor dan kreditur tradisional (Barat) yang berminat kerjasama untuk mendukung BRI. Sedikitnya karena 3 hal:

  1. Transparansi. Keengganan China untuk berbagi informasi rinci terkait finansial dan implementasi tata-kelola dengan para pemerintah penerima bantuan
  2. Disiplin. Rekam jejak China yang melakukan pembiayaan, perencanaan dan implementasi proyek secara independen, tidak memperdulikan standar operasi dan disiplin yang berlaku umum
  3. Go-it-alone. Pendekatan China go-it-alone dalam menyelesaikan persoalan-persoalan pengelolaan hutang negara

PENUTUP

Mengingat institusi keuangan, dalam konteks Bantuan Pembangunan negara lain, berada dalam jaringan global, maka akan saling terkait dan tidak mungkin menutup diri. China yang telah memberi Bantuan ke berbagai negara di dunia, pada akhirnya akan menuntut pengembalian pinjaman pendanaan. Untuk kepentingan jaminan keamanan finansial, China tentu akan membutuhkan kerjasama dengan institusi keuangan global. Untuk itu, kepercayaan menjadi penting. Dan Transparansi, Kepatuhan terhadap aturan umum, serta Kerjasama para pihak, menjadi isu prioritas untuk disikapi.

Bila China merasa perlu melibatkan banyak pihak dalam ‘pemasaran’ Belt Road Initiative (BRI), maka tentunya dibutuhkan negosiasi yang saling menguntungkan para pihak serta menyepakati standar dan aturan yang dibuat bersama.

Demikian pula dengan institusi-institusi pembiayaan pembangunan OECD-DAC, tidak bisa memaksakan diri untuk memberlakukan aturan dan standar sendiri, namun harus mengakomodir kepentingan Beijing, demi kebutuhan pembangunan negara-negara berpendapatan rendah-sedang.

KOMENTAR

Seringkali ditemukan dalam buku ini, bahwa setiap kali tertulis pernyataan positif berdasar fakta publik tentang Bantuan China, maka segera diikuti opini negatif dari penulisnya pada paragraf berikutnya.

Penulis berprasangka bahwa, hingga saat ini (saat ditulisnya buku ini) studi tentang program Beijing untuk pembangunan internasional tidak mengikuti prinsip-prinsip dasar berbasis sain. Bahkan ada kecenderungan untuk penentuan kesimpulan terhadap studi tersebut, pada umumnya hanya didasarkan pada data-data yang bersesuaian dengannya. Cherry-picking. Diragukan validitasnya.

Penulis pada dasarnya hanya ingin membuktikan kebenaran hipotesanya bahwa proyek bantuan atau pinjaman dari China adalah merugikan negara penerima. Penulis tidak melakukan penelitian dampak ekonomi penerima bantuan secara obyektif untuk mendapat gambaran informasi ‘apa adanya’, melainkan hanya menyajikan informasi yang diinginkannya. Cherry picker

Dan penelitian dalam buku ini menunjukkan hasil yang bervariasi di berbagai negara penerima bantuan China. Bahkan bantuan untuk Afrika menunjukkan hasil pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Dan lebih bagus daripada negara-negara penerima bantuan dari institusi-institusi OECD-DAC.

Namun pengakuan pun diberikan penulisnya di akhir Bab 1, bahwa:

Our core argument in this book is that China’s newfound position as the global development lender of first resort has created new opportunities and new risks for low-income and middle-income countries. 

Walaupun tetap diikuti dengan kalimat, 

China is a pragmatic development partner that pursues a diverse set of economic and political interests”. 

Rasanya, belum pernah sekalipun terdengar berita bahwa China melakukan upaya pembiayaan terorisme atau melakukan rekayasa konflik sosial untuk mendapatkan kekuasaan atau keuntungan finansial di negara yang diinginkan. Pengalaman menunjukkan bahwa China memang “lihay” bernegosiasi untuk mendapatkan keuntungan finansial melalui prosedur resmi ataupun tidak resmi. Untuk itu, disarankan supaya lebih rinci dan hati-hati dalam bernegosiasi dan membuat kontrak dengan institusi China.

Kalimat menarik dari buku “The New Confessions of an Economic Hit Man”, karya John Perkins, ini mungkin bisa mewakili pendapat para penerima donor China. Artinya, perlu lebih hati-hati dalam dealing Bantuan Pinjaman dengan pihak manapun, apalagi bila mereka punya sejarah menggunakan kekuatan politik dan militer untuk mendapatkan keuntungan finansial di berbagai belahan dunia. Waspadalah.

Terlepas dari prasangka buruk dari pihak Barat terhadap Bantuan Pembiayaan Pembangunan dari China, serta berbagai temuan negatif berdasar analisa statistik Penulis atas motif, skema maupun dampak Bantuan tersebut, buku ini masih sangat layak dipelajari dan dikritisi sebagai pengetahuan tentang investasi China.

TAUTAN

Resource-backed loans: Sustainable debt or pending threat?

Resource-Backed Loans: Pitfalls and Potential

World’s central banks financing destruction of the rainforest

China goes to Africa

China’s principles in foreign aid

The World’s Richest and Poorest Countries 2022

Belfast

Sutradara: Kenneth Branagh

Ada yang memilih pergi

Ada yang memilih tinggal

Ada yang tersesat dalam pilihan

Demikian kalimat akhir dalam film BELFAST.

Film hitam-putih berjudul Belfast, yang bisa dinikmati di Netflix ini memenangkan satu Oscar untuk kategori Best Original Screenplay. Juga memenangkan penghargaan BAFTA untuk kategori Outstanding British Film of The Year. Aplikasi IMDB mencatatnya telah memenangkan 51 award dan 237 nominasi. Capaian luar biasa. Film produksi 2021 ini ditulis dan disutradarai oleh Kenneth Branagh, berkebangsaan Irlandia Utara, tang lahir di Belfast. Para aktor dan aktris pun dominan berasal dari Irlandia Utara. Jude Hill, bintang ciliknya yang menawan aktingnya, Caitriona Balfe yang berperan sebagai Ibu, Jamie Dornan sebagai Ayah dan bintang kawakan Ciaran Hinds sebagai Kakek.

Entah mengapa, film berlatar-belakang Irlandia Utara selalu mengundangku untuk menontonnya. Apapun genrenya. Mungkin karena  masa kecil saat senang-senangnya membaca koran, selalu disuguhi berita luar negeri tentang kerusuhan disana. Sinn Fein, partai politik di Irlandia Utara dan IRA sayap militernya, Bobby Sands, anggota IRA yang bunuh-diri serta Gerry Adams pimpinan IRA, menjadi pengingat kerusuhan di Irlandia Utara saat itu. 

Karena film Belfast ini, buku lama tentang proses perdamaian di Irlandia Utara, The Fight for Peace (dibeli di Perth 1994), karya Mallie & McKittrick, yang selama ini menjadi rujukan pengetahuanku tentang konflik kekuasan Irlandia Utara, kembali mengundangku untuk membaca ulang.

Film ini dibuka dengan kerusuhan aksi massa kelompok Protestan terhadap kelompok Katolik. Terjadi penyerangan fisik dan perusakan properti. Teriakan para demonstran serta jeritan ibu dan anak mengiringi brutalitas tindakan massa. Gambar hitam putih bergerak cepat. Dramatik. Chaos. 

Kamera beralih fokus pada aktifitas seorang ibu yang sibuk tungganglanggang keluar-masuk rumah, mengamankan anak-anaknya. Sembunyi di bawah meja. Hingga kerusuhan mereda. 

Cerita beralih pelan dari jalanan ke ruang privat. Dialog terjadi dalam keluarga. Krisis ekonomi mulai terasa. Dan film mulai menyajikan konflik rumahtangga yang gamang terhadap pilihan domisili yang dikhawatirkan berdampak keterasingan politik dan tercabutnya akar budaya.

Tak lelah mengikuti alur cerita hingga film berakhir. Melihatnya seperti film dokumenter. Natural, tak berlebihan namun sangat terasakan konfliknya. Serasa tak berjarak antara layar dan penontonnya. Perang dan brutalitas konflik sosial selalu depresif bagi rakyatnya. 

Bagaimana akhir cerita? Selamat menonton. Kereen…